
Marco mengikuti laju motor gadisnya. Pria itu baru saja mengutarakan perasaannya. Indah panas dingin sepanjang mengendarai motornya.
"Astaghfirullah, apa ini mimpi?" tanyanya pada diri sendiri.
Butuh waktu nyaris tiga jam untuk sampai ke hunian kecil di sana. Ada beberapa orang tengah mengerumuni pagar rumah gadis itu.
"Eh ... Ada apa ini?" tanya Indah bergumam.
Gadis itu turun dari kendaraannya. Ia melihat sosok yang ia kenali.
"Mas Jaka?"
Sementara itu Marco menatap kumpulan pria di depan sebuah rumah. Pria itu gegas menepikan kendaraan mewahnya dan turun dari sana.
"Mas Jaka!" teriak Indah yang diseret oleh seorang pria berperawakan besar.
Marco tentu meradang. Pria itu maju. Tapi ada enam pria bertubuh besar menghalanginya.
"Mau apa kamu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Dia pacar saya!' tunjuk Marco pada Indah.
"Kamu nggak berhak. Itu mas-nya!' ujar pria itu mendorong bahu Marco.
Sementara itu, Indah meronta melepas cengkraman sang kakak. Pria itu memaksa masuk rumah adik perempuannya.
"Cepat buka pintu!"
"Aku nggak mau!" teriak Indah.
"Tolong!"
"Bangsat!" maki Jaka.
Brug! Indah terpelanting, tentu tenaga Jaka bukan tandingan gadis bertubuh kecil itu.
Tangan Jaka hendak menarik jilbab adik perempuan yang mestinya ia lindungi. Tapi ....
"Arrrgghhh!" pekik Jaka kesakitan.
"Allahuakbar Allahuakbar!" suara adzan berkumandang.
Marco menyumpal mulut Jaka yang berteriak dengan sapu tangannya. Indah bangkit dari jatuhnya.
Gadis itu melihat enam pria yang tergeletak di aspal. Mereka semua tak sadarkan diri.
"Pa ...," mata Marco melirik sang gadis tajam.
"Sayang ... Lepaskan ya. Itu udah adzan," pinta Indah lembut dan meralat kata-katanya.
Marco melepas cengkraman tangannya pada lengan Jaka. Pria bertubuh besar itu langsung jongkok sambil memegangi lengannya yang berdenyut sakit.
"Masuk mas," ajak Indah.
Tak butuh waktu lama. Kawasan itu dipenuhi beberapa orang berpakaian serba hitam. Enam preman yang dibawa Jaka diangkut entah kemana.
Jaka menunduk di bawah tekanan Dahlan.
"Saya ... Saya hanya ingin Indah memberi saya pinjaman sepuluh juta ...."
"Aku cape pinjemin kamu terus mas!" sergah Indah kesal.
"Mestinya aku sudah punya rumah ini lunas dari dulu. Tapi kamu pinjem dan pinjem!" lanjutnya dengan nafas tersengal.
"Seratus juta semua uangku kau habiskan entah untuk apa!"
"Aku ditipu ...."
"Aku yakin kamu main judi mas!" tuduh Indah langsung.
"Aku tidak akan menjadi walimu ketika kau menikah nanti!" ancam Jaka menyeringai.
"Berapa kau butuh?" tanya Dahlan tenang.
Jaka menunduk, pria itu bungkam seketika. Dahlan mengeluarkan cek lalu menorehkan angka di sana.
"Deni, panggilkan pengurus setempat. Kita nikahkan Marco dan Indah sekarang juga!' perintah Dahlan.
Indah kaget, namun tidak dengan Marco. Pria itu diam seribu bahasa.
"Pak ...," Indah tentu malu memanggil Marco dengan panggilan sayang.
Marco menatap gadisnya tajam. Indah menggeleng, ia tak yakin dengan semuanya.
"Kau tak yakin dengan apa yang aku ucapkan barusan sayang?" tanya Marco menatap dalam gadisnya.
"Tapi ...."
Cup! Mata Indah lagi-lagi membola. Ciuman pertamanya direbut begitu saja oleh Marco.
"Diam dan ikuti perintahku!" ujarnya penuh ketegasan.
Tak butuh waktu lama. Pengurus RT dan RW datang. Bahkan mereka memanggil petugas KUA.
Uang memang mampu melakukan apapun, termasuk pernikahan mendadak ini.
Jaka gemetaran ketika menjabat tangan Marco. Pria itu harus mau menjadi wali nikah adiknya. Sebuah ancaman dari Dahlan membuat ia tak berkutik sama sekali.
"Sah!" seru Dahlan dan Deni juga beberapa pria di sana mengesahkan pernikahan dadakan ini.
"Silahkan tanda tangan di sini mba!' ujar pengurus KUA.
Tangan Indah gemetaran memegang pena. Marco mengelus tangan gadisnya agar tenang. Indah berhasil menggurat tanda tangan di sebuah kertas.
"Buku nikahnya sepuluh hari lagi jadi ya mba. Selamat, kalian berdua telah resmi sebagai suami istri!" ujar pengurus lalu mengumpulkan semua berkas yang ada.
Rumah sederhana itu telah sepi dari orang-orang berpakaian serba hitam. Jaka masih menunduk takut pada Dahlan, Marco dan Deni.
"Pak Jaka, cek ini seharga satu miliar. Bilang pada ibu anda untuk tidak lagi mengganggu adik anda Indah Andita! Katakan juga jika anda telah menikahkan adik anda dengan pria baik-baik!' sebuah perintah yang harus dituruti Jaka.
Jaka pergi, sebelum masuk mobilnya. Ia menatap hunian kecil milik adiknya itu. Sebuah penyesalan timbul saat itu juga.
"Maaf dik, maafkan mas mu yang tak bisa menjagamu!'
Kendaraan itu pun bergerak meninggalkan tempat itu selamanya.
Malam telah tiba, Indah masih tak percaya jika dirinya telah menjadi istri dari seorang pria yang kemarin cuek padanya.
"Sayang!" panggil Marco.
Indah terkejut dan nyaris menjatuhkan piring yang ia cuci.
"Astaghfirullah!"
"Hati-hati sayang!' ujar Marco khawatir.
Pria itu gegas membantu istrinya. Lalu dengan lembut mengelap tangan sang istri.
Indah menunduk, ia belum melepas hijabnya. Marco mengangkat dagu sang istri.
"Assalamualaikum istriku!' sapanya dengan senyum menawan.
"Wa'alaikumusalam suamiku," jawab Indah dengan semburat merah di pipinya.
"Ayo kita pergi!" ajak Marco.
"Kemana?" tanya Indah.
Marco tak menjawab. Pria itu lalu menggandeng tangan sang istri.
Tak butuh waktu lama. Keduanya berhadapan dengan Bart, Bram dan juga Herman.
"Jadi ini istrimu nak?" tanya Bart.
"Iya tuan besar!' jawab Marco tersenyum.
"Assalamualaikum sayang. Perkenalkan, kami adalah keluarga Marco!' ujar Bram menyambut Indah dengan ramah.
Lalu Indah tertegun dengan banyaknya bayi yang menatapnya penasaran.
"Papa imi spasa?" tanya Maryam penuh selidik pada Indah.
"Bana loleh-lolehna?" seru Al Bara kesal.
"Woh, memana Papa dali bana?" tanya Arsyad.
"Padhi Papa peuldhi pidat ajat pita!"adu Al Bara.
"Wah papa sulan!" seru El Bara kesal.
"Janan bibut pulu!'' seru Maryam kesal.
"Pita lada Mama balu!" lanjutnya menatap Indah.
"Itu guru Kakak!" seru Gino yang baru menyadari.
"Dulu?" tanya semua bayi dengan mata membulat.
"Iya ibu guru kakak di kelas!" ujar Gino tersenyum lebar.
"Jadi Papa nikahin Bu Indah?' lanjutnya bertanya.
"Beunitah?' seru semua bayi protes.
"Tot pidat pandutan?!' seru Aaima kesal.
"Atuh batah hati!" lanjutnya sendu.
"Baby," kekeh Marco dengan senyum lebar.
Indah berbinar menatap semua bayi yang memaksa bicara itu. Kini dipangkuannya adalah bayi bermata biru.
"Pandhil atuh apan baji baby Alsh!" suruh bayi dalam pangkuannya.
"Hah?" Indah tak mengerti.
"Panggil baby dengan Abang haji Baby Arsh, sayang," ujar Marco mentranslate bahasa bayi.
"Oh mashaallah!' seru Indah lalu mencium gemas Arsh.
Malam pun telah, larut. Semua manusia sudah ada di kamarnya. Indah menatap tempat tidur single yang sering ditiduri pria yang kini jadi suaminya.
"Kecil ya?" tanya Marco.
Indah menatap pria di depannya. Matanya penuh tanda tanya. Marco menghela nafas panjang.
"Aku memang suka sama kamu dan jatuh cinta. Hanya saja sebagai pengawal. Tugasku adalah nomor satu," ujarnya menjelaskan.
Marco menarik tubuh istrinya. Indah tergagap, ia menahan dada sang suami agar tak langsung menekan dadanya yang kini berdebar hebat.
"Aku mencintaimu sayang," aku Marco jujur.
"Tapi, harap kau maklumi ketika aku bertugas. Aku mendahulukan pekerjaanku!" lanjutnya memberitahu.
Indah mengangguk tanda mengerti. Marco gegas mencium lembut bibir yang selama ini ia impikan.
Rupanya pria itu mencintai Indah dengan caranya sendiri.
Bersambung.
Hiks ... Papa Marco. Happy wedding!
Othor masih jomblo! ðŸ˜
Next?