THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MINGGU HEBOH



Rosa mulai merasakan morning sick-nya. Wanita itu bangun sedikit siang. Hal itu membuat semua bayi menatapnya aneh.


"Momud dodidal tot panun sian?" tanya Maryam.


"Momud nggak bisa bobo tadi malam baby," jawab Rosa tak enak hati.


"Pa'a Momud ladhi pidat nenat padan?" tanya Al Bara lalu meletakkan punggung tangannya di kening Rosa.


"Pidat banas," gelengnya.


"Momud butan bales tan?" tanyanya menuduh.


"Ih ...!" sanggah Rosa keki.


"Momud lagi ada adik bayi di perutnya baby," ujar Indah memberitahu.


"Wah ... Tapan basutna?" tanya Fael tak percaya.


"Tot pidat sasalamutatatitum?" lanjutnya lagi.


"Biya, atuh pasih binun woh. Payi momud pama mami ipu basutna wewat bana?!" tanya Angel gusar.


"Atah Apah wewat sailan!" sahut Sabila mengingat jawaban Demian.


"Sailan pa'a?" tanya Chira bingung.


"Cairan yang diminum mami!" jawab Gino asal.


"Ayil butih?" tanya Firman memastikan.


"Jeli!" celetuk Rion yang langsung diberi pukulan ringan oleh istrinya.


"Mas baby!"


"Jeyi?" semua mata bayi membesar.


Rion tertawa terbahak-bahak, Azizah yang kesal mengigit bahu suaminya.


"Amah ... Anan matan Apah!" pekik putranya marah.


"Mama gemes baby, bukan makan," jawab Azizah masih memelototi suaminya.


Rion hanya tersenyum lebar. Terra juga memelototi bayi besarnya itu. Rion akhirnya diam dengan bibir terlipat ke dalam.


"Pita seyin matan seli pati pidat lada payi yayam beyut pita!' sahut Nabila mengelus perutnya.


"Mungkin kita harus sebesar mama baru bisa punya bayi," celetuk Della.


"Ah ... Tundu atuh pate tontat don!" seru Zaa kesal.


Indah terkikik mendengar kekesalan Zaa. Bayi cantik itu memang hiperbola.


"Nggak setua itu sayang," ujar Layla sangat pelan.


Dua anak kembarnya sedang bermain tanah. Hafsah dan Hasan menggali tanah yang dilapisi rumput sintetis.


"Sasan emu ewan linosausul!' seru bayi itu menarik cacing dalam tanah.


"Wah!"


Semua bayi langsung heboh. Layla menggaruk kepalanya. Masalahnya dua anaknya itu baru saja mandi.


"Yiyo au anem sanda!" seru bayi itu yang membuat Rion dan lainnya tersedak.


"Nanem apa baby?" tanya Michael gemas.


"Danda Apah!" jawab bayi tampan itu.


'Jandanya mana?" celetuk Exel.


"Ih!' seru Terra melotot.


Ryo menatap Exel yang melipat bibir. Bayi itu tentu tak tau apa yang baru saja ia ucapkan.


"Imih sanda!" ujar Chira memberikan sandal milik ayahnya.


"Sesal alih!" seru Ryo terkagum-kagum.


"Baby ... Ini nggak boleh ...."


"Ahhha henhsbsgsbshsjnszggsbwyzuwnuahshsnshahhwnshuberessssh!" oceh Ryo sampai menyembur liurnya.


"Baby!" tegur Rion.


"Huwwaaa!" Ryo langsung menangis ditegur oleh ayahnya.


"Eh kok cengeng?" seru Rion tak suka.


Ryo mencebik-cebikkan bibirnya. Bayi itu langsung menunduk. Terra iba melihat cucunya.


"Baby sini sama nenek!' ajaknya menatap kesal pada bayi besarnya itu.


Rion cemberut, Ryo langsung menyurukkan kepalanya di leher sang nenek. Lidya mendekat pada adiknya itu.


"Kamu dulu juga gitu baby," bisiknya.


"Ih ... Nggak ah!" sangkal Rion.


Lidya mencium adik kesayangannya itu. Rion merengek manja pada sang kakak. Lidya senang memeluk pria muda yang sudah jadi ayah itu.


"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Lidya menatap semua anak yang kini sudah kotor.


"Kenapa kakak tanya itu?" tanya Rion.


"Kakak nggak nyangka saja akan tiba hari ini sayang," jawab Lidya.


"Jangan ingat masa lalu kak!" peringat Rion yang tak mau mengingat masa lalu.


"Iya baby," sahut Lidya mengecup lagi adik besarnya itu.


"Makasih udah hadir ma," gumamnya lirih dalam hati.


"Amah ... Yoya au Atan pumput!" pekik Zora yang ditarik Luisa.


Bayi itu hendak memakan rumput sintetis milik Bart.


"Itu bukan makanan baby," ujar sang ibu.


"Inci-inci atan ipu ma!" seru bayi itu.


"Kamu bukan kelinci baby," ujar Luisa.


"Bemanan dat sisa adhi inci-inci?" tany Zora.


"Nggak bisa baby. Mama juga nggak mau kamu jadi kelinci!" jawab Luisa.


"Moooh!" Vendra berlaga jadi kerbau.


Bayi itu merangkak sambil nungging. Horizon, Faza, Al da. Hasan membeo.


"Uuuuk ... Uuuk!" seru Hasan meniru suara ayam.


"Ewet ... ewet ... Ewet!" sahut Horizon.


"Ayam dan bebek kakinya dua baby," ujar Michael memberitahu.


"Wewan tati pempat pa'a laja papa?" tanya Al Bara.


"Banyak baby, mau yang Omni, herbi atau carni?' tanya Michael.


"Pa'a ladhi ipu momi, belbi, pama lalni?" dengkus Al bingung.


"Nah, hewan itu dibagi berbagai kelompok, seperti pemakan segala disebut omnivora, pemakan daging itu carnivora, kalau pemakan tumbuhan itu herbivora," jelas Exel.


"Atuh wewan yan batan dadin!" seru Al.


"Tuh atan umput!' ujar Horizon.


"Tuh atan pa'a?" tanya Hasan yang bingung.


"Puding fla sudah siap!' seru Arimbi.


"Matan ipu laja ah!" sahut Al.


"Tuh udha!' sahut Hasan.


Semua bayi dibersihkan dahulu dari tanah yang mengotori mereka.


"Seupelum bita matan dit! Susi tananmu Pulu ... Beunjadha teubelsihan dit pemi teusesatanmu!" Firman bernyanyi.


"Kesehatan baby, bulan kesesatan," ralat Rahma dengan senyum lebar.


"Biya batsutna ipu!" sahut Firman tersipu malu.


"Banat-banat matan janan lada sisa .... Matan janan peulsuala!" lanjut Aaima menyanyikan lagu yang dibawakan Firman.


"Lelelum ita atan dip ... Usi nananmu lulu ... Sada-sada selesihan dip ... Memi sesetantanmu!" sahut Faza membeo.


"Anat-anat tatan anan mpe bisa ... Atan nanan sesuala!' sahut Nabila.


"Baby habis makan puding kita karaokean yuk!" ajak Kaila.


"Yut!" seru semua bayi.


Kaila menuju ruang tengah. Ia menyalakan dulu televisi dan memasang lagu untuk ia nyanyikan.


"Aku ingin engkau ... Slalu ... hadir dan temani aku ....


Di setiap langkah yang meyakini ku ... Kau tercipta untukku!'


Suara emas Kaila membuat Virgou kesal bukan main. Puspita harus menenangkan suaminya yang sangat posesif itu.


"Itu hanya lagi sayang."


"Bu'lek mau nyanyi juga dong!" pinta Dewi lalu mencari lagu yang ia inginkan.


"Bagaimana dengan aku ... Terlanjur mencintaimu, kau datang beri harapan lalu pergi dan menghilang ...."


"Sial ... sialnya kubertemu dengan cinta semu ... Tertipu dengan caramu seolah cintaiku ... Puaskah kau curangi aku!' Dewi menyanyikan reff nya dengan baik.


Para bayi berdatangan, mereka pun tak kalah heboh mempertunjukkan kemampuan bernyanyi mereka.


"Bihat tebuntuh ... Beunuh penan buna ... Lada yan butih dan lada yan belah ... Pestiap lali ... tusilam pemutnah ... bawal, beulati ... Pemuwana pindah!" seru Maryam menyanyi.


Haidar memeluk istrinya, ia mengingat masa kecil anak-anak. Ketika hanya ada Darren, Lidya dan Rion saja.


"Dulu, kita kerepotan hanya dengan satu baby saja ...," ujar pria itu tersenyum sambil menatap semua keturunannya.


"Sekarang siapa sangka Baby Rion bukan satu, tapi sebanyak itu?" lanjutnya sedikit mengeluh.


Terra tertawa lirih, ia mengangguk. Seluruh bayi sifat dan keusilannya sangat mirip dengan Rion bayi besar mereka.


"Sepertinya sifat itu menurun dari keluarga Hovert Pratama," jawab Terra usil.


"Apa? Nggak salah tuh?" sengit Haidar kesal.


"Ya, tentu saja. Mereka sama semua usilnya sama kamu pa!" jawab Terra.


Haidar berdecak kesal, tapi ia tak menampik perkataan istrinya.


"Itu paduan Dougher Young dan Hovert Pratama sayang," ujarnya pelan.


Bersambung.


Bener banget ...


Next?