
Blarr! Aarrggh!
Teriakan menggema, sebuah sinar putih menyilaukan mata menyeruak hingga Herman dan lainnya harus memicingkan mata.
Sebelas anak terbaring saling berpelukan. Ditya yang melindungi tubuh semua adiknya.
"Babies!" pekik Virgou.
Pria itu bersama Herman dan para bodyguard menolong semua anak-anak. Tangan mereka yang saling mengikat pun dilepaskan.
"Kalian tidak apa-apa?" semua menggeleng.
"Kami tidak apa-apa," sahut Salim.
"Ayo pulang!" ajak Virgou.
"Tidak Dad!" tolak Ditya.
"Baby, biar ini jadi urusan kakek!" ujar Herman.
"Tidak bisa Kek. Baby Ay ditandai, baby yang harus mengurai semuanya," ujar Ditya menjelaskan.
"Nak ...," Herman hendak menyanggah ucapan Ditya.
"Amara ...," Arraya menunjuk wanita yang berjalan melayang.
Gadis kecil itu ikut melangkah, Ditya dan lainnya juga mengikutinya.
"Sial!" umpat Herman.
Beberapa guru yang berdatangan ditenangkan oleh para pengawal. Mereka pun tak jadi menonton apa yang terjadi.
"Kak?" Radit memegang tangan Ditya.
"Jangan takut dek, ada kakak di sini!" ujar Ditya menenangkan adiknya.
"Kalian pulang ya," ajak Ken pada yang lain.
"Nggak mau!" tolak Bariana.
Bocah cantik itu jalan cepat dan langsung menggandeng Arraya.
"Bar ikut Aya!' ujarnya dengan mata melotot.
"Baby ... Ketua!" semua pengawal tentu khawatir dengan anak-anak.
"Biar Kean dan Pa'lek yang jaga!" ujar Kean.
"Papi ikut!" sahut Dav.
"Papa juga!" ujar Gomesh.
"Aya ...,"
Semua bergidik, suara halus perempuan itu terdengar lirih. Arraya mengangguk, ia pun berjalan beriringan dengan Bariana.
Ditya mempercepat langkahnya. Bocah dua belas tahun itu menggandeng Arraya.
"Kau hanya boleh menuntun kami. Tapi kami tak memiliki tanggung jawab sebelum yang terjadi pada dirimu!" ujar Ditya pada makhluk tak kasat mata itu.
Mereka melewati tempat jalan di mana Mang Kusni masuk dan keluar. Tempat di mana semua anak bisa kabur.
Semua berjalan kaki, beberapa pengawal memilih naik mobil dan mengikuti secara perlahan.
"Mereka lewat jalan kecil. Mobil tak bisa mengikuti kecuali jalan kaki!" ujar Ken yang ada di kendaraan.
"Marco coba kau telusuri jalan ini dan temukan jalanan besar!" perintah Ken.
"Ini aku menemukan jalanan mereka menuju jalan selatan!" tunjuk Marco pada ponselnya.
"Itu bukit yang ada di belakang sekolah tuan Samudera kan?" Marco mengangguk.
Semua anak bergerak, tak ada yang berani berlari. Mereka mengikuti kemana arah langkah Arraya.
"Aya!' wanita itu menunjuk satu tempat.
"Kita harus naik!" ujar Arraya.
Bukit itu cukup terjal. Mobil datang. Semua tas mereka taruh dan mulai mendaki bukit. Kean dan Satrio membantu adik-adiknya.
"Ah!" Harun nyaris terpeleset.
"Baby!' Virgou menarik lengan putra bungsunya.
"Daddy perih!" keluh Harun.
"Baby," Virgou sedih melihat luka lecet di telapak tangan Harun.
"Udah jagoan!" ujar Dav.
Lalu mereka kembali naik ke atas. Peluh bercucuran, Virgou Daan Herman nyaris menyerah. Usia memang tak bisa dibohongi.
"Astaghfirullah ... Kenapa aku jadi lemah begini?" sungut Virgou kesal.
"Hah!" Virgou menghela nafas kasar untuk membuang semua penatnya.
Sampai di tebing paling terjal. Mereka berhenti, Arraya menatap satu sela bebatuan di sana. Wanita itu menunjuk.
"Itu dia!" seru Arraya sambil menunjuk.
Kean dan Satrio tentu sangat penasaran. Keduanya ingin pergi ke sana, tapi langsung dicegah oleh Virgou.
"Jangan ke sana bahaya!"
"Kita panggil unit satuan tim SAR saja!" ujar Herman.
Tak butuh waktu lama, tim datang dan mengarahkan orang untuk mengambil sesuatu di celah itu.
"Ini jasad bayi siapa?" tanya petugas.
"Bayi dari Amara!' jawab Arraya.
Pria itu menatap Herman dengan kening berkerut. Herman menjelaskan apa yang terjadi.
"Wah ... Ini kasus pembunuhan sekitar delapan tahun lalu. Jasad wanitanya ditemukan dua puluh bulan setelah kasus terungkap. Tapi kami tak pernah berhasil menemukan jasad bayi yang dibunuh!' jelas petugas.
Akhirnya kasus delapan tahun dibuka kembali. Arraya dijadikan saksi atas penemuan tengkorak bayi malang itu.
"Jangan konfortir anakku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh!" tekan Virgou melarang.
"Jangan menghalangi hukum Tuan!" ujar salah satu petugas sok jago.
Virgou hendak menyenggrang petugas berseragam itu. Herman menahannya.
"Boy, kita ikuti dulu. Arraya baru berusia tujuh tahun. Ia juga punya hak dan dilindungi undang-undang!" ujar Herman.
Arraya bisa menjawab delapan belas pertanyaan dengan mudah. Gadis kecil itu tak takut sama sekali apa lagi pertanyaan-pertanyaan jebakan yang dilontarkan penyidik.
"Jadi kamu bisa liat arwah?" tanya salah satu penyidik dengan senyum remeh.
"Insyaallah!" jawab Arraya tenang.
"Kalau begitu hadirkan jiwa wanita yang bernama Amara ...."
Brak! Pintu lemari tertutup dengan keras. Tak ada orang di sana. Semua tentu terkejut.
"Itu Amara baru saja menunjukkan kehadirannya," ujar Arraya santai.
Gadis kecil itu pulang dengan perut lapar. Virgou dan Herman membawa banyak wartawan dari berbagai media karena para petugas hendak terus menahan Arraya dengan berbagai pertanyaan.
"Putriku hanya menolong. Bukan dia pelaku pembunuh itu!" teriak Virgou.
"Gomesh!"
"Ketua, saya sudah mendapatkan foto perselingkuhan mereka!" ujar Gomesh santai.
Beberapa petugas diam. Virgou membawa Arraya dan membuatnya bebas dari segala pertanyaan.
Sampai rumah Terra langsung menciumi anak perempuan bungsunya itu.
"Jadi kalian sudah menemukan jasad bayi itu?" tanya Maria.
"Sudah Ma!" jawab Arion semangat.
"Kita naik bukit!" sahut Azha juga semangat.
"Nih tangan kakak sampe lecet!" timpal Harun memperlihatkan luka di telapak tangannya.
Semua bayi rusuh. Mereka juga ingin berpetualang.
"Teunapa bas selu-seluna Ata' pemuwa pidat azat-azat tamih!' protes Arsh kesal.
"Ya kalian kan nggak ada di sana!" jawab Bariana keki.
"Beustina pilan pala walwah peuntayanan talo pita bawu iput!" sahut Aisya dengan bibir mancung.
"Spasa banana?" tanya Zaa ingin tahu.
"Nama siapa?" tanya Harun.
"Bana pantuna!" sentak Zaa melotot.
"Amara," jawab Harun.
"Mamala!" seru Zaa.
"Soba tawuh datan tamih inin blostes!" lanjutnya.
Wush! Angin tiba-tiba datang. Semua bayi terdiam di tempat. Mata mereka membesar.
"Siapa ... siapa yang memanggilku?" sebua suara serak nan lirih terdengar.
Para orang tua tentu kesal siapa yang berani bersuara seperti itu. Kean ada di sana menyeringai jahil.
"Sunjutan peuladaan lidimu!" seru Nisa kembaran Zaa.
"Tamih inin judha itut saliin payimu!' sahut Chira mencari-cari sumber suara.
"Bayiku sudah ketemu ... Apa kalian mau jadi bayiku?" sebuah suara serak nan lirih.
Horizon menatap Kean yang bersembunyi tak jauh dari sana. Bayi itu melangkah perlahan.
"Bayi ... Bayiku sekarang ada banyak!" Kean masih ingin menakuti semua bayi yang super kepo itu.
"Don!"
"Astaghfirullah!" Kean terkejut sendiri.
"Ata'! Behsbsgabwysbsgueebhzhzhaushdhsbsuwhzhbdhsuhawywh!" seru Horizon entah apa.
"Woh ... beulnata Ata' Tean yan bolon!" Arsh berkacak pinggang.
"Days ... Pita selan!" serunya memberi komando.
Kean berlari dari kejaran adik-adiknya. Arraya menatap asap tipis berbentuk wanita dengan wajah cantik dengan bayi dalam gendongannya.
"Terima kasih Arraya!' ujar wanita itu lalu menghilang ketika Kean menerjang bayangan putih nan tipis itu.
Bersambung.
Ah ... Woh.
Next?