
Hari kerja pun dimulai. Anak-anak kembali ke sekolah. Duo R, duo De dan Kaila sudah masuk universitas mereka.
"Enak ya, tahun kita nggak ada ospek!" seru beberapa mahasiswa.
"Udah dihapus dari jaman tante gue kuliah," sahut lainnya.
"Hai ... Kenalan dong!" ujar beberapa remaja mengulurkan tangan pada duo R.
"Hai!" Rasya menyambut dan menyalami gadis manis di depannya.
"Aku Daniah," ujar gadis itu tersenyum simpul.
"Rasya, ini saudara kembarku Rasyid. Ini Pa'lek dan Bu'lek aku Dewa dan Dewi, terus ini sepupuku Kaila!" ujarnya memperkenalkan seluruh saudaranya.
"Bu'lek Pa'lek?" Daniah merasa lucu dengan panggilan itu.
"Kenapa?" tanya Rasya polos.
Daniah menggeleng, gadis itu hanya mengangguk ketika berhadapan dengan Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila.
"Bule ya!" ujarnya pada Kaila.
"La bukan kita mah anak komplek sebelah!" sanggah Kaila dengan logat Betawi.
"Udah yuk," ajak Dewi sudah bosan.
Mereka berlalu. Kelimanya memang mengambil program yang sama yakni ekonomi dan bisnis.
"Yah, kita pisah kelas ya. Kakak di mana?" tanya Kaila pada duo R.
'Kelas ekonomi B," jawab Rasyid.
"Ila A, Bu'lek?"
"Bu'lek C," jawab Dewi.
"Pa'lek di E!" keluh Dewa yang menatap kelasnya berada di pojok.
"Besok kita minta satu kelas yuk!" ajak Kaila.
"Ayok lah!' sahut Dewi antusias.
"Dah yuk kita beda kelas aja. Biar nilai kita bisa tinggi sendiri di kelas!" tolak Dewa.
"Ah Pa'lek!" protes Kaila kesal.
Akhirnya mereka masuk kelas masing-masing. Sementara itu, Harun, Azha, Bariana, Arion, Arraya dan Salim berada di kelas yang sama. Mereka benar-benar duduk di barisan paling depan, Salim dan Arion. Bariana dan Arraya ada di pojok kanan sedang Harun dan Azha ada di pojok kiri. Sedang Titis ada di tengah bersama anak lainnya.
Guru masuk, Harun tetap jadi ketua kelas. Dari bayi Harun memang paling mendominasi. Bocah tampan itu berdiri.
"Siap, berdiri, beri salam!"
"Selamat pagi Bu guru!" seru anak-anak.
"Pagi anak-anak, duduk!"
Anak-anak duduk kembali. Harun pun memimpin doa sebelum belajar.
"Baik anak-anak buka buku kalian ya!" perintah guru setelah berdoa.
"Iya Bu guru!" seru semua anak menjawab kompak.
Sedang di rumah Terra, banyak anak-anak yang dititipkan di sana. Haidar tengah bersantai. Pria itu menikmati pensiun dini karena menyerahkan semua pekerjaan pada Rion, Al dan Sean.
"Ate ... Ate!" pekik Ryo berjalan tertatih.
"Sini Baby!" ujar Haidar gemas dengan putra Rion itu.
"Ate ... Yiyo au olah sih!" pinta bayi itu setelah berhasil menaiki Haidar dan duduk di pangkuannya.
"Mau sekolah, emang baby bisa baca tulis?" tanya Haidar gemas dengan bayi itu.
"Woh ... Talo Baby Pisa pulis pama paca napain setolah tate?" tanya Arsyad.
"Biya ... Tadan-tadan Tate imih nadhi-nadhi!" sungut Maryam mencebik.
Haidar menganga, ia baru saja dikatai cucunya.
"Tapi memang begitu peraturannya nak!" ujar Haidar tak mau kalah.
"Kalian harus tau huruf dan angka setidaknya. Bahkan tau bedakan warna," lanjutnya.
"Tewus tudas dulu papain? Pasa pantai, dudut pambil ontan-ontan tati!" sungut Fathiyya tak terima.
"Kan selain itu banyak yang kalian mesti tau sayang!' sahut Haidar mendebat.
"Kalian bisa menyambung kata, dan yang penting adalah kalian tak lagi pakai bahasa pelanet kalian!" jelas Haidar menang.
"Ata' Mima ... Ata' tan peusal, Ata' Syasyad Ama Ata' Thiyya judha pati pasasa meuleta patai pasasa beulanet!" sahut Fatih menunjuk Aaima, Fathiyya dan Arsyad yang sebentar lagi mau lima tahun.
"Talena tamih teulponsalimasi talian. Sadhi tamih peulum Pisa pahasa wowan pewasa!" jawab Fathiyya santai.
"Alif juga belum pisa pahasa dewasa!" sahut Arif adik dari Tiana.
Gadis itu lagi-lagi membawa ibu dan tiga adiknya ke rumah atasannya. Ia bertugas menjaga Dewi bersama lima pengawal lainnya.
"Ata' ... Omon jaja ... dat susah tatut!" ujar Faza yang terus menempel pada Alia.
"Baby," Firman mendekati adiknya dan menjaga agar Faza tak mengusili Alia.
"Talo Vela judha peulum Pisa!" sahut Verra.
"Tamuh seumumulan atuh! Sadhi wasal!" sahut Fatih santai.
"Apan baji baby Alsh ... Apan Pisa pasasa wewasa?" tanya Dita.
"Peulum," jawab Arsh lalu menguap.
"Pita bain yut!" ajaknya.
"Atuh bales!" tolak Maryam lalu memilih duduk di kursi.
"Pita bain datlit yan tayu ipu!" ajak Firman.
"Yut!" angguk Nauval.
Mereka pun bermain. Haidar membiarkan anak-anak, ia mengawasi agar tak terjadi kecurangan.
"Abang baby haji Arsh ... Kalau kayu sudah tertangkap. Berarti kamu keluar!" ujar Haidar.
Arsh kesal, ia tak menyangka jika kayunya dapat ditangkap dengan mudah oleh Al Bara.
"Tamuh yan beunel don bainna!' tegur Xierra pada Arsh.
"Atuh pudah beunel ... Pati Ata' Oval tantap Tayu Alsh!" ujar Arsh beralasan.
Sedang di sekolah. Bel istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas. Begitu juga Harun dan lain-lain.
"Kamu udah kenalan sama Salim kan Tis!" ujar Bariana memperkenalkan Salim.
"Udah tadi kan?" ujar Titis tersenyum.
Mereka membawa bekal. Tak lama Gino keluar juga membawa bekal.
"Kakak!" Gino tersenyum.
Ia duduk dan mulai makan isi kotak makannya. Arraya bertukar tempat makan dengan Titis walau berapa kali gadis kecil itu menolak.
"Makananku nggak enak Ya!"
"Semua makanan mama pasti enak Tis!" ujar Arraya tak peduli.
Ketika membuka kotak makan. Nasi putih, telor ceplok dan sayur sawi putih jadi santapan siang Titis.
"Pasti enak!" ujar Arraya lalu menyuapkan satu sendok nasi beserta sayur dan lauknya.
"Tuh kan enak!" pujinya sekali lagi.
Titis membuka bekal yang dimiliki Arraya. Nasi putih, sayur tumis bayam dicampur irisan jagung dengan lauk ikan goreng.
Titis tersenyum, rupanya makanan sahabatnya itu sama sederhana dengan dirinya.
Mereka makan dengan lahap. Gino membantu Salim menyuapinya. Rupanya Salim sedikit tidak bisa makan dengan sendok.
Arraya yang menoleh arah lain. Sosok rambut panjang menatapnya dengan senyum sedih.
"Aya?" panggil Harun.
"Eh ya?"
"Yuk masuk!" ajak Harun.
"Oke!" angguk Arraya.
Mereka pun masuk ke kelas, begitu juga Gino. Arraya masih menoleh pada wanita berambut panjang dengan tatapan sedihnya.
'Nanti aku samperin deh,' ujarnya dalam hati.
Anak kelas satu hingga kelas tiga, pulang terlebih dahulu. Gino keluar sudah ditunggui oleh Carlo.
Pria itu tentu tak mau kecolongan lagi setelah kasus guru yang menekan Gino. Lalu anak-anak yang berhasil lari ke sekolah Samudera.
"Ayo tuan muda!" ajak Carlo.
"Baby?" Gino menatap Arraya yang berjalan sendiri menuju gudang sekolah.
Carlo menoleh, Arraya tentu diikuti oleh pengawalnya, Alma.
"Baby ... Ayo pulang!" Alma berhasil menangkap Arraya dan menggendongnya.
"Tinti ... Kasihan dia Tinti .... Anaknya diculik!" tunjuk Arraya ke sebuah tempat.
Bersambung.
Eh ...?
Next?