THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KERIBUTAN



"Papa ... Rasya masa ambil kotak pensil Acid!" adu Rasyid kesal.


"Baby!" Haidar pusing jika kembarnya ini ribut.


Rasya dan Rasyid memang dua keras kepala. Remaja yang baru berusia delapan belas tahun dan baru memasuki status mahasiswa itu memang pendiam dan tak banyak tingkah.


Tapi jika sudah ribut, keduanya tak bisa dihentikan kecuali Rion. Sedang bayi besar Terra belum pulang dari kantornya.


"Baby, kenapa kamu ambil punya saudaramu?" tanya Haidar.


"Rasya tuker kok Pa, nggak ambil!' bantah Rasya.


"Acid nggak mau dituker!"


"Orang warna dan gambar sama kok. Kenapa sih!" sentak Haidar mulai emosi.


"Acid udah kasih nama Pa, nanti kalo Acid kasih nama ini dia marah!" lapor Rasyid.


"Mana tempat pensil kalian?!" pinta Haidar kesal.


"Buat apa pa?" tanya Rasya.


'Biar papa buang dua-duanya, nggak ada yang punya kan!' sahut Haidar emosi.


"Puwan jaja Pa ... Puwan ... Piyal Ata' Asad Ama Ata' Asid ndat pisa bulis!" sahut Arsh memprovokasi.


"Ataw tasyih Balyam Tate ... Balyam bawu beumpat peunsilna!" sahut Maryam lagi ikut-ikutan.


"Ate ... Nan adhih woan hahat ... Idat bawit!" ujar Faza mengingatkan.


"Papa, Jejel atan meundutun pa'a bun yan papa latutan!" sahut Angel menengahi.


Terra yang hendak marah pada suaminya jadi gemas pada anak-anak yang tiba-tiba jadi tiga kubu.


"Tamuh janan doda Tate atuh!" larang Fael.


"Tuh ndat doda Papa tot!" bantah Zaa.


"Tuh au adhih balaitat yan peslalu jadhain Papa!" sahut Alva merentangkan tangan melindungi Haidar.


Rasya dan Rasyid jadi gemas. Keduanya mengejar adik-adiknya untuk digelitiki.


"Tamuh sulan ... Tundu tamih peusal!" ujar Aisyah tergelak.


"Baby ayo cuci tangan, mami buat bolu pisang kukus nih!" teriak Seruni.


Mendengar kata makanan, semua heboh. Mereka berebutan mencari keran untuk cuci tangan.


"Jangan seperti itu baby, nanti baju kalian basah!" larang Dian.


"Tinti pawel!" sungut Angel.


"Baby ... siapa yang ajarin kata-kata itu!' seru Maria.


"Papa!" jawab Angel polos.


"Papa tan suta pilan Ommy pawel!" lanjutnya dengan tatapan tak merasa salah.


Maria terdiam, ia sangat ingat jika mengomeli suaminya. Gomesh akan selalu tersenyum dan mencium keningnya lalu mengatakan bawel.


"Astaga anakku!" gumamnya kesal sendiri.


"Makanya Kak, jangan omelin Kak Gom kalau di depan anak-anak," ujar Terra memberi peringatan.


"Habis kakakmu itu kadang-kadang ...."


Maria mengoceh kesal tentang suaminya yang suka sekali mengerjai dirinya. Terra tersenyum mendengarnya, ia lalu memeluk Maria dan mencium pipi wanita itu. Maria terdiam.


'Kakak emang bawel ternyata," kekeh Terra.


"Tuh tan, Jejel peunel!' sahut Angel santai.


Terra terkikik geli karena Maria menggelitiknya.


"Ampun kak ... Babies ... Mama diserang Mommy!' adunya.


"Ommy!" peringat semua bayi.


"Ommy ... Abehsbshwbshznsuwiwjdhwhqiaonauahsbsushsbhaush!' oceh Ryo dengan satu tangan di pinggan dan satunya lagi menunjuk-nunjuk Maria seakan menasihati.


"Kau bilang apa Baby?"


Maria gemas dengan cucu dari Rion ini. Ryo sudah jadi duplikat ayahnya, bukan hanya Ryo. Tapi semua bayi mengikuti jejak papa bayi mereka.


"Dulu ada satu Baby Rion," keluhnya.


"Sekarang semuanya baby Ryon. Sampai yang tua juga sama!' lanjutnya kesal sendiri.


"Maria ... Anakmu mengambil bolu pisangku!" teriak Bart mengadu.


"Penpa tutan nadu!" sungut Sena Starlight.


"Pa, itu kan ada yang lain," ujar Lastri menghela napas panjang.


"Tawu mih!" Sena masih mengoceh dengan mulut penuh makanan.


"Baby kalau makan jangan apa?"


"Pesluala!" seru semua bayi.


Hasan merangkak cepat, Hafsah mengikuti gerakan saudara kembarnya. Lalu Faza ikut-ikutan disusul Ryo lalu Horizon.


Zora melihat anak-anak yang seusianya seperti ingin mengerjai pengawal ikut-ikutan merangkak lalu Vendra juga merangkak membantu mengecoh para pengawal.


"Baby!" Sukma nyaris menangkap Hasan.


Tapi Hasan berhenti merangkak dan menegakkan tubuh. Hasilnya, Sukma yang sudah membungkuk terdorong ke depan dan jatuh terguling.


"Wow ... Bebat!" ujarnya terkesima.


"Aish!" kening Sukma berdarah.


"Wah ... Inti Usma lada siyop mewah!" seru Faza menunjuk.


"Tuh judha awu luan iyup yeyah!" sahut Hafsah yang tiba-tiba menungging.


Exel cepat menangkap bayi itu sebelum benar-benar terguling. Ryo ternyata juga ingin melakukan hal sama. Michael segera menangkapnya. Horizon sudah ada di tangan Fio jadi dia tak bisa apa-apa.


Dian menangani Sukma. Layla meminta maaf pada perempuan itu.


"Nggak apa-apa Umi. Babies nggak salah kok. Mereka memang luar biasa berkelit," ujar Sukma memaklumi.


Usai makan bolu, semua anak pun tampak berbaring di karpet tebal. Salim dan lainnya memang bermain sendiri.


"Sepertinya kita memang harus jagain adik-adik bayi deh," ujar Salim.


"Babies dijagain?" tanya Arraya lalu menghela nafas panjang.


"Iya, kasian papa dan tinti," ujar Salim prihatin.


"Nggak apa-apa. Biar Papa sama Tinti ada kerjaan," sahut Harun.


"Kita nggak akan bisa jagain bayi yang jalannya pake dengkul," sahut Azha malas.


"Baby Del aja yang perhatian sama mereka nggak dianggep," sahut Harun lagi.


Della di sana tampak duduk dan tak bisa melakukan apa-apa. Maria tersenyum melihatnya. Della sudah berusaha menjaga semua adiknya.


"Kamu luar biasa baby, tapi adik-adikmu itu memang tak bisa diam," ujar Maria menenangkan Della.


"Della cuma sedih, dengkul meleka kan lecet Mommy," sahut balita itu beralasan.


Maria tersenyum lagi. Ia mengecup pucuk kepala yatim piatu itu. Alia adiknya yang sudah sembilan belas bulan itu tampak asik berada di pangkuan Puspita.


Gino dan empat adiknya juga tak banyak tingkah, mereka sudah kekenyangan makan bolu kukus sampai tiga potong.


"Assalamualaikum, papa bawa mainan!" seru Remario datang bersama Rosa, istrinya.


Mereka baru datang dari berbulan madu. Setelah masa siklus Rosa, Remario langsung mengajak istrinya pergi sekaligus mengurus pekerjaan.


Pipi Rosa bersemu merah, Terra mendekati mertua sambungnya itu. Lalu menyenggol dan menaik turunkan alisnya.


"Gimana jeng?" tanyanya menggoda.


"Ih, sayang!" rengek Rosa mengadu pada suaminya .


Terra terkikik geli, Ia memeluk wanita muda itu. Rosa tentu usianya jauh lebih muda.


"Selamat datang nenek muda Rosa!' kekehnya lagi-lagi menggoda.


"Nyonya ...."


"Te bukan nyonya lagi, tapi Te adalah besan kakak sekarang!" ujar Terra tegas.


"Ingat, putri Te menikahi putra Kakak!" lanjutnya.


Rosa menatap netra coklat terang di sana. Ia sangat terharu langsung diakui sebagai sosok penting di sana.


"Momud!" teriak Arsh.


"Baby ...,"


"No ... pandhil Apan Baji Baby Alsh!" ralat Arsh bossy.


"Apa katanya?" tanya Rosa.


"Panggil dia Abang haji Baby Arsh Mom," jawab Rasya terkekeh.


Rosa mengangkat Arsh. Ia menciumi pipi bulat kemerahan milik bayi tampan itu.


Semua mainan dibagikan. Remario telah belajar dari Dominic yang membelikan mereka baju berbeda warna dan model. Kali ini pria itu membelikan mainan yang sama modelnya begitu juga untuk anak perempuan.


"Tot sama?" keluh Maryam.


"Baby, bilang makasih!" suruh Terra.


"Matasyih Potu!" ujar Maryam.


"Potu? Apa itu?" tanya Remario bingung.


"Potu pasa pidat pahu?" tanya Fatih meledek.


"Tidak baby?" jawab Remario gemas.


"Potu ipu Popa tuwa!'' jawab kembaran satunya, Aisyah.


"Mashaallah!"


Tak lama terdengar gelak tawa anak-anak. Semua memekik dan mainan yang baru dibelikan hancur karena ditabrak entah itu ke dinding atau ke pot guci keramik milik Kanya.


Prak! Pot guci seharga delapan juta pecah. Semua menoleh dan berteriak.


"Baby?" Ryo ada di sana tengah mencabut satu tangkai bunga.


Mata jernih berbinar tanpa dosa meninggalkan guci pecah. Bayi itu berjalan tertatih menuju buyutnya yang menganga melihat pot mahalnya yang hancur.


"Wuyuy ... puna imih wuwat yuyuy!" ujar Ryo memberikan bunga pada Kanya.


Bersambung.


Yah ... Ryo mantap lah 🤦


Next?