THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
ANI



Pagi menjelang, semua orang sibuk dengan kegiatannya. Darren sudah berangkat ke kantor bersama adik iparnya pagi-pagi buta.


Azizah memang belum pensiun penuh. Ia masih bekerja dan menciptakan pengaman data.


Adiba yang menjadi wakil dari Azizah yang menggantikan dirinya di kantor.


"Ma, titip baby dan adik-adik ya," ujar Azizah.


Rion ikut mengantar istrinya ke mobil. Terra tentu mengangguk, soal ASI, Azizah sudah menyetoknya di storage khusus.


"Iya sayang, hati-hati ya!"


Darren mencium kakak yang menjadi ibunya itu. Rion dan Azizah juga sama. Saf masih di kamarnya mengurusi empat anaknya.


Darren dan Azizah pergi bersama Dahlan, Andre dan Ambar. Theo masih cuti karena menikah kemarin.


"Ma," rengek Rion yang memeluk Terra manja.


Rion selalu sedih dan kolokan dengan Terra jika ditinggal istri bekerja.


"Baby," Terra mencium bayi besarnya itu.


Ia selalu akan memanjakan Rion. Entah kenapa, di matanya Rion tetaplah bayi delapan bulan yang datang padanya.


"Ma, kapan istri Ion berhenti kerja?" rengeknya.


"Baby, kan memang istrimu genius. Ada saja ciptaannya yang membuat geger dunia cyber. Doakan saja, semua berjalan lancar. Jadi Azizah bisa full di rumah," jelas Terra.


"Mama," rengek Rion yang membuat Terra menghela nafas.


"Baby, kenapa belum siap kerja?" Haidar keluar dengan baju kasual.


"Ah ... Papa!" rengek Rion ngambek.


"Eh, nggak boleh gitu!" ujar Terra.


"Ada banyak orang bergantung di perusahaan baby, mereka sangat butuh gaji. Kalau kamu malas, mereka gimana?" lanjutnya memberi pengertian.


Rion mengangguk, ia memang hanya ingin bermanja sebentar dengan kakak yang jadi ibunya itu.


Semua siap untuk pergi berkegiatan, ada yang ke sekolah, kantor dan rumah sakit. Mereka masih ada di hunian Bart.


"Mana mertuamu Terra?" tanya Bart yang memakai kaos oblong.


"Eh, Grandpa, pake baju yang bener. Udara dingin!" perintah Layla langsung.


"Ih ... Aku sudah tua ...!" sengit Bart menolak.


"Nggak boleh gitu Grandpa, nanti kalo sakit!' Layla menggiring pria paling tua di sana untuk berganti pakaian.


Terra tersenyum, ia senang banyak yang sayang dengan kakeknya itu. Bram bersama Kanya setelah semua anak pergi ke sekolah.


"Zhein dan Karina belum datang Maria?' tanya Kanya.


"Belum Nyonya," jawab Maria.


Kanya mengangguk, Gino, Seno, Lilo, Verra dan Dita sudah mau tinggal bersama Karina dan Zhein. Kemarin setelah bermain di carnaval Zhein membawa semua keponakannya pulang ke hunian mereka.


Tak butuh waktu lama, Karina datang bersama Verra dan Dita. Gino, Seno dan Lilo sudah diantar ke sekolah.


"Assalamualaikum!" Karina mengucap salam.


"Wa'alaikumusalam!" seru Ani yang membuka pintu.


"Sehat Bi Ani?" tanya Karina melihat perempuan yang telah ikut Terra lebih dari dua puluh tahun.


"Alhamdulillah sehat Nyonya," jawab Ani tersenyum.


Ani membantu membawa paper bag yang ada di tangan Karina.


"Istirahat lah bi," pinta Terra melihat Ani yang tampak kepayahan.


"Saya malah nggak enak kalo nggak ngapa-ngapain Nyonya," sahut Ani keberatan.


"Ada yang lain di sini Bi, jangan terlalu cape," ujar Terra sedih.


Ani senang diperhatikan sedemikian rupa oleh majikannya itu. Terra sudah ia anggap anaknya sendiri.


Gina datang bersama maid yang lain membawa sayuran. Mereka akan membantu semua ibu memasak.


"Uhuk!" Ani terbatuk ketika menuang lada dalam daging.


"Mba," Gina langsung menjauhkan Ani dari makanan.


"Udah istirahat aja ya," ujar Gina mengusap peluh yang membanjiri kening Ani.


"Bibi kenapa?" tanya Terra.


"Hanya batuk biasa nyonya," jawab Ani langsung.


"Udah istirahat aja ya. Bi Gina temenin Bi Ani ya," pinta Terra.


"Iya nyonya," ujar Gina lalu membawa Ani ke kamarnya.


Ani merasa tak enak. Usianya sudah enam puluh tahun. Perlahan ia menatap foto saudara sepupunya yang telah berpulang lebih dulu.


"Mba Rom," panggilnya lalu mengusap foto yang menampilkan seraut wajah dengan senyum tulus.


"Gin, tolong jangan buat nyonya khawatir ya," pinta Ani dengan senyum lembut.


"Mba," geleng Gina.


Deno sang suami dari Gina sedang bersama para pengawal. Pria paru baya itu tengah mengadu otaknya bermain catur.


"Mba nggak kemana-mana. Mba di sini sama kami!" ujar Gina tegas.


Ani menggeleng, ia merasa hidupnya tak lama lagi. Ia sudah sangat yakin jika para malaikat tengah menunggunya di pintu maut.


"Aku udah mau dijemput malaikat Izrail Gin," ujar Ani dengan senyum indah.


"Mba!" geleng Gina.


"Tolong iringi aku pergi ya," pinta Ani lalu mengusap pipi rekannya itu.


"Saya panggil Non Terra ya," Ani menggeleng.


"Jangan buat Non Terra sedih Gin," tolaknya.


"Tapi mba pergi, non Terra akan lebih sedih lagi!"


Gina tak menggubris panggilan Ani. Suhu tubuh wanita itu makin tinggi. Tak berselang lama Terra datang dan langsung duduk di sisi Ani yang terbaring.


"Bi?" panggilnya dengan mata basah.


Haidar ada di sana. Bart dan lainnya tak boleh masuk dan turut serta. Mereka harus menenangkan bayi yang super kepo.


"Pa'a ... Lada pa'a yan teulsadhi?!" tanya Zaa bingung.


Semua bayi tentu kebingungan melihat Gina yang berlari dan setengah berteriak memanggil nenek, ibu dan kakak mereka.


"Ata' mama Teyya bawu pa'a pi tamal Pi Ani?" tanya Chira lagi.


"Baby main yuk!" ajak Dian yang menyibukkan semua bayi dengan permainan.


Di kamar, Terra menangis. Ani mengembuskan nafas terakhirnya di pelukan Terra. Senyum terukir di wajah tua yang sudah pucat itu.


"Bibi ... Huuuu ... Uuuu ...bibi!"


"Non!" Gina merengkuh bahu Terra.


Deno masuk dan mendapati saudarinya telah berpulang lebih dulu langsung tunduk.


Semua kepala kini menunduk. Satu wanita baik telah berpulang ke Rahmatullah. Terra pingsan berkali-kali.


Ani adalah perempuan yang telah lama bersamanya ketika Terra baru menempuh hidup baru sebagai seorang istri.


Darren dan Azizah yang ada di luar kota pulang cepat. Rion dan Lidya saling berpelukan.


"Bi Ani orang baik mama. Jadi Allah panggil dia cepat," ujar Haidar menenangkan istrinya.


"Netnet beunindal puniya," ujar Arsh dengan mata berkaca-kaca.


Semua bayi yang rusuh mendadak tenang. Semua anak Terra dilanda kesedihan luar biasa.


"Bi, selamat tinggal. Sampai jumpa di Jannah bi," ujar Daud mengusap dan mencium terakhir kali wajah Ani.


Lidya melakukan hal yang sama. Begitu juga Darren dan Rion. Semua anak mencium wanita tua yang telah memejamkan mata untuk selama-lamanya itu.


Bumi yang panas mendadak turun hujan rintik. Ani telah dikafani. Dinar, Layla, Rahma memandikan jenazah wanita baik itu.


"Kita kebumikan setelah dhuhur ya," ujar Virgou sendu.


Pria itu menatap Bart yang duduk termenung bersama Bram dan Beny ayah dari Lastri.


"Kenapa dia yang usianya dua puluh tahun lebih muda dariku lebih dulu pulang?" tanya Beni sedih.


"Papa panjang umur. Pokoknya Papa, Daddy harus panjang umur!" ujar Frans.


Leon datang bersama Calvin. Mereka baru saja mendarat di bandara pribadi milik Bram dan langsung menuju kediaman Bart.


"Ayo bersiap ke villa!" teriak David.


Semua bersiap, jenazah di angkat ke keranda. Tak ada tangisan berlebihan. Tapi air mata yang berderai menandakan jika semua sedih akan kehilangan.


Tiga puluh menit, semua sampai di villa. Jenazah langsung diletakkan di masjid di depan imam.


Usai disholatkan, jenazah Ani langsung dimakamkan di sisi makam Romlah.


Tabur bunga memenuhi makam itu. Terra dipeluk Haidar, pria itu juga merasakan kesedihan yang dalam.


"Selamat tinggal bi Ani, surga menantimu. Tolong panggil kami ketika di hari akhir nanti," ujar Lidya dengan bibir gemetar.


"Met bobo panjang bi ... Hiks!" Rasya dan Rasyid menangis.


Rion memeluk keponakannya. Semua larut dalam kesedihan. Setelah itu kini mereka berada di villa. Virgou mengadakan selamatan selama tujuh hari berturut-turut di masjid untuk mendoakan wanita baik itu.


Bersambung.


Selamat jalan Bi Ani ... Innalilahi wa innailaihi radjiun!


😭😭


Next?