
Sukma menatap halaman belakang yang sepi. Hanya ada Bomesh dan Domesh yang tengah bermain.
Fael dan Angel murung di kursi khusus mereka. Keduanya jadi kurang nafsu makan.
"Peulnata pita pipohoni wuyuy!" ujar Fael kesal.
"Hiks ... Mama hahat!' isak Angel pada Maria.
"Basti Mama tan yan pusul pita pulan! Hiks!" tuduhnya pada sang ibu sambil menangis.
"Baby ...," Maria sedih mendengar hal itu.
"Sayang, makan buah dulu yuk. Ini ada buah naga loh!' ujarnya merayu dua buah hatinya.
Bariana hanya duduk-duduk saja. Ia enggan bermain. Tatapannya kosong menatap halaman.
"Kalian pasti sedang tawaf," gumamnya lirih.
"Kakak Sky pasti udah cium hajar aswat!" lanjutnya menerka, lalu buliran bening menetes membasahi pipinya yang halus.
Maria melihat putrinya ikutan sedih. Beberapa pengawal juga tampak tak bersemangat walau sebagian masih menjalankan tugas mereka dengan baik.
"Ndat mawu mama ... tapan solada-solada pita pulan?" tolak Fael ketika Maria menyuapkan buah naga.
Maria sedih mendengar pertanyaan itu. Selama dua puluh enam hari paling lama keluarga baru pada pulang. Sehari sebelum masuk sekolah.
"Mereka lama sayang," jawab Maria lirih.
"Mama ... pita pusul meuleta yut!" ajak Fael tak sabaran.
"Biya Mama ... pita pusul Wuyuy pama yan lainna!" ajak Angel antusias.
Maria mengusap pipi dua anaknya bergantian. Gomesh tengah bekerja. Beruntung Virgou telah mendaftar ulang semua anak yang masih sekolah sebulan sebelum kenaikan kelas.
"Mama nggak tau mereka di mana sayang. Nanti kalau kita susul ternyata mereka pulang gimana?" tanya Maria memberi alasan.
"Oh wiya ya!" sahut Fael tercerahkan.
Dua bayi itu tentu belum mengerti. Maria sebisa mungkin untuk mengulur waktu dan membuat kelima anaknya tak bersedih.
Sementara di ibadah suci. Virgou tampak terisak ketika bersujud. Banyak perbuatan dosa yang melintas dipikirannya.
"Apakah aku diampuni ya Allah ... apa dosaku pada Ben dan Selena bisa diampuni ... hiks ... hiks!" pekiknya tertahan.
"HambaMu ini bergelimang dosa ya Allah!" pria itu tersedu ketika bersimpuh.
Raudah adalah tempat di mana semua doa dikabulkan. Salah satu tempat suci yang makbul ketika orang berdoa di sana.
Tak beda jauh dengan Virgou. Bart dan Herman juga menangis dalam tunduk. Bahu mereka bergetar mengingat semua dosa yang telah dilakukan.
"Aku yang membuat Virgou sejahat itu ya Rabb!" ujar Bart dalam hati.
Tetes demi tetes air mata jatuh di pangkuan pria itu. Herman juga menahan tangisnya. Bart menoleh dan memilih memeluk Herman, keduanya pun bertangisan pelan.
Terra tengah beribadah bersama Kanya, Khasya dan perempuan lainnya. Semua tunduk dalam ke khusyukkan.
Para perusuh junior mendampingi adik-adiknya. Mereka juga tak kalah khusyuk berdoa.
"Ya Awoh, Yiyo bawu Pepet sesal ... awu pantiin papa jeja!" pinta Ryo menengadahkan tangannya.
"Ya Allah. Maafkan ayah dan ibu Della. Jauhkanlah mereka dari api neraka ya Allah!"
"Ya Allah, Ali nggak tau siapa ayah dan ibu Ari. Tetapi siapapun meleka ya Allah. Belikan meleka kesehatan dan kekuatan dalam menjalani hidupnya!"
"Ya Allah ya Tuhan kami. Ampuni dosa Papa dan Mama Gino ya Allah ... ampuni juga Gino yang masih benci sama papa padahal papa sedang sakit. Sembuhkan Papa, buka lah mata hatinya agar sadar dari semua kesalahannya," harap Gino dalam hati.
Sementara Santo tergugu, ia memeluk tiga anaknya yang juga menangis. Mereka mengingat sang ibu yang lebih dulu pergi.
"Mak ... kita ada di Mekah Mak ... kita ada di baitullah ... huuuuu ... hiks .. hiks!"
"Ma, dulu Mamak bermimpi keliling kabah. Lino wujudkan Ma. Insyaallah, Lino juga bisa masuk ke makam Rasulullah ya Ma! Ma bahagia di sana ya Ma!"
"Nak ... maafkan papa ... maafkan papa ... hiks ... hiks!" Santo memeluk anak-anaknya.
Gio memeluk Ditya dan Radit yang menangis. Mereka juga mengingat ayah dan ibu mereka yang tewas terpanggang di dalam bus.
"Mak ... Bapak ... Ditya kangen!"
Aini memeluk tiga anaknya. Ketiganya ikutan menangis karena dua paman mereka menangis.
Sementara itu Faza celingukan, ia mencari dua kakak kembarnya.
"Amah ... Ata' wuwo Lala anah?" tanyanya.
Lidya yang sedang terisak mendadak diam. Wanita itu menoleh ke tempat di mana dua putranya berada. Demian juga tak ada di sana.
Demian tengah mencari dua putranya. Pria itu menangis karena tadi ketika tengah berdoa tak menghiraukan sang putra yang bergeser.
Demian melihat Haidar.
"Papa ... Duo Bara ilang!" ujarnya memberitahu.
"Apa?" tanya Haidar mulai pucat.
"Baby?" Luisa kecarian dua anaknya.
"Jangan bilang Baby Zo dan baby Vendra hilang?" ujar Haidar lagi.
Luisa mengangguk, tapi sejurus kemudian ia lega karena Andoro menggendong keduanya.
"Kak, Horizon juga hilang!" pekik Gisel.
Semua yang tengah khusyuk berdoa tentu terhenti. Mereka gegas menghapus air mata mereka.
"Tiga putraku juga menghilang!" pekik Dinar.
"Astaghfirullah ya Allah!" Herman mengusap dadanya.
"Baby Kean, Baby Al dan Baby Daud mungkin bersama mereka Mommy!" sahut Darren melihat beberapa perusuh junior tak ada di tempatnya.
"Allahu Akbar ... kemana mereka!" ujar Virgou menghela nafas panjang.
"Ayo kita cari ... mereka semua berotak cerdas!" ujar Bart lalu mulai mencari keberadaan para perusuh yang hilang itu.
Enam bayi tengah berjalan menuju sebuah tempat. Mereka melenggang begitu santai dan tak ada yang mengganggu.
"Tamuh wawas!" usir Al Bara pada salah satu jamaah yang menghalangi jalannya.
Beberapa orang yang berkerumun tersenyum dan memberi jalan. Fio, Exel dan Hendra mencari keberadaan perusuh paling junior itu. Mereka melihat pergerakan para bayi. Sedang Budiman dan Dahlan yang menggendong Meghan mengikuti para perusuh senior yang pergi dari rombongan.
"Tuan baby!" peringat Dahlan pada Kean.
"Papa ... beli es krim!" rengek pemuda itu.
Budiman menghela nafas panjang. Ia tak tahu jika putranya juga hilang dari satuan.
Sementara, Al, El, Aaric, Seno, Alva dan Horizon berjalan mendekati pagar pembatas.
"Imih empat pa'a Paypi?" tanya Alva pada El.
Al Bara tak mengetahui di mana mereka berada dengan berani bertanya pada pria di sebelahnya yang sedang berdoa.
"Pom ... pom!" pria itu menoleh.
"Imih pempat pa'a?" tanyanya kemudian.
"The grave of the Messenger of Allah shallallahu alaihi wa salam!'' (Makamnya Rasulullah shalallahu alaihi wa salam!) jawab pria itu.
"Oh ... penpyu!" angguk Al Bara mengucap terima kasih.
Pria asing itu tersenyum, ia sangat salut dengan bayi pemberani itu.
"Pa'a atana Paypi?" tanya Aaric kini.
"Eum ... pidat pahu!" jawab Al Bara.
"Ojon lila tatana dlef op sesender Muhammad wololoh lalam!' sahut Horizon menjawab.
"Pa'a ipu dlef?" tanya Alva bingung.
"Buntin ipu pempat popona losul," jawab El Bara yakin.
Beberapa penjaga membuka tali pembatas.
"Hei ... sini ke lihat makam Rasulullah!" ajak pria itu memanggil enam bocah.
Enam bocah bergerak. Mereka menatap penjaga. Pria berkumis itu menyamakan tingginya.
Entah apa yang dibicarakan pria itu. Tapi enam bayi itu tampak mengangguk.
"Di sini makamnya Rasulullah dan di sebelah sana adalah dua sahabat Nabi yakni Abu Bakar dan Usman bin Affan!" jelas pria itu dengan bahasa Inggris logat India.
Bersambung.
Wah ... enam perusuh berhasil masuk makam Baginda Rasulullah??
(Mimpi othor bisa masuk ke makam dan ke dalam Ka'bah) aamiin ya rabbal alaamin.
Next?