
Nai memandikan bayi kembarnya. Ia dibantu Terra, sang ibu.
Nai yang baru saja menjadi seorang ibu, tentu sedikit takut menyentuh bayinya. Terlebih, keduanya belum puput pusat.
"Ini harus diletakkan seperti semula nak," ujar Terra meletakkan kembali pusat bayi.
"Berapa lama sih ma, copotnya?" tanya Nai.
"Ya, bisa seminggu paling lama nak. Paling cepat tiga atau empat hari," jawab Terra.
Setelah memakaikan bayi-bayi itu baju. Keduanya dibawa oleh nenek dan ibunya. Para bayi lain tentu heboh menyambut dua jagoan yang baru berusia tiga hari itu.
"Amah ... Payina sium don!" pinta Zaa.
Terra dan Nai duduk, semua anak mencium dua bayi yang belum diberi nama itu.
"Peulum tipasih bana mama?" tanya Arsh.
"Belum Abang haji Baby Arsh," jawab Nai.
"Namanya Hamzah dan Ali aja!" ujar Harun memberi ide.
"Iya, itu dua nama tokoh Islam paling berpengaruh dalam kehidupan Rasulullah!' sahut Arraya menimpali.
"Wah nama yang bagus!" angguk Nai setuju.
"Baby Ali dan Baby Hamzah!" putus wanita itu lalu mencium satu persatu bayinya.
"Sayang!' panggil Nai pada suaminya.
Langit baru saja berolah raga bersama mertua dan juga para ayah lainnya. Kaos yang dikenakannya basah, hingga tercetak dada bidang dan perut kotak-kotak. Nai berdecak melihat suaminya yang terkesan seksi itu.
"Wah, papa perutnya ada petakan sawah!" tunjuk Bariana.
"Bana dadina Ata'?" tanya Angel.
"Itu perumpamaan baby," jawab Bariana.
"Woh beulumpamaan ipu pa'a?" tanya Maryam ingin tau.
"Perumpamaan itu kata menyerupai atau seperti," jawab Bariana lagi.
"Beunyelupai ... Tayat Baby Mamzah pama baby Lali don! Pama!' sahut Aaima menyamakan perkataan Bariana.
"Bukan itu!" sungut Bariana.
"Sadhi batsutna pa'a Ata'?!" tanya Fael kini sambil menghela nafas panjang.
"Jadi menyerupai bukan berarti mirip. Tapi perkataan kakak menyamakan otot di perut Papa itu seperti petakan sawah!' lanjut Bariana menjelaskan.
"Ah ... Busin!" Aaima menepuk kepalanya lalu menggeleng.
Bariana hendak membuka mulut. Tapi, urung ia lakukan karena apapun penjelasannya. Semua bayi belum mengerti.
"Hei ... Sudah-sudah!" lerai Dominic.
"Pa, Baby udah dikasih nama loh!" ujar Nai memberitahu pada Langit.
"Oh ya? Siapa?" tanya Langit lalu duduk di sebelah istrinya.
"Eh ... bersihkan diri dulu sana! Kamu masih bau keringat!" peringat Luisa.
"Iya mom, mau cium baby sebentar!' lalu Langit mencium dua bayinya.
"Namanya siapa sayang?" tanya Luisa lalu duduk di sebelah menantunya.
"Ini baby Hamzah," jawab Nai meletakkan bayi yang ia gendong ke Luisa.
"Nah, yang sama mama baby Ali," lanjutnya memperkenalkan bayi lainnya.
"Oh, namanya indah sekali. Bukankah Hamzah adalah paman dari Rasulullah sedangkan Ali adalah menantunya?" ujar Luisa senang.
"Bener ma!" jawab Nai.
"Oh, baby Hamzah, assalamualaikum!" Luisa mengecup pipi merah bayi yang ia gendong.
Bayi itu menggeliat. Matanya mengerjap menatap sang nenek dengan dahi mengkerut. Lalu Hamzah pun kembali memejamkan mata.
Langit telah selesai mandi. Pria itu setuju dengan dua nama pemberian adik iparnya, Harun.
"Makasih baby, namanya bagus sekali!" pujinya senang.
Harun tersenyum, ia senang pemberian namanya disetujui oleh kakaknya. Bart dan Andoro juga setuju dengan nama itu.
"Baiklah, aku tambahi menjadi Hamzah Clementino Dewangga dan Ali Clementino Dewangga!" ujar Andoro.
Kini dua bayi dalam gendongan Virgou. Pria itu menciumi cucunya. Kean mendekat.
"Dad, kalau Kean nikah boleh punya anak lebih dari dua nggak?" tanyanya.
"Anak sialan!" sungut Virgou kesal.
"Ih, Kakak!" decak Terra melotot.
"Pusdahlah mama ... Tamih tat basalah talow lada nanat sisilan palu!" sahut Aaima.
"Biya, tat syusyah balah-balah!" sahut Arsyad.
"Netnet peslalu sesmosi!" sahut Maryam.
"Dalah tindi!" sahut Fael.
"Woh bait pa'a dalahna pisa tindi?" tanya Chira.
"Bait mamali!" jawab Al Bara.
"Woh ... Ipu sonsepna pijibana?' tanya Zizam.
"Sonsepna ... netnet Teya bait lamali!" jawab Al Bara.
"Pati netnet pidat ladhi bait mamali Ata'!" ujar Zizam.
"Netnet pindi butan?" tanya Al Bara dan dijawab Zizam mengangguk mengiyakan.
"Nah, sepindi ipu lah dalah netnet!" lanjutnya berasumsi.
"Talow pedhitu Tate peubih pindi dali netnet judha dalah pindi?" tanya Zaa.
"Biya!" angguk Al Bara.
Herman berdecak mendengarnya. Lalu semua anak diminta bermain bersama kakak-kakaknya.
"Nona Kaila!" sebuah teriakan terdengar dari luar.
Memang penjagaan mansion tidak diperketat. Kaila berhasil keluar melalui gerbang utama. Deno mengejarnya.
"Non!"
"Kakek, Kaila cuma mau beli cirembay!" rengek gadis itu.
"Kan bisa minta beliin kakek nak!' Deno berhasil menangkap Kaila.
"Kakek!" rengek Kaila.
Gadis itu akhirnya membeli jajanan yang ia inginkan. Makanan dari tepung tapioka itu tampak nikmat.
"Minta baby," Kean mengambil sumpit yang dipegang adiknya.
Pemuda itu memakan jajanan dan langsung kepedesan.
"Gila pedes banget!"
"Ih cabenya yang level tujuh loh!" ujar Kaila.
"Masa pedes sih?" lanjutnya.
"Awas diare baby!" peringat Puspita.
"Tenang Mommy!" Kaila melengkungkan jempol dan telunjuk jadi satu membentuk bulatan.
"Amah ... bawu yan mimatan Ata' Lalila!" pinta Maryam.
"Wiya mama ... Mawu!" seru semua bayi membeo.
Layla dan Rahma sigap membuat makanan yang diinginkan para bayi. Seruni tak mau pergi ke dapur sama sekali.
"Mami, mami nggak apa-apa kan?" tanya Sean.
"Nggak apa-apa. Cuma mami nggak bisa cium asap dapur baby," jawab Seruni yang masih mengidam.
"Tapi mami masih mau makan kan?" tanya Al.
"Mami harus makan baby. Kalau tidak, Uma kalian akan memarahi mami!" ujarnya lalu menatap perempuan yang baru ia sebut namanya itu.
"Baby Izzat!" pekik Exel mengejar putra bungsu Darren.
"Teusal atuh papa!" teriak Izzat yang berlari cepat.
"Baby!" Exel berhasil menangkap bayi tiga tahun itu.
"Hehehe ... Papa!" Izzat tersenyum lebar.
"Wayo pita lali!" seru Arsh mengomando.
Semua bayi mendadak berlari. Dian, Michael, Santoso dan lainnya panik.
"Baby, cirembaynya udah jadi!" teriak Layla.
"Janan pideunal!" seru Maryam.
"Pati atuh lapan!" sahut Fatih kembarannya.
"Atuh judha!' sahut Aaima.
Akhirnya, semua bayi dapat ditangkap dengan mudah.
usai makan, semua anak diwajibkan tidur siang. Semua kekenyangan.
"Mereka belum makan nasi loh?" ujar Luisa khawatir.
"Tenang nyonya. Cirembay tadi saya buat dari tepung beras, jadi itu cukup!" jawab Layla.
Nai membawa masuk bayi kembarnya ke kamar bersama suami. Sedang Arimbi masih mengelus perutnya.
"Baby, lahir cepat baby," ujarnya.
"Hei sayang!" peringat Khasya.
"Dia akan lahir di bulannya baby!" ujar Saf.
"Sana istirahat!" suruhnya tegas.
Arimbi menurut, suaminya belum pulang. Pria itu menangani perusahaan sang ayah. Remario ke Eropa bersama istrinya.
"Mami juga istirahat ya!" ujar Seruni.
"Iya mami!" ujar Saf.
"Istirahat lah!" lanjutnya.
Seruni masuk, akhirnya hunian besar itu sepi karena para perusuh tidur siang.
"Bunda," Terra memeluk Khasya.
"Bunda!" Luisa ikut-ikutan.
"Hei ... Sayang!" kekeh Khasya.
"Manja!" rengek kedua wanita itu kompak.
Khasya mencium pipi Terra dan Luisa. Andoro hanya menggeleng melihat tingkah istrinya. Berbeda dengan Haidar yang juga ikut minta disayang.
"Nanat sisilan!" gerutu Herman kesal.
"Nanat sisilan ini anaknya ayah!" sungut Terra sebal.
"Ya ... Kau kan biangnya sisilan!" ledek Bart.
"Nggak salah tuh?" celetuk Virgou.
"Kau!" sengit Bart.
Lalu semua pun tertawa bahagia.
Bersambung.
Next?