THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
JUMAT BERKAH



Masjid Al Huda milik keluarga Dougher Young penuh dengan jamaah.


Ini dikarenakan setiap minggunya memang Virgou memberi berkat makanan dan juga sembako.


Usai jumatan semua jamaah mengantri kecuali para perusuh paling senior dan paling junior.


"Apah! Yiyo au ntli babato!" seru Ryo ingin mengantri.


Kean berhasil mendapat nasi kotak. Pemuda itu berlari setelah Dav membagikan kotak berisi makanan.


"Baby ... Di rumah banyak sayang," bujuk Leon.


"Grandpa ... Kean kan juga jamaah. Nggak boleh diskriminasi dong!" tolak pemuda itu memberikan kotak makanan.


Virgou menggaruk pelipisnya. Ia memang tau jika semua anak akan mengantri makanan. Semenjak mereka kecil hingga sudah besar seperti ini.


"Sayang ... Papa bawa makanan dari masjid!" teriak Satrio.


Adiba tersenyum sambil menghela nafas panjang. Semua anak perempuan mengerubungi pria muda itu.


"Apah ... Au Apah!" ujar Hafsah ingin disuapi.


Satrio menyuapi semua anak-anak. Kean datang dan ikut makan bersama. Disusul Sean dan lainnya.


"Padahal di rumah juga ada," keluh Kanya.


"Makanya aku suruh Virgou untuk memperbanyak kotak agar anak-anak bisa dapat," ujar Khasya.


Di masjid ada ketika Rasya mengantri bersama Dewa dan kembarannya. Satu pria tua meminta dua kotak.


"Maaf pak, hanya satu kotak untuk satu orang!" tolak petugas yang memberikan kotak.


"Pak buat istri dan anak saya. Udah dua hari kami hanya makan mie mentah," ujar pria itu menghiba.


"Maaf pak, kan bapak dapat sembako juga. Masak aja itu. Kotak ini buat yang lain!" tolak petugas lagi juga memberikan alasannya.


Pria tua itu sedih, ia memang mendapat sembako. Tapi di rumah sudah tidak ada apa-apa untuk mengolah makanan itu.


"Pak!" panggil Rasya, pria itu menoleh.


"Nih buat bapak aja!" ujarnya memberikan kotak makan yang ia dapat.


"Loh anak nanti makan apa?" tanya pria itu.


"Saya makan di rumah aja pak. Mama saya masak banyak tadi!" jawab Rasya.


"Bawa punya saya juga pak!" ujar Dewa.


"Nggak nak, ini saja!" tolak pria tua itu hanya menerima pemberian dari Rasya.


"Udah nggak apa-apa. Ini juga ada sedikit rejeki buat bapak!" ujar Dewa lalu menyelipkan uang seratus ribu ke saku baju koko lusuh pria itu.


"Nak ...."


"Udah pak. Itu rejeki, terima aja!" ujar Rasyid tersenyum.


Pria tua itu sampai menangis ketika berterima kasih. Rasya, Dewa dan Rasyid tersenyum. Ketiganya saling pandang setelah pria itu pergi.


"Eh bener kata baby Bar waktu itu ya!' sahut Rasya meraba jantungnya yang tiba-tiba berdesir.


"Apa rasa aneh di dada yang kek desiran dan buat kita terharu?" tanya Dewa yang dijawab anggukan oleh Rasya.


"Udah, nggak usah diingat. Kata Papa kan kalo kita udah berbuat baik nggak perlu show off!" sahut Rasyid.


"Yuk pulang, kita makan bersama isi kotak ini!" lanjutnya mengajak.


Rasya dan Dewa merangkul bahu Rasyid di kanan dan kiri. Mereka tertawa dan bercanda.


"Assalamualaikum!" sapa Sri bersama tiga anaknya.


Pram ikut bersama wanita itu. Ia juga baru pulang dari masjid sholat jumat.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" seru semuanya membalas salam.


Semua sudah tau jika Sri rujuk dengan suaminya. Setelah kepulangan Pram dari rumah sakit. Mereka mengadakan acara kecil untuk menikah ulang.


Tangan Pram yang tinggal satu, menjadi momen sedih semua para perusuh.


"Papa tananna teunapa?" tanya Maryam dengan muka mencebik dan mata berkaca-kaca.


"Tangan papa diambil Allah nak," jawab Pram.


"Tasyihan papa ... basti pusyah sebot!" sahut Zaa yang membuat Lastri tak enak hati.


"Baby!" peringatnya.


Pram tersenyum lebar. Tiga anaknya juga menangis melihat lengannya tinggal satu.


"Apah ... Pate anan atuh palaw sebot!" ujar Sania bangga.


Pram menggeleng, ia memang tak memiliki tangan kiri untuk membersihkan tempat itu. Tapi ia punya cara untuk membersihkannya.


"Baby ... Tinti Sukma bawa makanan!" teriak Sukma.


"Duduklah, kita makan siang bersama!" ajak Khasya.


Semua makan dengan tenang. Usai makan anak-anak diminta tidur siang. Tiana masih belum mau duduk bersama ayahnya itu.


"Nak?" Khasya menenangkan gadis itu.


"Bunda ... Jangan paksa ya! Biar berjalan seperti apa adanya," pinta Tiana.


Khasya tak bisa memaksa. Tiana bukan Terra yang punya hati yang luas. Gadis itu memang masih marah dengan ayahnya.


"Segera maafkan ayahmu nak. Bunda tak mau jika ibumu nanti merasa bersalah jika kau masih terus begini," pinta Khasya.


Tiana menunduk, satu kecupan hangat dilabuhkan Khasya di kening gadis cantik nan tangguh itu.


Tiana menghangat, gadis itu pun menatap ibunya yang tengah bercengkrama dengan Lastri dan Kanya. Pram juga tak canggung berbicara lepas dengan mereka.


"Maafkan dia yang telah melukaimu. Memang sakit, tapi kau akan merasa bahagia dan tak akan menyesal nantinya!" lanjut Khasya.


Sore hari semuanya kembali pulang ke mansion Herman. Sri, suami dan tiga anaknya memilih pulang ke rumah.


Pram membawa istri dan anak-anaknya ke kediaman baru. Mereka tak lagi tinggal di hunian yang Tiana belikan untuk ibunya.


"Biar rumah itu untukmu nanti sayang," ujar Sri.


Malam menjelang, Michael masuk ke kamar istrinya. Pria itu mendapati Anggraini tengah mengaji.


"Sayang," panggilnya.


Anggraini menyelesaikan ngajinya. Ia gegas mencium punggung tangan sang suami.


"Mas mau mandi?" tanya wanita itu.


"Mas mau kamu!" jawab Michael.


Sementara itu di kamar lain. Fio masih belum bisa mendapat signal untuk mendekati Jelita.


"Ayah ... kenapa galak amat sih!" teriaknya kesal.


Pria itu memilih tidur cepat karena besok gilirannya berjaga malam.


Ratheo tengah berkeliling di hunian besar milik Herman. Pria itu masih terkaget-kaget, ia tak pernah berinteraksi dengan semua anak bayi.


"Theo?" Dahlan melihat pria yang baru datang. "Darimana kau?"


"Oh ketua!" Theo membungkuk hormat pada Dahlan.


"Saya baru saja datang," lanjutnya menjawab.


"Kamu nggak sholat jumat di sini?" Theo menggeleng.


"Kenapa?" tanya Dahlan lagi.


Theo memilih tak menjawab, ia tentu malu mengatakan kebenaran jika ia takut pada semua anak kecil yang memandangnya seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


"Kalian di sini?" sebuah suara yang membuat tubuh Theo tegang.


"Ayah," panggil Dahlan hangat.


Herman melirik Theo yang langsung beringsut mundur.


"Dahlan, besok aku minta wahana di xxx dikosongkan. Aku mau bawa semua anak bermain!" perintah Herman.


"Baik ayah!" sahut Dahlan.


"Ayah ... Ayah belum tidur?" sebuah suara lembut terdengar.


"Bunda ...," Herman merangkul istrinya yang datang.


Khasya menatap Theo, ia belum bertemu dengan pria tampan itu.


"Perkenalkan bunda ini Ratheo, dia adalah pengawal yang bertugas selama dua puluh tahun di Afrika," ujar Dahlan memperkenalkan Theo.


"Nyonya," sahut Theo kaku.


Khasya mengelus lengan Theo. Wanita itu memang begitu pada semua pengawal.


"Selamat datang Theo!" ujar Khasya lembut.


Sepasang suami istri itu pergi. Theo masih setia berdiri di sana. Matanya menatap dua punggung yang berjalan menjauhinya.


"Kau pasti ingin jadi anaknya," Theo mengangguk.


"Percaya lah. Kau akan merasakan. Kasih sayang luar biasa dari keluarga ini!" ujar Dahlan menepuk bahu rekan sekerjanya itu.


Bersambung.


Theo bagaimana jika jodohnya othor aja ya?


next?