
Di kampus, Rasya memang tidak sekelas dengan saudara kembarnya. Rupanya pihak kampus menolak permintaan mereka untuk disatukan.
"Hai Sya!' sapa salah satu gadis berkuncir samping.
"Hai," sahut Rasya membalas sapa.
"Aku boleh gabung di grup kamu buat survei masalah ekonomi micro nggak?" tanya gadis itu sambil merapikan riapan rambutnya ke telinga.
Sungguh perbuatan gadis itu bisa membuat kaum Adam terpesona. Gerakan lugu dengan suara lembut, tentu bisa meluluhkan siapapun.
"Nggak sama Ameer pacar kamu?" tanya Rasya lurus.
"Ameer bukan pacarku!" sanggah sang gadis menolak.
"Eh tapi kalian kan sering jalan berdua. Hari ini aja Ameer nggak ada jadi kamu sendirian," sahut Rasya lempeng.
"Intinya Ameer bukan pacarku!" sahut gadis itu.
"Jadi boleh ya aku gabung?" lanjutnya meminta.
"Bentar ya, aku tanya sama yang lain dulu," jawab Rasya tanpa melihat sang gadis.
"Nano, Lea, Doko!" panggil Rasya pada tiga temannya.
"Woy ada apa?" sahut ketiganya yang duduk di pojok.
"Nih si Silvia mau gabung. Boleh nggak!?" tanya Rasya sambil menunjuk sang gadis.
"Boleh ya! Ya! Please!' pinta sang gadis dengan menakupkan dua telapak tangannya di dada.
"Wah ... Kita bukan apa-apa, takut disemprot ama pacar kamu Si Ameer!" sahut Lea menolak.
"Gua nggak pacaran sama Ameer!" sanggah Silvia lagi.
"Nggak pacaran kok ciuman di belakang gerobak pak Bejo?" ujar Doko mengingat sebuah kejadian.
"Eh!' tiba-tiba ia menutup mulut.
"Doko!" teriak Silvia kesal.
"Dia bo'ong Sya!" ujarnya pada Rasya meyakinkan remaja yang ia sukai.
Silvia memang menyukai Rasya. Remaja delapan belas tahun, sebentar lagi sembilan belas tahun. Perawakan bulenya memang sangat kentara dibanding saudaranya yang lain.
"Lah kalo pun bener gue nggak peduli. Tapi maaf, bener kata temen-temen gue. Kita nggak mau berurusan sama Ameer pacar atau temen tapi mesra kamu itu!" ujar Rasya tak peduli.
Silvia kesal dan sedih, ia pun pergi ke luar kelas. Sedang Doko tampak ketakutan setelah mengatakan sebuah kebenaran.
"Eh kenapa muka kamu pucet gitu?" tanya Rasya.
"Gue kelepasan ngomong tadi. Mestinya gue nggak ungkapin itu?!" ujar Doko takut.
"Soal Silvia ciuman tadi?" Doko mengangguk.
"Emang kenapa?" tanya Lea.
"Soalnya Ameer udah kasih gue duit gocap buat tutup mulut dan gue bersedia," jawab Doko.
"Lah ... Itu mah masalah lu sendiri!" sengit Nano keki.
"Duitnya buat apa? Tumben lu mau disogok?" tanya Lea kesal pada temannya itu.
"Waktu itu emang gue butuh duit. Kan lu tau sendiri gue orang miskin!" jawab Doko juga sengit.
"Tapi jangan buat kemiskinan Lo itu jadi bikin Lo menyembunyiin kebenaran dong. Mana slogan Lo yang bilang si miskin anti sogok!" sengit Lea lagi.
Doko menunduk, waktu itu adiknya sakit batuk dan tak kunjung sembuh. Ayahnya sudah banting tulang untuk menghidupi seluruh keluarga. Ibunya juga sudah melakukan apapun untuk anak-anaknya.
Doko masuk universitas dengan beasiswa penuh dan dapat tunjangan hidup setiap semesternya.
"Uang itu buat beli obat batuk untuk adik gue," jawab Doko dengan air mata meleleh.
Lea, Nano dan Rasya terdiam. Mereka memang mengetahui keberadaan ekonomi keluarga Nano.
"Bapak udah dapat uang buat berobat adik. Tapi tiba-tiba rentenir datang menagih utang adik bapak, paman Eros. Bapak terpaksa kasih uangnya," ujar Doko lirih.
"Maaf Dok ... Gue nggak tau," ujar Lea menyesal.
"Kadang gue mau nyambi kerja buat bantu-bantu keluarga. Tapi kan tau sendiri persyaratan dapetin beasiswa dan tunjangan kampus harus bagaimana," ujar Doko lagi.
"Terus bapak juga melarang, gue disuruh fokus kuliah," lanjutnya lemah.
"Udah nggak usah mikir yang nggak-nggak. Silvia juga nggak bakalan ngadu ke Ameer kalo kamu bilang soal ciuman itu. Pastinya Silvia kena damprat juga," ujar Rasya.
"Iya ... Gue bakalan lindungi elo deh!" ujar Nano menepuk bahu temannya itu.
"Baby!" Rasya menoleh.
"Pa'lek!" sahutnya dengan senyum lebar.
"Yok ke kantin, kita makan!" ajak Dewa.
"Boleh ajak mereka?" tanya Rasya meminta.
"Tentu saja!" jawab Dewa.
"Ayo!" ajak Rasya pada tiga temannya itu.
"Alhamdulillah, bisa ngurangin jajan nih!" seloroh Nano.
"Alhamdulillah, makasih Pa'lek!" ujar Nano, Lea dan Doko bersamaan.
Mereka keluar kelas. Di sana sudah ada Rasyid, Dewi dan Kaila. Semua melangkah menuju kantin.
Hingga ketika berada di lorong kampus. Tiba-tiba mereka dihadang oleh Ameer dan kumpulannya.
"Doko, gue mau perhitungan sama Lo!" ujar remaja itu jagoan.
"Mau apa Lo Ama teman gue!" sahut Rasya berani.
"Eh ... Gue nggak ada urusan sama kalian semua. Jadi sebelum kalian jadi perkedel di tangan anak buah gue. Mendingan kalian minggir!" usir Ameer memberi peringatan.
Di sana Silvia berdiri dengan wajah menunduk. Ia memegangi pipinya yang terasa perih. Tak disangka aduannya membuat ia harus merasakan tamparan pemuda yang menyukainya.
"Tapi Doko temen gue gimana dong!' ujar Nano menentang Ameer.
"Minggir Lo orang miskin!" usir Ameer.
"Lo itu di sini bukan apa-apa dibanding gue!" lanjutnya sangat angkuh.
"Bomat! Bodo Amat!" tentang Nano.
"Guys!" seru Ameer pada sebelas anak buahnya yang bertubuh besar.
"Bereskan mereka!" langsung memberi perintah.
Perkelahian terjadi, tentu saja sebelas preman yang dibayar sebagai bodyguard Ameer bukan tandingan Dewa, Dewi, Rasya, Rasyid dan Kaila.
"Arrrgghhh!" teriak seorang pria tersungkur di ubin setelah diberi tendangan oleh Kaila.
Sedang dua pria berdiri kaku setelah ditotok oleh Dewi. Berbeda dengan Dewa dan dua R. Mereka banyak menghindar.
"Bangsat!" teriak salah satu preman.
Dewi melihat saudara kembarnya hendak diserang secara curang. Gadis itu hendak menolong tapi ....
Tap! Krek! Sebuah lolongan kesakitan terdengar.
Ameer diskor, pemuda itu harus menunduk di depan dekan. Haidar langsung menuju kampus mendengar putranya diserang preman.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Haidar cemas menatap anak-anaknya.
"Tidak apa-apa Papa!" jawab Rasya.
"Sebelas preman dalam keadaan luka dalam dan satunya lengannya patah!" lapor Budiman.
Semua menatap Dewa. Dewi bangga dengan saudara kembarnya itu.
Mereka akhirnya pulang. Virgou menatap bangga pada semua anaknya yang bisa membela diri dan membela temannya itu.
"Jadi Dewa hanya menggerakkan sedikit tangannya dan lengan lawannya patah seperti kayu kering?" tanya Bart dengan mata besar.
"Iya Grandpa, itu semua anak bercerita. Bagaimana santainya Baby Dewa mematahkan lengan pria yang ukuran tubuhnya lebih besar dua kali lipat dibanding dirinya!" jawab Haidar ngeri.
Herman pulang, ia menatap putranya yang memang paling kalem itu.
"Nak, apa perasaanmu?" tanya pria itu sedikit takut.
"Merasa bersalah yah," jawab Dewa yang membuat Herman lega.
Sementara itu, El Bara mendatangi semua saudaranya dengan mata besar.
"Days!" panggilnya.
Semua menoleh dengan muka penasaran tinggi.
"Lada selita pa'a baby?" tanya Chira begitu penasaran.
"Patlet Wewa batahin tanan wowan woh!" lapor El Bara dengan mata besar.
"Batahin padhaibana?" tanya Zaa.
"Batahin tayat dhini!"
El Bara memutar kepala mencari sesuatu. Ia mendapat satu batang lidi, lalu ia patahkan jadi dua.
"Patlet batahin lidi di tampus?" tanya Aima melotot.
"Tanan Ata' ... Tanan!" seru El Bara.
"Tanan wowan!" lanjutnya dengan suara besar.
"Basa tanan pamain pama Lidi?" sengit Fatih tak percaya.
"Pati ipu yan atuh deunal!" sahut El Bara meyakinkan.
Semua anak mendadak sunyi. Mereka menatap sosok yang baru saja jadi omongan itu.
"Buntin patlet putuh sapu puwat peulsihin telas. Sadhi Biya batahin lenan wowan," jawab Chira memaklumi.
Bersambung.
Bukan gitu baby. ...
Dewa 😱
next?