
Bariana ikut ke pasar bersama ibunya. Sukma dan Ambar mengawal keduanya.
"Mom, beliin udang. Bar mau makan udang goreng tepung," pinta bocah cantik itu.
"Baby mau udang?" Bariana mengangguk antusias.
"Pak beli udang galanya satu kilo ya!" pinta Maria lalu memilih beberapa udang besar.
"Kita mau makan apa lagi Sukma?" tanya Maria.
"Apa saja kami makan Nyonya," jawab Sukma.
Maria mengangguk, ia juga beli beberapa kepiting juga ikan kakap.
"Wah mau di asam pedas manis ya Mom ikannya?" tanya Bariana antusias.
'Iya Baby, sayurnya capcay aja ya, mommy juga mau beli cumi sama udang kecil untuk campurannya," jawab Maria.
Sukma mengambil alih tas belanja besar. Maria tadinya menolak, tapi gadis itu memaksa. Akhirnya tas itu berada di tangan pengawal cantik itu.
"Cantik amat sih neng!" goda beberapa tukang sayur pada Sukma dan Ambar.
"Bapak bisa aja!" sahut Ambar tersenyum ramah.
Bariana digandeng oleh Ambar. Gadis kecil itu bisa hilang jika dilepas begitu saja.
"Beli daging tidak ya? Biasanya lebaran haji anak-anak makan rendang sama ketupat," gumam Maria.
"Lebaran masih lama Mom!' sahut Bariana.
Maria mengangguk, mereka berpindah tempat menuju pedagang sayuran. Lalu beranjak ke rempah-rempah.
"Pegel Tinti," keluh Bariana.
"Gendong sini!' Ambar menggendong gadis kecil itu.
"Ugghhh! Lumayan juga sayang," Ambar sedikit berat menggendong Bariana.
"Baby turun!" perintah Maria.
"Nggak mau!" Bariana memeluk leher Ambar dan menyurukkan kepalanya di leher gadis itu.
Maria mempercepat belanjanya. Ia iba jika Ambar menggendong lebih lama putrinya.
"Kau ke mobil dulu saja sayang!" perintahnya.
"Bu ... Jasa bawain Bu?" seorang anak kecil datang menghampiri menawarkan jasa angkut.
"Oh tolong bawa ini ya Nak!' ujar Maria menyerahkan satu kresek kecil berisi bumbu.
"Baik Bu!' ujar bocah itu semangat.
Ambar memilih pergi ke mobil, di sana ada Marco. Ia akan menitipkan Bariana dan kembali pada Maria.
Belum sempat Ambar pergi, Maria sudah keluar pasar bersama barang bawaannya. Ambar mengambil kantung plastik dan membawanya ke bagasi mobil.
Anak kecil mengikuti dan menyerahkan plastik yang ia bawa.
"Ini nak!" Maria mengantungi lembaran merah di saku baju bocah itu.
"Makasih Bu, semoga Allah beri keberkahan dan kesehatan juga kesuksesan, aamiin!" ujar bocah itu senang ketika melihat bayarannya.
Maria ikut mengaminkan doa dari pria kecil kurus dan kotor. Ia sedih dan mengingat dulu adiknya sekecil itu ketika meninggal dunia.
"Kau sudah bahagia di surga dik," gumamnya.
Maria naik ke mobil bersama dua pengawal. Marco menyetir kendaraan itu. Hingga di pertengahan jalan, Maria melihat bocah itu tengah bertikai dengan dua pria dewasa.
"Berhenti!' suruhnya.
"Nyonya ... Tuan bilang ...."
"Aku suruh berhenti!" bentak Maria.
Bariana yang tertidur sampai terbangun mendengar bentakan ibunya.
"Mommy?"
"Berhenti Marco!" perintah Maria lagi.
Mobil berhenti, Sukma buru-buru keluar ketika Maria langsung membuka pintu dan berlari ke arah bocah itu.
"Mommy!" pekik Bariana ikut turun dan menyusul ibunya.
"Ketua!" pekik Ambar yang ada di kursi belakang.
Marco segera keluar dan ikut berlari. Ambar memilih maju ke depan dan menjaga kendaraan itu.
Gadis itu langsung menelepon ketuanya, Gomesh.
"Assalamualaikum ketua. Nyonya sedang berseteru dengan preman!"
Ambar sampai lupa jika dia mengucap salam. Gadis itu menutup mata. Kebiasaan di rumah yang mengucap salam terbawa padanya.
"Ada Marco dan Sukma membantu tuan, tapi Nona Bariana juga ada di sana. Saya menjaga mobil!" jawab Ambar ketika Gomesh bertanya.
Sambungan telepon terputus. Di sana Marco berkelahi bersama dua pria dibantu oleh Sukma.
"Ayo lari!" ajak Bariana pada bocah yang ditolong.
"Tapi ...," bocah itu ragu.
"Ayo Nak, kita langsung ke rumah ibumu!" ajak Maria.
Akhirnya bocah itu berjalan cepat bersama Maria dan Bariana. Mereka setengah berlari, baru kali ini Maria merasakan adrenalinnya berpacu kencang.
"Seru kan Mom?" sahut Bariana yang sangat antusias berjalan mengikuti bocah yang ada di depannya.
"Berhenti dulu!" ujar bocah itu lalu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Bariana yang juga berhenti dengan napas memburu.
Maria juga di sana memindai situasi. Jalanan lorong tampak sedikit sepi. Bocah itu mengintip jalanan besar.
"Kita harus menunggu, aku takut dua preman tadi ditunggu ayahku," ujar sang bocah.
"Memang ayahmu juga preman?" tanya Bariana.
"Iya, dia boss preman di sini. Ibu disekap sama ayah selama dua tahun. Padahal ibu sekarang sedang sakit," jawab bocah itu sedih.
"Namamu siapa nak?" tanya Maria.
"Salim, Bu. Nama saya Salim Anggara!" jawab bocah itu.
"Baik Salim, sepertinya ibu akan lapor polisi jika ceritamu itu benar adanya ...."
"Jangan!" cegah Salim langsung.
"Kenapa?" tanya Maria heran.
"Salim takut ayah malah nyakitin ibu. Dia pernah dipenjara dan ibu tetap tak bisa melakukan apa-apa, karena anak buahnya yang jagain ibu," jawab Salim.
"Salim!" teriak pria yang ada di seberang jalan.
Pria itu membanting botol minuman ke tanah. Ia marah besar setelah tau dua anak buahnya kini ada di kantor polisi.
"Kalau Lu nggak keluar, ibu Lu gue jual!" ancam pria itu.
Salim akhirnya keluar. Bariana dan Maria ikut serta. Tentu pria itu menatap heran.
"Kau bawa siapa? Kurang ajar!" bentak pria itu.
"Jaga bicaramu Pak! Kamu menyakiti putramu sendiri!" sergah Maria berani.
"Jangan ikut campur Lu!" bentak anak buah pria besar itu.
Maria dan Bariana langsung dikelilingi para preman. Maria tentu memeluk putrinya dan juga Salim. Ia menjadi tameng dua bocah kecil itu.
"Mommy ... Bar nggak apa-apa!" elak Bariana.
"Baby," peringat Maria pelan.
"Oh ... Mommy, dia panggil Mommy!' seru salah satu preman.
"Pasti orang kaya! Lihat antingnya!" tunjuk preman itu.
Maria sudah ketakutan, keringat dingin mengucur. Bariana kesal karena dipeluk ibunya erat.
"Mommy ... Lepas!"
Bariana berhasil lepas. Ia melihat salah satu pria hendak merampas anting sang ibu.
"Rasakan ini!"
Satu tendangan keras langsung mengarah ke tulang kering pria itu.
Duk! Aarrggh! Teriakan kesakitan terdengar, pria itu sampai melompat-lompat memegangi tungkainya yang ngilu.
"Kurang ajar ... Sikat dia!" teriak ayah dari Salim.
"Hayoo ibu cantik, goyanganmu di ranjang pasti enak!" salah satu preman melecehkan Maria.
"Diam di tempat!" sebuah suara teriakan menggelegar.
Tiba-tiba seratus pria berpakaian serba hitam merangsek dan menghajar para preman.
Mereka berusaha mengeluarkan Maria dan dua anak yang sedang terkurung.
Parjo kaget setengah mati, ia melihat wanita tadi hendak bergerak bersama dua anak yang ada di tangannya.
"Jangan bergerak nyonya, nyawamu ada di tanganku!" ujarnya lalu menarik Maria.
Bariana melihat ibunya di tarik sedemikian rupa tak tinggal diam. Gadis itu sudah dilatih oleh para pengawal.
Dengan gerakan cepat, Bariana menaiki kursi dan meja, lalu ia melompat dan langsung memberi pukulan pada wajah Parjo.
"Hiyaaa!" teriak Bariana.
Buk! Aarrrghhh! Kepala Parjo menoleh dan hidungnya patah hingga berdarah.
Maria menginjak keras kaki pria itu hingga mengaduh lalu menyambar Bariana yang ada di atas tubuh pria itu.
"Ayo Nak lari!" ajaknya pada Salim.
Salim ditarik oleh Maria. Hanya dalam sekejap puluhan preman terkapar tak berdaya. Parjo diangkut dan dibawa ke markas BlackAngel. Leo akan menghabisi pria itu sesuai perintah Gomesh The Giant.
"Sayang ... Kau tak apa?" tanya pria raksasa itu khawatir.
"Iya sayang ... Aku tak apa," jawab Maria.
Bariana diciumi oleh ayahnya. Salim menatap keluarga itu, lalu ia teringat ibunya.
"Ibu ... Ibu!"
Bersambung.
Next?