THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
AKHIRNYA



Virgou masih menatap pria yang histeris di sana. Burhan benar-benar kacau, ia tetap mengira dirinya di tengah lautan.


"Pergi!" usirnya pada ikan hiu kecil yang menyerang sampannya.


"Aku tobat Tuhan!" teriak Burhan.


Obat halusinasi yang dipakaikan Virgou padanya memang berdosis tinggi. Pria dengan sejuta pesona itu benar-benar ingin Burhan merasakan dirinya dibuang dan tak diinginkan.


"Aku tobat!" teriaknya lalu sampan yang ia tumpangi berguling.


Burhan memegangi sampan dengan kaki yang bergerak-gerak. Virgou tertawa di luar layar melihat kebodohan pria itu.


"Biarkan dia jatuh dan seperti tenggelam di dasar laut!" ujarnya.


Burhan lelah, kakinya seperti tak menyentuh dasar sama sekali. Perlahan pegangannya di sampan melemah.


Lalu ia merasakan tubuhnya jatuh ke dasar samudera. Padahal yang sebenarnya terjadi, tubuh pria itu jatuh dengan keras ke matras.


"Bawa dia ke pantai!" perintah Virgou.


Beberapa orang mengangkat tubuh pria itu dan membawanya ke mobil. Virgou berlalu, ia diikuti Budiman, Dahlan dan Gomesh.


Butuh waktu dua puluh menit sampai di lokasi. Pantai bersih yang disewa Virgou untuk mendukung balas dendamnya.


"Ketua!?"


"Lempar dia!" perintah Virgou datar.


Beberapa orang melarungkan dia ke pinggir pantai hingga bergulingan. Seluruh wajah dan pakaian Burhan penuh pasir.


"Ugghh!" ujarnya lalu air asin keluar dari mulutnya.


Virgou mendekati, Burhan menatap sepatu mengkilat di mukanya. Ia mendongak, hanya cahaya dan siluet yang menyilaukan penglihatannya, ia pun menyipitkan matanya.


"Tolong tuan," ujarnya lemah.


"Aku tolong ... Tapi tanda tangan surat ini!" perintah Virgou.


Burhan sempat membaca itu. Sebuah persetujuan hak wali yang diberikan olehnya pada Bart Sidhiq Dougher Young.


Burhan tau apa kesalahannya. Setelah memberi cap jarinya. Virgou mengambil kertas dan menyerahkan pada Dahlan.


Pria itu gegas ke mansion Bart agar pernikahan segera dilaksanakan. Virgou berjongkok lalu mengangkat dagu Burhan dengan jemarinya.


"Jangan ganggu adikku Anggraini!" tekannya dengan tatapan membunuh.


"Jika kau masih mengganggu, aku pastikan kau tak akan pernah muncul ke permukaan samudera lagi!" lanjutnya mengancam.


Virgou berlalu bersama Budiman dan Gomesh. Beberapa bodyguard membawa pria itu ke rumah sakit milik Daud untuk melakukan penanganan kesehatan.


Dahlan sampai rumah lebih dahulu. Ia menyerahkan surat itu pada Bart. Pria tua itu bercucuran air mata.


"Sayang ... Putriku!" teriaknya.


Anggraini yang tengah bercengkrama dengan adik-adiknya menoleh. Bart tersenyum dengan selembar kertas di tangannya.


"Kau jadi menikah nak! Ayahmu telah memberikan restunya padamu!" Anggraini mematung.


Bart mendekati anak gadisnya dengan senyum lebar. Ia memeluk dan memberikan surat itu pada sang gadis.


"Apa dia melakukannya dengan tulus Pa?" tanya Anggraini memastikan.


"Nak, kau ingin bahagia kan?" Anggraini mengangguk.


"Jangan kau tanyakan proses mendapatkan surat ini. Aku sudah janjikan kebahagiaan untukmu. Maka sebisa mungkin aku akan jadikan itu," ujar Bart.


Anggraini memeluk Bart dan menangis. Michael yang diberitau jika dirinya jadi menikah langsung mendatangi Bart.


"Tuan?!"


"Kalian jadi menikah minggu ini ... Ah ... Tidak, besok kalian menikah!" putus Bart.


"Pa?!"


"Aku bersedia Pa!" sahut Michael dengan binaran mata bahagia.


Bart merentangkan tangannya. Michael berhambur ke pelukan pria itu bersama sang gadis pujaan.


"Alhamdulillah akhirnya kakak menikah juga!" ujar Azlan bahagia.


Berita bahagia itu langsung diumumkan. Bart tak mau berlama-lama menikahkan putrinya.


Virgou mengurut pelipisnya karena sang kakek menyuruhnya untuk mempersiapkan pesta meriah.


"Kenapa besok sih!" dumalnya protes.


"Aku tak mau tau!" tukas Bart tak peduli.


"Ayah!" rengek Virgou.


"Ayah bantu ya sayang," ujar Herman menenangkan pria dengan sejuta pesona itu.


Semua media sibuk memberitakan pernikahan dadakan itu. Mita di rumah membaca, ia menatap nanar layar ponselnya.


"Jangan berpikir macam-macam Ma! Papa tak akan segan mengembalikan Mama ke Papa dan Mama!" ancam suami.


"Tidak pa ... Aku sudah malu dengan Raini juga keluarga besarnya," ujar Mita lirih.


Indro memeluk istrinya, ia juga minta maaf karena pernah berkelakuan sama. Ia juga nyaris meninggalkan sang istri akibat hasutan kakak kandungnya.


"Aku yang salah di sini sayang. Jangan limpahkan dendammu pada adik kandungmu," ujarnya menyesal.


Sementara itu, persiapan pernikahan dengan cepat dilakukan. Keluarga Dougher Young sangat kaya raya. Maka semua tentu beres dengan uang. Tapi tak semerta-merta mereka bisa dibohongi.


"Aku bisa mendakwa kalian dengan pemerasan jika menuntut pembayaran ini itu!" tuntut Gomesh pada oknum pejabat.


Gaun pengantin telah disiapkan. Cincin dan mahar pernikahan juga sudah tersedia. Michael benar-benar tampan dengan balutan koko warna hitam pekat.


Raut rupawan dihiasi peci di kepalanya. Rupanya hari ini dijadikan hari pernikahan oleh Bart. Pria itu tak mau menunggu besok.


"Amah ... Apan amah!" rengek Zora pada ibunya.


"Oh sayang maafkan mama!" ujarnya lalu membopong putrinya.


Andoro juga membawa sang putra. Keduanya masih disusui jadi tentu mereka kan terus lapar.


Lidya juga sedang menangkan Faza yang rewel. Layla berada di kamar bersama Hasan dan Hafsah bayi kembar sepasang, begitu juga Aini bersama Sabila dan Nabila.


Hari beranjak sore, semua pernak-perniknya pesta sudah menghias di hotel milik Virgou.


"Apa semua sudah siap sayang?" tanya Kanya pada Virgou.


"Ma ... Cape," keluh pria itu.


"Sini sayang," Kanya memeluk dan memijit kepala Virgou.


"Rambutmu wangi sekali," pujinya.


"Hei, itu ibuku!" teriak Haidar kesal.


"Sayang ... Apaan sih!" sungut Terra.


"Mama ...!" rengek Haidar yang cemburu.


Kanya tertawa, Virgou melepas wanita itu untuk memanjakan putranya. Haidar langsung memeluk ibunya.


"Ayo kak," ajak Terra pada sepupunya itu.


"Ayo!"


Jika Virgou bergandengan dengan Terra, maka Bart yang uring-uringan.


"Mau apa dua Dougher Young itu?!"


"Dad, mereka keturunanmu!" peringat Leon memutar mata malas.


Anggraini sangat cantik, kali ini tanda lahir di bawah mata kirinya tertutup sempurna. Bahkan jemarinya ditutupi dengan sarung tangan satun.


"Kak, jangan gugup ya," ujar Nai pada gadis yang tengah meremas jari jemarinya.


"Iya kak. Tenang, dulu kami juga berada di posisi kakak. Malah tak ada pesta sama sekali," ujar Arimbi.


Nini sangat bahagia karena akhirnya sang putri bisa menikah dengan pria pujaannya. Ia terus mendoakan agar semua berjalan lancar.


Di sana, penghulu datang bersama Bart. Pria itu keluar keringat dingin, ia membaca tulisan di meja.


"Astaga mana kacamataku!" teriaknya gusar.


"Sabar pak!" ujar penghulu menenangkan Bart.


Michael datang diapit Dahlan dan Budiman. Keduanya akan jadi saksi pria tampan itu.


Michael didudukan berhadapan dengan Bart. Ia juga sama gugupnya.


"Basmalah dulu!" suruh penghulu menenangkan dua pria itu.


"Apa sudah siap?" tanyanya lagi.


"Bismillahirrahmanirrahim, siap insyaallah!" jawab Bart dan Michael bersamaan.


"Silahkan saling berjabat tangan!" perintah penghulu.


Sedang di kamar, Anggraini menunggu dengan gelisah. Arimbi, Nai dan Nini menenangkan gadis itu.


"Assalamualaikum, sayang ayo keluar sambut suamimu!" ujar Khasya masuk.


Anggraini menatap Khasya yang tersenyum indah. Kini gadis itu diapit oleh dua ibunya. Michael tersenyum lebar.


"Alhamdulillah, nak. Cium tangan suamimu Nak. Michael Suarez sudah jadi suamimu yang sah!" ujar Bart haru.


Bersambung.


Alhamdulillah akhirnya.


Barakallah Ata' Raini dan Papa Pecel!


Next?