
Cadar adalah kain penutup wajah. Sebagian besar imam membolehkan penggunaan cadar. Ketika berhaji kemarin. Anggraini memang diwajibkan melepas cadarnya. Karena itu seluruh saudara perempuannya menutupi Anggraini agar tak ada yang melihat wajahnya.
Michael juga waktu itu belum memeluk Islam, maka ia tak tau rupa dan bentuk wajah gadis pujaannya.
"Memang kamu yakin jika ingin menikahi Nona Angga walau seperti apa bentuk wajahnya?" tanya Sukma.
Gadis itu juga tertarik dengan rekan sekerjanya. Namun, ia membuang semua perasaannya ketika Michael mengucap syahadat. Bahkan pria itu sudah berani menjalankan ibadah puasa sunnah Senin Kamis.
"Iya, aku akan menikahinya walau muka Nona cacat sekalipun!" jawab Michael tegas.
Sukma tak lagi bertanya, ia menghormati keputusan rekannya itu. Namun setelah percakapan itu tiba-tiba hatinya ragu.
'Apa benar aku sanggup menatap wajahnya jika benar-benar cacat?' tanya pria itu dalam hati.
"Apa Nona Anggraini menutup kekurangannya, agar tak ada yang melihat kecacatannya?" lanjutnya bertanya.
"Jika kau ragu, jangan teruskan!" sahut Haidar tiba-tiba.
Muka pria itu memerah, ia memang marah dengan kegusaran pria tampan itu. Michael Suarez menunduk, ia lupa jika seluruh pria di rumah itu sangat posesif.
"Aku melarangmu mendekati adikku Anggraini jika kau ragu dan hanya untuk melihat wajahnya saja!" tolak Haidar marah.
"Ada apa ini?" tanya Bart tiba-tiba.
Michael tak berkutik, Bart pasti akan mundur jika tau sebenarnya terjadi.
"Grandpa, masa dia mau mundur kalau emang wajah adikku cacat. Ia merasa nggak sanggup!" adu Haidar langsung.
Bart tentu marah. Ia mendekati Michael, hanya sekali tampar saja. Pipi pria itu langsung membekas tangan Bart.
"Daddy, ada apa? Kenapa Daddy tampar Michael?" Kanya yang melihatnya langsung mendatangi pria itu.
Bart dipegangi Kanya. Bram melihat istrinya tampak menenangkan pria paling tua di sana. Ikut mendatangi.
"Ada apa ini?" tanyanya.
Haidar tentu langsung mengadu, Bram menatap Michael dengan pandangan kecewa. Ia tak menyangka jika nyali pria itu sangat kecil.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?" Khasya melihat kasak-kusuk di sana.
Semua duduk, Michael menunduk. Tentu sebagai pria, terlebih ia memiliki paras rupawan. Michael ingin istri sepadan. Padahal baru kemarin ia menyatakan jika bersedia menerima apapun kondisi Anggraini.
"Munafik!" maki Virgou kesal.
"Sayang," peringat Lastri.
Anak-anak digiring keluar oleh Maisya dan para pengawal wanita agar tak mendengar obrolan orang tua.
"Teunapa syih pita halus pisintiltan talaw wowan puwa noblol!' protes Aaima.
"Basti palasanna talena pita basih teusil aypi!" jawab Zaa ikutan kesal.
"Badahal Banti tan dudah puwa judha tan?" tunjuk Aaima pada Zaa dan Aisyah.
"Atuh judha!" Chira menunjuk tangan.
"Anan alah ... tuh ugha antel!" ketus Vendra melipat tangan di dada kesal.
Adiba gemas dengan perkataan para bayi yang tua pangkat tapi sama umur dengan Ryo dan Horizon juga Hasan dan Hafsah itu.
"Pangkat boleh tua, tapi umur masih kecil aunty kecil!" sahut Harun menghela nafas besar.
"Eh ... Udah, kita main gobak sodor yuk!" ajak Adiba.
Anak-anak bermain, sedang di ruang tengah. Michael disidang. Setan memang tak menyukai pernikahan. Mahkluk yang memang tugasnya menggoda iman manusia itu pasti berbuat seribu satu rencana agar pernikahan itu gagal.
"Saya hanya manusia biasa Tuan," ujar pria itu menunduk.
Bart ingin sekali memukul pria itu. Ia baru saja menjanjikan kebahagiaan pada salah satu putrinya jika menikahi Michael.
"Baiklah, jadi kau mundur untuk menikahi putriku kan?" tanya Bart lagi.
"Ayah!" seru Virgou dan Haidar.
"Kita tak bisa memaksa Nak," ujar Bart menenangkan dua cucunya itu.
"Kalau begitu saya yang menikahi Nona Tuan!" sahut Fio berani.
Michael menoleh, ia lupa jika ketuanya itu juga menyukai Anggraini. Pria itu tiba-tiba dibakar cemburu.
"Ketua ...."
"Loh kenapa? Kau tadi ragu kan menikahi Nona? Aku yang maju sekarang!" ujar Fio meledek bawahannya itu.
Anggraini datang, gadis itu bersama Jelita dan Arini. Ia dipegangi karena baru saja mendengar perkataan yang kurang menyenangkan dari Michael.
"Nak," Bart sedih melihat netra putrinya yang berkaca-kaca.
Virgou dan Haidar mengambil alih gadis itu. Di dudukkan berhadapan dengan Michael dan Fio.
"Saya menolak tegas lamaran mereka dengan alasan apapun!" ujar gadis itu lagi dengan nada bergetar.
Khasya sedih, ia kemarin sudah memberi ketenangan anak gadis Bart. Tetapi namanya hati, pastikan hancur melihat ketidak sungguhan seorang pria.
Anggraini menutup matanya. Ia memang memakai cadar agar menutupi kekurangannya, terlebih ia berhadapan dengan anak kecil yang polos dan bertanya perihal wajah dan jemarinya yang cacat.
"Bismillahirrahmanirrahim," ujarnya lirih.
Perlahan, Anggraini menyusupkan tangganya ke belakang kepala yang terbungkus hijab lebar warna biru gelap.
Ia membuka pengait cadar dan menundukkan kepala. Perlahan, ia melepas kain penutup itu.
Anggraini menegakan kepalanya. Michael dan Fio bisa melihat jelas tanda merah di bawah mata gadis itu.
Tak hanya itu, Anggraini membuka sarung tangan hitam yang membungkus tangan dan jemarinya.
Fio dan Michael terhenyak melihat jemari kiri gadis itu yang juga cacat.
"Papa, ini adalah yang Allah beri pada saya. Saya tak pernah menyesali ini semua, justru yang saya sesali kenapa saya menutupinya!"
Anggraini berhati besar. Gadis itu cepat belajar dari segala sesuatu, ia memahami arti jika harus bersyukur dengan segala kondisi yang diberikan sang maha pencipta untuknya.
"Nona, kita jadi menikah!" ujar Michael tiba-tiba.
"Eh ... Kau tadi ragu loh!" sanggah Fio mengingatkan.
"Saya ralat lagi. Saya mau menikah dengan Anggraini!' tekan Michael.
"Kenapa?" sebuah tanya dari mulut Anggraini.
"Kenapa tiba-tiba ingin menikahi saya" lanjutnya bertanya gusar.
"Apa papa kasihan lihat saya yang cacat ini?"
"Bukan!" bantah Michael.
"Lalu apa?" tanya Anggraini kesal.
Virgou dan Haidar juga ikut kesal. Dua pria itu hendak melarang, tapi Bart menahan keduanya.
"Grandpa!"
Bart melirik Fio, ternyata aksi pria itu memang untuk menyadarkan anak buahnya itu. Michael memang jatuh cinta dengan Anggraini.
"Nona, saya nggak peduli. Saya akan menikahi nona dan membawa anda lari jika anda menolak!" ujar Michael asal.
"Kau mau mati!" teriak Bart kesal.
Akhirnya, lamaran Michael diterima Bart. Anggraini tadinya tetap menolak. Ia takut jika nanti Michael kembali berubah pikiran ketika melihat gadis cantik.
"Aku bersumpah, jika hanya kamu yang ada di hatiku Angga!" tekan pria itu.
Anggraini merona, ia menunduk. Bart meminta Anggraini untuk berpikir.
"Papa minta kamu berpikir dulu!"
Semua bayi tak ada yang takut dengan tanda lahir gadis itu. Arsyad memeluknya secara posesif.
"Ata' Anini ... Beustina tundu Syasyad peusal ... Syasyad basti pisa sadhi psumami!" ujarnya meyakinkan.
"Memang suami itu apa baby?" tanya Seruni gemas.
"Tayat Papa!" jawaban tepat Arsyad membuat Seruni lagi-lagi gemas.
"Nak, kalian menikah bulan depan ya!" suruh Bart.
"Baik Tuan!" ujar Michael menyanggupi.
bersambung.
ah ...
next?