THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
JABAL RAHMA



Sebuah bukit dengan banyak manusia tengah menaikinya. Di atasnya terdapat menara di mana tanda Nabi Adam A.S. bertemu dengan Hawa setelah diturunkan dari surga.


"Ini tempat di mana asal kita bermula. Nabi Adam bertemu dengan kekasihnya selama puluhan tahun," ujar Bart menatap bukit yang tengah dinaiki manusia itu.


"Ada riwayat mengatakan Nabi Adam bertemu setelah dua ratus tahun, ada yang tiga ratus juga ada yang empat puluh tahun. Wallahu 'alam!" sahut Herman.


"Jodoh Kean siapa ya?" kekeh pemuda itu lalu mulai beranjak menaiki bukit.


"Atuh au ait!" teriak para perusuh paling junior.


Semua ayah mengangkat tubuh mungil bayi-bayi yang mulai super kepo itu. Mereka adalah manusia kuat. Bukit itu tentu mudah dinaiki dan orang-orang gampang tersingkir karena sigapnya para pengawal memberi jalan.


Semua perempuan menulis nama jodohnya. Hanya keluarga Tiana yang tak mau melakukannya.


"Tulis lah Sri. Kau berhak memiliki jodoh yang terbaik!" ujar Najwa pada perempuan itu.


"Saya dulu menikahi ayahnya anak-anak juga berpikir jika ia adalah jodoh terbaik saya nyo ...."


"Panggil aku Ibu, Sri!" titah Najwa.


"Ibu ...," Sri menatap wanita cantik diusia senjanya itu.


"Terkadang, kita tak bisa memilih, tapi aku yakin kau pasti mendapat jodoh yang terbaik!" ujar Najwa.


Sri tersenyum, ia menyuruh anak perempuan tertuanya untuk menulis jodohnya. Zack menulis dalam bahasa arab. Pria itu tentu menyembunyikan siapa yang telah mencuri hatinya.


"Kean nulis nama siapa nih?" tanya Kean heboh.


"Sean juga? Ma apa boleh nulis nama mama saja?" tanya pemuda itu.


"Nggak boleh Baby!" larang Haidar.


"Jodoh Mama cuma Papa ya! Dunia dan akhirat!" lanjutnya menatap horor putranya.


"Ih ... papa apaan sih!" cebik Terra sebal.


"Biar bunda yang tuliskan ...."


"Nggak boleh sayang. Jodoh putra-putrimu bukan di tanganmu!" larang sang suami.


Khasya cemberut, wanita itu memang telah menyiapkan jodoh semua anak-anaknya.


Maisya mengelus tugu pertemuan itu. Ia membayangkan pertemuan sepasang asal muasal manusia.


"Katanya Siti hawa melahirkan empat puluh anak dalam dua puluh kali kehamilan. Ada yang bilang Siti hawa memiliki anak hingga 120," ujar Dewi.


"Pembunuhan pertama juga dilakukan oleh Qabil pada Habil," sahut Kaila.


"Ya ... apa yang terjadi pada Qabil setelah pembunuhan itu ya?" tanya Kaila.


"Ya menguburkan mayat saudaranya dengan petunjuk seekor burung," jawab Dewi.


"Bukan, maksudku apa yang dilakukan ayahnya pada putra yang membunuh saudaranya?" tanya Kaila.


"Qabil kan melarikan diri ke gunung. Mungkin sudah mati sendirian," jawab Dewa.


"Rasulullah pernah bersabda, jika ada pembunuhan maka dosanya pertama diberikan pada Qabil karena dia mencontoh perbuatan itu!" lanjutnya.


Satrio terdiam, ia menatap Virgou. Tentu saja sebagai seorang mafia, bunuh membunuh adalah hal biasa.


Pemuda itu mendekat, istrinya bersama beberapa adik.


"Dad," panggilnya pada sang pria dengan sejuta pesona itu.


Satrio memeluk Virgou erat. Ia membisikkan sesuatu pada salah satu pria yang disayangi itu.


"Jangan bunuh orang lagi dad,"


Virgou menoleh pada pemuda yang sudah beristri itu. Menatap manik pekat yang takut.


"Ada apa sayang?" tanyanya.


"Kita bukan keturunan Qabil kan?" tanya Satrio gelisah.


Virgou baru mengerti, ia membalas pelukan pemuda itu. Salah satu anak kebanggaannya. Julukan the shadowangel bukan sembarangan disematkan pada Satrio.


"Baby ... jangan takut. Yang kemarin adalah yang terakhir sayang!" janji Virgou.


"Janji?" Satrio menatap pria yang ia peluk.


"Janji!"


Setelah selesai mengabadikan momen di tugu itu. Mereka semua turun.


"Kita ke jabal Uhud!' teriak Haidar.


"Salah satu bukit yang nanti ada di surga!" lanjutnya semangat.


Mereka bergerak, namun rupanya para staf menghentikan perjalanan karena akan adanya badai pasir melanda.


Semua harus menurut jika ingin selamat. Mereka kembali ke Mekah dan kembali ke hotel di mana mereka menginap.


Sementara di benua lain. Setelah berbagi kemarin. Nai dan Arimbi jadi lebih banyak bersantai. Hari minggu tentu keduanya libur dan tak ke rumah sakit.


"Tumben nggak banyak yang melahirkan bulan ini," ujar Nai.


"Iya hanya pemeriksaan rutin saja," sahut Arimbi malas.


"Ayo makan siang!" teriak Maria.


Semua berhenti dengan nafas tersengal-sengal. Keringat mengucur dan membasahi baju mereka.


"Ih ... bau asem!' keluh Arimbi.


"Kok asem sih?" protes Reno.


Pria itu menyodorkan ketiaknya pada sang istri. Arimbi tentu langsung menciumnya.


"Asem nggak?" tanya pria itu.


"Nggak!" jawab Arimbi menggeleng.


"Coba Pa!" Nai mencium ketiak Langit.


"Nggak asem juga," sahut Nai.


"Ael sasem!" sahut Fael lalu menaikkan tangannya.


Arimbi mengangkat bayi itu lalu menciumi ketiaknya. Fael tergelak, Angel juga mengangkat ketiaknya.


"Jejel judha ... Jejel judha!"


Gelak tawa tercipta, Domesh, Bomesh dan Bariana harus berlari menghindar dari kejaran Reno dan Langit yang ingin mencium ketiak mereka.


"Mommy!"


"Hei ... ayo sudah!" teriak Maria.


"Ganti baju kalian sana!" perintahnya mulai galak.


Semua harus menurut jika tak ingin diomeli oleh Gomesh tentunya.


Setelah berganti baju, mereka makan siang. Seperti biasa mereka pun tidur siang.


"Mas,"


Maria duduk di sisi suaminya. Kepalanya ia letakkan di dada lebar Gomesh. Pria itu mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kangen anak-anak yang lain mas," keluh Maria.


"Sabar sayang. Mereka masih lama di sana," ujar Gomesh.


"Belum wukuf," lanjutnya.


"Mas ... ke kamar yuk!" ajak Maria.


Wajah cantik itu menatap pria pujaannya. Gomesh tentu senang dengan tatapan itu.


"Ayo kita cetak perusuh selanjutnya!" ujarnya lalu Maria terpekik Karen Gomesh menggendongnya seperti karung di bahu nya.


"Turunkan aku!"


"Papa tuyun tan Ommy seutalan judha!" pekik Fael.


Rupanya bayi itu bangun lagi dan mendapati ayahnya memanggul ibunya.


"Pa'a yan papa latutan!" tanyanya gusar.


Gomesh dan Maria menunduk. Dua manusia itu seperti pencuri yang tertangkap tangan.


"Baby ada apa?" tanya Langit yang mendengar kericuhan di luar kamarnya.


'Papa ... soba pasa Ommy pidendon tayat talun!' adu bayi tampan itu.


Angel bangun, bayi itu juga keluar dari kamarnya.


"Pa'a yan teulsadhi?" tanyanya kepo.


"Papa dendon Ommy tayat talun!" jawab Fael kesal menatap ayahnya.


Langit tentu mengerti, tapi ketika istrinya datang jadi sama dengan para perusuh.


"Papa gendong Mommy kayak karung beras?" tanya Nai dengan mata membesar.


"Biya Mama ... soba pitiltan!" jawab Fael sambil mengembuskan nafas tak habis pikir.


"Papa ... sejak kapan papa mengira mama karung?" tanya Nai.


Arimbi bangun, wanita hamil itu sama polosnya dengan anak dari keponakan ayahnya itu.


"Papa ... papa!" gelengnya tak percaya.


"Tapi Mommy suka sayang," sahut Maria tak tahan untuk tidak berkata dan membela suaminya.


"Pa'a Ommy suta pidandap talun?" tanya Angel dengan mata besar.


"Mommy ... kami kan bukan beras!' keluh Nai protes.


Bersambung.


Eum ... bukan itu maksudnya sayang. 🤭🤦


next?