
Harun, Salim, Bariana, Azha, Arion dan Arraya tidak sekolah. Enam bocah itu mendadak demam. Saf dan Lidya sudah mengobati mereka.
"Istilahnya mah ketempelan ma," ujar Saf menenangkan para ibu.
"Nanti kamu coba ke rumah Titis ya nak. Dia juga kemarin ikut dengan anak-anak," suruh Khasya.
"Iya bunda," sahut Saf menurut.
Darren mengantar istrinya untuk memeriksakan Titis. Benar saja, bocah itu juga terkena demam tinggi.
"Anak saya tidak apa-apa kan?" tanya Wawan khawatir.
"Tidak apa-apa Pak, Titis baik-baik saja. Ini ada buah-buahan kasih ke Titis untuk pemulihan cepat ya," ujar Saf lalu memberikan sekantung buah-buahan pada ibu gadis kecil itu.
"Makasih Non," ujar Wawan mengantar Saf dan Darren ke mobil mereka.
Gomesh langsung pulang dari markas mendengar anak-anak sakit.
"Babies," pria raksasa itu memeriksa putrinya.
Bariana tidur dengan kompres di kepala. Ia tampak lemah dan manja.
"Papa," rengeknya.
"Iya sayang," Gomesh sedih melihat putrinya.
Bomesh, Gino, Sky, Arfhan, Ditya dan Radit tidak berimbas dengan kejadian kemarin.
"Baby mau apa sayang?" tanya Gomesh.
"Mau bakso pa," jawab Bariana.
Fael dan Angel bermain dengan semua saudaranya.
"Aypi taban aypi beusal padhaibana?" tanya Chira perhatian.
"Padanna anet ... Setalan banja mama Papa!" jawab Fael sebal.
"Oh, pita tenotin yut!' ajak Chira.
"Tenot wowan satit halus pawa buwah tanan anti," ujar Maryam yang diangguki Arsyad.
"Aypi!" Arsh menghela nafas panjang.
"Tamuh piyasana bunya dide!" ujar Nisa.
"Pita binta wuwah Ama Mama!" ujar Arsh memberi ide.
"Oh pide badhus!" seru Zaa mengangguk setuju.
"Huh, pasa dithu laja pidat pisa mitil!" cibir Arsh pelan.
"Ata' nomon pa'a?" tanya Al Bara.
"Ndat ... ndat nomon pa'a-pa'a," jawab Arsh cepat.
Semua bayi menghadap Maria. Mereka meminta buah untuk menjenguk Bariana.
"Baby, Bariana ada di rumah buat apa buah?" tanya wanita itu dengan tersenyum lebar.
"Mama, talow jenut wowan satit ipu halus lada puwah tanan! Piyal lolan satitna sepet peumbuh!" jelas Arsyad.
"Yiyo bil lili!" ujar Ryo lalu naik ke atas meja.
Bayi mau satu tahun itu mengambil buah apel, jeruk dan buah naga masing-masing satu.
"Tot suma patu?" tanya Aaima heran.
"Yan banat don!" lanjutnya lalu ikut naik ke atas meja.
Terra membiarkan anak-anak naik. Mereka sibuk mengambil buah bahkan ada yang memakannya lalu memasukkannya dalam tas plastik.
"Kok dimakan baby?" tanya Rahma gemas.
"Suma lasain laja Mumi," jawab Nisa.
"Talot dat banis tan pisa talo ladhi?" lanjutnya santai.
Rahma gemas lalu mencium semua anak-anak. Mereka pun minta gendong. Akhirnya semua menjenguk Bariana yang ada di kamarnya.
"Sasalamutatatitum!' seru Fael masuk kamar kakaknya.
"Wa'alaikumusalam!" Bariana tersenyum.
"Ata'!" Fael dan Angel naik ke kasur sang kakak diikuti Ryo, Hasan, Hafsah, Horizon dan Faza.
"Aypi beusan basih satit?" tanya Zaa lalu meraba kening Bariana.
"Udah lumayan sembuh," jawab gadis kecil itu.
"Pergi beli bakso," jawab Bariana.
"Wah matan nenat nih!" seru Xierra semangat.
"Pita pidat pisa matan ipu aypi!" ujar Nisa.
"Woh, teunapa?" tanya Xierra bingung.
"Pita halus beunsenut aypi satit bainna!" jawab Nisa.
"Yah, dadahal atuh bawu matan patso!" keluh Xierra.
"Nanti umi buatin!" ujar Layla.
"Peunel ya!" ujar semua bayi memegang janji Layla.
"Ayo jangan lama-lama jenguknya. Biar baby Bariana istirahat!" ajak Terra.
"Sepat peumbuh aypi," ujar Zaa lalu memberi kecupan di kening pada keponakan besar setengah kecilnya itu.
Bariana mengangguk, Maria mengecup pipi putrinya. Tak lama gadis kecil itu pun tertidur akibat pengaruh obat yang diberikan Lidya dan Saf.
Semua bayi bergerak ke kamar Azha, Harun, Arion dan Salim.
"Sepet peumbuh ya aypis!" ujar Zaa penuh perhatian lalu memberi kecupan pada semuanya.
"Makasih anti," ujar Salim tersenyum lemah.
"Pita bawu te tamal Aypi Ayaya!" ujar Zaa pamit.
Terra gemas dengan adik bayinya itu. Ia menggendong Zaa dan menyembur perut bulatnya.
"Ata' amah!" seru bayi itu protes.
Usai menjenguk Arraya, mereka kembali ke taman belakang.
"Days!" Zaa memulai diskusi.
Semua duduk mendengarkan intruksi dari bibi mereka. Chira, Aarav dan Nisa tampak duduk di sisi Zaa. Sedang Zora dan Vendra memilih duduk bersama yang lain.
"Imih peslalu teulsadhi jita peumuwa aypi peutualan," ujarnya.
"Pati tatana meuleta pidat sedan tabun dali penawal!" sahut Nouval.
"Biya ... Meuleta pidat senaja basut puniya walwah!" sahut Meghan.
"Sadhi meuleta pidat beusyayah!" lanjutnya membela.
Zaa tak bisa berkata apapun. Ia mengangguk setuju. Karena adanya perbaikan di sekolah. Anak-anak semua pulang cepat. Indah menemani semua anak pulang.
"Mama duyu!" sambut semua anak pada Indah.
Istri dari Marco itu tersenyum simpul. Anak-anak mengerubunginya.
"Padhi Zaa piza nitun don!" ujarnya bangga.
"Oh ya?"
"Biya ... Mih, Zaa unya wuwa manda ... Teyus Mama tasyih ladhi duwa ... Sadhi Zaa bunya embat manda!" ujar bayi itu.
"Mashaallah! Baby pinter sekali!" puji Indah.
"Apan Baji Baby Alsh judha Pisa!" seru bayi super galak dan tak mau kalah itu.
"Coba?!" pinta Indah tersenyum.
"Eh, biar mama gurunya ganti baju dulu Babies!" seru Khasya.
"Ah ... Dadal deh!" sungut Arsh kecewa.
"Bisa nanti Abang haji Baby Arsh," ujar Indah tersenyum.
"Mama duyu ... palaow banti, totat apan Baji Baby Alsh puntu!" sahut Arsh beralasan.
"Ah baby," Indah mencium bayi itu.
Bersambung.
Atur aja deh Abang haji Baby Arsh.
Maaf Readers othor cuma dikit upnya ... Lagi sibuk menata hati ...
Hiks!
Next?