THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MENGUNGKAP



Malam datang, kamar Virgou diketuk dari luar.


"Daddy ... Daddy!" suara Ditya memanggil.


Virgou keluar dan membiarkan istrinya yang masih terlelap.


"Apa sayang, ini sudah malam sekali!"


Mereka semua ada di mansion Herman. Ditya yang juga memiliki indera sama seperti Arraya merasa gelisah.


"Daddy, Daddy harus tolong Aya. Ditya yakin jika semua ini belum terungkap sama seperti kemarin. Aya terus diikuti!" pinta Ditya.


"Nak ini sudah malam! Besok ya!"


"Sekarang Dad. Justru portal itu terbuka nanti tepat pukul 01.00 dini hari!" ujar Ditya menjelaskan.


"Memang ada apa jika portal terbuka?" tanya Virgou tak mengerti.


"Dad, alam gaib dan alam kita hanya tersekat dengan portal. Portal itu adalah pintu penghubung antara dunia jin dan manusia!" jawab Ditya lagi menjelaskan.


"Jadi maksudnya?" Virgou belum bisa menangkap apa maksud anak pengawalnya itu.


"Ditya akan menutup titik tengah Baby Arraya dan membuang apa yang menjadi tanda pada baby ke sana!" jawab Ditya lagi.


Virgou diam, ia sedikit mengerti masalah indigo. Tapi penjelasan Ditya sangat di luar akal manusia.


"Ayah belum pulang," ujarnya.


"Daddy telepon ayah. Suruh menyusul!' pinta Ditya memaksa.


"Apa kau yakin bisa menjauhkan Baby dengan menutup tengah adikmu?" Ditya mengangguk tegas.


"Ayah pasti setuju. Ayah pasti tau caranya lebih dari Ditya!" ujar Ditya lagi.


Virgou mengganti bajunya. Ia mengecup pipi sang istri dan membisikkan sesuatu.


Setelah kepergian Virgou. Mata Puspita menyala, wanita itu menatap jam yang menempel di dinding.


"Sebaiknya aku sholat minta pertolongan pada Allah. Agar suami dan anak-anakku selamat dari semua godaan syetan!" gumam wanita itu dalam hati.


"Baby Ay dibawa Dad," ujar Ditya lagi.


"Tapi adikmu sedang tidur sayang," ujar Virgou.


"Baby Ay sudah siap di kamarnya Dad!' ujar Ditya.


Virgou membangunkan Terra dan Haidar. Keduanya sempat menolak.


"Mama mau Baby nggak diganggu lagi nggak?" sentak Ditya gusar.


"Baby!" peringat Haidar.


"Maaf Papa. Tapi ini semua demi Baby Ay!" ujar Ditya dengan nada menyesal.


"Mama ikut!" ujar Terra pada akhirnya.


Haidar pun mengikuti apa yang dimaui istrinya. Sampai kamar. Arraya tampil sangat cantik. Terra sedih dan terpana jadi satu begitu juga Haidar.


"Baby?"


"Tenang lah mama. Aya yakin apa yang dilakukan Kak Ditya sama kakek Herman!" ujar gadis kecil itu berani.


Ketika mereka hendak turun. Arion keluar dari kamar. Bocah itu tidur bersama Azha dan Harun.


"Papa mama, Ayi ikut!"


Mereka melupakan jika Arion adalah kembaran Arraya. Mereka satu ari-ari> Satu-satunya kembar tidak identik yang memiliki satu ari-ari.


"Ayo Yi!' ajak Arraya dengan senyum lebar.


Akhirnya, Ditya, Virgou, Terra, Haidar dan dua anak kembar bungsu mereka pun pergi di tengah malam buta.


"Kita ke mana Baby?" tanya Virgou.


"Ke desa P di Jawa Tengah Daddy!" jawab Ditya.


"Ketua!" Gomesh mengejar tuannya.


Pria raksasa itu memang sangat dekat dengan Virgou. Gomesh akan selalu bersama di mana Virgou berada.


"Mau ke mana!?" tanyanya gusar.


"Ayo ikut. Kau bagian belakang!' perintah Virgou.


Gomesh naik, lalu disusul Haidar dan Terra lalu dua anak kembar mereka. Ditya ada di sisi kursi kemudi bersama Virgou.


Kendaraan bergerak, Virgou menelepon Herman yang ada dalam perjalanan pulang.


"Ayah, kata baby Ditya ayah suruh menyusul!" ujar Virgou setelah memberi salam


"Baiklah!" sahut Herman tanpa banyak bertanya.


Mobil menelusuri jalan sepi. Tentu saja dengan kecepatan 110km/jam. Hanya butuh lima jam karena memang jalanan sangat lengang dan Virgou mengendarai sedikit ngebut.


Pukul 23.15. Kendaraan Virgou sampai pada satu pedesaan yang jauh dari keramaian. Rumah penduduk berjarak sangat jauh antara satu dan lainnya.


Suasana mendadak tegang dan mencekam. Arraya tampak duduk tegak, matanya awas dengan keadaan sekitar.


Drrrrttt! Drrrrttt! Bunyi dering telepon Virgou, Herman meneleponnya.


"Assalamualaikum yah?!'


"......!"


"Aku ada di desa M, tepatnya di tugu tani!' jawab Virgou.


"......!"


"Oke aku tunggu di sana!" ujar Virgou.


Suasana kembali mencekam. Terra memeluk erat lengan suaminya. Gomesh baru merasakan suasana horor.


Bunyi jangkrik dan katak bersautan. Burung-burung malam berbunyi.


Kuk ... Kuk ... Kuk! Kesan angker dan mencekam benar-benar terasa.


"Daddy," Ditya menggenggam tangan Virgou.


Ditya baru dua belas tahun. Tentu ia baru merasakan ketakutan seperti ini.


"Jangan takut sayang. Ada Daddy di sini!" ujar Virgou menenangkan Ditya.


Tak lama mobil Herman datang. Ia bersama Kean dan juga tiga pengawal Kean.


"Ketua?!" ujar ketiganya menghadap.


"Kalian berjaga-jaga!" suruh Virgou.


Mereka mengangguk, Gomesh bersama mereka. Arraya tiba-tiba berjalan cepat menuju arah timur.


"Baby!" pekik Terra tertahan.


Ditya dan lainnya mengejar. Haidar menggendong Arion. Pria itu juga cemas.


"Anya!" panggil Arraya.


Wush! Udara dingin datang, Haidar mengeratkan pelukannya pada sang putra. Terra mau menangis, Kean langsung memeluk salah satu ibu kesayangannya itu.


"Ma, berdoa yuk ma!" ajaknya lirih.


Herman langsung ke depan berjajar bersama dengan Ditya, Arraya dan Virgou.


"Selamat datang!" sebuah suara bisikan terdengar.


"Anya ... Kau bilang mati terbunuh. Kau meminta adikku untuk menemukan pembunuhmu!" teriak Ditya berani.


Sosok wanita dengan pakaian kebaya warna biru hadir. Perempuan itu tersenyum dengan sangat mengerikan. Tiga pengawal dan Gomesh sampai merinding dibuatnya.


"Anya!" bentak Ditya.


"Jangan membentakku anak kecil!" sentak hantu wanita itu.


"A‘udzu bi wajhillahil kariim wa bi kalimatillahit tammati lati la yujawizuhunna barrun wala faajirun min syarri maa yanzilu minas sama’i, wa min syarri ma ya‘ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitanil laili wan nahari, wa min thoriqil laili wannahari, illa thariqan yanthiqu bi khairin, ya rahman!"


Artinya: “Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada orang yang baik dan tidak pula orang yang durhaka dapat melampauinya, dari kejahatan apa saja yang turun dari langit dan dari kejahatan apa saja yang naik ke langit; dari kejahatan apa saja yang masuk ke dalam bumi dan dari kejahatan apa saja yang keluar dari bumi; dari fitnah-fitnah di waktu malam hari dan di waktu siang hari; dari bencana-bencana dari malam hari dan siang hari, kecuali bencana yang datang dengan kebaikan, wahai Dzat yang maha penyayang.”


"Aarrggh ... Ampun!" teriak hantu wanita itu.


Sosok kebaya berubah jadi sangat menyeramkan. Tubuhnya kian meninggi, suaranya melengking.


'' Ngiiik!"


"Jangan ada yang mendongak!" larang Herman memberi perintah.


Semua menunduk. Herman kembali merapal doa yang pernah diajari oleh kakek buyutnya. Pria itu juga memiliki kelebihan yang sama dengan keponakan cucunya itu.


"Hanya Allah yang maha tinggi dan maha agung. Tak ada satupun makhluk yang bisa sebanding di bandingkan Allah!"


"Aarrrghhh! Ampun ... Carikan saja pembunuh Anya. Pria berengsek itu kini tengah bersenang-senang dengan selingkuhannya!" teriak hantu wanita itu lalu menyusut jadi kecil dan musnah.


"Ini lewat jam satu. Hanya kemungkinan kecil portal terbuka!" teriak Ditya.


"Biar ayah baby!" cegah Herman.


Arraya yang diam mematung langsung ditutup matanya oleh Herman. Pria itu membaca lagi doa-doa yang ia hafal dan rangkaian penutup indera ke enam.


"Hanya Allah aku ada, kepada Allah aku kembali. Semua kemampuan hanya milik Allah. Aku kembalikan apa yang memang menjadi milikmu!"


"Jangan tutup ... Jangan!" teriakan di lubang hitam terdengar.


Ditya melihat satu rongga berwarna hitam pekat. Hanya dia, Herman, Arraya dan Arion yang bisa melihat itu.


"Ayah sekarang!" teriak Ditya.


"Bismillahirrahmanirrahim! Allahuakbar!"


Herman menekan tengah kening antara alis mata Arraya.


Zeletar! Bunyi petir menyambar. Tik! Tik! Tik! Air rintik-rintik turun.


"Mama!' Arraya mencari Terra, ibunya.


"Baby!" teriak Terra.


"Ayo masuk mobil cepat sebelum hujan deras datang!" suruh Herman.


Semua masuk mobil, perlahan namun pasti. Kendaraan itu meninggalkan sebuah desa yang tak pernah terdata. Desa itu perlahan menghilang seirama kumandang pengajian di masjid-masjid terdekat.


Sepanjang perjalanan, Terra mencium putrinya. Arion sudah tidur dipelukan Haidar. Keduanya dapat bernafas lega.


"Baby Ay tidak akan diganggu lagi Ma," janji Ditya.


"Selamanya?" tanya Terra dengan senyum lebar.


Ditya menatap ibu yang disayanginya itu. Ia menggeleng lemah.


"Mudah-mudahan tidak ada yang mengasah kemampuan Baby Ay,' jawab Ditya lemah.


"Baby Ayi gimana?" tanya Haidar cemas.


"Baby Ayi bisa mengendalikan sendiri kekuatannya. Baby hanya terpancing jika Baby Ay terkena itu," jawab Ditya.


"Bagaimana dengan Anya?" tanya Gomesh yang membuat semuanya diam.


Bersambung.


Ah ... Akhirnya Baby Aya tidak di ganggu lagi.


Next?