
Semua bayi tampak memakan buah naga. Maria memang selalu memenuhi kulkas dengan buah-buahan.
Hunian Gomesh kini jadi tempat berkumpulnya mereka. Hari ini adalah ulang tahun Domesh yang ke tiga belas tahun.
"Babies mommy mau buat crepes cake nih. Mau yang selai strawberry atau coklat?" tanya Maria.
"Sosat Ommy!" jawab semua bayi kompak.
"Ata', Alia bawu yan spolebi," bisik Alia pada Firman.
"Sosat judha enat tot baby," jawab Firman memberi peringatan adiknya.
"Atuh judha peubenelna bawu yan sopeli," ujar Dita.
"Ata' judha," sahut Verra.
"Sosat judha nenat tot!" ujar Firman lagi-lagi memberi pengertian.
"Talaw Ata' pitinin loti peslai stobeli bawu?" tanya Firman tiba-tiba punya ide.
"Bawu Ata'!" angguk Dita, Alia dan Vera.
Firman pun berjalan ke dapur. Balita berusia mau lima tahun itu menaiki kursi. Ia mencari roti.
"Baby mau apa sayang?" tanya Layla melihat Firman yang melihat apa isi di atas meja.
"Loti Mumi!" jawab balita itu.
"Roti? Buat apa sayang?" tanya Rahma yang tengah mengadon tepung.
"Lada yan bawu matan tuwe pate peslai stobeli Mumi," jawab Firman.
"Oh, kalau begitu Mommy akan buat dua kue rasa berbeda ya, yang satu rasa coklat dan satu lagi rasa strawberry!" ujar Maria.
"Sini Umi bantu buat rotinya baby," ujar Layla.
Setelah membuatkan roti selai yang diinginkan. Firman mengucap terima kasih.
"Sama-sama baby, sun dulu dong!" pinta Layla menyerahkan pipinya.
Firman mengecup pipi wanita yang juga sangat menyayanginya itu. Ia membawa piring plastik isi roti selai strawberry ke adik-adiknya.
"Pa'a ipu aypi?" tanya Zaa.
"Loti peslai Anti," jawab Firman.
Dita, Alia dan Vera mengambil roti itu. Semua anak tentu heboh.
"Amah ... Amah!" pekik Ryo tak terima.
"Baby ... Kenapa teriak-teriak?" tanya Azizah.
"Amah ... Abebshsisnsvzhshsbsbzhhsbsgzvyw!" oceh bayi itu entah apa artinya.
"Bicara yang jelas baby!" peringat Azizah.
"Mama, aypi pilan teunapa suma Ata' Yiya, Ata' Yita pama Ata' Wela yan pitasyih tue!" jawab Alia menerjemahkan bahasa Ryo.
"Loh, Baby kan suka coklat ... Itu strawberry sayang," ujar Azizah tersenyum.
"Au udha Amah!" rengek Ryo.
"Ini ... Ini Umi buatin!" ujar Layla lalu mengoles roti dengan selai strawberry.
Semua anak dapat, Azizah menghela nafas. Ia yakin jika tak hanya cake crape coklat yang akan jadi rebutan anak-anaknya.
"Mommy, ini buatnya banyak kan?" tanyanya pada Maria.
"Kamu pikir mommy tidak tau mereka sayang?" kekeh Maria menjawab sekaligus bertanya.
Azizah tertawa lirih, semua anak memang gembul perkara makanan. Lalu ia melihat putranya sibuk merayu Dian agar memperbolehkannya berenang.
"Loleh ya ... Ya!" angguk Ryo.
"Sayang, nanti kalian hitam kalo siang-siang berenang!" ujar Dian memberi alasan.
"Pita lasun sebun laja!" pekik Fael.
Semua bayi berlari ke arah kolam. Para pengawal tentu panik luar biasa.
"Biar Tintin!" seru Azizah.
"Awasi saja!" lanjutnya memberi perintah.
Dian, Michael dan lainnya akhirnya hanya mengawasi semua anak-anak yang berenang. Azizah dan Layla pergi ke kamar menyiapkan semua pakaian bayi.
Kue sudah hampir jadi. Anak-anak diperintahkan untuk berhenti berenang. Dian dan Sukma membantu bayi-bayi.
"Tinti ... pa'a tah tamuh bunya pasal?" tanya Fael genit pada Sukma.
"Baby," kekeh Sukma lalu mencium gemas pada Fael.
Semua anak telah bersih, mereka menunggu kakak-kakaknya pulang sekolah, terutama Domesh yang berulang tahun.
"Kami pulang!" seru Sky dan semua ketika datang.
"Ucap salam sayang!" perintah Gomesh.
"Spada!"
"Assalamualaikum!" sahut Arfhan.
"Wa'alaikumusalam!" balas Maria.
"Ayo ganti baju! Habis itu makan siang!" suruhnya.
"Siap mama!" seru semua perusuh.
Usai makan siang, Maria langsung merayakan ulang tahun putra pertamanya itu. Domesh bahagia karena dapat banyak hadiah.
"Selamat ulang tahun baby!" ujar Bart lalu mencium salah satu perusuh paling berani itu.
"Makasih Uyut!" ujar Domesh senang.
"Lalataloh bi mumlit Ata'!" ujar Fael mengucap selamat pada kakaknya.
"Aamiin, makasih baby!" sahut Domesh lalu mengecup pipi adiknya.
"Bepi sesdey Ata'!" ujar Firman, Alia dan Dita juga Vera.
"Thanks Babies!"
"Mau makan kuenya nggak sayang?" tanya Maria.
"Pita beupenayan Netnet Baliya!" ujar Zizam mengelus perutnya yang buncit.
"Ya, sudah kalian tidur siang sana!" suruh Haidar.
"Apah tamih butan lulan!" elak Arsyad.
"Wiya pami butan lulan nadha pansanna!" geleng Fathiyya.
Haidar berdecak karena dibantah anak-anaknya. Pria itu mencium gemas semua bayi.
"Ayo bobo Babies!' perintah Rion dan semua anak menurut.
Haidar menghela nafas. Rion tetap jadi panutan semua bayi. Entah kenapa, semua keturunannya bersifat sama dengan bayi besar itu.
"Sayang," Haidar mencium Rion gemas.
"Papa!" rengek Rion manja.
"Ih ... Sebel!" sungut Azizah.
"Weee!" ledek Rion pada istrinya.
"Daddy!" rengek Azizah pada Virgou.
"Baby ... Jangan begitu! Nanti kamu nggak dikasih jatah loh!" peringat Virgou.
"Satah pa'a Addy?" sela Fathiyya bertanya.
"Astaghfirullah! Kenapa dia belum masuk kamarnya?" tanya Virgou terkaget-kaget.
"Jatah makanan baby!" jawab Gisel lalu membawa bayinya ke kamar.
"Ck! Kakak nggak lihat-lihat situas!" gerutu Terra.
"Tapi emang bener loh pertanyaan Baby Iyya!" celetuk Kean polos.
Calvin, Sean, Al, Daud, Dimas, Maisya, Dewa, Dewi dan Kaila menatap polos pada semua ayah ibunya. Virgou menggaruk kepalanya.
"Jatah yang dimaksud Daddy itu ...."
"Baby, ayo kita pergi ke kantor!" ajak Haidar.
"Papa!" seru semua anak protes.
"Kalian masih kecil!" seru Herman melotot.
"Ah ... Peslalu beudithu!" cebik Kean meniru bahasa para perusuh.
Akhirnya semua pergi ke perusahaan masing-masing. Terra mengelus dadanya.
"Sayang," panggil Khasya.
"Iya Bun," sahut Terra.
"Kenapa putra-putra kita nggak bawa pacar ke rumah ya?" tanya Khasya.
"Te hajar jika ada anak yang bawa pacar ke rumah!" seru Terra tak main-main.
"Sayang, putramu polos semua! Kapan kita akan cepat punya cucu?" keluh Khasya.
"Bunda ... Kita sudah banyak cucu!' sengit Terra manyun.
Khasya menghela nafas panjang. Ia tak tau apa yang diajarkan pada semua putra dan putrinya hingga polos sedemikian rupa.
Sore menjelang, para ayah pulang cepat. Mereka ingin merayakan ulang tahun salah satu putra mereka.
"Bepi pesdey tu yu!"
Aaima menyanyikan lagu happy birthday. Semua anak bergoyang pinggul. Maria dan Gomesh tersenyum melihatnya.
Kue ulang tahun dipotong. Seruni membawakan kue itu dari tokonya sendiri. Bomesh bahagia melihat kue ulang tahun idamannya.
"Tuena badhus seutali!" puji Angel.
"Itu Batman baby," ujar Adiba memberitahu.
"Oh tapman!" angguk Angel sok tau.
"Atuh bawu banyi!" ujar Zaa memegang mik.
"Nyanyi apa baby?" tanya Rion yang memegang kendali remote.
"Pinta. Sesola!" jawab bayi mau dua tahun itu.
"Siap!"
Musik berbunyi, semua bayi bergoyang heboh.
"Tuh pandan papa beunuh pintan peulapuhan ...."
"Tot papa Ata'?" tanya Vendra.
"Woh butanna lada papa yan banana Mamit?" ujar Zaa memberitahu.
"Woh wiya ya!" angguk Vendra mengingat.
Langit berdecak sebal, dua bayinya tampak tenang tidur di boksnya.
"Aypi banyi aypi!" suruh Zora pada dua keponakannya yang belum bisa bicara itu.
"Aypi ... Aypi teumban peulum Pisa nomon!" ujar Zaa memberitahu.
'Soba pulu Ata'!" suruh Vendra.
Zaa menaruh mik di bibir bayi, Luisa dan Nai hanya mengawasi saja.
"Aah!" teriak Hamzah.
"Tuh, tan!" ujar Zaa.
"Aypi peyum pisa nomon!" ujarnya lagi.
"Ayo nyanyi lagi!" suruh Rion.
"Pu dandan Mamit beunuh pintan peulapuhan ... Beultelap-teulip beumpana pintan peulyan ... Lada pebuah peubih teulan sahaya na! Pitulah pintantuh pintan seloja Yan pindah palu!"
Bersambung MB
Happy birthday Domesh!
Next?