THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MASIH BERHAJI



Gomesh membawa keluarganya jalan-jalan ke kebun binatang. Sesuatu yang tak pernah mereka lakukan secara individu.


“Biasanya, semua babies akan berteriak minta ikut jika kita keluar sayang,” kekeh pria itu namun dengan mata berkaca-kaca.


Maria hanya tersenyum, ke lima anaknya juga tak begitui antusias menikmati jalan-jalan mereka. Walau tetap saja jiwa keingintahuan mereka tetap tinggi.


“Mama ... kenapa manusia disamakan sama monyet?” tanya Bariana tiba-tiba.


“Kenapa kau bertanya seperti itu baby? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Gomesh menyelidik.


“Mengganggu? Apa yang mengganggu Pa?” tanya Bariana tak mengerti.


“Kata pak guru, teori Charles Darwin jika manusia adalah nenek moyangnya monyet atau kera. Apa itu sebuah hinaan?” tanya Maria.


Gomesh terdiam, ia mengira ada seseorang berkata buruk di dekat putrinya. Tetapi ternyata Bariana bertanya perihal teori Darwin.


“Papa tak percaya konsep manusia di samakan dengan hewan baby. Kita adalah manusia beragama. Nabi Adam tentu bukanlah termasuk konsep Darwin sebutkan!” jawab pria itu pada akhirnya.


‘Walau sekarang banyak manusia berkelakuan seperti binatang baby bahkan lebih,’ lanjutnya dalam hati miris.


“Mama ipu pinatan pa’a?” tanya Fael menunjuk hewan unggas bertubuh besar berkaki panjang.


“Itu burung unta baby ...,” jawab Maria.


“Pulun tunta?” sahut Angel dengan mata besar.


“Mama ... butantah tunta lada pi dadan sasil ... teunapa lada pi syimi? Pulun ladhi? Mama pidat bolon butan?” tanyanya menyelidik, ia tak percaya pada jawaban ibunya.


Maria gemas dengan kembar sepasang yang memang begitu tinggi tingkat kepo nya itu. Mereka selalu menelan bulat-bulat informasi yang diterima.


“Hanya nama saja yang sama baby, tapi unta beda dong dengan burung unta,” jawabnya.


“Ah ... mama pitin pita supin!” ketus Fael melipat tangannya di dada.


“Piya ... sawapan Mama puwat Jejel butan-butan teupala!’ sahut Angel sambil memutar kepalanya hingga nyaris terantuk besi kereta dorongnya.


“Baby ... hati-hati sayang!” ujar Domesh memegang besi untuk melindungi kepala sang adik agar tak terbentur.


“Ata’ beustina teupala Jejel yan pidedan!” protes Fael.


“Butan pesi na!” lanjutnya marah.


“Takut besi yang benjol ...,” kekeh Bomesh menggoda adiknya.


“Baby ...,” peringat Maria.


“Ata’ ... janan tamih dunatan pahasa payi tamih ya!” ancam Fael.


“Kakak ngerti loh!” peringat Bariana tak suka ancaman adiknya itu.


“Ah .. ata’ pidat sasyit!” sungut Fael cemberut.


“Eh ... kok malah berantem. Ayo kita makan seafood ... siapa yang mau kepiting asem manis?” tanya Gomesh menawarkan.


“Papa mawu itan dolen pipetunin Pa!” sahut Angel meminta makanan lain.


“Baby minta apa?” tanya Gomesh tak mengerti.


“Baby minta ikan ditepungi pa,” jawab bariana.


“Ah ... ata’! besutina piyalin papa eundat neulti!’ seru Angel protes.


“Eh ... kok gitu?” tanya Bariana.


“Tan talaw wowam puwa peslalu pita yan pisyuluh beunelti ... seutali-seutali wowan puwa don meunelti pita!” sahut Angel lagi mengungkap protesnya.


“Eh ... iya ya!” celetuk Domesh.


“Kenapa gitu kak?” tanya Bomesh tak mengerti.


“Ya kan semua orang tua selalu bilang ... nanti saja kalau kalian dewasa. Sekali-kali kita balikin gitu, makanya kecil kek kita biar ngerti bahasanya,” jawab Domesh.


“Eh ... kok gitu ... jangan dong!” protes sang ibu.


“Loh ... kan kita selalu digituin ma!” sahut Bariana ikutan menyuarakan pendapatnya.


“Baby!” peringat Gomesh.


Semua anak diam, pria itu tak suka jika semua anak mulai melawan orang tua. Gomesh adalah mantan korban ketidak pedulian orang tua.


“Kenapa kalian membangkang. Apa masih mau kami urusi?" tanyanya marah.


“Mas,” peringat Maria pada suaminya.


“Maaf Pa,” ujar tiga anaknya, kecuali si kembar.


“Jangan sekalipun menyela apa perkataan orang tua baby!” peringatnya keras.


“Papa tidak mengajari kalian pembangkang dan tak mau diatur!!” lanjutnya tegas.


“Maaf pa.” ujar Domesh, Bomesh dan Bariana lirih.


Sementara di tanah suci, semua keluarga tengah berwisata pada saat beribadah mereka. Kali ini semua menaiki tempat di mana Rasulullah menerima wahyu pertama. Gua hiro.


“Masyaallah ... jantungku!” seru Bart terengah ketika sampai di atas.


Hari menjelang maghrib, langit memancarkan sinar keperakan di langit. Matahari mulai condong ke barat. Para bayi sangat antusias menaiki bukit itu.


“Dulu Sayyidah Khadijah r.a setiap hari naik bukit ini mengantarkan makanan untuk Rasulullah. Saat itu, jalanan menuju gua hiro tak semudah sekarang. Penuh batu terjal dan tajam. Belum lagi sayyidah harus berjalan secara sembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy!” terang Kean memaparkan sebuah kejadian saat itu.


“Ma ... apa Mama mau menyerahkan harta mama untuk papa dalam berdakwah?” tanya Maisya pada Terra.


Terra diam, ia tentu berat memberikan seluruh hartanya untuk suami walau dengan alasan apapun. Terlebih harta itu peninggalan mendiang ayahnya. Terra perlahan menggeleng.


“Sayyidah Khadijah seorang saudagar kaya raya, bangsawan yang memiliki derajat tinggi di mata manusia. Merelakan kemuliaan semuanya untuk perjuangan sang suami hingga ada sebuah kisah jika ia menyusui darah pada Sayyidah Fatimah r.a ketika bayi,” jelasnya lagi.


“Itulah hebatnya Sayyidah Khadijah Baby ... kami hanya wanita akhir jaman. Mungkin dengan banyaknya keturunan kami. Ibu-ibumu ini akan berpikiran seribu kali menyerahkan semuanya,” jelas Kanya.


“Bukankah semua ini milik Allah Oma?” sahut Samudera.


“Allah akan mengambil apa yang Dia punya tanpa perlu memberitahu orang tersebut,” lanjutnya.


Semua orang tua diam, pelajaran berharga mereka dapatkan dalam perjalan ini. Kisah-kisah keteladanan Rasul ketika pertama kali menerima wahyu dan kerelaan seorang istri serta kesetiaannya yang mungkin tak bisa ditolerir semua orang hingga masa kapanpun.


“Sayyidah Khadijah r.a bisa hidup miskin dan mau meninggalkan kemuliaannya di mata manusia. Beliau mementingkan kemuliaan di mata Allah!” sahut Layla.


Usai sholat maghrib, mereka semua turun, para bayi digendong ayah dan sebagian para pengawal. Walau beberapa bayi masih kuat untuk turun.


“Alsh eundat mawu didedhon Daddy!’ tolak bayi mau tiga tahun lewat itu.


“Addy .. ndog Yiyo jaja!” perintah Ryo merentangkan tangannya.


Gabe mengambil alih Ryo dari tangan Rion. Kali ini ayah semua bayi itu menggendong Faza karena duo bara di gendong ayah dan ibu mereka.


“Setelah mereka berhasil masuk makam Rasulullah, kalian tak membiarkan mereka lepas dari gendongan?” sindir Bart.


“Kalau mereka hilang emang Grandpa mau gantiin?” gerutu Demian kesal.


“Na ...”


“Grandpa!” peringat Terra.


“Astaghfirullah!” ralat Terra.


Bart mengelus dadanya, ia harus belajar menahan kata-kata kasar. Pria itu harus banyak berdzikir untuk menghilangkan mulutnya yang suka kelepasan bicara kasar.


“Mumi ... pa’a Losul ipu nanat sisilan pama nanat Fifiya?” tanya Xierra yang membuat Bart tersedak.


“Tidak sayang ... Rasulullah lebih tinggi dari sebutan nanat sisilan dan nanat Fifiya,” jawab Sari melirik pria paling tua di sana.


“Meman Losul nanat spasa Mumi?” tanya Meghan.


“Rasulullah itu anak yatim piatu yang tak punya ayah dan ibu,” jawab Rahma.


“Anak yatim sangat disayang oleh rasulullah,” lanjutnya.


“Ipu pidat dadil!” sungut Nouval, putranya Hendra.


“Basa suma nanat tatim jaja yan pisayan?” lanjutnya lalu melipat tangan di dada.


“Bukan begitu Baby ...,” sahut Layla, ia pun menjelaskan jika Rasulullah itu menyayangi semua anak.


“Tuh wawu tetemu Sosul don!’ sahut Aaric.


“Piyal pa’a antel peusil?” tanya Maryam.


“piyal pisayan!” jawab Aaric.


“Eum ... kalo anak yatim disayang ... apa Losul juga sayang anak yang dibuang macam Ali?” tanya Ari tiba-tiba.


Bersambung.


Tentu sayang ... Rasulullah akan sangat menyayangi kalian.


Andai beliau masih ada dan melihat tingkah kalian yang super duper heboh itu. Entah apa tanggapan beliau.


Othor membayangi jika rasulullah tersenyum lebar melihat keberanian kalian babies!


Next?.