
Setelah melaksanakan wukuf, jemaah diberangkatkan ke Muzdalifah untuk mengambil batu 49-70 butir untuk lempar jumrah bagi jemaah yang akan mengambil nafar awal di Mina.
Setelah mengambil batu, jemaah lalu diberangkatkan secara bertahap ke Mina untuk menginap.
"Amah ... Inta mobil tatu wuwat pa'a?" tanya Sabila.
"Buat lontar jumroh baby," jawab Aini.
Mereka berada di sebuah hotel untuk menginap dan akan melanjutkan perjalanan nantinya.
"Pontal sumloh?" Maryam membesarkan matanya.
"Slontal pa'a Amah?" tanya Fathiyya.
"Lontar itu sama dengan timpuk atau lempar batu ke arah setan baby," jawab Aini lagi.
"Petan bipintut?" tanya Arsh tak percaya.
"Petan tan pidat peulihatan Amah! Badhaipana pisa pita bintup petan!" sahutnya lagi.
"Eum ... memang begitu, tapi kita nanti akan diberi doa agar setannya kena timpuk baby," jawab Aini.
"Dowana pa'a Amah?" tanya Arsyad.
"Bismillaahi wallahu akbar, rajman lisysyayaathiini wa ridhan lirrahmaani allhummaj’al hajjan mabruuran as a’yan masykuuran!"
Doa yang cukup panjang diterima oleh anak bayi seusia Zora dan lainnya.
"Panzan baneut powana!" keluh Zaa.
"Lada yan peundet pidat?" tanyanya lagi.
"Baca saja takbir sayang," ujar Darren mempermudah para bayi.
"Oteh ... atan atuh lamahin petan!" sungut Arsh berkacak pinggang.
"Patuna banat mama," keluh Aisyah.
"Muma!" pekik Fatih.
"Baby ... Kenapa teriak-teriak?" tegur ayahnya.
"Apah, Atih tananna luta," keluh bayi itu lalu memperlihatkan telapak tangannya yang lecet.
"Oh baby, kamu jatuh?" Saf langsung memeriksa luka di tangan putranya.
"Peyih Muma ... Hiks!"
Saf memberi plester pada telapak tangan putranya.
"Udah, kan jagoan. Nanti kamu lempar kuat-kuat ya!" ujar Saf menenangkan putranya itu.
Izzat sudah tidur dari tadi. Akhirnya semua beristirahat, panitia meminta semua jamaah benar-benar beristirahat total karena perjalanan masih lama.
Rabu pagi mereka semua beranjak menuju lokasi yang diberi nama Kompleks Jembatan Jumroh di Kota Mina. Lokasinya terletak di sebelah timur Makkah.
Jutaan manusia tumpah ruah di sana. Para pengawal menggendong bayi-bayi. Mereka semua melempar jumroh.
"Peuldhi tauw pestan!" pekik Aisya Dougher Young.
"Eh ... Nggak boleh gitu!" larang Rosa yang menggendong bayi beriris biru itu.
"Peustina badhaipana Poma?" tanya Aisya.
"Istighfar sayang lebih baik," jawab Rosa lalu mencium gemas pipi gembul bayi cantik itu.
Remario juga senang dengan semua bayi, ia menggendong Aarav. Bayi bermata coklat gelap itu sangat mirip ibunya, sedang Chira berada dalam gendongan Bart.
"Benpa ... Sayan tamuh," ujar bayi itu lalu mengecup pipi pria paling tua di sana.
"Aku juga sayang kamu baby," ujar Bart lalu membalas ciuman cucunya itu.
Setelah melakukan lempar jumrah, setiap jemaah harus memotong atau mencukur rambutnya. Yang kemudian pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, mereka harus melontar jumrah ula, jumrah wusta, dan jumrah aqabah sebanyak masing-masing tujuh batu kerikil secara berurutan.
Setelah itu maka selesailah semua urutan haji. Ibadah kali ini membuat kesan bagi semua jamaah.
"Alhamdulillah kita sudah haji!" pekik salah satu jamaah sujud syukur.
Semua jamaah melakukan hal yang sama. Virgou menangis ketika bersujud. Pria itu memang tak tau apa ibadahnya kali ini diterima oleh Allah.
"Semoga ibadah kita diterima oleh Allah!"
"Aamiin ya rabbal alaamin!" seru semua jamaah.
"Kita bersiap pulang!" sahut seseorang lagi.
"Kita pulang tanggal empat Juli besok!" sahut lainnya.
"Kita pulang besok!" ujar Bart senang.
Sementara di tanah air. Sinta diberi surat pemeriksaan dari kepolisian. Wanita itu dimintai keterangan atas dugaan pencemaran nama baik rumah sakit milik Nai.
"Apa yang kau lakukan nak?!" seru sang ayah yang datang.
Laksono datang bersama istrinya. Desi menatap putrinya datar. Ia yang memang tak suka dengan perlakuan sang putri.
"Mana suamimu?" tanya Laksono.
"Nggak tau," jawab Sinta cuek.
"Oeek ... Oeeek!" tangis bayi pecah.
"Aaahh berisik! Suster!" teriak Sinta.
Andira datang tergopoh-gopoh, ia memang sengaja berdiri depan pintu ruang rawat itu.
"Bawa anak itu!' suruh Sinta yang pusing mendengar suara tangisan bayi.
Dengan sigap, Andira mengambil dan menenangkan bayi malang itu. Tak lama bayi berjenis kelamin laki-laki itu tenang berada dalam dekapan orang yang mencintainya secara tulus.
"Mana suamimu?" tanya Laksono lagi tak peduli dengan cucunya.
"Aku bilang nggak tau Pa!' sahut Sinta tak acuh.
"Dia dari kemarin nelantarin aku dan anaknya!" lanjutnya menggerutu.
Tak lama, ayah dan ibu dari Pram datang. Mereka langsung menghardik Sinta.
"Katakan dengan siapa kamu hamil!" bentak sang mertua.
"Jangan bicara sembarangan Bu Debie, anak saya adalah wanita terhormat!" sentak Laksono marah.
"Maaf, tolong jangan buat keributan di sini ya! Ini rumah sakit bukan pasar!" tegur salah satu perawat.
"Keluar aja deh kalian, tolong. Kami dan anak-anak kami butuh istirahat!" sahut salah satu pasien.
Sinta memang ditempatkan di ruang kelas tiga. Semua kamar penuh jadi mau tak mau ia ditempatkan di sana.
"Kita bawa pulang saja!" ujar Desi memberi saran.
"Aku masih sakit Ma!" rengek Sinta manja.
"Ini operasi Cesar loh!" ujarnya lagi.
"Ya sudah, kita bicarakan ini baik-baik di rumah!" sahut Desi lagi.
"Tidak, kami akan meminta putra kami menceraikan dia. Toh, bayi itu bukan darah daging kami!" tolak Debie lalu menarik suaminya.
"Hei ... Kata siapa itu bukan anak Pram!" bentak Laksono.
"Golongan darahnya B, sedang Pram bergolongan darah A. Bagaimana bisa itu anaknya?!" sahut Hardi menahan amarahnya.
Sepasang suami istri itu meninggalkan besan mereka. Pram telah mengatakan jika anak yang ada dalam kandungan Sinta bukanlah anaknya.
"Kenapa dulu kita begitu mudah terbujuk dengan sikap manisnya. Padahal Sri kurang baik apa?" tanya Hardi mengeluh.
"Ini salah kamu. Kamu memang dari dulu nggak suka sama Sri padahal dia lah yang membuat Pram maju!" lanjutnya menyalahkan sang istri.
"Loh kok Mama sih yang papa salahkan?" sahut Debie tak terima.
"Ingat Papa yang menyuruh Pram untuk poligami ya!" lanjutnya tak mau kalah.
Mereka naik mobil yang diantar supir. Setelah perceraian itu, perusahaan Pram mengalami kendala.
"Satu tahun telah berlalu. Kabarnya Sri dan cucu-cucu kita bagaimana ya?" tanya Debie menerawang.
Wanita itu mengingat bagaimana patuhnya istri dari putranya. Senyum Sri yang tulus bahkan ketika sang suami memilih menikah lagi.
"Apa ada wanita sekuat Sri?" tanya Debie lirih.
Hardi diam, ia tak pernah memperhatikan istri dari putranya itu. Pram menikahinya karena mencintai perempuan sederhana itu.
"Ini mungkin hukuman kita," ujar Hardi menanggapi.
"Katanya, Tiana berhasil membeli rumah besar untuk ibunya dan juga sekarang tengah melakukan ibadah haji," sahut Debie.
Bersambung.
Permata itu memang asalnya dari batu. Tapi namanya permata ya tetap permata.
Next?