
Keluarga Dougher Young memang tak pernah berlama-lama jika mengenai pernikahan.
Keluarga besar itu akan mendesak menikah jika ada keluarga mereka menjalin hubungan.
"Tuan, anda sukses menikahkan seluruh keturunan dengan bibit terbaik. Kenapa tidak membiarkan mereka menikmati masa pacaran?" tanya wartawan.
"Apa maksudmu aku mendorong salah satu cicitku untuk berzina?" sahut Bart dengan tatapan tak suka pada wartawan.
"Tapi jaman sekarang kan sudah modern. Pacaran adalah hal biasa. Saya rasa keturunan anda pasti bertanggung jawab!" ujar wartawan.
"Tidak! Dalam agamaku pacaran itu dilarang. Jangan mencampuri apa yang salah dengan yang benar. Karena itu sudah ada hukumnya!" tolak Bart tak setuju dengan apa yang dikatakan wartawan.
"Dari aku belum Islam hingga sekarang. Tak ada satu keturunanku yang menjalani kehidupan pacaran!" lanjutnya.
"Nyonya Pratama dulu pacaran tuan!" ujar salah satu wartawan memberitahukan.
Terra melotot, ia memang berpacaran dengan suaminya sekarang.
"Memang, tapi pacarannya tidak sampai tahunan. Udah kek rumah kredit aja pacaran bertahun-tahun!" sungut Bart.
"Lagi pula waktu itu, Terra tidak di bawah pengawasanku. Ketika bertemu, aku langsung menyuruhnya menikah!" lanjutnya.
Bart mulai malas berhadapan dengan wartawan. Pria itu menyuruh para pengawal mengeluarkan mereka dan membiarkan menikmati hidangan pesta.
Anggraini duduk bersanding di pelaminan bersama Michael dan Arsyad. Bayi itu tak mau kalah dengan pria yang kini terus mengusiknya.
"Papa!' pekik Arsyad kesal.
'Huwaaaa ... Papa ... Hiks ... Hiks!' akhirnya bayi tampan itu menangis.
"Sayang!" tegur Anggraini kesal.
Michael menatap istrinya. Mata polos itu juga menatapnya, sepertinya sang gadis tak sadar memanggilnya apa barusan.
"Kau panggil aku apa?" tanya pria itu, sedangkan Arsyad mulai diam dan ikut menyimak.
"Apa memang?" tanya Anggraini pura-pura lupa.
"Baby, apa kau tau Mami Raini panggil papa apa?" tanya Michael pada Arsyad.
"Sayan papa!" jawab bayi itu antusias.
"Tidak ...," Anggraini hendak membantah, tapi ....
"Janan bolon mamih ... bolon beulbosa woh!" peringat Arsyad.
Rupanya bayi itu bisa beralih tempat dan kini mendukung Michael.
"Baby masa lebih sayang papa dari mami?" rengek Anggraini.
"Wah ... Bayin pitim!" seru Arsyad tak percaya.
"Apa?" Michael tak mengerti maksud bayi tampan itu.
Arsyad turun, ia mencari keberadaan semua saudaranya. Michael dan Anggraini tentu sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Mau kemana?" tanya Nini melihat sepasang pengantin berdiri.
"Mau ikuti baby Bu!" jawab Anggraini.
"Sayang, ini pesta. Masa kamu tinggalin pelaminan kamu?" larang Nini.
Bart datang dengan wajah ditekuk. Melihat putrinya yang baru menikah seperti hendak meninggalkan pelaminan membuat ia kesal.
"Kalian mau apa?" tanyanya.
"Baby!" tunjuk Michael pada bayi-bayi yang tengah membentuk koloni.
Bart menggaruk kepalanya. Ia mendadak pusing melihat tingkah semua keturunannya itu.
"Kenapa kalian banyak sekali!" keluhnya.
"Tuan ... Ketua Virgou dan Nona Terra menghilang!' lapor salah satu pengawal.
Bart pucat, pria itu yakin akan terjadi sesuatu yang membuat gempar sebentar lagi.
"Herman!" teriaknya.
"Aku kenapa?" Herman merasa tak bersalah malah heran.
"Ayah, anak-anakmu menghilang dan ayah santai-santai saja?" tanya Khasya dengan mata melotot.
"Siapa yang hilang?" tanya Herman.
"Terra dan Virgou!" jawab Khasya.
"Apa?" Herman tentu gusar mendengarnya.
Para bayi diangkut oleh semua orang tua dan pengawal. Mereka cepat diungsikan ke kamar yang telah disiapkan. Bart memerintahkan semua pengawal mencari keberadaan dua Dougher Young itu.
"Haidar ... kenapa kau tak menjaga istrimu!" teriak Bram.
Haidar hanya bisa menghela nafas. Ia tentu tak bisa menekan sang istri terlebih ada sosok yang pasti membuatnya sedikit ciut.
"Papa gimana larang Virgou Black Dougher Young?" tanyanya malas.
Bram tentu berdecak mendengarnya. Sang istri menenangkan suaminya. Akhirnya pesta pernikahan disudahi dengan cepat.
Sedang Virgou dan Terra tengah berboncengan di sepeda motor milik Saf.
"Kak kita kemana?" tanya Terra berteriak karena Virgou menggeber gasnya.
"Kita jalan-jalan saja!" teriaknya menjawab.
"Aku adukan pada semua bayi. Biar ketua tau rasa!" gumamnya.
Sementara Terra dan Virgou memberhentikan kendaraan di sebuah mall. Jangan tanya bagaimana semua orang mencarinya. Keduanya adalah peretas data. Tentu Virgou telah mengacak signal hingga tak ada satupun yang tau keberadaan mereka.
"Aku bosan sama makanan di pesta," ujar Virgou lalu menggandeng adik sepupunya itu ke sebuah tenda pinggir jalan.
"Bebek goreng!" teriak Terra kesenangan.
Mereka duduk lesehan. Satunya cantik jelita dan satunya lagi memiliki ketampanan luar biasa.
Virgou memang pria dengan sejuta pesonanya. Ia menjadi pusat perhatian seluruh kaum hawa. Sedang Terra juga sangat cantik, banyak pria melirik dan hendak menggodanya.
Terra yang berhijab dan masih menggunakan gamis brokat warna silver. Virgou pun masih mengenakan baju koko warna hitam pekat.
"Ini mister, miss!" ujar pedagang menyerahkan makanan di meja.
Keduanya duduk secara lesehan. Terra mencuci tangannya di kobokan begitu juga Virgou. Keduanya tak peduli dengan orang disekitarnya.
Brug! Seorang wanita tak sengaja menyenggol lengan Virgou dengan dadanya.
"Mister yang sopan dong!" ujarnya menegur.
Virgou yang tengah menyuap menatap wanita itu tajam. Mereka lesehan, sedang yang bergerak hanya wanita itu.
"Mba ... Mba mau playing victim ya?" sungut Terra kesal.
"Pergi deh, saya lagi makan. Lagi pula saya nggak nafsu untuk menyenggol dada kamu itu!" usir Virgou langsung menyindir.
"Tapi anda loh yang nyenggol dada saya!" teriak wanita itu tak terima.
"Duh mba ... Jangan kebanyakan drama deh!" bentak Terra.
"Habiskan makananmu Terra!" suruh Virgou.
"Tapi kak!"
"Habiskan. Biar dia mau ngomong apa. Semua di sini juga tau kalau dia sengaja menyenggol kan dadanya ke sikuku!" ujar Virgou panjang lebar sambil terus makan.
Wanita itu berkaca-kaca, ia pun berlalu. Usahanya menarik perhatian Virgou gagal.
"Jadi kurang selera gara-gara itu!" dumal Terra kesal.
"Hei ... Jangan mendumal di depan makanan!" peringat Virgou.
Akhirnya makanan habis tanpa sisa. Virgou membayar makanan mereka lalu keluar dari tenda.
Mereka berjalan menuju lahan parkir di mana motor ditempatkan di sana. Virgou memang sengaja memarkirkan kendaraan di sana.
Terra menggandeng kakak sepupunya itu dengan santai. Ia menyangking tasnya di pundak hingga ....
Bret!
"Cop ...."
Terra tak sempat berteriak, lalu tak lama terdengar teriakan seorang pria yang dipelintir tangannya oleh Virgou.
"Ampun tuan!" teriak copet itu.
"Berani-beraninya kau!" sentak Virgou.
Pencopet itu tak hilang akal, ia menendang tinggi ke arah lengan Virgou. Terra yang melihat dengan cepat menangkis tendangan itu juga dengan tendangan.
Krak! Lalu terdengar lagi teriakan pencopet malang itu.
Herman menjemput keduanya di kantor polisi. Terra dan Virgou sama-sama menunduk.
"Apa di hotel tadi kurang makanannya?" tanyanya dengan tatapan menghakimi.
"Bosen ayah ...."
"Jangan sahuti ayah!" teriak Herman marah.
"Sayang ...," peringat Khasya.
"Bela saja anak-anakmu itu!" sungut Herman kesal.
"Beruntung tak satu kota dibuat ketakutan. Hanya seorang preman ...."
"Ketua ... Kami telah menangkap pria yang mengetuai para pencopet ... ternyata benar dugaan ketua, jika mereka dikoordinir!" lapor Gomesh.
Herman terdiam, benar saja. Tak lama berita satu kota mencekam ketakutan akibat Gomesh mencari keberadaan oknum yang mengumpulkan para pria untuk melakukan tindakan kriminal.
"Bagus ... Bawa mereka ke markas mafia ...."
"Wah ... Fifiya lada maltasna?" sahut para kurcaci heboh.
"Mama ... pa'a maltas ipu lumah pita?" tanya El Bara pada ibunya Lidya.
"Woleee ... Pita putun opet ompet netnet!" teriak Ryo semangat.
"Sopet pa'a?" tanya Zaa.
"Ipu pensuli baby," jawab Arsyad.
"Tauw plah beunsuli batituh, batituh ... Tauw plah beunsuli batituh!" tiba-tiba Aaima bernyanyi dangdut.
Bersambung.
Aseekkk sel poha baby!
Next?