THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KEPUTUSAN



Bart memukuli Fio, Budiman menggeleng melihat kebodohan anak buahnya itu.


"Berani-beraninya kau meragukan putriku dan mengatainya pembohong!" teriak Bart.


Tak ada yang membela Fio. Pria itu diam saja ketika Bart memukulinya.


"Aku dibutakan cemburu pa," ujarnya lirih.


Air matanya keluar, Fio benar-benar menyesal. Kini yang ia lakukan hanya pasrah.


"Aku setuju jika pernikahan ini dibatalkan!" putus Bart.


"Pa ...."


"Jangan panggil aku papa!' bentak Bart.


Fio menunduk, Bart berteriak di muka pria muda yang nyaris babak belur dipukuli Bart itu.


Ketika mendatangi Bart. Pria tua itu melihat luka di sudut bibir Fio dan pipinya yang memerah.


Fio secara jujur menceritakan kesalahannya. Pria itu memohon agar Bart tidak membatalkan pernikahan yang sudah nyaris tinggal menikah saja.


"Anak kurang ajar!" makian Bart disertai pukulan.


Budiman juga tampak geram dengan salah satu anak buahnya.


"Aku menemukan surat cinta. Aku langsung cemburu buta pa!" bela Fio.


"Mestinya kau bertanya baik-baik, bodoh!" teriak Bart.


Beruntung tak ada para bayi super kepo di sana. Jika saja ada, mungkin akan jadi bahan gosip yang super heboh di kalangan para bayi.


Fio menatap Budiman. Pria itu hanya memandang anak buahnya tajam. Ia juga tak suka dengan tuduhan Fio pada salah satu adiknya itu.


Walau semua adalah hanya anak angkat Bart. Tapi semua orang menyayangi mereka sama seperti anak sendiri, termasuk Budiman.


"Kau yang menggali kuburan mu sendiri Fio!" ujarnya menahan gemuruh dan amarah yang bergejolak.


"Ketua ...," Fio masih meminta bantuan pada atasannya.


"Maaf, aku tidak bisa membantumu!' ujar Budiman meninggalkan Fio yang menyesal setengah mati.


Fio tertunduk, air mata penyesalan mengalir tak berhenti. Pria itu benar-benar sudah pasrah.


"Jika pernikahan ini benar-benar batal. Sebaiknya aku mengundurkan diri dari sini dan memilih pindah tugas," ujarnya lirih.


Fio menghirup udara rakus dari hidungnya. Lalu ia mengembuskan kuat dari mulut.


"Ya Allah ... Jika dia jodohku, mudahkanlah semuanya. Tapi aku ikhlas jika Jelita bukan untukku, mungkin aku bukan yang terbaik baginya,"


Set! Sakit! Fio sampai harus menekan dadanya yang seakan teriris sembilu ketika mengucap itu.


"Sakit sekali ya Allah," ujarnya lalu tergugu dalam penyesalan.


Pria itu menangis sambil bersimpuh dan memegangi dadanya. Sementara itu Bart mengetuk pintu kamar putrinya.


Tak ada sahutan, pria itu sedikit gelisah. Ia takut Jelita berbuat nekat.


"Nak ... Buka nak!" teriaknya lalu menggedor bilah terbuat dari kayu jati berukir itu.


Bart memang memberikan kamar masing-masing pada lima puluh anak angkatnya. Luas dan fasilitas di dalamnya dibuat sama rata. Pria itu benar-benar tak membedakan semua anak-anak.


Terbayang betapa luasnya hunian pria gaek itu. Kekayaan Bart memang tak bisa dihitung dengan jari.


Bart membuka pintu yang tak terkunci. Ia masuk ke dalam dengan wajah cemas.


"Sayang?" Bart sedih melihat putrinya tertidur dengan posisi telungkup.


Masih terdengar isak tangis sang gadis. Bart duduk di pinggir ranjang. Ruangan itu semua serba merah jambu. Warna kesukaan Jelita.


Makanya Bart meminta Virgou menyiapkan design berbeda untuk pelaminan kedua putrinya. Jelita disiapkan dengan pelaminan dan konsep serba pink.


Berbeda dengan Ratini yang memilih design simple. Gadis penyuka warna hitam itu tak suka dengan gaya mencolok.


"Nak, sayang," panggilnya pelan pada anak gadisnya.


Jelita mengerjap, ia menatap pria yang selama ini merawat dan mengurusnya penuh kasih sayang.


"Papa ... Huuu ... Papa!"


Jelita langsung menangis dan memeluk ayah angkatnya itu. Bart tentu sedih, ia tak suka putrinya dibuat menderita seperti ini.


"Nak, papa sudah dengar semuanya. Papa akan ikuti maumu. Kita batalkan pernikahan ini ya!" ujar Bart menenangkan anak gadisnya.


Jelita terdiam, ia menguraikan pelukannya. Menatap Bart yang sedih membuat ia juga sedih.


"Papa tak rela siapapun menyakitimu. Mumpung belum jauh, papa akan batalkan pernikahanmu dengan anak sialan itu!" ujar Bart enggan menyebut nama Fio.


"Tenang sayang, papa akan selalu ada buatmu," ujar Bart.


"Sudah jangan sedih ya!" lanjutnya lalu mengusap jejak basah di pipi putrinya.


Sepeninggalan Bart. Jelita terdiam, mimpinya membentuk mahligai rumah tangga dengan pria yang dicintainya musnah seketika.


"Jika memang berakhir dengan begitu mudah. Lalu kenapa jawaban atas istikharah ku begitu cepat?" tanyanya bergumam.


"Tapi dia sudah menuduhku sembarangan!" ujarnya tak mau disalahkan.


Lalu matanya tertuju pada Al-Qur'an. Gadis itu tertegun, ada rasa aneh menjalar dalam hatinya.


Jelita mengambil mushaf dan membukanya secara random. Ia tertuju pada satu ayat dan lalu gegas membacanya.


"Yā ayyuhan-nāsu‘budū rabbakumul-lażī khalaqakum wal-lażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn(a). Artinya: Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 21).


"Apa ini? Apa aku lupa menyembah Tuhanku?' Jelita menatap ayat yang baru saja ia baca.


"Apa ini peringatan jika hanya Allah saja aku berharap dan berserah? Apa aku terlalu mencintai Bang Fio hingga aku ditegur sedemikian rupa?" tanyanya lagi.


"Aku terlalu berharap jika Bang Fio bisa membahagiakan aku. Padahal aku lupa jika semua sumber kebahagiaan adalah Allah," lanjutnya merasa berdosa.


Jelita gegas mengambil air wudhu. Gadis itu mengerjakan sholat sunnah untuk meminta ketenangan hati.


Sementara itu Bart ditenangkan oleh Khasya. Wanita itu menolak keras pernikahan dibatalkan.


"Tapi putriku dituduh sedemikian rupa Khasya!" seru Bart kesal.


"Sasya tau Dad!" ujar Khasya lembut.


"Tapi siapa yang tak cemburu jika menemukan sudah cinta yang isinya memuji seseorang dan mendoakannya begitu rupa?" tanya Khasya lagi.


Bart diam, pria itu menggerutu pelan. Khasya tersenyum dan menghela nafas panjang.


"Sasya tak membela Fio dalam hal tuduhannya pada putri Daddy," lanjutnya tenang.


"Tapi di sini Fio tak pernah tau jika sebelumnya Jelita jatuh cinta padanya," lanjutnya lagi.


"Apa yang Daddy lakukan ketika melihat sebuah surat pengungkapan perasaan dari gadis yang Daddy cintai?"


"Aku akan bertanya baik-baik!" sanggah Bart.


"Really?" Khasya sangat mengenal Bart.


"Daddy adalah laki-laki. Semua laki-laki itu egois!" lanjutnya tenang.


"Kenapa kau malah menuduhku begitu!' sergah Bart tak terima.


"Nah ... ini Daddy memperlihatkan keegoisan laki-laki!" sahut Khasya.


"Sayang!" peringat Bart kesal.


"Daddy akan sama marahnya seperti Fio. Bahkan mungkin lebih buruk dari Fio!' ujar Khasya membuat Bart cemberut.


"Kau sok tau!'


"Daddy, Sasya menikahi putramu. Herman sama seperti Fio, ia cemburu buta bahkan dengan sikat gigi yang pertama kali Sasya gunakan," jelas Khasya terkekeh.


"Daddy ingat kisah sayyidina Ali yang cemburu pada laki-laki yang dicintai oleh istrinya Sayyidah Fatimah r.a. padahal dia tau pria itu adalah dirinya sendiri," lanjut Khasya menjelaskan.


"Itulah egoisnya laki-laki Daddy, ia tak mau kalah dengan apapun bahkan dengan dirinya sendiri," Bart terdiam.


Khasya mengecup pipi Bart lalu meninggalkan pria itu. Sementara itu Fio mengetuk kamar Jelita.


"Assalamualaikum ... Dek ... Abang mau bicara," ujar Fio.


Pintu kamar terbuka, dua mata saling bertemu. Pancaran cinta ada di keduanya.


Jelita lebih terkejut karena muka Fio yang nyaris babak belur. Perlahan, ia menahan senyumnya.


"Kikikikik!" Jelita terkikik geli melihat wajah Fio yang biru di mana-mana.


"Dek, aku minta maaf," ujar Fio menyesal.


"Aku cemburu buta ... Aku tak melihat jika F itu adalah namaku ... Aku ...."


"Shhhh!" Jelita meletakkan jari telunjuknya di bibir Fio.


Hanya sebentar lalu ia menarik tangannya dengan kepala tertunduk dan rona merah di pipinya.


"Dek?"


"Kita jadi menikah kan?" tanya Fio memastikan lagi.


Jelita menatap pria yang memandangnya penuh harap. Pandangan Fio yang penuh penyesalan sudah cukup bukti bagi Jelita.


"Iya bang, kita tetap menikah!" jawab Jelita.


"Benar dek?" tanya Fio dengan mata berbinar.


Pria itu tersenyum lebar lalu meringis kesakitan akibat mukanya dipukuli Bart.


"Tapi papa?" Fio sedikit ragu.


"Tenang bang, kita cari pendukung agar papa tetap menikahkan kita!" janji Fio.


Tak butuh waktu lama, pria itu menatap kesal pada sepasang calon pengantin yang membawa semua bayi.


"Yuyuy ... Pepa'a utana susut ayat pasu an eyum sisusi?" tanya Horizon melihat Bart yang manyun.


"Wah buyut yuyuy aju! Ata Amah buyut aju ipu ayat santelan jajan!' seru Ryo yang menyamakan bibir manyun Bart dengan cantelan wajan.


"Astaga anak ini!" dumal Bart pelan.


"Pa ...," rengek Jelita dan Fio bersamaan.


Bart menghela nafas panjang. Ia memang tak suka menunda pernikahan. Ia pun mengangguk.


"Kalian tetap menikah!"


"Alhamdulillah! Makasih pa!' seru keduanya girang.


Perlahan, senyum haru terukir di bibir pria tua itu. Ia menatap putrinya yang makin cantik menjelang hari pernikahannya.


"Ya Rabb ... Panjangkan umurku agar bisa menikahkan semua anak-anak ku," doanya penuh harap dalam hati.


Bersambung.


Aamiin wuyuy.


Horee ... Nikah juga ...


Dan othor tetap jomblo 😭


Next?