THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MINGGU CARNAVAL



Sore hari, semua anak bersiap. Sesuai janji Virgou mengajak semua keluarga ke sebuah acara yang diselenggarakan setiap weekend-nya.


"Amah ... pu pa'a?" tanya Zora menunjuk kincir raksasa.


"Itu kincir angin baby, mau naik ke situ?" tawar Luisa menjawab pertanyaan putrinya.


Sang putra dalam gendongan ayahnya. Vendra memang sangat dekat dengan Andoro.


"Ayo kita naik!' ajaknya.


Mereka menaiki satu tabung dan duduk. Nai dan Langit ikut serta. Sementara itu Terra dan Haidar mengajak dua anak kembarnya yang masih kecil ke wahana lain.


"Papa lempar botol itu pa!" pinta Arraya.


Haidar memegang bola dan mengincar kumpulan botol yang disusun. Sebuah boneka panda akan jadi hadiah jika Haidar bisa menjatuhkan semua botol itu.


Haidar melemparkan bola dan ... Jatuh semua botol yang tersusun. Penjaga kios menggaruk kepalanya.


Tampak ia melihat botol-botol yang sebenarnya telah didesign secara curang, agar tak mudah jatuh.


"Hei ... hadiahnya mana!" senggrang Haidar pada penjaga.


"Eh ... Anu ... Iya!" angguk penjaga lalu memberikan boneka panda.


Arraya senang sekali. Ia mencium pipi ayahnya.


"Makasih papa!"


"Sama-sama baby," Haidar membalas kecupan putrinya.


Sedang Terra ada di tempat lain bersama putranya. Terra membidik target, sebuah mainan truk besar akan menjadi hadiahnya jika Terra berhasil mengenai target.


Tak! Kena!' seru Terra berhasil mengenai target. Penjaga kios tentu cemberut ketika memberikan hadiah itu.


Gomesh dan Maria juga bermain bersama anak-anak lainnya bermain bom-bom car. Teriakan kegembiraan terdengar dari mulut semua anak.


Sepasang mata menatap keluarga yang sering muncul di layar televisi itu. Mata itu melirik Sky, Bomesh dan Arfhan.


Tiga bocah yang sangat aktif, walau semua anak juga aktif. Tetapi aksi ketiganya sangat menarik perhatian orang itu.


"Deck! Cari tau siapa mereka?" titah pria itu.


"Mereka adalah keluarga Dougher Young tuan!" jawab pria yang berdiri di sisinya.


"Dougher Young?" pria bermata hijau itu menatap pria yang ada di sisinya.


"Benar Tuan, mereka adalah keluarga pemilik bisnis nomor satu di dunia!" jawab pria bernama Deck.


"Tuan Bart Sidiq Dougher Young bersama dengan anak, cucu dan cicitnya juga keluarga besarnya!' lanjutnya.


Pria itu menggaruk pelipisnya, ia sangat tertarik dengan tiga bocah yang kini memilih permainan menantang yakni rollercoaster.


"Jangan berpikir macam-macam tuan!' peringat Deck.


"Apaan ... Apa yang kupikirkan!?" sengit pria itu.


Deck menghela nafas panjang. Tuannya Mahmud Albany memang senang dengan anak-anak.


"Aku ingin anak Deck," ujar pria itu.


"Maka menikahlah Tuan!" jawab Deck yang membuat Mahmud kesal.


"Kau pikir cari istri itu mudah?!" sengitnya.


Lalu mata Mahmud ke arah tiga bocah yang tengah berteriak kesenangan menikmati permainan.


"Apa yang terjadi jika aku mengambil mereka Deck?" tanyanya bodoh.


"Anda berakhir dengan kepala tertembus peluru tuan," jawab Deck yakin.


"Hanya seorang Dougher Young kan?" Mahmud seakan meremehkan nama besar itu.


"Anda juga akan berhadapan dengan Black Dougher Young, tuan!' jawab Deck malas.


"Tuan Virgou? Kau yakin?" tanya Mahmud tak percaya.


"Bukankah pria itu tak pernah akur dengan keluarganya?" lanjutnya bertanya.


"Tuan, lihat ini!" ujar Deck menyerahkan ponselnya.


Mahmud menatap sebuah headline berisi foto Virgou dan Bart yang sedang berjabat tangan.


"Bersatunya keluarga Dougher Young?" ia menghela nafas panjang.


"Ayo pulang tuan. Terima perjodohan keluarga, Nona Alisya sangat baik dan ia juga mencintai Tuan," ujar Deck memberi nasihat pada atasannya.


"Dia baik karena aku punya uang, Deck!' ujar Mahmud lemah.


"Tuan,"


"Ya sudah, kita pulang saja!" ajak Mahmud akhirnya pergi dari tempat itu.


Sementara Virgou memindai pria yang tengah mengamati tiga putranya tadi. Ia lega karena pria itu tak jadi macam-macam.


"Syukurlah kau mundur tuan Albani. Andai kau berbuat nekat!' gumamnya pelan.


"Aku tak segan-segan meratakan semua bisnismu di dunia!" dengkusnya menatap sinis.


"Daddy!" panggil Kaila.


"Baby?"


"Mommy naik motor Dad. Mommy ada di tong setan!" lapor Kaila.


"Apa?!"


Virgou kesal bukan main. Ia memang melonggarkan penjagaan istrinya. Ia tak berpikir jika sang istri malah berbuat ulah.


Pria itu naik ke sebuah tempat berbentuk tong. Terdengar deru mesin motor yang melaju dengan kecepatan yang terukur.


"Sayang!" teriak Virgou.


"Ck!" decak Puspita yang tentu tak terdengar suaminya itu.


Hanya tiga kali putaran. Puspita harus menurunkan laju motornya. Virgou menatap istrinya dari atas.


"Tunggu aku di situ!" ujarnya dengan mata marah.


Virgou turun bersama putri bungsunya Kaila. Pria itu menuju sebuah pintu khusus untuk masuk ke tempat itu.


"Mas," Puspita langsung menunduk.


"Helm!" pinta Virgou.


Puspita membuka pengaman kepalanya. Virgou membantu istrinya. Kemudian ia memakainya.


"Sayang, kamu mau apa?" tanya Puspita.


"Daddy?"


"Diam kalian dan keluar!" perintah Virgou. "lalu lihat aksiku!"


Kaila membawa ibunya ke atas untuk melihat ayahnya beraksi. Puspita dilanda kecemasan tinggi. Bart kecarian cucu yang dulu berseteru dengannya itu.


"Apa, dia ada di tong setan?" geramnya kesal.


Herman pun turut kesal. Semua orang akhirnya menyaksikan bagaimana monster Dougher Young beraksi memacu kuda besi di tempat khusus itu.


"Wah ... Daddy hebat!" puji Sky melihat aksi Virgou.


"Mama ... Ipu pa'a?" tanya Maryam pada ibunya.


"Grandpa sedang beraksi baby," jawab Lidya yang menatap cemas salah satu ayahnya itu.


Virgou berhasil mengendarai kuda besi sepuluh putaran. Aksinya diberi tepuk tangan meriah dari para penonton.


"Amah ... Imi pempat pa'a syih?" tanya Arsh pada sang ibu.


"Ini namanya tong setan baby," jawab Widya dengan mata berbinar melihat aksi selanjutnya.


"Ton petan?" tanya Arsh dengan mata bulat.


Dua jam bermain, semua pun pulang ke mansion Bart. Dua pasang pengantin tampak mesra.


"Cie ... Yang pengantin baru!" goda Nai.


"Sie ... Nanantin yayu!' beo Chira.


Nai mencium gemas Tante bayinya itu. Chira tergelak, bayi cantik itu tak mau lepas dari gendongan Langit.


Setelah makan, Arsh mengumpulkan semua saudaranya. Ia merasa ada yang harus dibicarakan.


"Days!" semua menoleh.


"Pa'a Apan Baji Baby Alsh!" sahut Zaa.


"Pentan yan teulsadhi padhi Anti baby," ujar Arsh memulai percakapan.


"Janan pilan peuntan lalapan boton yan muten-muten padhi?" sengit Al Bara.


"Atuh busin pihatna!" lanjutnya kesal.


"Biya, pa'a banpa'atna nayit moton suma buten-buten dowan?!' sengit Nouval kesal.


"Pahu pidat pempat pa'a yan padhi ipu?" tanya Arsh.


"Pempat lalapan boton muten padhi?" tanya Fatih balik.


"Biya!" angguk Arsh.


"Beumana banana pa'a apan Baji Baby Alsh?" tanya Aaima.


"Ton petan!' jawab Arsh.


"Ton petan?" tanya semua bayi dengan mata besar.


"Anan adhi-adhi!" sengit Vendra.


"Apan Baji Baby Alsh eundat peulnah nadhi-nadhi. Apan Baji Baby Alsh deunel peundili Amah yan pilan ipu ton petan!" ujar Arsh yakin.


"Pa'a ton ipu dali puniya walwah?" tanya Aisya bingung.


"Bana pantuna?" tanya Arsyad mencari keberadaan hantu.


"Tan siyan hali ... Bana lada pantu bunsul pas siyan hali!" sengit Xierra.


"Ata' Aya bas pihat pantu, siyan!" sahut Zizam mengingat Arraya yang bisa melihat hantu.


Semua bayi diam, mereka masih penasaran dengan tong setan yang tidak keluar hantunya.


"Apaw sanan-sanan Addy yan sadhi pantuna?!" ujar Fael dengan mata besar.


"Pa'a Addy sesulupan ya?" sahut Angel.


Lalu semua mata jernih tanpa dosa, menatap pria yang dimaksud. Virgou yang mendengar percakapan para bayi tentu kesal.


"Babies ... Tinti Dian bawa keripik singkong nih!' ujar Dian yang datang membawa makanan.


Para bayi pun lupa dengan apa yang barusan mereka bahas.


Bersambung.


Ya ... Daddy emang lagi kesurupan baby!


Next?