
Pesta meriah digelar di hotel milik Bram. Kali ini ayah dari Karina dan Haidar Pratama itu menyumbang sepuluh blok hotel untuk menginap seluruh keluarga.
"Nanti Kak Rana bobo sama Ella!" ujar Ella salah satu anak angkat Bart.
"Iya biar nggak ganggu ibu sama papa!" sahut Misna menggoda ibu dari kakak barunya itu.
Rini merona, ia telah sah menjadi seorang istri. Setelah masa idahnya selesai. Lerroy mempersuntingnya atas suruhan ketuanya.
"Kau tidak terpaksa kan?" tanya Virgou sekali lagi.
"Tidak ketua! Saya malah berterima kasih!" ujar Lerroy bahagia.
Sementara di kursi pelaminan lain Indah dan Marco juga duduk dengan mesra.
"Mama Dulu!" Zora menaiki Indah.
Bayi cantik itu duduk di pangkuan pengantin wanita. Luisa menghampirinya.
"Baby ... Nyanyi sama baby Mima yuk!" ajaknya.
"Sosen Amah!" tolak Zora lalu menguap.
"Biarkan baby di sini nyonya, mungkin dia lelah," ujar Indah lalu menepuk pinggul bayi cantik itu.
"Tutu!' pinta Zora, ia hendak membuka baju Indah.
"Ini berikan padanya sayang. Titip baby ya," ujar Luisa memberikan botol susu.
"Iya nyonya," ujar Indah lalu memberikan botol itu pada Zora.
Bayi itu langsung menghisap botol dan tak lama tertidur setelah isi botol habis. Marco mengambil bayi itu dan meletakkan kepala Zora di bahu.
"Sini Marco!' ujar Andoro yang mengambil bayinya.
"Tuan," rengek Indah keberatan.
"Sudah, kalian tak boleh direpotkan!' ujar Andoro yang mengambil Zora.
"Apah!' Zora mengerjap lalu memeluk leher ayahnya.
Sementara di panggung. Tampak bayi-bayi bertingkah semaunya. Arsh mengetuk dagunya berpikir hendak melakukan apa.
"Eh ... Pita bawu papain ladhi?" tanya Fael mengeluh.
"Banyi pandut pudah, lotenlol pudah ... Banyi bop pudah!" sahut kembarannya Angel.
"Banyi teloncon Pisa pidat?" tanya Fathiyya.
"Teloncon meman lada ladhuna?" tanya Fatih.
"Bana muntin ... Pasa ladhuna, teliyut ... teliyut;" sahut Zaa meniru bunyi perut yang lapar.
"Kalau gitu gantian kakak dong yang nyanyi!' ujar Bariana.
Karena para bayi sudah kehabisan ide. Maka Harun dan saudara seumurannya mempersembahkan lagu.
"Sampaikan pada hati yang bersedih ... begitu dingin dunia yang kau huni ...!" Bariana bernyanyi.
"Jika tak ada tempatmu kembali. Bawa lukamu biar aku obati!" sahut Arraya.
"Sesungguhnya kau hebat ... Hanya kau tak didengar!' Harun dan lainnya mengakhiri lagu.
Semua orang bertepuk tangan. Sky memberi ide pada Arsh menyanyikan lagu akapela.
"Ladhu atapela?" Arsh bingung.
"Iya baby ... jadi lagunya tuh begini ...."
Sky mengajari Arsh bernyanyi akapela. Bomesh menyela dan menyuruh semua bayi ikut serta.
"Nah ini bagian suara sopran dan ini alto!' ujar Bomesh membagi pecahan suara.
Bariana turun bersama Arraya. Sky, Bomesh, Arfhan menggandeng para bayi untuk tampil lagi.
"Para hadirin sekalian. Kita persembahkan akapela dengan judul burung kakak tua!" seru Bomesh.
Arsh, Maryam, Nisa, Fatih, Aisya dan semua anak seumuran mulai bernyanyi.
"Sepulul ... Liliwil ... Sepulul ... Liliwil ...."
"Bulun Ata' puwa ...!" Fael menyanyikan lagunya.
"Syululup ... Tetiwil!" sahut Arsh dan lainnya.
"Dindap pi sendela ...!" sahut Arsyad menyanyi.
"Popa pudah puwa ... pishina tindal puwaaa!' sahut Zaa yang membuat semua pria tersedak.
"Slep dul ... Wiliwil ... Syululup tetiwil ... Slep dul ... tetiwil!"
"Bulun Ata' puwaaa!" seru semua anak.
"Welewelwel ... Atuh bunya ansin teusil ... Sululup, tetiwil ... Tuh peuli bana beli ... Syululup piliwil ... Biya suta ... Peulbain-bain ... Pambil beulali-lali ... Beli ... Dut ... Dut ... Sululup tetiwil ... Teumali .... Sululup tetiwil ... bayo lali-lali ... Beli ... Dut ... Dut ... Sululup tetiwil ... Teumali .... Sululup tetiwil ... bayo lali-lali!"
Indah, Rini, Marco dan Lerroy mengurut pipi mereka yang kram. Semua orang bertepuk tangan meriah.
"Pita banyi bandut ladhi!" seru Aaima heboh.
"Beupuluh pahun pudah ... Bita beulumah tanda ... Pati peulum sudha beunpapatan bulta ...!"
Putri mengelus punggung sang suami. Ia juga hampir tersedak, putrinya menyanyikan lagu orang dewasa.
"Janan peulsyedih ... janan beulduta!' sahut Al Bara menyambungkan lagu.
Demian terbahak-bahak, sedangkan Lidya sudah manyun bibirnya.
"Addy doyan Addy!' seru Fatih lalu menggoyang pinggulnya.
Darren turun dan bergoyang heboh, lalu Virgou kemudian Dav. Akhirnya semua pria Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Sanz dan Dewangga juga ikut bergoyang.
"Serr ... Hobah!' seru Dav sambil bergoyang pinggul.
"Sel poha!" seru Rinjani sang putri yang meniru goyangan ayahnya.
Para tamu pun menyawer biduan dadakan yang menggemaskan itu. Arsh senang bukan main.
"Mommy atuh papat wuwit!" serunya.
"Zaza auna wawun!' seru bayi cantik itu menolak uang yang diberikan.
"Kok daun baby?" kekeh Rion.
"Tata papa, Zaza au nta oneta papa ilan yayalna ate wawun!' jawab Faza lugas.
Dominic melotot pada Demian. Pria itu cemberut, padahal ia suka bercanda dengan Jac yang selalu meminta uang untuk keperluan perusahaan.
"Papa sih ah!" tegur Lidya.
"Maaf sayang, tapi papa nggak tau kalau ada baby di sana!" sahut Demian berkilah.
"Tapi anakmu itu cctv berjalan papa!' sengit Lidya kesal.
Demian terkekeh, dua putranya adalah kamera berjalan. Dua bayi tampan itu sangat kepo dengan semua kejadian.
Pesta masih berlangsung meriah. Anak-anak diminta istirahat bersama para ibu mereka.
"Pesta ini hanya dua jam saja. Jadi jam lima sore kita sudah selesai ya!" ujar Frans.
"Makasih tuan!" ujar Marco dan Lerroy berterimakasih.
"Sama-sama, semoga kalian bisa jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah!' doa baik menyertai dua pasangan pengantin itu.
"Aamiin ya rabbal alaamin!" seru keempatnya bahagia.
Pesta pun berakhir dengan tertib. Dua pasang pengantin dapat hadiah yang sangat fantastis. Indah takjub dengan hadiah yang memenuhi pojok kamar.
"Sayang," Marco memeluk istrinya.
Indah menatap suaminya, ia tak menyangka akan begitu bahagia.
"Mas ... Aku bahagia sayang!' ujarnya lalu mencium bibir suaminya.
Marco menyambut pagutan itu dengan seksama. Sementara di ruangan lain. Rini duduk dengan cemas di pinggir kasur yang empuk.
Dekorasi ruangan itu sangat romantis. Lerroy keluar dari kamar mandi.
"Istriku, kamu nggak ganti baju?" tanyanya.
"Ah ... Iya!" jawab Rini cepat.
Wanita itu memejamkan mata mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
'Apa yang kau pikirkan bodoh!'
Set! Tiba-tiba ia sudah dalam dekapan suaminya. Mata hitam Lerroy menembus manik coklat tua milik Rini.
"Kita mandi bareng yuk!' ajaknya.
"Hah?" Rini bingung.
Tapi tubuhnya tak bisa menolak pelukan hangat sang suami yang membawanya ke kamar mandi.
Di kamar lain, Rana memandang foto pengantin ibunya di ponselnya. Ia mengusap layar itu.
"Ibu berhak bahagia, benar begitu kan Yah?" tanyanya lirih pada bayangan tipis yang tersenyum.
Rana menatap bayangan itu. Di sana sosok pria mengangguk dengan senyum indah. Ia mengusap kepala putrinya.
"Ibu berhak bahagia setelah lima belas tahun menderita," lanjut Rana lirih.
"Kak!" Rana terkejut.
Arraya ada di sana dan tersenyum padanya.
"Baby?"
"Salam buat bapak ya," ujar Arraya lalu mengangguk pada sosok bayangan.
"Kamu lihat?" Arraya tersenyum penuh misteri.
"Salam saja," ujar Arraya pada bayangan yang perlahan menghilang.
Bersambung.
Arraya terbuka lagi mata batinnya?
Next?