THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
DITUMPAS



"Apa butuh bantuan nak?"


Sebuah suara memecah ketegangan. Semua menoleh, lalu bibir mereka tersenyum lebar kecuali Rana.


"Daddy!"


Virgou menghela nafas panjang. tak lama Gomesh datang bersama polisi yang memakai baju biasa.


"Pulanglah nak. Ini urusan kami!" suruh salah satu petugas.


"Tidak!" tolak Dewa.


"Sebagai seorang laki-laki dan seorang teman yang sudah berjanji. Pantang mematahkan janjinya. Saya ikut sampai janji saya tuntas!' tolak Dewa.


"Janjimu pasti dilunasi. Kini giliran kami yang menjalankan janji itu!" sebuah perintah tegas keluar dari mulut komandan tampan dan masih muda itu.


AKBP Ilham Abdi SH., seorang petugas yang menjadi kepala polisi anti huru-hara.


"Daddy!" pinta Dewa pada ayahnya.


"Pak, mereka adalah anak dengan keahlian khusus. Saya bisa menjamin jika mereka akan membantu kita!" ujar Virgou memberitahu.


Ilham hendak menolak, bahaya dan ancaman nyawa pasti ada di operasi ini. Tapi ketika melihat mata yang berapi-api dan sangat berani. Entah kenapa ia mengangguk setuju.


"Tapi jangan menyalahkan kami jika ada sesuatu!" ujar Ilham memberi peringatan.


"Siap komandan!" seru kelima anak memberi hormat.


"Di atas menara ada penjaga yang mengintai kita. Sepertinya kedatangan Daddy sudah mereka ketahui," ujar Rasya menunjuk orang yang berdiri di atas menara.


"Allow me sir?" ujar Gomesh mengambil senjatanya lalu memberi peredam suara.


Ilham menahan Gomesh dengan meletakkan jari telunjuknya pada senjata.


"Watch me!"


"Yang diatas jatuh, langsung kita serbu! Mengerti!"


"Satu ... Dua ... Tiga!"


Seiring hitungan terakhir, orang di atas menara jatuh ke tanah. Dua puluh orang merangsek masuk Kaila melindungi Rana.


Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid dikelilingi kesatuan kepolisian berpakaian preman.


"Hentikan! Atau perempuan ini mati!" sebuah teriakan menghentikan pergerakan.


"Ibu!" teriak Rana.


Rini menatap putrinya, ia menggeleng lemah. Ia sangat menyayangkan perbuatan anak perempuannya itu.


"Letakkan senjata kalian!" seru Ilham.


"Tempat ini telah dikepung!" lanjutnya memberitahu.


"Tak masalah, yang penting tujuan kami telah berhasil!" ujar seorang pria berdiri di sisi Rano.


Sebanyak lima puluh pria mengepung kepolisian, Virgou, Gomesh dan anak-anak.


"Ketatkan penjagaan pada anak-anak dan warga sipil!" perintah Ilham.


Dua puluh polisi bergerak melingkar dan merapat. Mereka menutupi Virgou dan lainnya.


Beberapa helikopter terbang hilir-mudik di angkasa. Ketegangan itu ditayangkan di televisi.


Herman di sana menatap layar dengan debaran kencang di dada. Kean menenangkan pria itu.


"Ayah .. Baby pasti bisa melewatinya!"


Kean sedikit iri dengan petualangan yang dilakukan adik-adiknya itu. Walau setelahnya ia menyesal dan mengumpat dirinya.


"Kalian harus pulang dengan selamat dik! Jika ada satu helai rambut jatuh dari kepala kalian. Aku sendiri yang akan menghabisi mereka!" janji Kean dalam hati.


Sementara di mansion Demian, Khasya menatap layar dengan pandangan lurus. Air matanya terus mengalir, bibirnya terus berdoa dan berdzikir agar semua anak-anaknya selamat.


"Bunda ...," Terra di sana.


Hatinya tentu sangat cemas, ada dua putra kembarnya di sana. Haidar dalam perjalanan pulang bersama Al. Darren dan Rion langsung menuju lokasi. Tentu Rion punya cara untuk membantu ayah dan kelima adiknya itu.


"Baba ada jalan masuk yang pasti membuat mereka kaget!" tunjuk Rion pada sebuah pintu rahasia.


"Kita ke sana baby dan beritahu kepolisian setempat jika kita punya cara untuk melindungi semua!" ujar Darren.


Sementara di tempat kejadian. Rana merasa sudah cukup untuk merepotkan semua orang. Ia menatap ibunya.


"Bu apa ibu siap mati?" tanyanya berteriak.


"Nak!" peringat Ilham.


Rini menatap putrinya, ia bisa melihat jika sang putri ingin mengorbankan diri dan menyelamatkan semua orang.


"Ibu bersedia nak!" seru Rini.


"Ibu juga menyayangimu nak!" teriak Rini.


"Diam!" satu tamparan keras membungkam Rini.


"Ibu ... Susul aku di surga bu!" teriak Rana.


Gadis itu dengan cepat keluar dari lingkaran pengamanan. Rini yang setengah sadar berontak dan lari menuju putrinya.


"Tiarap!" sebuah teriakan menggema.


Dor! Dor! Dor!


Ilham dan dua orang lainnya berlari menuju Rana dan Rini yang berpelukan. Mereka menjatuhkan tubuh keduanya dan melindungi mereka dengan tubuhnya.


Lima puluh penjahat terluka parah. Ketua penjahat roboh dengan perut tertembus timah panas. Rano juga ikut tersungkur, walau ia membentengi tubuhnya dengan tubuh ketua penjahat. Rupanya salah satu timah panas ikut menembus perutnya.


Semua penjahat tertangkap dengan luka serius. Rano menatap Rana yang dipeluk oleh istrinya. Pria itu melirik senjata yang masih ada di tangan petugas. Lalu pandangannya tertuju pada Virgou.


"Bangsat, mati kau!" teriaknya lalu merebut pistol dan menembakkan isinya.


Dor!


"Daddy!" teriak semua anak.


Brug! Dua tubuh terjatuh.


"Ibu!"


Rini roboh dengan dada sebelah kiri tertembus peluru. Ia melihat Rano merebut pistol dan hendak menembak pria yang menolong dirinya dan putrinya.


Tanpa pikir panjang, ia menghalangi laju peluru dan hanya mengenai dirinya.


Di sana seorang pria terkapar menggelepar hebat. Beberapa polisi memberi bantuan untuk menyelamatkan nyawa pria itu. Tak ada yang meratapi hingga nafas terakhirnya.


"Pelaku tewas komandan!" lapor salah satu anak buah.


Di sana Ilham memegang senjata yang berasap. Pria itu yang meletuskan senjatanya merobohkan Rano.


"Korban Rini masih bernafas komandan!" ujar salah satu petugas.


Beberapa ambulans datang. Rini dan Rana dibawa ke rumah sakit. Abraham diminta untuk menemani gadis itu dan ibunya.


Semua anak dibebaskan dari kesaksian. Kasus ditutup dan dijadikan under cover alias kasus tertutup dan rahasia.


Sampai rumah, semua anak disambut tangisan para ibu. Terra menciumi duo R, Kaila dan duo De begitu juga Khasya.


Herman pulang cepat. Ia langsung memeluk Dewa sang putra. Ia bersyukur Virgou datang cepat.


"Terima kasih boy!" ujar pria itu lalu memeluk Virgou erat.


"Apa kau tak apa-apa?" tanya Herman lagi.


Kean menatap semua adiknya. Ia lega karena tak ada satu luka kecil pun mengenai mereka.


"Hampir saja kakak jadi monster pembunuh," ujarnya lega.


Sementara itu kehebohan orang dewasa ditanggapi berbeda oleh para perusuh paling junior.


"Pa'a yan teulsadhi?" tanya Zaa berbisik.


"Tatana patlet basut salan busuh!" jawab El Bara yang menjadi mata-mata para perusuh itu.


"Salan busuh?" tanya Aaima dengan mata besar.


"Pa'a busuh meuleta manyut?" tanya Fathiyya mengartikan sarang.


"Janan-janan salan wewan puwas!" sahut Zizam juga.


"Bi pantun bana lada wewan puwas aypi!" sanggah Nisa menggeleng.


"Bastina manyut!" angguk Zaa yakin.


"Seupesal pa'a manyut yan Selan Daddy?" tanya Angel yang membuat semua bayi itu diam.


"Banyutna basti peusal ... Seupesal Papa Domesh!" angguk Fatih yang juga diangguki semua anak-anak.


"Papa Yoyes amut!" tuding Ryo pada Gomesh yang sedang berdiri tegak.


"Wayo pita selan banyut latsasa!" seru Arsh memberi komando.


Dan Gomesh yang tidak tau apa-apa, harus berlari menyelamatkan diri dari serbuan para kurcaci.


Bersambung.


Ah ... Alhamdulillah!


Next?