THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
AKSI KEAN



Santos menatap hunian kecilnya. Rumah dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi.


"Rumah ini memang sangat kecil nak. Tapi ayah akan beri kehangatan cinta dan kasih sayang ayah pada kalian!" ujarnya bermonolog sendiri.


Ada sofa kecil di ruang tamu yang jadi satu dengan ruang makan plus ruang keluarga.


Sebuah televisi layar datar ukuran 14 inci menggantung di dinding. Santos telah memasang televisi kabel agar anak-anak ada hiburan.


"Ayah penuhi dengan makanan kesukaan kalian nak!" ujarnya bangga menatap isi lemari pendingin.


Berbagai makanan beku dan sayuran serta telur juga minuman dingin. Ia sangat yakin akan membahagiakan ketiga anak kembarnya.


"Kita akan mulai semua dari awal. Ayah akan membayar semuanya pada kalian," lanjutnya bermonolog.


Pagi hari semua orang tentu sibuk. Herman mengajak Kean untuk mengawalnya ke luar kota.


"Ayah sama om Deri untuk kali ini bisa?" tolak Kean tiba-tiba.


Herman memandang pemuda yang tinggi itu. Kening pria itu berkerut.


"Tumben? Biasanya nggak mau lepas dari ketiak ayah?" Kean merengek mendengarnya.


"Ayah!"


"Oke nak, biar ayah sama om Deri!" ujar Herman menenangkan Kean.


"Makasih ayah ... Ba bowu!" ujar Kean mencium pipi ayahnya.


Herman makin mengerutkan kening. Ekspresi Kean sangat terbaca olehnya. Pria itu sedikit gusar.


'Ayah percaya kamu pasti bisa melakukannya nak!' gumam pria itu dalam hati.


Herman memilih percaya pada Kean. Ia sangat yakin jika pemuda dengan pesona luar biasa itu akan bertanggungjawab pada semua tindakannya.


"Baby ... Kakak akan antar kalian ke sekolah ya!" ujar Kean pada semua anak angkat Bart.


"Yang bener kak?" tanya Deta tak percaya.


"Iya lah ... Masa kakak bohong!' sahut Kean meyakinkan.


"Asik ... Aku bisa kasih tunjuk semua teman kalau aku punya kakak mata biru!" teriak Deta kesenangan.


"Kakak nanti main sama-sama ya!" ajak Imran.


"Iya baby!" angguk Kean.


Khasya melihat anak tertua di sana dengan pandangan berbeda. Ia sedikit cemas.


"Mas!" panggilnya pada sang suami.


Herman tengah melakukan panggilan telepon. Pria itu memberi tanda pada tangannya agar sang istri menunggu.


"Iya sayang," sahut Herman setelah mengakhiri panggilan teleponnya.


"Mas ... Baby Kean kok nggak ikut kamu?" tanya wanita itu.


Herman memandang istrinya. Ia juga sama cemasnya. Tapi kemudian ia mengelus bahu sang istri dan mendaratkan kecupan ringan di kening Khasya.


"Kita percayakan saja baby sayang."


Khasya menghela nafas panjang. Ia menatap suaminya. Melihat kesungguhan di sana ia akhirnya mengangguk.


"Apa Ayah tau sesuatu?" tanya Khasya hendak mengadu perilaku Santos.


"Apa Bun?" tanya Herman.


"Ah ... Tidak ada. Bunda hanya berkhayal saja!" putus Khasya yang urung mengutarakan kebenaran.


Herman berangkat sendiri. Virgou, Gomesh dan Satrio juga berangkat diiringi nyanyian para bayi.


"Benpa sepat pulan ... Sanan mama-mama ... tamih bawu bain obil pama poneta palu!" Virgou berdecak kesal mendengarnya.


"Baik babies ... Papa yang akan beli semua untuk kalian!" janji Satrio.


"Benen Apah Ata'?" sahut Chira dengan mata besar dan penuh harap.


"Tentu saja ...."


"Holeee!"


"Tapi ...."


"Wah pate pati!' sengit Aarick.


"Oh iya dong ... Kalau mau hadiahnya harus melakukan sesuatu baru dapat hadiah!' sahut Satrio gemas pada salah satu triple Starlight itu.


"Basa tasyih badiah halus lada salatna?! Sengit Sena kembaran Aarick.


"Ya kalau mau ... Kalau tidak juga nggak apa-apa," ujar Satrio santai.


"Papa lelit!' sengit Ryo mengatai Satrio.


"Eh ...."


Prang! Satu vas kristal jatuh ke lantai. Semua pengawal heboh dan panik. Anak-anak dan bayi dijauhkan. Faza menarik bunga dari dalam pot seharga lima juta yang sudah jadi serpihan di lantai.


"Baby kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Michael khawatir.


Serpihan kristal dibersihkan. Khasya tak peduli dengan benda yang baru saja dijatuhkan putri Lidya itu.


"Baby?"


"Yeyan uti ... Zaza au asyih una imih te Apah," ujar Faza memberikan bunga beserta daunnya ke Satrio.


"Buat apa baby?" tanya Satrio bingung.


"Wuwat weuli onetah mama opil!' jawab Faza.


"Papa punya uang baby!" sengit Satrio.


"Apah ... Lalo una wuwit Apah dat sasih alat-alat leuli ainan!'' sahut Zora kesal.


Akhirnya semua pergi, Kean mengantar semua adiknya ke pesantren. Ia menduga jika ayah dari triple eL mendatangi sekolah adiknya itu.


"Tuan!" Kean terkejut melihat sosok di depannya.


"Abi!" Kean langsung cemberut.


"Sayang!" keluh Dahlan.


Virgou meminta pria itu mengawal putranya. Kean lupa siapa ayahnya.


"Pasti Daddy yang suruh kan?" ujarnya menebak.


"Tuan, anda masih di dalam tanggung jawab ketua!" ucap Dahlan mengingatkan.


Sampai pesantren, Kean sengaja berjalan-jalan mengitari bangunan besar itu. Salma dan Hafsah sudah mulai mengajar lagi. Dua anak mereka diasuh oleh Maria.


"Itu dia!" seringai sadis terbit di wajah Kean.


Dugaan Kean benar adanya. Santos menatap bangunan pesantren. Ia menengok kanan dan kiri. Kean bersembunyi di balik pohon.


Santos berjalan cepat menuju gerbang. Kean yang dekat dengannya langsung menyergap.


"Aarrggh!" Kean membungkam mulut pria itu kuat-kuat.


"Hai ... Om!' bisik Kean dingin.


Seluruh aliran darah Santos mendadak berhenti. Pria itu memang mengenal Kean sangat baik. Pemuda polos dan tak banyak tingkah kecuali keusilannya.


"Lepas ... Kamu bisa saya dakwa!" teriak Santos berani.


Kean melepas cengkramannya. Santos terhuyung hingga tersungkur ke aspal. Dahlan melihat tuan mudanya tengah bersitegang berlari mendekat.


"Baby?"


"Abi let me finish it all!" pinta Kean.


Dahlan menatap putra ketuanya itu. Kean hanya memandang Santos seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


"Baiklah nak!" angguk Dahlan.


Kean lalu meraih kerah Santos. Pemuda itu memukuli perut, wajah dan tubuh Santos. Pria itu tentu tak bisa melawan kekuatan Kean.


"Aku akan melaporkan ini semua!" teriak Santos.


"Dasar pria tak tau diri!" sentak Kean marah.


"Baby, bagaimana jika jangan di sini!" ujar Dahlan yang melihat suasana.


"Abi?" Kean menatap pria yang mirip aktor Korea Siwon itu.


Tak lama Leo dan tiga anak buahnya datang. Kean mencium pipi Dahlan.


"Kean serahkan semua adik sama Abi!' seringai pemuda itu.


Dahlan menatap Kean. Ia sangat yakin akan mendapat marah oleh Virgou.


"Ketua harus lihat bagaimana cara tuan muda melindungi semua adik-adiknya!" angguknya tak masalah.


Sampai markas klan BlackAngel. Santos menjerit kesakitan. Kean menoreh luka di sepanjang tubuh pria itu.


"Kau pembunuh!" teriak Santos.


"Tuan Alam!" tekan Santos.


Mata birunya menembus pupil coklat gelap di bawah tekanannya itu.


"Kau lupa jika kau telah mati tuan," ujar Kean tersenyum sadis.


Santos menelan saliva kasar. Perbuatan masa lalunya mengingatkan dirinya.


"Kau lupa jika pernah memalsukan kematianmu dan meninggalkan anak juga istrimu di bawah garis kemiskinan?" lanjut Kean.


Pekik kesakitan terdengar dari mulut Santos ketika Kean memeras jeruk purut di lukanya. Raungan minta tolong dan ampun terdengar dari mulut pria itu.


"Baby Lana, Baby Lino dan Baby Leno tak akan pernah kehilanganmu setelah ini ... Tuan Santos!" ujar Kean dengan tatapan membunuh.


"Tapi aku sudah haji. Berarti dataku sudah kembali kan?!" teriak Santos masih berani.


Bug! Pukulan bertubi-tubi dilancarkan Kean ke wajah pria itu. Leo memeluk tubuh sang pemuda dan menyingkirkannya.


"Dia harus mati!" teriak Kean murka.


"Tuan, dia pingsan. Jangan membawa dosanya nanti di akhirat!" peringat Leo.


Kean menetralisir semua emosinya. Santos benar-benar pria tak tau diri.


"Andai kau tak memakai cadar kotor untuk mengambil adik-adikku. Mungkin aku tak seganas ini Tuan Alam!" desis pemuda itu.


Santos setengah tak sadar. Wajahnya babak belur, hidungnya patah.


"Mestinya kau benar-benar mati di lautan lepas sana!" teriak Kean lagi.


Leo membawa tuan mudanya dari ruangan penyiksaan. Santos diberi obat pemulihan cepat.


Leo mendatanginya lalu menyerahkan sebuah surat pada pria itu.


"Sekarang kau adalah warga yang tak diakui Santos!" ujarnya.


"Pergi dan sembunyi lah jauh-jauh ... Atau benar kata tuan mudaku tadi ...."


"Pura-pura mati atau mati sungguhan!" lanjutnya dengan seringai sadis.


Bersambung.


Wah ... Puas belum?


Ata' Kean ... Ba bowu 😍😍😍


Next?