THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KEHEBOHAN



Hunian Dominic kini menjadi tempat semua anak berkumpul. Triple Starlight berulang tahun yang kedua.


"Apah!" Aarick adalah bayi laki-laki yang ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding tiga suadaranya yang lain.


"Baby," Dominic sangat menyayangi putranya itu.


"Janan lilih tasyih Apah!" seru Sena dan Alva sengit.


"Baby papa nggak pilih kasih!" sahut Dominic tak terima.


"Apah selin pantu-pantu Alit, jayan pantuh atuh!' protes Sena.


"Kamu yang nggak mau dipangku papa!" sengit Dominic lagi.


Perdebatan antara ayah dan anak hanya membuat Dinar menghela nafas panjang. Perempuan bertubuh gendut itu tak bisa melerai jika suami dan tiga putranya saling berdebat.


"Assalamualaikum!" seru Demian datang bersama istri dan tiga anaknya.


"Wa'alaikumusalam," sahut Dinar menyambut mereka.


"Babies papa bawa hadiah!" Seru Demian.


"Papa!" triple Starlight langsung mendatangi Demian dan meninggalkan ayahnya.


Dominic tentu kesal, ia mencebik pada tiga putranya yang selalu mendebatnya. Al dan El Bara mendekati kakeknya.


"Benpa ... Tamuh teunapa?" tanya Al Bara menyelidik.


"Nggak apa-apa," jawab Dominic lalu mencium dua keturunannya itu.


"Penpa ... tutumu yan santit datan!" seru Faza berhambur ke ara Dominic.


Pria itu langsung menyambut tubuh mungil cucu cantiknya dan langsung mengangkatnya ke atas.


Gelak tawa Faza terdengar hingga membuat semua bayi laki-laki ingin diperlakukan sama.


"Apah au judha!"


Tak lama hunian besar itu sudah penuh dengan manusia berbagai usia. Banyak kado yang diterima oleh triple Starlight.


"Pantu butain Ata'!" Chira membuka bungkus kado.


"Bobot!" seru Al bertepuk tangan.


"Amah bawu bobot amah!" pinta Aarav tiba-tiba pada ibunya.


"Nanti minta Daddy belikan sayang," ujar Najwa memberi pengertian pada putranya. "Kalau itu punya baby Sena."


Aarav mengangguk, tanda mengerti. Ia menatap mainan-mainan itu dengan berbinar. Padahal di kamarnya satu ruangan khusus berisi banyak mainannya.


"Ata' ... Imih puwat Ata'!" ujar Aarick memberikan hadiah mobilan yang ia dapatkan pada Aarav.


"Itu punyamu baby," ujar Najwa.


"Pidat pa'a-pa'a, Lalit bunya panat!" ujarnya menunjukkan hadiah-hadiah yang ia dapat.


Bart suka ajaran Dinar pada putra-putranya untuk saling berbagi. Aarav sangat bahagia mendapat mobilan itu. Bukan hanya Aarav tapi juga semua bayi laki-laki.


Tak lama semua bayi meninggalkan mainan mereka begitu saja dan memilih bermain di halaman. Dinar dan para ibu lainnya sibuk membereskan kekacauan yang ada.


"Bi Cici, tolong buangin kertas-kertas kado sama kotak-kotaknya ya," suruh Dinar pada salah satu maid.


"Iya nyonya," ujar maid berusia dua puluh empat tahun itu.


Cici membawa satu plastik berukuran besar dan memasukkan semua sampah yang ditumpuk. Putranya ikut bersamanya.


"Bu," bisik sang putra sambil menarik ujung rok ibunya.


"Apa nak?"


"Bu, mainannya banyak ya," bisik sang putra lagi menatap mainan-mainan yang disusun dalam lemari.


"Bu, kaldusna jangan dibuang ya," pinta sang putra.


"Kenapa sayang?" tanya sang ibu sambil menaruh kotak tempat mainan dalam plastik.


"Tono mau bawa pulang. Nggak apa-apa tempatnya dulu. Siapa tau nanti Tono punya mainannya benelan," jelas anak berusia empat tahun itu.


Cici adalah janda yang ditinggal begitu saja oleh suami. Sang suami yang mestinya jadi pelindung keluarga malah menghilang entah kemana setelah satu tahun kelahiran Tono.


"Nanti ibu gajian belikan kamu satu ya nak," janji Cici.


"Benel Bu?" tanya Tono dengan mata penuh harap.


Cici mengangguk, ia baru saja bekerja di keluarga Dominic satu minggu lalu. Dinar membutuhkan beberapa asisten untuk membantunya mengurus rumah besar itu.


Dinar mendengar percakapan ibu dan anak itu. Ia iba melihat bagaimana mata jernih Tono menatap mainan yang terpajang di lemari kaca.


Dinar menatap semua anak-anak yang tengah bermain. Aarick tengah menatap semua saudaranya yang bermain.


"Wiya Bibu," sahut bayi tampan itu.


"Baby, Kak Tono pengen mainan. Apa boleh baby kasih satu mainan baby yang masih bagus untuk Kak Tono?" pinta Dinar.


"Teunapa bibu pidat bambil laja?" seru Aarick.


"Kan itu mainan punya baby," ujar Dinar.


"Jadi bibu mesti minta ijin dulu," lanjutnya memberi alasan.


Terra mendengar perkataan Dinar. Wanita itu langsung belajar sesuatu. Walau mainan itu dibeli oleh uangnya sendiri tapi barangnya sudah jadi milik si empunya barang.


"Bambil laja Bibu," ujar Aarick lembut.


"Baby pilihkan saja ya, takutnya kalau Bibu yang ambil itu mainan kesayangan baby Aarick," pinta Dinar lagi.


Aarick menakup wajah ibunya. Mata birunya menatap netra coklat gelap milik Dinar.


"Bibu, putan tah pibu peslalu pilan talaw tasyih palan hayus palan yan pita sayani?" Dinar mengangguk membenarkan.


"Sadhi Bibu bambil laja bainan bana pun. Alit pidat basalah!" lanjutnya menenangkan Dinar.


"Oh baby, kamu sweet banget sih!" Terra terharu mendengar betapa bijak putra besannya itu.


Wanita itu mengangkat Aarick dan memberinya ciuman bertubi-tubi. Semua bayi protes dan ingin diperlakukan sama.


Dinar mengambil salah satu robot milik putranya itu. Ia ke dapur mencari keberadaan Tono.


"Nak!" panggilnya.


Balita itu menoleh, ia tengah bermain dengan kardus bekas mainan. Tono langsung menunduk, ia takut jika Dinar akan marah karena mengambil barang seenaknya.


"Hei sayang kenapa sedih?" tanya wanita itu.


"Janan malahin Tono ya bonya," pinta balita itu lirih.


"Oh kenapa?" tanya Dinar.


"Kalna Tono ampil taldus bainannya," jawab Tono masih lirih.


"Oh sayang," Dinar memeluk Tono tanpa segan.


Wanita itu mencium pipi balita itu. Ia lalu menyerahkan robot pada Tono.


"Ini buat kamu, dari baby Aarick," ujar Dinar.


Tono menatap tak percaya. Mainan yang sama dengan kardus yang ia pegang.


"Ini ambil ini dan simpan!" Dinar meletakkan mainan itu dipangkuan Tono.


"Beunelan bonya?" Dinar mengangguk dengan tersenyum.


"Iya sayang, udah itu yuk main sama semuanya!" ajak Dinar lalu menggandeng Tono.


Balita itu pun mengikuti langkah majikan ibunya. Hanya butuh waktu sepersekian detik saja. Tono sudah membaur bermain bersama perusuh yang lainnya.


"Bepi besdey suyu ... Bepi besdey su yu ... bepi besdey, bepi besdey ... Bepi besdey suyu!" Aaima menyanyikan lagu happy birthday.


Semua bertepuk tangan, Aarick, Sena dan Alva meniup lilin angka dua. Kembali riuh tepuk tangan terdengar.


Semua heboh meminta kue ulang tahun yang terlihat enak itu. Semua dapat dengan potongan kue yang sama, begitu juga Tono.


Malam telah larut, semua anak telah tidur. Bart mendekati Dinar yang masih membersihkan beberapa sampah yang berserakan.


"Sayang," panggilnya.


"Iya Grandpa," sahut Dinar menatap pria paling tua di sana.


Bart mendekat dan memeluk tubuh padat wanita itu. Ia mengecup kening Dinar.


"Terimakasih sayang telah mengajari semua anak-anak. Mereka berhati emas seperti dirimu," ujar Bart penuh dengan rasa syukur.


Dinar hanya tersenyum, ketika di kamar Dominic juga mengatakan hal sama padanya.


"Anak-anak itu seperti kertas polos. Kita sebagai orang tua wajib menuliskan hal-hal baik di kertas itu," jelas Dinar.


Bersambung.


Benar ... Ajaran orang tua sangat mendukung dengan tingkah laku anak.


Yuk ajari putra dan putri kita tentang menghargai orang lain.


Karena mereka lah calon-calon pemimpin yang menggantikan kita suatu hari.


next?