
Theo menggendong Ryo. Bayi itu tak mau lepas dari pengawal kaku itu. Ryo sampai mengerutkan kening karena merasa kekakuan Theo.
"Apah ... Apah inetan?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
Theo yang tak mengerti bahasa bayi tentu saja tak bisa menjawab. Pria itu makin pucat dan hanya mengangguk saja.
"Papa kenapa?" tanya Rion.
"Ti-tidak Tuan baby," jawab Theo.
Theo memanggil Rion dengan panggilan sama yang dilakukan semua teman seprofesinya. Rion tersenyum usil.
"Papa pucet. Papa bukan phobia bayi kan?" tanyanya berbisik.
"Ti-tidak!" sanggah Theo.
Ryo adalah putra dari Rion. Keusilan ayahnya menurun pada putranya yang sebentar lagi mau satu tahun itu.
"Apah aypi ... Apah Yeyo inetan ... Apah Yeyo hahan ipis pa'a ahan pup selana?" tanyanya mengejek.
Theo benar-benar tak bisa menjawab. Hal ini membuat Rion makin mengusili pria tampan itu.
"Fix baby ... Papa Theo nahan cepiritnya!"
"Saya tidak ...."
"Ih ... Apah elat alam lana?" tanya Ryo dengan mata besar dan seringai jahilnya.
"...."
Theo mati kutu, pria itu berdiri kaku sambil menggendong Ryo.
"Apah Peyoy!" pekik Faza.
Bayi cantik itu merangkak dan langsung menaiki Theo. Pria itu makin tegang.
"Apah pa'a Apah?" tanyanya pada Rion.
"Papa Theo cepirit baby," jawab Rion usil.
"Papa phobia sama baby jadi dia takut sampe cepirit," lanjutnya meledek.
"Tuan ...."
"Apah ... Apah anan atut mama payi, " ujar Faza lalu mengecup pipi Theo.
Theo menghangat, perlahan ia bisa melemaskan ototnya menggendong dua bayi.
"Baby turun ya, Papa mau sholat jumat dulu," ujar Theo menurunkan Faza.
"Wiya Apah anten," sahut Faza genit.
Lidya yang mendengarnya sampai berdecak. Untung Demian sudah di masjid duluan. Jika tidak, Theo tak akan dibolehkan menggendong Faza lagi.
"Amah Yiyo euldi mumatan wulu ya!" pamit Ryo dalam gendongan Theo.
"Iya sayang,"
Tangan Lidya menjulur ke arah bayi tampan itu. Ryo yang paham harus apa, mengamit tangan Lidya dan mencium punggung tangannya.
"Sasalamutatatitum!"
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut Lidya membalas salam.
Azizah tengah mengurus bayi lainnya. Zaa tengah manja pada kakak iparnya itu. Bayi cantik itu tak mau lepas dari gendongan Azizah.
Adiba juga sibuk dengan tiga bayi yang mengerumuninya. Xierra, Nisa dan Zora.
"Amah!" pekik Xierra menangis.
"Huuuw ... Senen!" ledek Nisa.
"Mama ... Hiks ... Hiks!" sedu Xierra.
"Oh baby,"
Adiba menggendong bayi cantik itu. Nisa dan Zora juga tak mau ketinggalan.
"Sini sama Uma,"
Saf mengambil alih Nisa. Bayi bermata biru itu tersenyum, ia memang suka menggoda bayi yang cengeng. Xierra termasuk paling cengeng di antara semuanya. Walau sisi bar-bar bayi itu sama dengan semua bayi perempuan.
Usai sholat jumat semua anak mengantri kotak makan. Kali ini Haidar membiarkannya. Sudah mengetahui jika semua anak lebih suka mengantri dibanding mengambilnya di rumah.
"Anak-anak kau biarkan ngantri nak?" tanya Beni.
"Iya kakek, soalnya mereka nggak mau kalau diberikan di rumah," jawab Haidar.
Semua anak senang mendapat kotak makan itu. Mereka membawanya ke rumah dan dimakan bersama bersama saudara perempuan mereka.
"Basa atuh pidat poleh te basdid!" keluh Chira.
"Janan tan tamuh. Atuh sasa pidat poleh!" ujar Fael juga protes.
"Badahal atuh lati-lati!" lanjutnya bersungut.
"Eh ... Nih aaa!' ujar Sean menyuapkan nasi pada mulut Fael.
Bayi mau empat tahun itu membuka mulut lebar. Sedang Zora, Vendra, Ryo, Hasan, Hafsah dan Horizon marah-marah karena tidak boleh makan yang dibawa oleh saudara laki-laki mereka.
"Maem spaghetti aja! Mereka nggak makan itu!" ujar Terra.
"Woh ... atasyih netnet Yeya!" ujar Hasan dengan senyum mengembang.
"Huuek!" Seruni mendadak mual.
"Sayang?" Dav langsung khawatir.
Semua menatap wanita itu. Seruni tampak tersenyum, ia memang tak bisa menahan berita gembira ini.
"Aku positif dua garis mas," ujarnya memberitahu.
"Hah ... Apa?" seru Bart tak percaya.
"Iya Grandpa ... Seruni positif hamil, sudah enam minggu," jawab wanita berhijab lebar itu.
"Mashaallah Alhamdulillah!" seru Dav lalu memeluk istrinya.
Keduanya bertangisan haru. Setelah kehilangan janin sebelumnya empat bulan lalu. Rupanya Allah langsung menggantinya dengan kehidupan baru di perut Seruni.
"Selamat sayang," ujar Leni bahagia.
Najwa mengecup menantu sambungnya itu. Ia senang mendapat cucu lagi. Ia menatap semua perusuh yang memandang dengan penuh minat.
"Kita tak akan kesepian sayang," kekehnya.
Sean mengajak semua saudaranya yang single memenuhi kafenya. Adiba membawa semua bayi ke kafe miliknya bersama Satrio yang suami.
Para ibu tentu bersama anak-anak yang masih bayi. Ryo dan Arsh malah marah, dua bayi itu ingin ikut kakak laki-laki mereka.
"Wawu itut Ata' Seyan Apah!" seru Ryo menangis.
"Di sana banyak orang besar sayang. Makanan untuk kamu tidak ada," ujar Adiba.
"Nggak ... Ada kok! Ada!" sahut Dewi.
"Iya ada Baby!" ujar Sean.
"Sini sama Bu'lek!"
Ryo ada digendong Dewi, Arsh berada digendongan Dewa. Dua bayi itu pergi bersama kakaknya.
"Atuh itut!" pekik Al dan El.
Akhirnya, yang tinggal hanya para bayi yang belum satu tahun kecuali Ryo. Mereka bersama para ibu mereka.
Di kafe milik Sean, tempat itu makin indah dengan konsep open kafe. Pencahayaan terang dan sangat sejuk begitu sedap dipandang mata.
Para gadis dan pemuda anak pengusaha banyak berkumpul di sana.
"Babies duduk sini ya," ujar Dewi lalu menundukkan Ryo di bangku khusus.
"Eh ... Kok bayi boleh masuk kafe?" tanya seorang gadis dengan setelan Korea.
"Emang kenapa?" tanya Dewi heran.
Dewi memakai celana jeans ketat dan baju rajut lengan panjang. Rambutnya yang hanya sebahu dihias jepit pita plastik warna putih.
Tak ada branded mencolok yang dikenakan Dewi. Berbeda dengan gadis di depannya.
Gadis itu memakai rok mini hitam yang memgembang dari branded ternama, outfit yang dikenakannya juga sangat terkenal. Kaos warna peach dengan lengan terbuka.
"Butlet ... Ipu jajuna ulan pahan ya?" tanya Ryo berbisik.
Dewa datang dan menaruh Arsh di bangku khusus di sebelah Ryo.
"Ada apa ini?" tanya Dewa datar.
Gadis fashionable itu menatap Dewa. Remaja yang beranjak pemuda itu memang tampan. Pembawaan Dewa yang kalem dan sangat datar tentu membuat lawan jenis penasaran.
"Kalian boleh bawa anak ke kafe? Apa kalian suami istri?" tanya gadis itu.
"Urusannya dengan anda apa Nona?" tanya Dewi sinis.
"Kami tidak mengganggumu ...."
Gadis itu makin bingung dengan banyaknya bayi yang didudukan oleh para orang tua.
"Mima au banyi!" teriak Aaima heboh.
"Ayo sini baby," ajak Azizah.
Balita itu di bawa ke sebuah panggung kecil. Azizah mengambil gitar yang ada di sana.
"Nyanyi apa baby?"
"Banyi pandut Mama!' jawab Aaima senang.
"Tala tupandan telip pintan Yan sauh pisana ... Sematin belodi sinta yan mendema ... Detat santun pun iput lilama ... Badhai teulsentuh alunan badu sepueldu topi pandut!"
Bersambung.
Goyang baby.... Hobah!
Sel poha!
Next?