
Kehadiran Indah sebagai anggota baru di keluarga Dougher Young, membuat semua bayi cari perhatian pada perempuan itu.
"Amah Dindah ... Atuh ipu seupeunelna pulpenmen woh!' aku Arsyad.
"Oh ya?" ujar Indah dengan senyum lebar.
Pipinya terasa kaku karena tak berhenti tersenyum. Gino jadi penterjemah wanita itu.
"Biya! Balo Aypi Atsad lupemen. Atuh hulut!' ujar Aarav.
"Tuh ondellomen!" tunjuk Zora pada dirinya sendiri.
"Tuh Bibu bita Tatini!' sahut Aisyah.
"Pibu dita Altini ... Lupti pessati ... bulti dindosesya ... Lalum banana!' lanjutnya bernyanyi ibu kita Kartini.
Indah menahan tawanya. Ia benar-benar lemas dibuat para bayi yang memaksa bicara itu.
"Amah ... Amah!" Ryo naik ke pangkuannya.
"Baby," ia mencium gemas bayi itu.
"Yiyo tan wawu tabun nih,' ujar Ryo memberitahu.
"Mau apa baby?" tanya Indah.
"Mau kabur ma," jawab Gino yang langsung manja pada gurunya itu.
Indah memang sangat menyayangi Gino. Di kelas bocah itu selalu jadi pusat yang dicontohkan Indah agar anak-anak mau giat belajar.
"Ata' anah!" usir Ryo mendorong Gino menjauh dari Indah.
"Baby, kakak sayang loh sama mama guru Indah," ujar Gino memeluk Indah.
Karina melihat bagaimana cucu keponakan dari kakeknya itu lebih sayang Indah daripadanya, membuat ia iri. Bahkan Lilo, Seno, Vera dan Dita juga manja pada wanita yang baru saja masuk bagian keluarga.
"Kenapa sayang?' tanya Kanya yang melihat putrinya memandangi Indah dengan pandangan cemburu.
"Eh mama," ujar Karina dengan bibir manyun.
Kanya menatap semua anak yang mengerumuni Indah. Wanita itu tengah mengajari anak-anak huruf-huruf dasar.
"Kamu iri?" tanya Kanya lirih.
"Ma," rengek Karina.
"Sayang, sudahlah. Kau tetap pemenangnya. Biarkan mereka. Indah sayang semua anak-anak!' ujar Kanya menenangkan putrinya.
"Buatkan mereka makanan. Maka perhatian mereka beralih padamu," ujarnya menepuk bahu Karina.
Wanita itu tentu merengek. Karina tentu bisa masak, walau tak seenak masakan Terra.
"Babies ... Nenek buatin roti sandwich nih!" teriak Terra.
Semua bayi langsung mengerumuni Terra. Indah terbengong, rupanya ajarannya kalah dengan makanan.
"Ata' amah Yeya ... Endog!' pinta Zora mengangkat tangannya.
Terra mengambil bayi cantik itu dan menciuminya. Ryo juga mau minta gendong. Akhirnya semua bayi menggelayuti wanita itu.
Terra menggelitik semua bayi. Gelak tawa terdengar. Hingga ....
"Hueeek!" Rosa mual.
"Sayang?" Rahma langsung mengelus punggung nenek muda itu.
Rosa masih berusaha mengeluarkan isi perutnya. Tapi hanya cairan putih yang keluar.
"Umi ... Hiks!" Rosa kepayahan, ia pun menangis.
"Sayang," Rahma memeluknya lembut.
Rosa merasa nyaman dipelukan wanita bertubuh tambun itu.
"Sini Saf periksa!' ujar Saf langsung meraih tangan Rosa.
Senyum pun terbit dari bibir Saf. Semua langsung mengerti arti senyuman itu.
"Rimbi punya adik?" tanya Arimbi memastikan dugaannya.
"Periksa lagi ya. Kalau dilihat kandungan sudah lebih dari lima minggu," ujar Saf mengelus lengan Rosa.
"Apa?" Rosa masih tak percaya.
"Momud hamil!" jawab Saf memastikan.
"Ah ... Umi!" rengek Rosa.
Rahma tertawa, semua pun memberi selamat pada calon ibu sembilan bulan lagi itu.
Adiba mengelus perutnya. Wanita mau sembilan belas tahun itu juga sangat menantikan kehadiran bayi dari perutnya.
"Sabar sayang. Nanti malam kita coba lagi ya?" ajak Satrio menggoda.
"Ih mas!' rengek Adiba manja.
Remario bahagia mendengar berita kehamilan istrinya itu. Ia tak menyangka jika dirinya masih bisa menyemai bibitnya di rahim sang istri.
Nai dan Arimbi langsung mencium perut Rosa. Nai mendekatkan Hamzah ke perut mertua bibinya itu.
"Baby di perut Momud ada om kamu loh!" kekehnya.
"Aarrggh!" pekik Arimbi mengerang.
"Sayang!"
"Butlet!"
"Baby!'
Semua khawatir dengan teriakan Arimbi. Tapi sejurus kemudian. Arimbi kembali tenang. Rupanya kontraksi palsu menyerangnya.
"Bu'lek ke rumah sakit aja sih. Biar aman gitu," ujar Adiba memberi saran.
"Baru delapan bulan jalan. Masih lama," ujar Arimbi menolak.
"Peyut butlet delat-delat!" seru Fatih menunjuk perut Arimbi yang bergerak.
Wanita itu meringis pelan. Sebuah tonjolan besar dari dalam. Rupanya kaki sang janin menendang perut ibunya.
"Wah babynya main bola!" seru Harun yang membuat semua tertawa ringan.
Usai makan siang, Arimbi benar-benar dilarikan ke rumah sakit. Ia tak mampu bangkit dari duduknya karena mengalami kram.
Rosa diminta istirahat, Reno, Herman, Remario dan Virgou mengantar Arimbi ke rumah sakit.
Semua anak diwajibkan tidur siang. Indah bersama suaminya di kamar. Marco memeluk erat wanita yang baru sehari dinikahinya itu.
Sebagai pengantin baru, hasrat itu tentu masih menggebu. Marco mengajak sang istri untuk mengarungi ombak cinta.
"Aku kepikiran nona Arimbi sayang," ujar Indah mengutarakan kecemasannya.
Marco menatap istrinya. Tatapan gairah pria itu tak bisa diabaikan Indah. Terutama Marco sangat berhak atas dirinya.
"Sayang," rengek Indah lalu dengan berani mencium bibir suaminya.
Meninggalkan pasangan pengantin yang tengah merengguk nikmatnya bercinta.
Di sebuah tempat, Jaka telah mengatakan semua pada sang ibu. Perempuan itu menatap foto putrinya.
Anak perempuan yang mestinya ia lindungi. Tetapi semenjak sang putri menolak semua keinginannya. Ia buta dan menekan putrinya begitu rupa.
"Mestinya kau minta satu triliun!' ujarnya ketus.
"Bu!' Jaka mulai kesal pada ibunya.
"Sebenernya aku tak pernah meminta uang-uang itu untuk keperluan usahaku! Tapi ibu selalu mengatasnamakan aku!" serunya melotot pada wanita yang melahirkannya.
"Buat apa uangnya semua?" tanya Jaka lagi.
Marina diam, wanita itu membuang muka. Jaka mengusap wajahnya kasar.
"Aku terpaksa mengikuti semua kemauan ibu agar tak dibilang anak durhaka. Mestinya aku mengikuti jejak Indah!' putusnya kesal.
"Jangan membantah!" teriak Marina marah.
"Ibu melakukan ini agar Indah kembali dan memohon maaf pada ibu!' ujar wanita itu membela diri.
"Memeras uangnya agar Indah kembali?" sinis Jaka menggeleng.
"Indah memberi uang nya semua agar ibu tak mengganggunya lagi!' lanjutnya.
"Itu uang satu miliar. Silahkan ibu gunakan untuk apa!"
"Jaka minta maaf, untuk saat ini dan seterusnya. Jaka nggak akan mau disuruh-suruh ibu lagi untuk menekan Indah!" tandas Jaka menatap wanita yang melahirkannya kecewa.
Marina tentu menatap putranya sedemikian rupa. Jaka melangkah dan pergi keluar rumah besar milik ibunya. Semenjak suaminya berpulang, Marina memang memaksakan keinginannya pada dua anaknya, Jaka dan Indah.
Jaka memang berhasil mengikuti keinginan sang ibu. Pria itu mendirikan pabrik gula. Sedang Indah menolak menjadi bidan. Anak perempuannya memilih jadi guru dan keluar dari rumah karena Marina enggan menyekolahkan anak gadisnya.
Marina menatap foto keluarga di sana. Indah dan Jaka masih kecil. Tak ada foto lain, karena ia tak pernah menerima istri dari putranya itu.
"Apa salah jika seorang ibu memilih jalan hidup anak-anaknya agar hidup lebih baik?" tanyanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Ndoro putri, makan siang sudah siap," ujar wanita paru baya dengan tubuh terbungkuk-bungkuk.
Marina berjalan dengan anggun. Perempuan tua yang mengabdi padanya tampak mencari sosok yang tadi bersama majikannya.
"Nggak usah cari anak durhaka itu mbok!" ujar Marina marah.
Perempuan tua itu hanya membungkuk saja. "Injih Ndoro Putri."
Lalu ia harus berjalan membungkuk selama berada di ruang utama. Perempuan itu baru menegakkan tubuhnya ketika sudah ada di dapur.
"Ya Allah, sampai kapan aku merendah di depan ciptaanMu?" tanyanya mengeluh walau hanya dalam hati.
Hanya demi rupiah dan kehidupan anak cucunya. Perempuan itu harus berjalan membungkuk di depan majikannya.
Bersambung.
Ketika uang diatas segalanya.
next?