THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
HEBOH LAGI



Sabtu siang, semua anak sudah pulang dari sekolah. Para bayi sebagian sudah tidur siang.


"Ata' ... Ata'!" panggil Maryam pada Harun.


"Iya baby,"


"Ata' ... Tatana Papa Piyo bawu beunitah!" lapornya langsung.


"Eh ... Iya kah?" Harun tentu belum tahu hal itu.


"Biya ... deunel dosipna beudithu!' jawab Maryam antusias.


"Wah ... Bakalan ada pesta besar nih!' sahut Harun senang.


"Kita bisa nyanyi-nyanyi lagi!' lanjutnya bertepuk tangan.


"Pati watu Mami Nanini teumalin pibut-pibut!' ujar Maryam mengingat kejadian ketika Anggraini menikah dengan Michael.


"Oh itu karena orang gila masuk ke pesta," jawab Harun asal.


"Wowan dhila?" tanya Maryam dengan mata besar.


"Iya, orang gila datang jadi pestanya ribut kek kemarin!" jawab Harun lalu pergi meninggalkan Maryam yang mencerna berbeda perkataannya.


"Days!" serunya.


Fatih, Aisya, Zaa, Aaima, Arsyad, Chira, Aarav, Aarick, Sena, Arsh dan Vera masih belum tidur. Mereka menoleh.


"Pa'a?" tanya Vera.


Vera adalah adik sepupu Gino. Ia baru mau empat tahun. Sedang Dita adalah adiknya yang paling bungsu.


"Tatana watu Mami Nanini beunitah teumalin lada wowan dhila basut!' lapor Maryam langsung.


"Wowan dhila?" seru semuanya bertanya dengan mata besar.


"Wowan dhila yan tayat dhimana?" tanya Zaa tak tau apa itu orang gila.


"Atuh pidat pahu. Tata Ata' Hayun yan pibut-pibut teumalin pi peulnitahan mami Nanini ipu wowan dhila," jawab Maryam.


Aaima mengerutkan kening. Di rumahnya, ia sering melihat orang ribut tapi sang nenek tidak pernah mengatakan ada orang gila yang ribut.


Sedang Arsyad mengingat di sebuah kejadian ketika ia tengah duduk sang paman Radit langsung membawanya masuk ketika ada orang berpakaian setengah telanjang dengan rambut gimbal, mengamuk di jalanan.


"Wah, atuh pahu!' serunya.


"Pa'a?"


"Pulu, Ata'Ladit peulnah basutin atuh teu palam bumah sepet-sepet!' lanjutnya mengingat. "Tata Ata' lada wowan dhila namut!"


"Wowan dhilana tayat pijibana?" tanya Aarick dengan kening berkerut.


"Bambutna dhimbal, tayat eundat piteulamas patu pahun. Eundat patai Paju!" jawab Arsyad.


"Atuh dhimbal?" tanya Chira yang rambutnya keriting seperti mie.


'Putan ... Imi dimbhal tayat lada panahna!' ujar Arsyad memberitahu.


"Ah ... Apan Baji Baby Alsh pusin!' keluh Arsh yang tak bisa berpikir seperti apa orang gila itu.


'Babies ... Kok belum naik bobo siang?" Terra melihat sebagian bayi masih mengobrol.


"Mama wowan dhila ipu tayat dhibana?" tanya Arsh.


'Orang gila?" Terra memastikan ucapan anaknya.


"Biya netnet wowan dhila ... Beumana lada wowan pa'a ladhi?" sengit Maryam.


"Eh!" Terra gemas mendengar gerutuan cucunya itu.


"Orang gila itu orang yang tidak punya akal sehat sayang," jawab Terra.


"Pa'a siwana satit netnet?" tanya Fatih.


'Iya, jiwanya sakit,' jawab Terra.


'Nah sekarang, ayo bobo semua!" suruhnya.


Semua anak naik tangga untuk masuk kamar mereka bersama para pengawal. Semenjak kejadian baby sitter yang mencubit Arimbi dulu. Semua orang tua menugaskan para pengawal untuk menjaga anak-anak.


Sementara itu Ratheo yang memeriksa data diri Ratini. Pria itu menatap foto gadis bertubuh tambun yang berhijab.


Foto gadis itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang gingsul. Ratheo mengusap lembaran bergambar itu dengan senyum.


"Kau bisa senyum?' pria itu kaget setengah mati.


'Ketua!" Ratheo langsung berubah ekspresinya.


Budiman menatap pria yang masih belum bisa dekat dengan semua bayi.


"Ketua!" Theo menunduk sedikit malu.


'Aku mengenal Nona Ratini. Gadis itu sangat mandiri. Sama seperti anak perempuan Tuan besar Bart lainnya," jelas Budiman melihat berkas di tangan Theo.


"Aku mengenalnya sebelum ia berhijab. Nona Ratini bernasib sama dengan anak-anak lainnya. Bedanya Nona Tini diserahkan langsung oleh orang tuanya ke panti," lanjutnya menjelaskan.


"Menurut pemilik panti sebelumnya. Ratini diserahkan oleh ayah dan ibunya sekitar usia delapan tahun. Nona dalam keadaan tidur waktu itu. Bermaksud menitipkan sebentar. Hingga sebesar ini, kedua orang tuanya tak datang menjemput,"


"Dia bernasib sama denganmu Theo," lanjutnya menjelaskan.


Theo diam, ia juga ditinggalkan begitu saja di sebuah sekolah anak-anak nakal. Virgou menemukan dirinya ketika nyaris terbunuh oleh sekelompok anjing liar yang menyerangnya.


"Sekarang Nona Ratini ada di mana?" tanya pria itu.


"Beliau masih di sekolah. Tuan muda Samudera adalah anak didiknya dalam olahraga beladiri kempo," jawab Budiman.


Theo meminta ijin pergi. Budiman memperbolehkannya. Pria itu pun pergi dengan mobil yang baru saja dibeli. Walau sedikit mengeluarkan uang untuk mengendarai kendaraan itu, karena ia belum berkewarganegaraan Indonesia.


Theo tentu hafal jalanan menuju sekolah Samudera. Pria itu pernah menyusul anak-anak yang melarikan diri dari pengawalan.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah gedung. Ia menatap empat pengawal yang menjaga para bocah pemberani itu.


"Ketua!" ujar Aldi membungkuk hormat.


"Aku mau masuk dulu!' ujar Theo.


Sebuah keberuntungan untuk pria itu. Di sana ia melihat Samudera tengah berlatih bersama teman-temannya olahraga bela diri.


Tampak sosok sedikit gemuk, tapi berotot tengah melatih anak-anak itu.


"Papa Theo!" panggil Samudera ketika melihat pria itu.


"Tuan muda, lanjutkan latihannya. Papa lihat-lihat di sini!" ujar Theo lalu duduk di sebuah bangku semen.


Matanya menatap tajam sosok yang tengah melatih. Ratini sedikit gelisah diperhatikan sedemikian rupa oleh pria tampan.


Ia sudah tau jika akan dijodohkan dengan salah satu pengawal. Sebagai seorang anak angkat. Tentu dia harus menurut apapun keputusan Bart.


"Ya sudah cukup! Sekarang kita pendingan ya!' ujarnya lalu memberikan gerakan untuk mengendurkan otot-otot yang kencang.


Usai latihan semua anak menuju kantin. Samudera tentu bersama Raja teman barunya. Ratini mengangguk hormat pada Theo yang masih setia memandanginya.


"Mari Pak!" ujarnya pamit.


"Pak katamu?" tanya Ratheo bingung.


Ratini menatap pria tampan itu juga bingung.


"Apa salah?" tanyanya dengan mata bulat.


Ratheo merasakan getaran di dadanya secara mendadak. Ratini pun merasakan seluruh kulitnya merinding melihat tatapan Theo.


"Apa kau setuju jika kita dijodohkan?" tanya Ratheo langsung.


Ratini bungkam, ia tak tau harus jawab apa. Theo menghela nafas panjang.


Pria itu melihat ada satu kuntum bunga warna kuning di sana. Ia berlalu dari hadapan Ratini. Gadis itu bingung, tapi ia seketika terkejut ketika Ratheo menyelipkan bunga di sela-sela hijabnya di bagian pipi.


"Aku hanya mengatakan lewat bunga yang kuselipkan di sini gadis bulatku!' Ratini nyaris pingsan mendengar suara lembut pria tampan di depannya.


"Bunga itu menandakan jika aku serius memilih dan menerimamu jika kau memang jodohku dan jadi istriku!' lanjutnya tegas.


"Jika kau berkenan. Sujudlah di pertiga malammu. Minta lah agar kita segera dipersatukan dalam ikatan halal!' Ratini bersemu merah.


"Apa kau bersedia?" tanya Ratheo setengah berharap.


Ratini hanya mengangguk pelan, ia tak bisa berkata apa-apa. Gadis itu masih shock dengan perlakuan romantis pria di depannya.


"Jika begitu, aku akan melakukan hal yang sama. Menyebut namamu dalam doa di pertiga malamku," ujar Theo tersenyum manis.


"Apa ... apa yang membuat Abang menerimaku?" tanya Ratini berani.


"Aku hanya menatapmu dan mengkoneksikan dengan hatiku. Lalu hati ini memberi signal ...."


Ratheo diam, ia menikmati wajah Ratini yang kemerahan karena malu dan tersipu bersamaan.


"Signal kalau kau adalah wanita yang tepat dengan aku pria yang bisa membuatmu bahagia!" lanjut Theo yang membuat Ratini melambung.


"Saya akan bilang papa untuk menerimamu sebagai calon imamku!" teriak Ratini lalu ia menutup wajahnya yang malu.


Theo tersenyum, ia mengusap pelan kepala yang terbungkus hijab itu. Pria itu pun berlalu setelah mengungkapkan perasaannya.


Bersambung.


Theo ... Kau buat hati othor patah 😭


next?