THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
RABU HEBOH



Rabu pagi, semua anak kembali beraktivitas. Seruni lagi-lagi harus di dalam kamar karena ia morning sick berat. Dav sampai iba melihat istrinya.


"Sayang," ujarnya lalu mengusap punggung sang istri yang baru saja mengeluarkan cairan bening.


"Saf, apa tidak bisa diredakan?" tanya Bart.


"Maaf Grandpa, itu adalah wajar bagi ibu hamil. Saf cuma bisa kasih vitamin dan obat anti mual saja. Selebihnya ya tunggu sampai trimester pertama selesai," jawab Saf menyesal.


Bart mengangguk tanda mengerti. Seruni nyaris tak mau menyentuh makanan apapun. Yang ia mau hanya makanan manis, seperti coklat atau roti selai.


"Makan bubur ya sayang," rayu Dav.


"Aah ... Ueeek!" Seruni lagi-lagi muntah mendengar kata nasi.


"Jangan sebut itu ... Huuek!" cairan bening lagi-lagi keluar dari mulutnya.


"Jeruk?" tawar Dav.


"Mau!" angguk Seruni.


Akhirnya Dav meminta ijin kerja terlambat karena ingin beli jeruk. Virgou mengijinkannya.


"Pi, jangan lama-lama!" rengek Satrio.


"Papi nggak lama baby," ujar Dav.


"Apih ... Apih ana?" tanya Ryo.


Putrinya Rinjani sedang asyik bermain boneka bersama anak perempuan yang lain.


"Mau ke pasar baby, mau beli jeruk," jawab Dav.


"Itut poleh?" tanya Firman dengan mata penuh harap.


"Baby mau ikut?" tanya Dav.


"Bawu!" teriak semua bayi yang langsung heboh dan meletakkan mainan mereka.


Dav menggaruk kepalanya. Virgou mendumal, ia pun akhirnya meminta semua pengawal membawa anak-anak ikut serta.


"Holeee!" semua bersorak dan melompat.


"Papi Balyam banti peuliin puwah belon ya!" pinta Maryam.


"Iya baby," jawab Dav.


"Pisan bambon!" seru Dita bertepuk tangan.


"Bambon?" Dav mengerutkan keningnya.


"Pisang Ambon papi," sahut Arimbi yang juga bersiap ikut.


Perempuan itu tengah menanti kelahirannya. Perutnya sudah besar, ia tengah mengambil cuti.


"Ayo berangkat sebelum kesiangan!" teriak Virgou.


Akhirnya semua bergerak, beberapa ada yang tinggal karena Seruni ada di rumah. Rosa bersamanya.


"Mami!" panggil Rosa.


"Hey Momud," sahut Seruni yang berbaring lemah di ranjangnya.


"Aku bingung mesti manggil apa. Jadi panggilnya sama kek anak-anak ya," ujar Rosa.


"Panggil saja Seruni Momud, Arimbi adalah putriku," jawab Seruni.


"Berat ya hamil?" tanya Rosa.


"Ya, dinikmati aja Mom," jawab Seruni mengelus perutnya yang masih rata.


"Setelah bayi kemarin yang harus dikeluarkan secara paksa. Seruni nggak berharap bisa punya anak lagi. Terlebih sudah banyak perusuh di rumah," kekehnya.


"Tapi Tuhan ternyata masih mempercayai Uni untuk punya anak lagi dan menambah perusuh!"


Rosa tersenyum, ia perlahan mengelus perutnya. Seruni melihat itu.


"Momud hamil?" tanyanya langsung menerka.


"Eh ... Nggak!" jawab Rosa cepat.


"Jangan bohong Momud. Seruni ini sudah empat kali hamil loh!" ujar Seruni.


Rosa sedikit ragu, tadi pagi ketika ia memeriksa dengan alat kehamilan. Hasilnya masih garis satu.


"Masih satu garis sayang," ujarnya lirih.


"Momud udah periksa sama Saf?" tanya Seruni.


"Malu," jawab Rosa menggeleng.


"Eh ... Kok malu?" tanya Seruni dengan kening berkerut.


"Aku sudah punya cucu banyak bahkan akan ada cucu langsung. Masa iya aku hamil?" sengit Rosa menjawab.


"Mama Luisa juga punya anak langsung dua! Belum lagi nini Najwa dan Nini Lastri!" ujar Seruni mengingatkan.


"Bibu Dinar juga! Malah tiga!" lanjutnya.


Rosa tersenyum, ia memang berharap ada kehidupan dalam rahimnya suatu kelak.


"Sudah, nggak usah dipikirin Momud. Nanti juga dapet kok!" ujar Seruni menenangkan.


Sementara itu para bayi sudah ada di pasar Senen. Para bodyguard telah menetralisir pasar hingga senyap dalam waktu singkat.


Semua bayi dalam gendongan para pengawal tampan dan cantik.


"Iya sayang," ujar Exel yang menggendongnya.


"Apih ... Apih!" panggil Horizon.


"Iya baby," sahut Dav.


Horizon ada digendongan ayahnya. Budiman juga hendak membeli beberapa buah di sana.


"Atana dada wuwah metemet?" tanya Horizon.


"Hah, buah apa?" tanya ulang Dav.


"Wuwah metemet apih!" pekik Horizon marah.


"Baby!" peringat Budiman.


Putrinya Fathiyya digendong oleh Rahma. Sedang Meghan digendong ayahnya Dahlan.


"Ipu woh apih, wuwah yan pidedatin!" ujar Arsyad memberitahu.


"Buah yang dibedakin?" tanya ulang Dav.


"Oh namanya buah kesemek mister!' sahut penjual buah.


"Buah itu sudah langka dan jarang didapat. Rasanya juga kurang enak," lanjutnya memberitahu.


"Jadi nggak ada buah itu?" tanya Dav.


"Nggak ada mister!' jawab penjual buah.


"Nah, nggak ada baby. Cari buah lain ya," ujarnya diangguki Horizon.


"Wuwah tati lada pidat?" tanya Arsh.


"Buah hati itu kamu baby," jawab Widya lalu mencium putra bungsunya itu.


Selesai membeli buah, mereka kembali. Semua anak minta dibelikan sarapan bubur ayam. Dav membawa mereka ke pedagang pinggir jalan.


"Minta bubur polosnya lima mangkuk. Yang lainnya campur ya!' ujarnya memesan.


"Iya mister!" sahut pedagang semringah.


Pedagang itu belum mendapat pelanggan satu pun pagi ini. Tetapi siapa sangka, karena kesabarannya menunggu sambil melantunkan sholawat. Sang Maha Pemberi Rizki langsung memberi imbalan atas shalawatnya.


"Bungkusin dua belas bungkus ya mang," ujar Virgou yang ingat siapa saja di rumah.


"Iya mister!' ujar pedagang itu lagi.


"Allahuma shali'ala Sayyidina Muhammad wa'ala ali shali'ala sayyidina Muhammad!"


Satu jam selesai sarapan. Dav membayar semuanya. Pedangan tampak terbengong-bengong karena seluruh jualannya habis saat itu juga.


"Alhamdulillah, pulang cepat ya pak!" ujar Deni yang mengambil bubur yang telah dibungkus.


"Alhamdulillah, berkat sholawat!" ujar pedagang itu.


Pria itu menatap satu gepong yang senilai seratus ribuan perlembarnya. Ia tak menyangka jika dirinya bisa selaris ini.


"Ya Allah, segala puji bagiMu dan shalawat untuk Baginda nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam!" ujarnya bersyukur.


Mobil-mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota. Mereka kembali setelah nyaris dua jam.


Ketika sampai rumah. Anak-anak sudah terlelap, para pengawal langsung membawa mereka ke kamar masing-masing.


"Mashaallah!" seru Khasya menciumi bayi-bayi yang memejam sambil mengemut ibu jari mereka.


Wanita itu pun pergi ke wilayah ruang makan. Nampak Terra mengeluarkan stereofom dari plastik.


"Apa itu sayang?" tanya Khasya.


"Buryam Bun," jawab Terra.


"Ah, kebetulan bunda belum sarapan!" ujar Khasya.


Wanita itu duduk, ia membuka stereofom. Tercium bau sedap dari makanan yang terhidang.


"Bunda apa itu?" tanya Rosa yang membawa Seruni keluar kamar.


"Bubur ayam," jawab Khasya.


"Eh ... Kok Seruni nggak mual ya?" ujar Seruni tiba-tiba merasa baik-baik saja ketika mendengar kata bubur ayam.


"Ya udah, makan sini sayang!" ajak Khasya.


"Mau satu suap aja bunda," rengek Seruni.


Khasya menyuapkan satu sendok bubur pada Seruni. Wanita hamil itu minta tambah lagi. Akhirnya bubur itu pun masuk semua ke perut Seruni.


"Sayang, ternyata aku manja," rengeknya pada sang suami.


"Sarapan bunda aku habisin!" lanjutnya.


Khasya terkekeh, ia mengecup pipi ibu hamil itu. Wanita itu tak masalah tak sarapan.


"Tidak apa-apa sayang. Yang penting kamu kenyang," ujar Khasya.


Bersambung.


Yah gitu deh ... Namanya juga ibu hamil.


Next?