THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
ADVENTURE 2



Di angkutan umum, Samudera membuka kaca mobil. Ia meletakkan Dita yang lebih besar dari Zora yang memang tubuhnya kecil.


Dita menyandar pada Samudera. Ia sedikit takut dengan orang yang naik dan turun.


"Ata',"


"Jangan takut baby, ada kakak di sini," ujar Samudera.


Zora menguap, keberadaan dua bayi cantik dan satu remaja tampan menjadi perhatian orang. Samudera sedikit risih dengan satu tatapan seorang ibu.


"Nak sini, biar ibu pangku adiknya," tawar ibu itu.


"Tidak Bu!" tolak Samudera tegas.


Dita menempel pada Samudera. Ia benar-benar takut. Tatapan ibu itu seakan ingin membawanya lari.


"Ata',"


"Sini Baby, masuk sini!" ujar Samudera membuka gendongannya. Dita masuk ke gendongan. Samudera memeluk dua bayi dalam dekapannya.


"Nanti kamu kesusahan turunnya loh!" ujar wanita itu memberi pengertian.


"Tidak, saya bisa kok!" tolak Samudera bersikukuh.


Jika Dita ketakutan, maka berbeda dengan Zora. Matanya memejam karena angin yang membelai wajahnya. Ia tak takut sama sekali.


"Pak perapatan kiri ya!" ujar Samudera memberitahu.


"Iya mas!' ujar supir.


Jalan yang dituju sampai. Samudera bergeser dan minta supir untuk menahan laju.


"Coba itu penumpang yang di pintu geser dulu!" perintah supir.


Dua orang duduk dekat pintu memilih keluar. Ibu tadi berusaha memegang Dita. Samudera menepis tangan wanita itu.


"Ata' ... Hiks!" Dita benar-benar takut.


"Tenang sayang," ujar Samudera menenangkan Dita.


"Tuh kan Mas. Adiknya nangis, udah kasih saya aja!" pinta ibu itu menarik dan berusaha mengeluarkan Dita dari gendongan Samudera.


Plak! Satu tamparan keras melayang di pipi wanita itu. Samudera melotot.


"Kamu nampar saya! Saya cuma mau bantu!" bentak wanita itu.


"Saya bilang saya tidak butuh bantuan kamu!" Samudera membentak balik wanita itu.


Ia berhasil turun dan Dita nyaris ditarik lagi oleh wanita itu jika penumpang tak menolongnya.


"Bu, jangan ambil anak orang dong!" peringat penumpang itu.


"Saya nggak ngambil!' sanggah wanita itu.


"Saya cuma mau nolong!" lanjutnya menjelaskan.


"Nih pak ongkosnya!" Samudera meletakkan uang sepuluh ribu di dashboard angkot.


"Kembalian mas!"


"Nggak usah!" teriak Sam yang bergegas meninggalkan angkutan itu. Perempuan tadi hendak turun, tapi supir menginjak gas hingga membuatnya duduk kembali.


"Pak saya juga mau turun!" teriaknya.


"Loh, ibu kan nggak bilang kiri tadi!" ujar supir melirik spion melihat ibu itu.


"Ya udah kiri!" teriak wanita itu meminta turun.


"Ntar ... di sana ada polisi. Kita nggak boleh berhenti di sini. Tuh ada tanda S, yang artinya nggak boleh setop!" ujar supir panjang lebar.


Perempuan itu berdecak kesal. Ia menghitung mundur dengan melihat jam di ponselnya.


Kendaraan berhenti dan wanita itu turun. Supir sengaja menurunkan wanita tadi sangat jauh di mana Samudera turun.


"Sial!" sentaknya kesal.


"Target hilang," ujarnya pada ponsel setelah menekan nomor dan terdengar suara di sana.


Sedang Samudera berjalan cepat. Dita seperti digepit di ketiaknya.


"Ata'!" pekik Dita.


"Maaf baby!" ujar Sam.


Remaja itu membenarkan gendongannya. Dita sedikit rewel sedang Zora terlelap dalam gendongan remaja itu.


"Maaf sayang, maaf kan kakak ya," ujar Samudera meminta maaf.


"Hiks ... piya Ata'," ujar Dita mengerti.


Lalu Samudera melanjutkan jalan menuju rumah Raja. Ia menaiki becak karena jalan menuju rumah temannya itu cukup jauh.


"Hoooaaam ... Wah ... ita ait paa aypi peusal?" tanya Zora ketika membuka matanya.


"Becak baby," jawab Samudera.


"Cecat? Ewan yan dada i indin?" tanya Zora dengan mata bulat sempurna.


Samudera terkekeh. Remaja itu tak menjawab, sebuah kelokan dan pengemudi becak sedikit ngebut.


"Wuaaaa!"


Jika Samudera dan Zora terpekik kesenangan, sedang Dita terpekik ketakutan.


"Ata' ... Atut!"


"Bang ... Pelan-pelan ya!' pinta Samudera sambil tersenyum lebar.


"Maaf Den, emang jalanan itu rada miring, banyak korban di situ Den!' ujar pengemudi becak minta maaf.


"Tolban?' Dita membesarkan matanya.


"Korban Mang?'


"Iya Den, kapan hari teman saya sama penumpangnya jatuh di sana. Untung penumpang baik-baik saja karena berhasil melompat. Tapi teman saya itu jadi patah tangan dan becaknya ringsek," jawab pengemudi becak.


"Innalilahi!" ujar Samudera prihatin.


Akhirnya, rumah Raja kelihatan, ada Cleo di sana tengah bermain bersama temannya.


"Spada!" ujar Samudera memberi salam.


"Kakak Samudela!" pekik Cleo senang.


"Mama ... Kak Samudela datang!"


Rina keluar dan menyambut teman putranya itu.


"Ya Tuhan, kamu bawa siapa nak?" tanya wanita itu khawatir.


"Bawa adik sama Tante kecil, Bu," jawab Samudera dengan senyum lebar.


"Ini hadiah dari haji kemarin," ujar Sam memberikan bingkisan kecil yang memang ia siapkan di kantungnya.


"Makasih nak, bawa dua adikmu ke kamar. Mereka pasti kelelahan digendong terus!" suruh Rina.


"Raja sedang ibu suruh pergi ke pasar beli ayam goreng tepung. Kebetulan ibu belum masak jadi nanti kita makan sekalian ya," ujar wanita itu panjang lebar.


"Jangan repot-repot Bu," Samudera tak enak hati.


"Nggak usah sungkan nak!" ujar Rina.


"Ibu bawa hadiahmu ya," lanjutnya pamit.


Samudera mengangguk, ia masuk kamar di sana ada tiga pengawal yang memang menjaga wanita itu. Tapi ketiganya tampak tak ada, kemungkinan tengah ada di masjid untuk sholat dhuhur.


Setelah meletakkan dua bayi di kamar. Zora dan Dita memang memilih tiduran di kasur itu. Kipas angin menyala, Cleo masuk menemani keduanya.


Rina membuka bingkisan dari Samudera. Sebuah rosario cantik terbuat dari batu alam berwarna hitam pekat.


"Puji Tuhan!" Rina mencium benda itu dan langsung menggerakkan tangan di kening, hidung, bahu kanan dan bahu kiri lalu berdoa sebentar.


Raja datang, ia senang dengan kedatangan temannya. Tiga pengawal tentu kaget dengan keberadaan tuan muda mereka di sini.


"Tuan muda?" Samudera tersenyum lebar.


"Jadi kamu masih sempet beli hadiah buat kami?" tanya Raja terharu.


"Aku tak kepikir, di sana aku banyak nangis sama mama dan adik," lanjutnya kecewa pada diri sendiri.


"Udah nggak apa-apa, yang penting kamu selamat!' ujar Samudera.


Setelah mengobrol dan berkelakar. Tak lama, Virgou datang menjemput putra dari Budiman itu.


"Senang baby?" tanya Virgou pada Sam.


Remaja itu hanya merengek manja pada pria dengan sejuta pesona itu. Virgou nyaris ingin membunuh wanita yang ingin merampas Dita dari tangan Samudera.


"Jaga adikmu ya nak. Kamu harus sangat kuat!" ujar pria itu dalam hati.


Sampai mansion, dua bayi berpetualang tentu heboh menceritakan pengalaman mereka.


"Padhi pita bampil basut dot woh!" ujar Dita antusias.


"Wah ... teunapa Pisa?" tanya Al Bara yang kesal karena tak diajak berpetualang.


"Pita bait cecat!" lanjut Dita.


"Cecat? Wewan yan pempel pi pindin?" tanya Aisya dengan mata bulat sempurna.


"Biya ... buntin!' angguk Dita.


"Eh ... wadhi dada ewet au bilbil Aypi Ita ali anan Aypi peusal woh!' lanjut Zora memberitahu.


"Wah spasa yan beulani pambil sistlipu!" sungut Nauval kesal.


Semua orang tua menoleh, Hendra membelalak sedang istrinya Anyelir hanya bisa menghela nafas panjang.


"Bayi ... Bayi, kek tau aja kamu artinya istri!" keluhnya dalam hati.


Bersambung.


Ah ...


Next?