THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
THE BLACKANGEL



Virgou meminta Dahlan memberi penjagaan ketat pada semua anak-anak. Pengawalan berlapis diberikan pada keluarga kaya raya itu.


"Kita akan sebar sniper di seluruh kota di mana semua anak lewat!" ujar Dahlan pada semua satuan.


"Siap ketua!" seru seratus pengawal terdiri dari enam puluh tiga laki-laki dan dua puluh tiga perempuan.


"Ingat, nyawa kalian juga terancam. Hati-hati dalam menjalankan tugas!" lanjut Dahlan memberi peringatan.


"Semua boleh bubar!" semua pengawal yang berbasis membubarkan diri.


Semua pengawal memakai rompi anti peluru. Semua adalah orang-orang terlatih. Seorang berpangkat Brigjen menjadi pelatih mereka.


"Semua sudah siap tempur. Mereka layak prajurit!" ujar pria berseragam khusus itu.


"Negara juga menyebar beberapa petugas untuk melindungi warga!" lanjutnya memberitahu.


"Baik komandan, terima kasih kerjasamanya!" ujar Dahlan berjabat tangan pada pria besar itu.


Sementara di tempat lain. Kean berada di perusahaan bersama Herman. Virgou tak pernah khawatir semua putranya berada di tangan pria-pria terbaik.


"Lagi pula yang mereka incar adalah baby Kean dan baby Sat!" gumam pria itu.


Satrio tengah mengurus banyak berkas. Proyek kemarin sedang dikerjakan.


"Dad, Sat mau pergi ke proyek sama papa Fab!" ujar Satrio pamit.


Virgou sedikit cemas. Tapi ia mengangguk, pria itu ingin Satrio mengasah kepekaannya.


"Pergilah!" angguknya pelan.


"Fab!" panggilnya.


Fabio berdiri, pria yang memiliki luka yang begitu kentara di wajahnya tentu tau apa yang terjadi.


"Saya akan menjaganya dengan segenap jiwa saya tuan!" janjian Fabio.


Fabio akhirnya pergi bersama Satrio. Pablo tengah menggantikan kinerja Dav yang masih sering cuti karena istrinya masih mengalami morning sick.


Sementara itu di perusahaan Herman, Kean juga sangat aman. Pemuda itu tampak manja pada Herman.


"Ayah, nanti Kean mau makan siang di kantin kantornya Abah!" rengek pemuda itu.


"Sayang!" keluh Herman.


Sedang Andi yang menjadi asisten pemuda itu hanya bengong melihat atasannya manja.


"Ayah!" rengek Kean lagi.


"Baiklah, sama pengawal ya!' perintah Herman.


"Ayah mesti mengunjungi kolega di restoran!" lanjutnya menjelaskan.


"Oke ayah!" sahut Kean sedikit malas.


"Kenapa nggak bawa ke kantin Abah aja sih?" lanjutnya menggerutu.


"Maaf sayang, restoran itu sudah direservasi sebelumnya," sesal Herman.


"Iya yah," angguk Kean mengerti.


Makan siang telah tiba. Kean bersemangat menuju kendaraan Herman. Ia bersama dua pengawal sedang Herman memakai kendaraan lain.


"Baby!" Herman berhenti.


"Ya?"


"Kita tukar mobil!" ujar pria itu lalu menuju mobil yang mestinya dipakai Kean.


"Ayah?" geleng Kean menolak.


"Menurut baby!" perintah tegas Herman tak bisa dibantah.


Kean cemberut tapi mengangguk, pemuda itu ingin sekali memakai mobil Maserati. Lukman sang pengawal membawa tuan mudanya ke mobil BMW hitam.


Kean duduk di kemudi mobil. Lukman dan Rendi membiarkan tuan mudanya mengemudi kendaraan roda empat itu.


"Pasang sabuk pengaman papa!" seru Kean memberi perintah.


Kendaraan itu melesat dengan kecepatan sedang. Sepasang mata menatap dari kejauhan. Seorang pria memakai topi baseball, dengan ransel besar.


"He go with different car!" ujarnya entah dengan siapa.


"Helo mister, buy me, just for two hundred thousand rupiah!" tawar seorang wanita berdandan menor.


Pria itu tersenyum, wanita itu mengelus lengan pria itu dengan jari telunjuknya, hingga merambat ke bahu dan jari itu memutar pada dada sang pria.


"Oh Gosh! You make me horn baby!" ujar pria itu serak.


"So let's go to hotel near from here!" ajak wanita itu.


Mereka berdua pergi ke hotel melati. Pria bule itu sangat antusias menikmati wanita hanya dengan dua lembar uang seratus ribu rupiah saja.


Sementara di jalan raya. Kean merasa ada yang mengikutinya. Pemuda itu melihat dari spion kanan dan tengah mobil.


"Papa ... Kita diikuti!' ujarnya memberitahu.


"Iya tuan, kami sudah tau!" jawab Rendi dan Lukman.


"Dua motor dan satu mobil!" ujar Kean lagi.


"Kita lewat jalan alternatif!" ujar Lukman.


Kean tersenyum, ia memiliki rencana sendiri. Pemuda itu memasang gigi dan mulai menginjak pedal gas dan kopling bersamaan.


"Ah ... Dasar nanat sisilan!' umpatnya kesal.


"Eh ... Aku kan nanat sisilan!' lanjutnya terkekeh geli sendiri.


Mobil berbelok ke jalan alternatif. Dua motor masih bisa mengikuti tapi tidak dengan mobil.


Kean menekan pedal gasnya. Ia sangat memperhatikan kendaraan yang hendak menyalip dan memprovokasi dirinya.


"Papa hitungan ke tiga buka pintu kanan dan kiri ya!" perintah Kean.


Rendra bergerak ke arah pintu sebelah kanan Kean. Sedang Lukman ada di sebelah kiri.


Kean sudah memperhitungkan semuanya. Kendaraan ia percepat lajunya. Dua motor terus mengejar.


Kean melihat ada tong sampah melintang di jalan. Ia melihat situasi di sebelah kiri jalan.


"Papa Rendra buka pintu sekarang!"


Rendra membuka pintu dan motor di sebelah kanan langsung terjatuh terguling.


"Papa Lukman sekarang!"


Lukman cepat membuka pintu dan membuat pengendara motor itu juga terguling.


Dua mobil berhenti, delapan pria berpakaian hitam turun dan mengamankan pengendara-pengendara itu.


Di perusahaan, Virgou melihat aksi putranya yang sangat luar biasa.


"Kau emang anakku!" ujarnya bangga.


Kendaraan Kean sampai di perusahaan di mana Rion berada.


"Baby!" Rion menyambut pemuda yang mestinya adalah keponakannya.


"Papa baby!" Kean langsung memeluk manja pada Rion.


"Papa, masa tadi Kean dibuntuti loh!"


Kean pun menceritakan pengalamannya. Rion memuji tindakan pemuda itu.


"Kau luar biasa baby!" puji Rion.


"Baba mana?" tanya Kean.


"Nanti baba nyusul baby," jawab Rion.


Sementara di markas BlackAngel didatangkan empat pria pengendara yang mengikuti Kean tadi.


"Buka penutup kepala mereka!" perintah Leo.


Empat pria dibuka penutup kepalanya. Leo sangat mengenal siapa mereka.


"Cecunguk tak tau diri! Kalian mengkhianati klan kalian!" hardik Leo marah.



Leo Cherie lie Parkson, 29 tahun.


Leo mengikuti Virgou di usia enam belas tahun. Ia menggantikan Krenz yang tewas akibat perebutan kekuasaan di sektor D.


"Kita panggil ketua mereka. Aku yakin keempatnya akan dipenggal karena berurusan dengan BlackAngel!" lanjutnya menyeringai sadis.


Empat pria diseret sedemikian rupa. Teriakan-teriakan terdengar begitu menyayat.


"Ketua, pria satunya sudah dibereskan!" lapor salah satu anak buah.


"Lalu?"


"Pria itu mati over dosis obat kuat," lanjut pria pelapor.


"Hahahaha lemah sekali kejantanannya sampai harus memakai obat kuat!" ledek Leo tertawa.


"Sudah dibereskan?"


"Sudah ketua, mayat pria itu diantarkan ke kedutaan dan akan dipulangkan saat ini juga!" jawab pria pelapor.


"Awasi terus!" ujar Leo tegas.


"Baik ketua!" ujar pria pelapor membungkuk hormat.


Gomesh datang ke kantor Virgou. Pria itu tentu sangat khawatir dengan semua keturunannya.


"Baby?"


"Jangan khawatir, mereka adalah putra terbaik!" jawab Virgou menenangkan Gomesh.


"Ketua, saya sudah mendapat bukti siapa saja yang berurusan dengan peredaran yang tuan ShadowAngel dan The Son of BlackAngel musnahkan!" lapor Gomesh dengan wajah berbinar.


"Sudah kau lempar ke mahkamah agung?" tanya Virgou.


"Saya memakai cara tuan muda Darren dengan mengirim link. Saya tentu mencari pejabat bersih dan sangat ingin memberantas ini!" jawab Gomesh.


"Langkah yang pintar Gom!" puji Virgou menepuk bahu pria besar itu.


Bersambung.


Wah .... Gerak cepat dan tuntas!


Next?