THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SIRKUS



"Untuk apa kau ingin bertemu dengan ayahmu?" tanya Zhein.


Pria itu datang bersama anak, istri dan cucunya. Raka mendekati Terra dan memeluknya diikuti sang istri dan anak kembar mereka.


"Kakek," Gino menunduk.


Zhein duduk di sisi cucunya itu. Ia datang ingin membawa semua anak pergi ke sirkus yang digelar di pusat kota.


"Baby Gi dapat mimpi buruk tuan," jawab Layla menenangkan Zhein.


"Mimpi?" tanya Zhein.


"Pa!" peringat Karina pada suaminya.


Zhein memang begitu membenci tiga pria yang menjadi ayah lima cucu ponakannya itu.


"Papa datang dan pamit pada Gino kakek," jawab Gino lirih.


"Untuk apa kamu masih memimpikan ayahmu yang jahat itu?!' tanya Zhein gusar.


"Mas!" peringat Karina lagi.


"Katakan Gino, apa kasih sayang kami belum cukup hingga kau masih memimpikan pria yang dulu menginginkan hatimu itu?" senggrang Zhein.


Gino merunduk, air matanya tak berhenti meleleh. Suara keras Zhein membuat anak-anak sedikit takut.


"Janan balahin Aypi Ino!" sentak Aaric marah.


"Piya! pa'a palahna talow Ata' Pino bimpi papana!" seru Arsyad.


Arsyad, Aarick dan Nouval menentang pria tua di sana. Mereka beradu pandang, tentu saja Zhein kalah.


"Aku congkel matamu, jika berani Zhein!" peringat Virgou menggunakan bahasa Inggris agar semua anak tak mengerti apa yang dikatakannya.


Zhein tentu menunduk. Ia takut dengan Virgou. Pria dengan sejuta pesona itu meminta Zhein ikut dengannya.


"Tunggulah dan main sama anak-anak!" suruh Virgou ketika Karina ingin mengikuti suaminya.


"Tapi ... ," Karina ragu.


"Suamimu tidak akan kenapa-kenapa sayang!' ujar Virgou memastikan.


Zhein dibawa ke ruang kerja. Zhein diminta duduk dan Virgou juga duduk di hadapan pria itu.


"Aku tak pernah basa-basi Zhein!" ujar Virgou tegas.


Zhein menunduk, ia tentu tak berani menentang apapun perkataan Virgou. Seluruh kehidupannya dibantu oleh pria pemegang perusahaan nyaris seluruh dunia itu.


"Gino menginginkan bertemu dengan ayahnya. Biarkan dia bertemu dengannya!" ujar Virgou.


"Tapi bagaimana jika seperti waktu itu?" tanya Zhein lirih.


"Dia tak akan berani!" jawab Virgou.


"Aku yakin dengan Baby Gi, bisa menghadapi kelicikan ayahnya sendiri!" lanjutnya yakin.


"Hari Senin besok aku akan mendampingi Baby Gi menemui ayahnya!" putus Virgou pada akhirnya.


Zhein tak bisa membantah, pria itu tentu tak berani melakukan itu.


Sesuai kesepakatan awal, Zhein membawa semua anak ke sirkus setelah tidur siang.


"Siltus pa'a?" tanya Zaa bingung.


"Pidat pahu?" jawab kembarannya.


"Yang nggak bobo, nggak diajak!" ancam Raka.


Semua bayi harus menurut. Para ibu pun sibuk memasak untuk bekal mereka pergi. Zhein melarang mereka masak banyak.


"Bawa buat baby yang belum makan makanan pokok saja," ujarnya.


"Aku sudah reservasi satu restoran untuk makan kita!" lanjutnya.


"Wah, tumben kakak mau traktir!" sahut Haidar meledek.


"Sayang!" peringat Karina.


"Aku dan Raka menang tender kemarin. Makanya, aku bawa kalian semua menikmati hasil kerja keras kami!" ujar Zhein bangga.


Haidar tersenyum, ia senang kakak iparnya berhasil bangkit sendiri tanpa bantuan dari Virgou.


Sore pun datang, semua anak telah rapi dan bersih. Mereka sangat antusias.


"Setelah sekian purnama dikurung!" ujar Kaila.


"Baby!" peringat Puspita.


Kaila cemberut, Virgou menatap putrinya dalam. Gadis itu tentu langsung menunduk.


"Kami melarang kalian keluar karena setiap diijinkan, pasti ada sesuatu bahaya mengincar kalian!" ujarnya sedikit marah.


Kaila bersembunyi di belakang ibunya. Terra menarik Virgou dari sana, ia juga sudah tak sabar untuk melihat atraksi di sirkus.


Beberapa mobil mewah keluar dari mansion milik Virgou. Iring-iringan mobil mengkilat tentu jadi sorotan semua orang terutama para bodyguard yang mengelilingi mereka.


Zhein telah memborong semua karcis perdana pertunjukan itu. Virgou berdecih karena harga satu karcis ternyata sangat murah.


"Pantas dia memamerkan kekayaannya!"


"Sayang!" peringat Bram.


"Lihat lah Pa!" tunjuk Virgou pada harga karcis.


"Sudahlah!" peringat Bram lagi.


Virgou berdecak, Terra tak peduli, ia menggandeng dua anak kembarnya langsung masuk ke sebuah tenda paling besar di sana.


Keluarga kaya raya itu naik di ruang vvip. Pertunjukan dimulai lima belas meniti lagi.


"Akhirnya, kita nggak perlu kabur dari pengawal lagi!' ujar Arfhan.


"Baby!" Michael menghela nafas.


Ia bersama istrinya, begitu juga Theo dan Fio. Semua menyaksikan acara yang sudah lama hilang.


"Selamat datang! Selamat menikmati acara kami ...!" sebuah sambutan diberi oleh MC acara.


Tempat duduk itu tentu penuh dengan keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Wijaya, Sanz dan Dewangga. Belum lagi para pengawal. Tak ada penonton lain selain keluarga kaya raya itu.


Remario bersama Rosa istrinya, pria itu memeluk erat wanita yang ia nikahi sudah mau satu tahun itu.


"Mas ... Pusing," keluh Rosa menyandar kepalanya di bahu sang suami.


Remario mengecup pelipis sang istri. Ia memijit pelan kepala Rosa untuk menenangkan kepusingannya.


"Untuk pertunjukan pertama, ini dia tarian para penari!" seru pembawa acara.


Dua puluh gadis memakai baju renang yang dihiasi bulu-bulu cantik menari. Mereka menggunakan sepatu roda.


Para bayi tentu antusias, mereka mengikuti semua gerakan penari-penari lincah itu.


"Amah ... Yoya oleh ayat dhitu?" tanya Zora sambil menunjuk penari.


"Boleh sayang. Kamu boleh menari di depan mama dan papa!" jawab Luisa sedikit keras karena musik yang begitu kuat.


"Yan pipatai pa'a amah?" tanya Vendra.


"Sepatu roda baby," jawab Luisa lagi.


"Ladies and gentleman, inilah pertunjukan sirkus tanpa hewan asli. Semua tayangan adalah menggunakan layar 3 dimensi, gunakan kacamata khusus anda!" ujar pembawa acara.


Semua memakai kacamata mereka. Para bayi juga memakainya.


Dua jam pertunjukan telah selesai. Semua puas dengan apa yang mereka lihat.


Zhein membawa mereka ke sebuah restoran mewah yang tak jauh lokasinya.


"Nak!" Arfhan, Sky dan Bomesh menoleh.


"Kalian tampak cakap. Kami mau menawarkan tantangan untuk kalian!" ujar seorang pria dengan topeng kupu-kupu.


"Tantangan?" tanya Arfhan.


Pria itu menelan saliva. Menatap tiga bocah dengan wajah tampan. Ia hendak mengelus wajah Sky.


Bocah itu langsung menepis tangan besar pria itu. Arfhan dan Bomesh sigap. Ketiganya memang tak pernah sama dengan penjaga.


Marco yang kehilangan ketiganya tampak sedikit panik. Ia segera mencari tuan mudanya.


"Babies!" panggilnya ketika melihat Arfhan, Bomesh dan Sky.


Pria aneh itu gegas pergi dari tiga bocah yang menggemaskan dirinya. Marco sangat kesal melihat pria itu.


"Kalian ke sana!" suruhnya pada tiga anak tuan mudanya.


"Papa mau ngapain?" tanya Arfhan.


"Ada sedikit urusan baby!" ujar Marco lalu memanggil beberapa rekan kerjanya.


"Baby ayo ikut Abi sini!" ajak Dahlan.


Arfhan, Sky dan Bomesh mengikuti Dahlan. Ketiganya masih melihat Marco di sana.


"Sudah jangan khawatir sama papa Marco ya!" ujar Dahlan menenangkan anak-anak.


Virgou menyerahkan semua urusan pada anak buahnya. Ia sudah malas berurusan dengan kaum yang tengah naik daun dan kini gencar mensosialisasikan diri mereka pada dunia itu.


"Bumi hanguskan saja! Jangan kelihatan!" ujarnya memberi perintah.


Tak butuh waktu lama. Keberadaan sirkus itu hanya boleh sampai minggu besok beroperasi di negara ini.


Mereka harus segera angkat kaki sebelum pemerintah mendeportasi mereka.


"Bagaimana?" tanya Virgou.


"Sudah beres ketua!' lapor Budiman membungkuk hormat.


Bersambung.


Cepat, sigap dan singkat!


bravo Daddy!


next?