
"Jauhi putriku!" sentak Pram.
Pria itu gegas mendekati Dimas dan menarik kerah pemuda itu. Dimas adalah anak yang pendiam. Tak ada yang banyak ia kerjakan selain memang semua suadaranya yang banyak.
"Aarrggh!"
Pram kesakitan ketika Dimas memijit telapak tangannya. Hanya sepersekian detik cengkramannya lemah. Tadinya Tiana hendak melindungi tuan mudanya. Tapi gerakan Dimas lebih cepat.
Tiana langsung menarik tangan pria yang menjadi ayah biologisnya itu dan melemparnya.
"Tiana!" sentak Sri marah.
"Bu?"
"Apa ibu mengajari begitu pada orang lebih tua?" tanyanya marah.
"Dia hendak melukai tuan muda! Sebagai bodyguard saya punya wewenang untuk melindungi tuan muda saya!" sahut Tiana lebih keras.
Sri diam, ia lupa jika anaknya adalah seorang bodyguard. Dimas adalah atasan putrinya, ia menatap pria yang sudah tiga tahun tak pernah menganggap mereka.
"Kalau begitu saya pergi dulu. Na, Bu, assalamualaikum!" ujar Dimas pamit.
"Tuan, maafkan saya atas ketidak nyamanan ini!" pinta Tiana malu bukan main.
Dimas melenggang santai, pemuda itu melirik sekilas arah Pram yang mukanya merah padam.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Dimas sedikit khawatir.
"Saya tidak apa-apa Tuan," jawab Tiana membungkuk hormat.
Dimas tersenyum lalu menepuk bahu pengawal adiknya itu. Ia pun masuk mobil dan menjalankan kendaraan itu.
Tiana melihat ayahnya telah berdiri. Sri membantu pria itu, masih menghormati ayah dari anak-anaknya.
"Bu! Lepaskan tangan suci ibu dari tubuh pria itu!"
"Nak!" Sri menatap gusar putri pertamanya itu.
Tiana mendekati ibunya dan menjauhkannya dari pria yang sangat ia benci.
"Nak kamu nggak boleh gitu ...."
"Bu cukup!" sentak Tiana.
"Cukup kita menghormati dia! Dia nggak pantas sama sekali!" lanjutnya tak terima.
"Nak ibu tak mengajarimu tak menghormati orang tua. Dia tetap ayahmu, biar bagaimanapun dia ayahmu!" ujar Sri memberi pengertian.
"Ibu lupa selama tiga tahun ini. Bukankah dia sendiri memutuskan hubungan dengan kita? Dia yang bilang nggak mau jadi wali ku ketika menikah!" sergah Tiana mengingatkan ibunya.
"Nak ...."
"Apa ibu juga lupa Ustman dianggap anak haram oleh keluarga pria itu!" tunjuk Tiana pada Pram.
Sri diam, ia bukan tak ingat. Tapi wanita itu mencoba melupakan semua agar hatinya lebih lapang dan menyerahkan pada sang maha pencipta.
"Nak ... ayah khilaf ...," Pram mencoba meminta maaf.
"Pergi kau dari rumah ini!" bentak Tiana mengusir Pram.
"Nak ... Ayah tau jika semua adalah kesalahan ayah. Ayah ingin memperbaiki semuanya, ayah janji memperlakukan kalian lebih baik lagi!" sumpah Pram pada anak gadisnya.
"Berapa lagi utang yang mesti kami bayar Pak Pram?" tanya Tiana menatap datar pada pria itu.
"Apa?"
"Berapa utang yang mesti kami bayar agar kami bisa lepas dari cengkramanmu? Bukankah selama ini begitu? Kau datang hanya meminta kami membayar semua piutang yang sama sekali kami tak menikmatinya?" desis Tiana mengungkit semuanya.
Pram menggeleng, ternyata luka yang ia toreh pada keluarga yang mestinya ia lindungi cukup dalam. Sri menenangkan putrinya.
"Nak," pinta wanita itu.
"Bu ... cukup ya! Jangan jadikan kebaikan ibu menjadikan ibu gampang dibodohi!" pinta Tiana pada ibunya.
"Nak, ibu hanya ingin kau merelakan semuanya. Allah akan menggantinya lebih baik dan itu terbukti kan?" ujar wanita itu.
"Iya Bu, aku tau. Tapi sudah cukup kita jadi orang baik dengan dia!" tunjuk Tiana.
"Nana nggak sudi jika ibu masih memiliki hati pada pria tak bermoral ini!" lanjutnya lalu meninggalkan sang ibu.
Sri menatap putrinya yang berlalu. Terdengar bunyi pintu kamar yang ditutup begitu keras karena dibanting oleh Tiana.
"Astaghfirullah ... Jangan sia-siakan ibadahmu kemarin Nak," pinta Sri.
"Sri ...," Pram bersimpuh di hadapan wanita yang dulu ia cintai itu.
Entah bagaimana Sinta hadir dan menghancurkan semuanya. Bahkan Pram juga ikut andil dalam kehancuran wanita sederhana yang masih cantik itu.
"Mas ... Jangan begini!" pinta wanita itu lembut.
Sri membangunkan pria itu perlahan tapi pasti. Ia mendorong sedikit ke arah luar rumahnya. Lalu menyorong kuat Pram hingga terjajar.
"Pergilah ... Kami di sini sudah bahagia," pinta Sri dengan nada memohon.
Pintu tertutup dan terkunci. Pram menatap nanar pintu itu. Sudah selesai semuanya. Ia tak ada lagi tempat di hati keluarga yang ia tinggalkan secara sadar.
"Sri ... Aku mohon Sri ...!' Pram menggedor pintu kuat-kuat.
"Maaf, anda ngapain di depan pintu rumah orang!" seru seorang pria memakai seragam sekuriti.
"Saya ...."
"Bapak silahkan pergi sebelum saya seret dan bawa bapak ke ruang pemeriksaan!" ancam pria itu galak.
Pram lagi-lagi menatap pintu yang tetap tertutup. Ia melangkah dengan lesu. Menaiki taksi daring yang ia pesan setelah sepuluh menit menunggu.
Sementara itu Dimas sudah sampai di hunian besar itu. Pemuda itu memang berangkat sendiri tanpa pengawalan.
"Ayah ... Itu boleh Pa'lek Dimas jalan tanpa pengawalan!" protes Kean.
Herman menghela napas panjang. Kesalahannya melepas Dimas tanpa pengawalan. Itu bukan tanpa sebab.
"Itu berarti, Pa'lek dipercaya sama ayah," sahut Dimas enteng.
"Ih ... Ayah!" rengek Kean ngambek.
"Janan dithu Ata'!" sahut Arsh ikutan kesal.
"Yayah Heyan tan bilih tasyih!" lanjutnya mencibir pria paling galak itu.
"Hei ... Apa kau bilang bayi?" Herman gemas dengan sindiran bayi berusia mau tiga tahun itu.
"Mumi ... lilih tasih ipu pa'a?" tanya Sabila.
"Pilih kasih itu adalah condong ke suatu pilihan lebih baby," jawab Layla.
"Batsutna pa'a, lonton patai pahasa pesdelhana!' sahut Maryam.
"Tolong baby ... bukan lontong," ralat Rion tersenyum lebar.
"Biya sasutna ipu!" sahut Sabila.
"Contohnya ini kalau Umi kasih Baby Sabila sepotong kue, tapi umi kasih Baby Nabila dua potong kue ...."
"Ipu banana pidat padil Mumi!" sahut Zizam memutar mata malas.
"Wilih tasyih ipu talo Mama lepih sayan Ata' Pean tali Ata' Al!" sahut Izzat yang paham.
"Mama! Kok malah ribut anak-anak!" rengek Kean.
"Makanya kalau keluar itu satu tempat aja baby!" sahut Dimas.
"Kalo kamu kan katanya ke timur malah ke barat!" lanjutnya menyindir Kean.
"Ih kan kadang pikiran itu bisa berubah Pa'lek!" sahut Sean membela saudaranya.
"Kamu kalau keluar tanpa pengawalan malah buat jantung Daddy berdetak lebih cepat baby!" sahut Virgou.
"Bi petiap lada tamuh teunapa tada tuh peuldetat ... Peuldetatna peubih tensyan beupeulti dendelan bawu pelan ...."
Sambar Aaima tiba-tiba bernyanyi ala-ala Ahmad Dani dan Mulan Jameela. Semua menganga mendengarnya.
"Astaga baby!"
Remario mengangkat bayi itu hingga tergelak. Ia tak jadi buka puasa tadi pagi karena sang istri mendapat siklusnya.
"Maaf sayang ...," ujar Rosa ketika dari kamar mandi karena mau pipis.
"Ada apa sayang?"
Remario yang tak tahan ingin menjamah istrinya. Langsung menarik Rosa dan membekapnya dalam ciuman panas.
"Mas ... Aku lagi dapat ...," ungkap Rosa yang membuat sesuatu yang berdiri tegak harus di kembalikan tidur seminggu kemudian.
"Apah ... Yoya au udha!" pekik Zora yang ingin diangkat tinggi-tinggi dan membuyarkan lamunan pria itu.
"Siyap baby!"
Bersambung.
ah ... Maaf ya Papa Lemalio, othor masih volos šš¤
Next?