
Dewa Ruci Triatmodjo, remaja yang sebentar lagi beranjak jadi seorang pemuda.
Perawakannya sangat tenang. Tak pernah bergeliat atau bergolak tanpa sebab. Tatapannya tajam, otak genius dan belum lagi keahlian yang tak pernah diketahui.
Dewa memiliki banyak rahasia dalam dirinya. Tak ada satupun yang tau kecuali ....
Virgou menatap pergerakan salah satu putra dari Herman. Pria itu tak mau ambil pusing. Rapat langsung ia tinggalkan.
Satrio dan Dav yang panik karena Virgou pergi begitu saja. Gomesh berlari mengejar pria atasannya itu.
"Ketua!"
Sementara itu Dav dan Satrio langsung menangani semua kerjaan yang ditinggal begitu saja oleh Virgou.
"Apa-apaan ini! Tidak sopan!" gerutu salah satu kolega.
"Jika anda keberatan. Anda boleh keluar dari rapat ini Tuan Djaya!" sergah Fabio.
"Dan anda kehilangan seluruh kesempatan untuk mendapat proyek ini!' lanjutnya.
Satrio di sana menatap pria yang masih menggerutu. Pemuda yang telah beristri itu meremas satu kertas kosong dan membuatnya jadi bola kecil.
Shoot! Tak! Aduh! Sebuah teriakan kecil kesakitan keluar dari mulut Djaya.
"A ...."
"Duduk Tuan Djaya!" tekan Satrio dengan nada membunuh.
Seluruh ruangan mendadak hening. Aura mencekam tiba-tiba hadir. Semua pebisnis merunduk takut. Nyali Djaya tiba-tiba menciut.
"Apa sekarang bisa kita lanjutkan lagi?" tanya Dav yang juga mengeluarkan aura intimidasi.
Kembali ke Virgou dan Gomesh. Dua pria itu berjalan cepat menuju mobil. Virgou yang menyetir sendiri, Gomesh duduk di sisinya.
"Pasang sabuk pengaman! Beri peringatan pada petugas kepolisian untuk mengawasi pergerakan Dewa di daerah M di kilometer 2,5!" lanjutnya memberi perintah.
Gomesh langsung mengerti. Pria raksasa itu memberi signal tanda bahaya di sekitar Dewa berada.
Semenjak Dewa mematahkan tangan seorang preman. Virgou langsung menyelami kekuatan remaja itu.
"Gom!"
"Ya ketua?"
"Baby Dewa lebih kuat dibanding anakmu The ShadowAngel," ujar Virgou memberitahu.
Gomesh diam, pria itu baru mengetahui jika Dewa mematahkan tangan pria dewasa layaknya mematahkan satu batang lidi.
"Bagaimana ketua bisa tau?" tanyanya yang menguat Virgou menghela nafas panjang.
Virgou memilih tak menjawab. Ia menekan pedal gas lebih dalam. Ia makin takut jika Dewa terluka.
Sementara di bangunan lain. Dewi, Kaila, Rasya dan Rasyid mencari keberadaan Dewa.
"Pa'lek mana?" tanya Rasya memutar tubuh mencari keberadaan pamannya itu.
"Tadi dia keluar duluan karena emang udah nggak ada kelas kan?" ujar Dewi.
"Ini nih kalo nggak satu kelas!" gerutu Kaila protes.
"Kita keluar yuk, tanya Tinti Ama papa!" ajak Dewi pada akhirnya.
Mereka pun keluar dari gedung itu. Baru sampai lobi, Tiana dan tiga pengawal lain mendatangi mereka.
"Nona muda, Tuan muda!" panggil Tiana.
"Tinti mana Mas Dewa!?" tanya Dewi langsung.
"Sebaiknya kita pulang! Tuan muda Dewa sudah disusul oleh Papa Abraham!" ujar Lukman.
"Pa'lek Dewa emang kemana? kok disusul?" tanya Kaila curiga.
"Kami tidak tau, tapi pasti nanti menyusul kita pulang! Ayo!" ajak Tiana.
"Nyusul gimana? Mobil kita satu!" sahut Rasyid juga curiga.
"Kan ada taksi online!" ujar Tiana.
Gadis itu lalu mengunci Dewi dan membawa gadis itu mengikuti langkahnya.
Dewi adalah seorang master beladiri. Kuncian Tiana memang kuat, tapi itu bukan hal sulit untuk dipatahkan oleh Dewi.
"Maaf Tinti. Sepertinya aku akan menyusul kakak kembarku!" ujarnya lalu memberi totokan di ketiak Tiana.
"Ah!" tubuh Tiana langsung lunglai tak berdaya.
Rasya, Rasyid dan Kaila pun berbuat sama. Ketiganya mengarahkan satu totokan kuat di pinggang para pengawal.
"Katakan Pa'lek kemana?!" sentak Rasya lalu menekan tusukan jarinya di pinggang Lukman.
"Kami tidak tau Tuan muda. Tuan muda Dewa mengikuti temannya!" jawab Lukman setengah berteriak.
"Ciri-ciri!" tekan Rasya lagi.
"Perempuan seumuran kalian, berpakaian lusuh dan pudar!" jawab Lukman diiringi teriakan kesakitan luar biasa.
Rasya menatap saudara kembarnya dan juga bibi dan sepupu perempuannya.
"Itu Rana Senja, yang anak genius dari kampung M?" ujar Dewi mengingat.
"Ah, anak yang dapat beasiswa penuh seperti Doko!" seru Rasya ingat.
"Di mana itu kampung M?" tanya Kaila.
"Nanti kita tanya! Yang penting kita susul Dewa!" ajak Dewi.
"Astaghfirullah Nona muda ... Tuan muda!" pekik Tiana dengan air mata berderai.
"Ayo kita harus kuat. Nyawa mereka mungkin dalam bahaya!" teriak Ilham salah satu rekan pengawal.
Mereka berempat memaksa berdiri dengan jalan terpincang sambil memegangi bagian tubuh yang sakit. Ajaran Saf dan Lidya ternyata sangat-sangat berhasil.
Sementara itu Dewa berjalan beriringan bersama Rana. Gadis itu sesekali berhenti karena tubuhnya masih terasa sakit.
"Apa masih jauh?" tanya Dewa datar.
"Dua kelokan lagi," jawab Rana lirih.
Mulutnya merintih kesakitan. Ia membelai tangan dan sekitaran perutnya. Dewa bergeming melihat itu.
"Apa sakit sekali?" tanyanya prihatin karena mendengar rintihan kesakitan Rana.
Gadis itu menatap remaja tampan di depannya. Ia mengangguk lemah.
"Mau cerita?" tanya Dewa.
Rana menunduk, satu buliran bening menetes di pipinya. Mengingat kejadian semalam yang nyaris merenggut paksa kehormatannya.
"Bapak pulang dalam keadaan mabuk. Seperti biasa ia lakukan itu selama menikah dengan ibu," ujar Rana memulai kisahnya.
Rana Senja, delapan belas tahun. Seorang gadis yang berkepribadian tertutup.
Semenjak ayah kandungnya meninggal dunia, ibunya dipaksa menikah untuk menutupi utang bibi atau kakak perempuan dari mendiang ayahnya.
"Tapi Mas Rasna belum empat puluh hari mba. Dalam Islam aku belum selesai masa idah!" tolak Rini, ibu dari Rana.
"Kamu harus nikah sama Rano! Utang ini mendiang suamimu juga ikut makan!" teriak Elia dengan mata melotot.
Hasutan Elia pada seluruh keluarga membuat pernikahan Rini dan Rano tergelar cepat. Elia menyebar fitnah jika Rini selingkuh dari suaminya hingga secepatnya digelar pernikahan itu.
Rini dipaksa mengikuti sang suami berikut Rana. Keduanya tinggal di kampung M. Mereka merantau di ibukota untuk mengadu nasib.
Singkat cerita, malam itu Rini sangat cepat tidur karena kelelahan. Ia menjadi tukang cuci di tiga rumah berbeda.
"Rini ... Rini!" panggil Rano yang pulang dalam keadaan mabuk.
Pria itu selalu begitu dari ia bujangan. Semua uang yang dihasilkan ia habiskan untuk pergi minum-minum dan berjudi.
"Ah ... Sial!" umpatnya kesal melihat istrinya tak bangun karena kelelahan.
Lalu matanya menuju kamar sebelah. Ia menatap tubuh putri tirinya. Ia sangat mengenal Rana yang kini tumbuh jadi gadis remaja yang cantik.
Tubuh Rana memang kurus tapi bagian dada dan bokong gadis itu terbilang berisi dan itu menjadi pemicu gairah Rano.
Rumah bedeng dengan ukuran 6x3 meter itu memang sangat kecil. Kamar yang sengaja dibuat oleh pemilik rumah untuk ruang tidur Rana memang tidak berpintu hanya dihalangi sehelai kain tipis.
"Dia kan perawan!' gumamnya menatap Rana dengan pandangan mesum.
Secara perlahan, Rano memulai aksinya. Rana terjaga lalu dengan kuat ia menendang ayah tirinya itu.
Rano terjengkang, hal itu membuat ia marah besar. Entah berapa kali tubuh Rana ia banting ke lantai.
Rana yang sudah lemah terbujur dengan sisa-sisa tenaganya. Rano dengan paksa merobek pakaian gadis itu.
Dengan satu tendangan di sela-sela kaki pria itu. Rano tersungkur dengan memegangi alat reproduksi yang dihajar kuat oleh kaki Rana.
Rini terbangun langsung menyelamatkan putrinya. Ia memberikan uang untuk Rana kabur dari rumah.
"Pergi, selamatkan dirimu!" suruh sang ibu.
"Ibu?"
"Jangan pikirkan ibu!" ujar Rini dengan mata berkaca-kaca.
Ia menciumi wajah putrinya yang hampir babak belur itu.
"Rana ... Kubunuh kau!" teriak Rano marah.
"Pergilah! Cepat!" usir Rini.
"Kita pergi berdua Bu!"
"Kita berdua mati jika pergi. Cepat sana!"
Rini mendorong tubuh putrinya hingga tersungkur. Ia cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Bu ... Bu!" teriak Rana.
"Heh ... Jangan berisik!" teriak tetangga dari dalam rumah.
"Pak ... tolong pak!"
Rana berusaha meminta tolong. Tapi ia malah diusir oleh tetangganya itu.
"Jadi sekarang kita ke rumahmu untuk menyelamatkan ibumu?" Rana mengangguk.
"Ayo kuatkan kakimu! kita selamatkan ibumu!" ajak Dewa.
Keduanya pun kembali melangkah. Sementara itu Dewi yang berjalan cepat melihat saudara kembarnya.
"Mas ... Tunggu!"
Bersambung.
Wah ...
Next?