
Pagi hari, semua orang sudah meninggalkan villa. Memang belum tujuh hari kepergian Ani. Tapi, pekerjaan sudah menggunung. Anak-anak juga terlalu jauh jika bersekolah dari villa.
"Kita nggak selametan lagi?" tanya Kean dengan mata besar.
"Nggak baby, biar sisanya diurus sama DKM masjid," jawab sang ayah.
Kean sedikit cemberut, entah kenapa ia memang suka mengantri makanan yang dibagikan. Ia merasa dekat dengan semua orang yang ada di sana.
"Baby, kamu kata ayah harus ikut dia ke luar kota!' ujar Virgou yang melihat putranya sedikit melamun.
"Iya dad," jawab Kean malas.
Calvin sudah bersama Dominic. Pria itu langsung membawa putra dari Virgou pergi bersamanya.
"Kak," Kaila menyender di bahu Kean.
Maisya dan Affhan juga tampak merebahkan tubuhnya di jika mobil bersama Harun. Puspita ada di depan di sisi sang suami.
Sementara di kendaraan lain. Haidar menyetir, Rasya berada di sisi pria itu. Terra bersama dua bocah dan juga Rasyid. Sementara Sean, Al dan Daud ada di jok paling belakang.
"Kalian sudah sebesar ini ya?' ujar Haidar melihat semua anak-anaknya di kaca spion tengah.
"Papa mau kita kecil terus?" sahut Arion.
"Baby!" peringat Terra.
"Ya, habis papa!" sungut Arion kesal.
"Nggak boleh sahutin papa kalo bicara!" terang Terra memberi pengertian.
Arion meminta maaf pada ayahnya. Haidar pun memaafkan putranya itu. Perangai Arion mirip kakak perempuannya yang kini tengah mengandung tujuh bulan.
Sementara itu, Nai bersama suaminya. Salim, Della, Firman dan Dita bersama mereka. Anak-anak ada di belakang. Dita dan Firman masih memakai kursi khusus. Salim dan Della sudah duduk di tempat biasa.
"Sayang, sudah dibawa semua kan bukunya?" tanya Nai.
"Sudah Mama," jawab Della dan Salim kompak.
"Ughh!" Nai mengelus perutnya yang tiba-tiba kram.
"Sayang?" Langit tentu khawatir dengan istrinya.
"Nggak apa-apa sayang, ayo antar anak-anak sekolah dulu!" ujar Nai yang tak masalah dengan perutnya.
Nai mulai menghitung waktu kontraksi. Ia adalah seorang dokter spesialis kandungan. Tentu ia tau apa gerakan yang ia rasakan merupakan kontraksi betulan atau bohongan.
Setelah mengantar anak-anak yang bersekolah. Mereka bertemu dengan orang tuanya yang juga mengantar adik bungsu Nai.
"Ughhh!' Nai memegangi perutnya.
"Baby?" Terra tentu khawatir.
"Mama?"
Semua anak juga ikut khawatir. Haidar meminta semua anak-anak masuk ke kelas. Gino, Ditya, Radit, Sky, Bomesh dan Arfhan juga masuk, mereka diantar Gomesh.
"Kak!" pekik Nai memegangi suaminya.
"Sayang!" Terra mulai menangis.
"Kita tenang dulu sayang!" ujar Haidar.
"Kita bawa langsung ke rumah sakit!" ujar Virgou.
"Ayo baby, kamu harus kuat!" lanjutnya memberi semangat.
Nai sangat yakin jika ia akan melahirkan bayi-bayinya dalam keadaan prematur.
"Pa, sakit!" rengeknya pada Haidar.
"Baby," Haidar tentu sedih melihat putrinya kesakitan.
Tak butuh waktu lama, Nai dibawa ke ruang persalinan. Saf gegas menangani keponakan suaminya itu.
Arimbi ditenangkan. Ia sengaja tak diberitahu jika Nai melahirkan lebih cepat.
"Uma ... Sakit umaa!"
Nai merasa pinggangnya mau patah. Perutnya berasa berputar hebat. Saf mengelus perut adik iparnya itu.
Nai memeluk erat Saf. Ia merasa lebih baik jika dipeluk sedemikian rupa oleh kakak iparnya itu.
"Baby, sama mama sini!" ujar Terra tentu ia juga mau jadi penenang putrinya.
"Ahhhh!" teriak Nai yang menolak Terra.
"Ma, sudah yuk. Biar baby tenang," ujar Haidar lalu membawa istrinya.
"Pa, baby pa!" rengek Terra sedih.
"Kita doakan ya!" ujar Haidar.
"Ata' ... Mama teunapa?" tanya Dita pada Firman.
"Buntin payi palam peyut Mama bawu teluan baby," jawab Firman.
"Saban ya ... Pita tundu papa," ujar Firman menenangkan adiknya.
Demian melihat anak-anak sedikit terlantar. Pria itu membawa semua anak untuk pergi makan.
"Mama dan papa pulang dulu deh. Babynya belum mau lahir," ujar Saf yang memeriksa kandungan Nai.
"Kok belum?" tanya Terra bingung.
"Belum pembukaan penuh ma," ujar Saf menjelaskan.
"Operasi saja," ujar Terra yang langsung ditolak Saf.
"Baby baik-baik saja kok ma. Mama tenang saja ya," ujar Saf menenangkan mertuanya itu.
Terra dan lainnya pulang. Hanya Langit yang tinggal. Pria itu menggendong istrinya. Nai mau seperti itu untuk meredakan sakitnya.
Hingga sore menjelang, berita kelahiran belum juga terdengar. Langit masih setia menemani sang istri yang meringkuk menahan sakit.
"Baby, kalau kamu begini terus. Uma akan operasi kamu!' ujar Saf yang geregetan melihat sifat manja adik iparnya itu.
"Sakit Uma!" rengek Nai.
"Melahirkan itu memang sakit luar biasa baby. Tapi itulah keunggulan kita sebagai perempuan dibanding laki-laki," ujar Saf menenangkan Nai.
Sebenernya, Nai bisa melahirkan cepat. Saf memberikan treatment baru agar ibu tak merasakan kesakitan ketika melahirkan.
"Takut Uma," rengek Nai yang ternyata sudah trauma.
"Tenang baby, ada Uma di sini," ujar Saf mengelus lembut punggung Nai.
Saf tentu tau kejiwaan seorang wanita yang hendak melahirkan. Walau Nai seorang dokter. Tapi kejiwaan seseorang tergantung bagaimana ia siap dalam segala hal.
"Ayo, Uma bantu ya. Mau?" Nai mengangguk.
Ketika dibaringkan, air ketuban sudah pecah. Langit menenangkan sang istri. Teknik tiup dan embus jadi treatment agar pasien tenang.
"Tiup pelan-pelan ya baby," ujar Saf.
"Huufffhh!" Nai meniup udara dari mulutnya.
Satu jam berlalu, dua bayi kini dalam inkubator. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu tampak sehat dan terlelap.
"Alhamdulillah ya Allah!" Andoro menatap bahagia dua cucu tampannya.
"Kakek mau gendong?" tawar perawat pada pria itu.
Andoro tentu mengangguk antusias. Ia diminta duduk dan perawat meletakkan bayi dengan bobot 1,1 kg di pelukan Andoro.
Begitu kecil dan masih merah. Bayi itu menggeliat. Andoro mengecup lembut kepala cucunya.
"Sehat-sehat baby," ujarnya mendoakan.
Luisa tengah menciumi menantunya. Sedang dua bayinya digendong Langit.
"Terima kasih sayang. Mama bahagia sekali," ujar Luisa.
"Sama-sama mama," sahut Nai.
Perempuan yang baru jadi ibu itu merasa bersyukur memiliki kakak ipar yang sigap dan pintar. Saf benar-benar membantunya menjalani proses persalinan.
"Nai!" Arimbi masuk dengan wajah kesal.
"Eh ... Baby!" peringat Khasya yang ikut bersamanya.
"Kenapa lahiran kamu nggak bilang-bilang Bu'lek?" sengit Arimbi tak perduli.
"Ih ... Emang Nai pengen anak-anak Nai lahir cepet gitu?" jawab Nai juga sengit.
"Ah ... Kan kita bisa lahir barengan Nai!' sengit Arimbi kesal.
"Baby!" peringat Luisa tersenyum.
"Ah ... Mama ... Kan nggak aci kalo Rimbi lahir nggak barengan Nai!" rengek Arimbi pada Luisa.
"Dok, mau gendong bayi satunya nggak?" tawar perawat dengan memutar mata malas.
Semua perawat tentu mengenal Arimbi. Wanita itu sering datang di rumah sakit milik keponakannya.
"Mau dong, mana dia?" sahut Arimbi langsung.
Bayi tampan kini dalam gendongan Arimbi. Reno juga tengah menggendong salah satunya.
"Dada payi walu ... Ita eundat lilalatitan!" sungut Vendra protes.
"Baby ... Mama perhatian sama kamu kok!" bantah Luisa.
bersambung.
Selamat Nai ...
next?