THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MASIH HEBOH



Mereka menatap sebuah kuburan sederhana di mana Sayyidah Khadijah binti Qubro di makamkan. Wilayah itu diberi pagar pembatas.


"Hanya makam sederhana seperti ini yang menjadi tempat peristirahatan terakhir wanita yang dicintai Rasulullah," ujar Kanya menatap dengan buliran bening yang menetes.


Salah satu petugas marah melihat ada yang menangis di sana. Mereka mengusir secara paksa keluarga besar itu. Para staf kementerian menggiring jamaahnya walau disertai protes para perusuh.


"Eh ... Istighfar!" peringat staf pada semua keluarga yang sepertinya gampang tersulut emosi.


"Tapi orang itu kasar banget!" sungut Kean tak terima.


"Udah, udah!' Dinar menenangkan semua keluarga.


Akhirnya mereka semua pulang ke hotel kembali. Semua bayi tampak kelelahan.


"Muma ... Papan!" teriak Maryam.


"Baby!" peringat Darren.


"Nggak boleh teriak seperti itu!" lanjutnya tegas.


"Mamap Apah," ujar Maryam menyesal.


"Iya jangan lagi ya!" ujar Darren tetap memberi peringatan pada putrinya itu.


Semua anak makan, semua disiapkan oleh staf yang menangani jemaah dengan kuota khusus itu.


Usai makan, mereka istirahat total. Lima hari lagi menuju wukuf. Para jamaah banyak melakukan tour keliling Mekah.


"Kita keliling dong Pa!" pinta Sean pada ayahnya.


"Boleh, tapi ditemenin sama Abimu ya!" sahut Haidar.


"Oteh!" Sean mengajak tiga saudara kembarnya.


"Ajak Pa'lek!" ujar Al.


"Dia udah ada istri," sahut Sean malas.


"Tapi kan kemarin kata staf tetap nggak boleh nyampur kalo lagi haji!" ujar Al.


"Iya, ajak aja dari pada ngamuk. Ajak juga Kean sama Calvin!' sahut Al.


Satrio mau ikut berikut Kean dan Calvin. Mereka pun pergi ditemani Dahlan, Deni, Felix juga Hendra.


Semua bayi terlelap karena kelelahan. Ryo rewel karena itu, bayi itu merengek dan menangis ingin dipijit.


"Amah ... adan Yiyo dedel ... Jijitin!"


Azizah memijit pelan tubuh bayinya. Rion juga ikut memijit putranya.


Sementara itu, triple Pratama, duo Black Dougher Young juga Triatmodjo, duduk di sebuah bus yang mengangkut jamaah. Mereka berkeliling dan petugas menjelaskan jalanan yang mereka lewati.


Hingga tiba di titik jalan ketika melewati Jabal magnet. Supir mematikan mesin dan memainkan rem juga perseneling.


"Ini dia gunung magnet!" seru petugas wisata menggunakan mik.


"Kita bisa rasakan jika kendaraan kita didorong cepat oleh sesuatu agar menjauh dari sini!' lanjutnya menjelaskan.


Benar saja, bus seperti berjalan cepat. Supir harus tenang mengendalikan laju kendaraan agar tak terguling. Semua berpegangan tangan dan mengucap doa.


"Mashaallah ... ternyata lebih seru dibanding balapan sama mobil Daddy di jalanan mengejar penjahat!" seru Satrio.


"Pa'lek, sekali-kali Sean mau dong kejar-kejaran sama mafia gitu!" sahut Sean yang mencengkram kuat lengan bangku.


Sepanjang empat kilo meter mereka merasakan pergerakan luar biasa dari sebuah dorongan besar. Seakan-akan tempat itu tak mau disinggahi lama-lama.


Sampai di kota tujuan. Para jamaah turun. Dahlan dan lainnya menjaga tuan muda mereka. Ketampanan semuanya tentu membuat siapa saja ingin berniat jahat. Bahkan para polisi berjaga-jaga di sana untuk menarik enam pemuda tampan itu.


Kean sengaja mencoret mukanya agar terlihat buruk begitu juga Calvin yang menggunakan lensa mata untuk menutupi mata birunya.


Puas berkeliling mereka kembali. Berbeda dengan kepergian tadi. Gunung magnet seakan-akan mempersulit laju kendaraan. Kali ini supir harus menekan pedal gas dalam-dalam agar bisa menembus magnet yang menolak bus itu.


"Wah ... Kita kek didorong keluar ya!" teriak salah satu jamaah.


Empat kilo terlewat sempurna. Laju bus kembali seperti biasa. Supir ternyata sangat berpengalaman. Ia telah menghitung jarak, setelah penekanan kurang dirasa. Supir memelankan laju kendaraan.


"Supirnya luar biasa!" puji salah satu jamaah.


"Mashaallah Allahuakbar!' seru supir. "Semua berkat pertolongan Allah!"


Sementara di benua lain. Hunian Bart kini kembali ramai. Lima anak bermain puas di halaman belakang yang telah disulap sedemikian rupa.


"Ah ... Posen!' keluh Angel lalu duduk di sofa malas.


Bayi itu terengah-engah setelah berhasil melumpuhkan permainan ketangkasan di sana. Ia bahkan melaju di level setingkat anak usia lima tahun.


"Baby ... Cape sayang?" tanya Michael.


"Wiya mih papa Cecel!" angguk Angel menghela nafas panjang.


"Nggak boleh gitu baby. Ayo bangun lagi. Kamu harus pendinginan dulu!" ajak Michael.


"Papa janan nadhi-nadhi!' sengit Angel marah.


'Atuh putan tultas!" lanjutnya emosi.


"Sape Papa!' keluh Angel malas.


"Ayo berdiri!'


Michael tegas jika perilaku latihan. Angel harus menurut, bayi cantik itu berdiri dan melakukan gerakan pendinginan.


Semua anak memang dilatih serius oleh para pengawal. Bahkan pada bayi yang baru menggunakan dengkulnya berjalan.


"Papa awas!" teriak Bomesh bergelayutan ala Tarzan.


"Baby jangan sembarangan bergerak!" peringat Marco.


Domesh berhasil melewati rintangan level anak usia sebelas tahun. Sukma juga memperingati tuan mudanya.


"Baby, jangan mengumbar tenaga!"


Bariana juga telah menyelesaikan tingkat seusia Gino. Semua anak memang sangat luar biasa.


"Nanti ketika pulang. Aku bisa mengalahkan Harun dan anak-anak lainnya!' ujar Bariana senang.


Setelah pendinginan, semua anak makan kudapan yang dibuat oleh ibunya.


"Assalamualaikum!" Arimbi datang bersama suaminya.


Tak lama Nai datang juga bersama suaminya. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit.


"Wa'alaikumusalam!' balas Bomesh.


Nai meletakkan buah tangan di meja. Fael dan Angel ribut ingin lihat.


"Mama pawa pa'a?" tanya Angel nyaring.


"Bawa kue pukis sama kue pancong baby," jawab Nai.


"Tuwe panson pama tue tutis?"


"Iya sayang," jawab Nai.


Semua menyerbu kue yang dibawa Nai. Semua kekenyangan hingga menolak makan nasi.


"Makan nasi sayang," suruh Maria.


"Teunyan Mama," tolak Angel.


"Baby," Gomesh memperingati anak-anaknya.


"Makan walau hanya sedikit!' lanjutnya memberi perintah.


Akhirnya semua makan dengan porsi sedikit. Usai makan, mereka menolak tidur siang.


'Harus bobo sayang!' perintah Maria tak mau tau.


"Ma ... Kita main lagi dong!'


"Bobo baby!" suruh Langit tegas.


Akhirnya semua tidur siang. Nai dan Arimbi harus kembali ke rumah sakit bersama suami mereka.


"Nanti pulang ke sini ya!' pinta Maria.


"Iya mom ... Kan kita butuh makan malam," seringai jahil keluar dari Arimbi.


"Anak ini!" dumal Gomesh kesal.


"Papa," rengek Arimbi manja.


Dua wanita hamil bergayut manja pada pria raksasa itu. Gomesh tentu luluh, keduanya adalah cinta yang kesekian pria itu.


Nai dan Arimbi selalu merebutkan Gomesh ketika bayi. Mereka mengaku menjadi kekasih pria besar itu.


"Pa, ingat waktu papa menikah dengan Mommy dulu?" kekeh Arimbi mengingat.


Gomesh tentu tersenyum lebar. Maria apalagi, ia juga sangat ingat hari bersejarah itu.


"Nai nangis dan marah sama Mommy karena ambil Papa dari kami!" cebik Nai.


Arimbi mengangguk, Gomesh tentu sangat ingat dua nona mudanya marah dan ngambek padanya juga sang istri.


"Kalian dulu lucu baby. Papa jadi ingin kalian kecil lagi!'


"Ih ... Males amat kecil, terus yang lainnya nggak ada gitu?" sengit Nai.


"Baby ... Papa kan kangen sama masa lalu!" rengek Gomesh.


"Papa ... Basalalu piyallah basa lalu ... Janan tau untit janan pindhaltan atuh!' sahut Arimbi tiba-tiba bernyanyi ala perusuh paling junior.


Bersambung.


Oke deh.


Next?