THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
BELI HEWAN QURBAN



Keluarga besar itu nampak memenuhi beberapa toko di sekitar Masjidil haram. Mereka membeli beberapa pernik untuk oleh-oleh.


"Nggak usah banyak-banyak. Di tanah abang juga ada!" ujar Virgou memberitahu.


"Beda lah Dad. Masa oleh-oleh beli di tana Abang!" sahut Rion menolak.


"Apah ... au soslat!" pinta putranya.


Bart membeli satu ekor unta untuk keluarga besarnya. Sebelas Dzulhijah sebentar lagi. Panitia haji telah memberi instruksi untuk membeli hewan qurban. Maka seluruh keluarga membeli unta untuk qurban mereka. Remario juga membeli hewan itu.


"Mas ...," Rosa memeluk suaminya.


Sebagai seorang wanita yang telah bersuami tentu Rosa sangat ingin merasakan bagaimana dicumbu. Tapi Remario menahan keinginan istrinya.


"Habis haji kita bulan madu ya," ajaknya.


"Langsung kabur saja!" lanjutnya.


"Tapi anak-anak gimana?" tanya Rosa setengah merengek.


Remario membalas pelukan sang istri. Ia juga ingin menjamah istrinya.


"Sabar sayang ... kau tak mungkin beribadah dengan lemas nantinya," kekeh Remario.


Rosa merengek, gadis itu memang malu luar biasa. Tapi ia ingin disentuh lebih oleh suaminya.


"Baiklah ... aku menunggu hingga di rumah," ujarnya mengalah.


Setelah membeli hewan untuk dikurbankan. Mereka kembali ke hotel menunggu keluarga yang lain yang berbelanja.


"Mas cakep nggak?" tanya Adiba mencocokkan gamis warna biru dengan hijabnya.


Satrio tersenyum lebar. Ia mengangguk, Adiba memberikan gamis pada penjual toko.


Usai membeli banyak buah tangan. Mereka kembali ke hotel. Tak ada perjalan ziarah hari ini. Semua bersiap untuk wukuf nanti.


"Persiapkan fisik dan mental kalian untuk wukuf nanti. Soalnya kita akan berpuasa hingga matahari tenggelam," ujar staf kemenag menjelaskan.


"Anak-anak dibawah umur boleh tidak berpuasa," lanjutnya.


"Tamih atan buwasa!" seru Maryam.


"Biya tamih tuwat buwasa!" sahut Arsh.


"Yiyo susasa udha ... Papa dat loleh susasah ... Papa sasih mimit tutu Mama!' ujar Ryo.


Semua menoleh pada bayi besar itu. Azizah hanya bisa menghela nafas panjang. Rupanya candaan suaminya yang ingin menyusu didengar oleh putranya itu.


"Baby ...," Haidar hendak menceramahi.


"Memang tidak boleh ya seorang yang tengah berihram untuk menjamah pasangannya walau telah halal," ujar staf menjelaskan.


"Hal tersebut sesuai dengan yang tertulis di dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 197 yang terjemahannya sebagai berikut:


"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." lanjutnya panjang lebar.


Semua mengangguk tanda mengerti. Keputusan Remario tepat sekali. Rosa sedikit malu karena ingin disentuh suaminya.


Sememtara itu di benua lain. Hunian besar itu tetap riuh dengan suara anak-anak.


Bariana, Bomesh, Domesh dan dua adiknya bermain puas tanpa harus saling bersinggungan dengan seluruh saudaranya.


Namun, keseruan itu tak berlangsung lama. Semuanya berhenti setelah peluh bercucuran.


"Kok masih kurang seru ya?' keluh Bomesh.


"Mereka di sana pasti main sama unta!" sahut Bariana terkekeh.


Lalu ketiga bocah itu murung. Maria sedih, ia juga melihat si kembar ikutan murung bersama kakak-kakaknya.


"Sayang, mama buat puding fla loh!" ujarnya mengusir kesedihan anak-anaknya.


Biasanya Rafael dan Angel akan berlari menyongsong makanan seakan-akan takut kehabisan. Tetapi kali ini berbeda.


"Makasih ma," ujar Bariana tak berminat dengan makanan yang ditawarkan ibunya.


"Babies," Maria sedih.


"Babies ... Jangan buat ibumu sedih!' peringat Gomesh.


Lima anak menatap ayahnya. Ada genangan air di mata mereka. Kali ini Arimbi dan Nai tidak datang. Mereka tengah bermesraan di tempat tinggal mereka.


"Papa nggak ingetin Baby Nai dan Baby Rimbi untuk kurban?" ujar Maria mengingatkan.


"Kan ayah ibu mereka berkurban di Mekah sayang. Pastinya nama mereka ikut untuk itu," jawab Gomesh malas.


"Ya tentu tidak sayang. Kan dua anak kita telah menikah. Jadi tidak ada kewajiban orang tua mereka untuk membuat qurban di sana," ujar Maria lagi.


Gomesh akhirnya menelepon dua nona mudanya dan mengingatkan perihal qurban.


"Kan udah di Mekah Pa!" ujar Nai.


"Ya bukan untuk kamu sayang! Kalian telah berkeluarga, jadi mereka nggak berkewajiban untuk itu!" sahut Gomesh di telepon.


"Iya ya, nanti Nai bilang sama Kak Langit," ujar Nai di seberang telepon.


"Padahal mereka di sini. Kok aku kangen ya," ujarnya kesal.


"Ini mereka juga nggak ada akhlak. Giliran makan baru datang! Udah makan malah pulang!' lanjutnya mengomel.


Maria tersenyum, ia yakin dua anak dan menantunya itu memang suka sekali mengusili Gomesh suaminya.


"Kalian suka sekali menggoda ayah kalian sayang," kekehnya bergumam.


Ketika siang menjelang, perkataan Gomesh terbukti. Nai dan Arimbi datang dengan perut lapar.


"Ngapain datang cuma untuk makan!" oceh pria raksasa itu.


"Jadi Papa ngusir kami?" tanya Arimbi sedih.


"Aku tidak bilang ...."


"Mommy ... Papa jahat!' adu Nai dan Arimbi sedih.


"Sayang!" Maria memarahi suaminya.


Langit dan Reno tak peduli, mereka sudah duduk dan mengganggu lima adiknya.


"Papa!" pekik Angel marah.


"Eh ... Papa pahu talo Ommy matan pipil Papa teumalin?" ujar Fael tiba-tiba.


"Biya Papa tan pihat judha!' sahut Angel semangat.


Bayi tiga tahun itu melirik ibuny sebal. Kemarin pulang dari Bogor, Angel memeluk ayahnya sedemikian rupa dan menjauhkannya dari ibunya.


"Ommy latus!' ujarnya.


Maria menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Wanita itu ingin membela diri.


"Mommy nggak makan bibir papa sayang!"


"Bolon!" sahut Angel dengan mata besar.


"Baby ... Nggak boleh gitu!' peringat Langit.


'Nggak apa-apa Mommy makan bibir papa. Papa Langit juga suka makan bibir Mama Nai," jelasnya.


"Biyal pa'a papa? Teunapa talian wowan pewasa latus?" desis Angel tak percaya.


"Tau nih. Apa kami juga boleh makan bibir saudara kami sendiri?" celetuk Bomesh.


"Tidak boleh!" teriak Maria dan Gomesh berbarengan.


"Teunapa?" tanya Fael menuntut.


Maria dan lainnya diam. Mereka tentu tak bisa menjelaskan perbuatan itu pada anak kecil.


"Nanti kalau kalian sudah menikah baru akan tau itu!' sahut Arimbi pada akhirnya.


"Ah ... Peslalu beudithu!" sungut Fael sebal.


"Sudah ... Ayo makan!" suruh Gomesh mulai galak.


Semua menurut, usai makan anak-anak diminta tidur siang begitu juga para ibu hamil.


Langit dan Reno duduk di sebelah Gomesh dan meletakkan kepala mereka di bahu pria itu.


"Pap, anterin kita beli qurban yuk!" ajak Reno lalu menguap.


"Hei ... Apa kalian tak bisa sendiri?"


"Papa ... Kita mau sama papa!" rengek Langit.


"Kalian sudah besar!" tolak Gomesh.


"Pa ... aku dengar papa udah ngucap syahadat pas Daddy pergi," sahut Langit tiba-tiba teringat.


Reno meluruskan duduknya. Ia memandangi pria raksasa yang jadi panutan semua pengawal.


"Papa udah Islam?" tanya Reno.


"Belum sah ... Kan tidak ada saksinya," jawab Gomesh.


Reno dan Langit diam, keduanya tak lagi bertanya dan malah memaksa pria itu untuk ikut beli hewan qurban.


"Nanti aku yang bayar itu sayang!" keluh Gomesh.


"Itu anak-anakmu! Nggak salah dong kalau mereka minta uang ayahnya!" sahut Maria galak.


Langit dan Reno tertawa penuh kemenangan. Walau mereka tetap membayar sendiri hewan untuk qurban itu. Tapi keduanya berhasil mengerjai Gomesh.


Bersambung.


Duh ya ... Mereka itu sama dengan para perusuh papa Gom!


Next?