THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
NENEK DAN KAKEK



Hunian Langit sudah penuh dengan manusia. Banyak anak-anak yang berlarian. Nai akan pulang bersama dua jagoannya.


Langit juga telah menyiapkan semua. Keadaan dua jagoannya dalam keadaan sehat dan tak berlama-lama di inkubator.


"Pita teudatanan dedet payi palu!' ujar Xierra memberitahu.


"Piya ... Tatana dadoan puwa-puwana!" sahut Zizam.


"Banti Paypi teusil atuh sasalin manzat hohon!" ujar Aarav bertepuk tangan.


"Atuh azalin panzat mamali!" sahut Izzat semangat.


"Atuh azalin naji!' ujar Fael yang membuat semua bayi menoleh padanya.


"Peumana tamuh pisa naji?" tanya Chira.


"Tan suma lalip ... Pa ... Ta ... Saa ...."


"Naji butan suma ipu laja aypi!' geleng Zaa memberitahu.


"Tayat dhimana don?" tanya Fael.


"Banti talo Anti pudah pisa naji ya!' Fael mengangguk setuju.


Tak lama Nai datang bersama ibu dan mertuanya. Dua bayi dalam gendongan Luisa dan Terra.


"Netnet mama Tate datan!' sambut Nisa gembira.


"Belpom hom aypi teumpal!" sorak para bayi menyambut kedatangan saudara baru mereka.


"Netnet ... Pihat! Pihat!" teriak Nouval ingin melihat bayi.


Terra dan Luisa duduk di sofa. Dua bayinya dalam gendongan Haidar dan Andoro.


"Aypi ... Imih netnet Zaa," ujar Zaa lalu mencium dua bayi tampan bergantian.


Terra tersenyum, ia senang bukan hanya dia yang Oma paling muda di sini.


"Atuh Tate!' tunjuk Aarav.


"Atuh judha!" sahut Aarick Starlight.


Haidar, Dav, dan Andoro tersenyum lebar. Rupanya predikat kakek dan nenek termuda disematkan pada adik kecil mereka.


"Mama, namanya siapa?" tanya Gino pada Nai.


"Mama belum siapin sayang," jawab Nai.


Karina datang bersama suami, anak-anak dan cucu juga menantunya. Rommy pun datang bersama istri dan dua putrinya juga seorang putra yang baru berusia tiga tahun.


Semua anak bermain di taman belakang. Rion menjadi pemandu semua anak-anak. Karena mereka memang hanya menurut pada pria beranak satu itu.


"Ayo susui anakmu dulu baby," suruh Terra pada putrinya.


"Iya nek," jawab Nai usil.


"Ck!" decak Terra sebal.


Namun sejurus kemudian, Terra tersenyum. Ia memang sudah punya cucu banyak. Kini lahir cucu dari putri kandungnya sendiri.


"Sayang," Khasya duduk di sisi Terra.


Perempuan itu juga menantikan cucu pertamanya. Arimbi sedang bergayut manja dengan Virgou. Bahkan pria itu harus menggendongnya.


"Bagaimana rasanya jadi nenek?" goda Khasya.


"Bunda!" rengek Terra manja.


Khasya terkekeh, Adiba belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Usianya baru menginjak sembilan belas tahun. Sedang Satrio juga mau dua puluh dua tahun. Mereka masih terlalu muda untuk jadi ayah dan ibu.


"Pasti bahagia melihat keturunan kita lahir secara sehat ya sayang," ujarnya lembut.


"Bunda ... Pokoknya bunda dan ayah sehat terus ya. Te, belum mau kehilangan bunda!" rengek Terra.


"Sayang," Khasya menatap wanita yang jadi pilar kasih sayang semua orang.


"Tetaplah tegak ketika satu persatu kami pergi ...."


"Bunda!" geleng Terra.


"Sayang, itu akan terjadi cepat atau lambat!" ujar Khasya memberi pengertian.


"Bunda," Terra memeluk wanita itu erat.


Dalam diri Khasya, Terra menemukan lagi kasih sayang seorang ibu yang telah lama hilang. Walau Kanya juga sangat menyayanginya. Tapi kasih sayang Khasya membuat pengaruh besar pada keluarga.


"Tetaplah tegar di berdiri dan menopang semuanya. Bunda titip anak-anak ya," ujar Khasya membuat Terra memeluk erat istri dari pamannya itu.


"Masih lama bunda ... Masih lama!" rengeknya.


"Iya sayang, Bunda juga maunya begitu. Mudah-mudahan kami yang tua-tua ini diberi umur yang panjang ya!"


"Aamiin ya rabbal alaamin!" Terra mengamini doa Khasya.


"Netnet!" pekik Ryo.


Bayi sebelas bulan itu berjalan miring dengan kaki kanan yang terus menerus maju.


"Baby sini kamu!" Terra gemas dengan tingkah putra dari Rion itu.


"Netnet ... Anah payina?" tanya Ryo duduk di pangkuan Terra.


"Di kamar disusui Mama Nai," jawab Terra.


"Ususi pa'a Net?" tanya Ryo.


"Menyusui sama seperti kamu minta susu sama mama Zizah baby," jawab Terra.


"Woh ... Yiyo loleh sususi pi ada Amah Nai?" tanya Ryo.


"Tentu boleh baby," jawab Terra.


"Babies ada roti panggang coklat nih!" teriak Layla.


Semua anak langsung berlari ke arah Layla yang memegang nampan berisi makanan.


"Ata'!" teriak Horizon galak.


"Apa baby, kamu berani sama kakak!"


"Aypi peusal!" peringat Zaa.


Kean berdecak, Virgou akan memarahi pemuda itu jika terlalu sering mengganggu bibi kecilnya itu.


"Aunty baby, Baby besar kan mau juga!' sengitnya sebal.


"Masih banyak baby, jangan khawatir!" ujar Layla menurunkan nampan.


Sementara di ruangan lain. Nampak para pria mendiskusikan acara selamatan bagi dua jagoan yang baru saja hadir di tengah-tengah mereka.


"Aku ingin empat puluh hari bi Ani di samakan dengan selamatan Babies," ujar Andoro.


"Sudah kau siapkan namanya?" tanya Bart.


"Biar Langit dan Nai yang beri namanya," ujar Andoro lagi.


"Ya sudah, jadi sekitar tiga puluh tujuh hari lagi kita adakan cukuran dan akikah untuk dua cucumu," angguk Bart setuju.


Tak ada percakapan berarti, semua sudah disiapkan. Soal biaya, mereka adalah orang-orang berkantung tebal.


"Seribu anak yatim cukup ya untuk selamatan," ujar Andoro lagi.


"Terserah padamu. Ingat anak-anak juga yang pasti ikut mengantri!" ujar Bart lagi mengingatkan .


Andoro mengangguk, ia pasti tau jika semua anak suka sekali dengan nasi kotak.


Langit ada di kamar bersama istrinya. Dua bayi tampak tertidur lelap dalam boksnya. Nai mengusap areola yang menghitam bersama pucuknya yang sedikit memerah.


"Bayi-bayi kita rakus ya sayang," ujar Langit mengecup pipi sang istri.


"Iya sayang, alhamdulilah," jawab Nai tersenyum.


"Sini aku bantu obati," Langit mengusap area yang ia sukai sampai sekarang.


Ia hendak mengecupnya. Nai mengusap pipi suaminya dan membiarkan pria itu bermain dengan dadanya.


Sore menjelang, Nai membawa dua bayinya dalam kereta dorong.


"Halo Paypi ... Imi apan baji baby Alsh!' ujar Arsh menyapa dua bayi yang masih suka memejamkan mata.


"Ah ... Dat selu, payina meyem teuyus!" gerutu Arsh sebal.


"Baby," Nai terkekeh mendengarnya.


"Jangan lama-lama di luar sayang, mereka masih terlalu kecil," ujar Luisa.


"Iya Ma, sebentar lagi Nai bawa masuk kok!' sahut Nai sedikit ketus.


"Baby!' peringat Terra.


"Iya mama!" ujar Nai.


"Apa ini? Apa ada yang berani melawan mama?" Rion langsung menatap Nai tajam.


Nai menunduk, ia memang takut pada kakak yang mestinya adalah pamannya itu. Perempuan yang baru jadi ibu itu memilih membawa kereta dorong berisi bayi-bayinya ke kamar sebelum Rion benar-benar marah.


"Jangan terlalu keras baby," ujar Terra.


"Ma, dia udah jadi ibu. Semestinya dia lebih tau kondisi bayinya. Terlebih Twin prematur!" ujar Rion tak mau dibantah.


"Baby Zo ... Turun baby!" teriak Sukma pada Zora yang sudah naik di atas pohon.


"Dada isat inti!" pekik Zora yang hendak mengejar cicak.


"Baby!" Luisa mengelus dada melihat kelakuan putrinya itu.


"Baby, malu sama cucu. Masa ada nenek ngajarin cucunya manjat pohon," rayu Sukma.


"Piyalin Tinti. Atuh atan azalin aypi teumban nait tiyan pendela!' sahut Alva Starlight.


"Wayo ... Pita zansat hohon!' seru Arsyad memprovokasi.


"Wayo!"


Dan semua pengawal harus berkejaran dengan para bayi yang memanjat.


"Baby ... Nini ada pisang goreng!" teriakan Najwa memudahkan para pengawal menangkap semua bayi.


Bersambung.


Hey Readers ... Kasih nama buat baby twin Mama Nai dan Papa Mamit yut!




Bumantara.




Angkasa.




Cakrawala.




Atau ada nama lain?


Next?