THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MINGGU BERSAMA



Minggu pagi, semua anak tengah bermain di belakang mansion Bart.


Banyak tingkat permainan yang harus menggunakan otot dan otak. Sky, Arfhan, Bomesh tampak begitu asik memainkan permainan ketangkasan itu.


Mereka bahkan sudah berada di level permainan Benua dan Bomesh.


"Jangan paksakan baby, otot kalian akan rusak!" peringat Exel.


Sky nyaris jatuh dari tiang monkey trap jika saja Exel tak menangkap tubuh bocah itu.


"Papa ... Hiks!" telapak tangan Sky lecet parah.


"Tuh kan apa papa bilang!" seru Exel tampak khawatir.


"Ayo turun semua!" suruh Michael lalu menurunkan Arfhan dan Bomesh dari tiang gelantungan itu.


Gisel melihat telapak tangan Sky yang memerah dan lecet. Ada bercak darah di sana.


"Itu bukan tingkatanmu baby," ujar wanita itu.


Nai mengobati tangan adiknya itu. Sky merengek perih. Bomesh dan Arfhan jadi ikutan sedih melihat saudaranya kesakitan.


"Apah ... Ata' teunapa?" tanya Fael lalu naik ke pangkuan Exel.


"Ini lihat tangan kakak," tunjuk Exel.


"Ih ... dada yayahna!" tunjuk Fael pada tangan Sky.


"Huuu ... Perih Bommy!"


"Baby," Gisel langsung merengkuh putranya itu.


Fathiyya dan Horizon tampak tenang diasuh oleh Dian. Budiman datang melihat luka telapak tangan putranya yang diperban.


"Sayang," Budiman mengambil alih Sky dari pelukan istrinya.


"Tananan pidat pisa puwat sebot ipu!" tunjuk Zaa pada tangan Sky.


"Ih ... Dat sebot!" ledek Nisa pada ponakan besarnya itu.


"Baba!" rengek Sky.


"Janan pandutin aypi anti!" tegur Maryam.


'Babis Aypi Stay peulada seudala!" sengit Zaa.


"Atuh dudah lalan woh!" lanjutnya lagi.


"Baby?" Budiman melihat putranya.


"Baba ...."


"Sudah jangan marahi baby. Ini jadi pelajaran bagi semua agar berhati-hati lagi ya!" peringat Khasya pada semua anak-anak.


"Wiya yeyan buyti!" seru Sabila dan Nabila dengan tangan penuh tanah.


"Mashaallah putri-putriku!" seru Aini.


Wanita berprofesi dokter syaraf itu sangat kesal melihat dua putrinya yang kembar itu penuh dengan tanah.


Tidak hanya tangannya bahkan muka dan bajunya juga sudah kotor.


"Kalian ngapain!" teriak Aini.


"Andi pulpul Amah!" seru dua bayi cantik itu.


"Tuh judha!" seru Xierra.


Bayi mau lima tahun itu juga sudah penuh tanah. Bart menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Ia melihat satu lubang kecil.


"Rupanya ini tempat mereka bermain," gumam pria itu.


"Sudah jangan marah-marah. Mandikan mereka!" suruh pria paling tua itu.


Aini mengajak tiga gadis kecil itu bersama untuk membersihkan diri. Sari mengikuti Aini karena putrinya juga harus dibersihkan.


"Maaf tuan, kami sudah melarang mereka tapi ...."


Dian tampak sudah lelah mengejar beberapa bayi yang berlarian. Sepuluh pengawal rupanya kurang menjaga semua anak yang aktifnya luar biasa.


Sky tampak menempel pada ibunya. Budiman pergi ke markas karena banyaknya orang mendaftar untuk menjadi bagian dari perusahaan besar itu.


Karena adanya sedikit kecelakaan. Semua anak pun rupanya sudah kelelahan. Mereka duduk di sofa panjang sambil menikmati.kudapan.


Sabila, Nabila dan Xierra sudah bersih. Kini pipi ketiganya sudah penuh makanan.


"Sasatan netnet nenat ya!" puji Meghan.


"Siapa nenek?" tanya Terra sengit.


"Netnet Teyya!' jawab Meghan sambil mengunyah.


"Ish!" Terra menciumi balita itu.


Meghan tergelak, lalu semua anak juga mau dicium. Terra tentu senang menciumi pipi-pipi gembul itu.


Enam bayi dalam kereta dorong tampak diajak bercakap-cakap oleh Arsh.


"Aypi Mila, apan baji baby Alsh banti sadhi puamimu ya!' ujar Arsh.


"Yah!" seru bayi baru satu minggu itu.


Widya berdecak mendengar perkataan Arsh. Namun Hafsah sang ibu tersenyum dan mengangguk setuju.


"Baby Mila mau sayang!" jawabnya.


"Kamu masih bayi, mana tau tugas suami!" sengit Pablo.


"Janan beulawantuh Papa!' tentang Arsh.


"Addy ... Papa luluan yan dodain apan!" seru Arsh membela diri.


"Ah!" seru Khadijah dalam keretanya.


"Uh baby ... pot, pot, pot ... Addy benpa peulisit ya?" ujar Arsh sambil menepuk putrinya Arimbi itu.


Arimbi gemas dengan bayi mau tiga tahun itu. Arsh menciumi semua bayi dalam kereta.


Usai makan siang, semua anak disuruh tidur siang. Terra tak mau dibantah soal itu, bahkan Kean yang sudah besar sekalipun Terra tak mau kompromi masalah istirahat.


"Ma, Kean mau ke tanah sebelah masjid itu!" rengek sang pemuda.


"Baby, hanya hari minggu saja loh kamu istirahat!' peringat Terra.


"Ma," bujuk Kean lagi.


"Menurut baby!" seru Rion.


Kean akan diam, pemuda itu tak akan merayu atau merajuk lagi. Rion adalah kakak panutannya.


"Sehabis bobo siang kan bisa. Lagian ini panas banget," terang Rion memberi pengertian.


Kean menurut, pemuda itu pun naik ke atas untuk istirahat. Rion memeluk Terra.


"Ma, Ion kok mual-mual lagi ya?" ujarnya.


"Kamu sakit baby?" tanya Terra langsung khawatir.


Rion merengek manja pada ibunya. Azizah sudah ada di kamarnya menyusui Ryo putranya.


"Kau sudah besar baby!" sengit Haidar kesal.


"Papa ih!" seru Terra juga sengit membela putranya.


Rion meledek Haidar. Pria itu tentu sebal, ia menggelitik Rion.


"Papa!" Rion tergelak.


Pria muda itu berlarian, Virgou yang tengah bersantai bersama Bart terkejut karena Rion langsung duduk menyela keduanya.


"Daddy tolong!" gelaknya lalu bersembunyi di ketiak Virgou.


"Baby?" Bart menggeleng melihat kelakuan bayi besar mereka itu.


"Serahkan anak itu padaku!" sengit Haidar pada Virgou.


"Daddy!" cicit Rion pura-pura takut.


"Nggak!" ledek Virgou pada Haidar.


"Hais kalian ini!" Bart kesal pada semua orang dewasa.


"Jangan saingi anak-anak kalian!" lanjutnya kesal.


"Tidur baby!" suruh Virgou pada Rion.


Rion menurut, ia berdiri dan langsung disambut Haidar dengan gelitikan di pinggangnya.


"Papa!" rengek Rion kegelian.


"Hei!' sengit Bart kesal.


"Huh . Lihat Grandpa cemburu baby!' sahut Haidar meledek Bart.


"Anak sialan!"


"Grandpa!" peringat Terra.


"Ah ... Tate Idal nanat sisilan balu!" seru Al Bara.


"Mashaallah kenapa ada bayi di sini!" seru Bart melihat Al Bara yang bersembunyi di antara guci-guci besar.


Demian langsung menggendong salah satu putranya itu.


"Baby, kenapa kamu tidak naik tidur?" tanya Demian.


"Al tan pistitipi Apah!" jawab bayi itu lugas.


"Cctv? Siapa yang menyuruh baby?" tanya Dav gemas sendiri.


"Pidat lada. Tamih beman peunasalan deunan bobolan wowan pewasa!" jawab Al Bara lagi.


Demian membawa putranya masuk ke kamar. Lidya sudah tidur bersama putrinya.


Hunian besar itu tampak sunyi. Semua anak Bart juga tengah beristirahat. Gomesh datang dengan muka bertekuk.


"Kenapa denganmu Gom?" tanya Bart kesal.


"Tuan, ada sedikit pergolakan di dunia hitam," jawab Gomesh tegang.


"Apa lagi yang terjadi?" tanya Dav.


"Semenjak tuan Sat dan Tuan Kean membom iringan penyeludupan kokain kemarin. Banyak mafia protes dan hendak menyerang kita!" jelas Gomesh lagi.


"Cari tau siapa dalang kericuhan itu!" perintah Virgou.


"Sudah ketua, mereka adalah klan-klan baru yang disetir oleh oknum petinggi," jawab Gomesh.


"Kumpulkan bukti dan lempar ke mahkamah agung! Kita lihat, bagaimana pemerintah pusat menanggapi ini!" titah Virgou.


Gomesh membungkuk hormat. Pria itu kembali pergi ke markas di mana semua kejahatan tak ada hukumnya.


Bersambung.


akan ada seru-seruan lagi nih!


Next?