
Michael akhirnya mendapatkan datanya. Dahlan benar-benar membantu bawahannya itu. Bukan itu saja Bart juga diam-diam menekan keluarga Suarez untuk memberikan data diri Michael.
"Alhamdulillah ya Allah" seru pria itu bersyukur.
"Alhamdulillah!" ujar Dahlan mengelus bahu pria bawahannya yang menangis haru.
Semenjak Budiman menjabat sebagai CEO perusahaannya sendiri. Dahlan bertugas penuh menjadi ketua pengawal tingkat dua setelah Gomesh.
"Abi ... Makan yuk. Lapar tau!" ajak Michael.
"Ayo, mau makan apa?" tanya Dahlan mengiyakan ajakan bawahannya itu.
"Kangen masakan Nona Terra dan Mommy Mar!" rengek Michael.
Dahlan menatap datar pria tampan di depannya. Michael sudah sama tabiatnya dengan perusuh. Pria itu memang bertugas menjaga para perusuh yang belum lancar bicara itu.
"Abi, pulang yuk. Makan di rumah!'
"Kamu mati kelaparan kalau pulang!" ujar Dahlan.
"Kita makan dulu ya!" lanjutnya menarik Michael ke tukang dagang ketoprak pinggir jalan.
Dua tampan duduk dan memesan ketoprak. Semua tentu menoleh, terlebih seragam yang mereka kenakan sangat kentara jika keduanya adalah seorang bodyguard.
"Sedang aja ya, cabenya satu!" pinta Dahlan.
"Saya setengah aja cabenya!" sahut Michael.
"Eh ... Mana ada cabe setengah itu Mister?' tanya pedagang bingung.
"Pokoknya cabenya setengah!' sahut Michael tak mau tau.
'Nona Angga pecinta pedas loh!" ujar Dahlan memberitahu.
"Ya aku tau!" jawab Michael.
"Semoga kamu terbiasa makan masakan pedas," ujar Dahlan.
Ketoprak tersaji, keduanya makan dengan tertib. Karena adanya dua pria tampan membuat dagangan di sana penuh manusia.
Para kaum hawa hendak duduk diantara keduanya. Tapi tatapan galak Dahlan membuat semuanya takut.
Usai makan dan membayar. keduanya pergi tanpa melihat siapapun di sana.
"Gile ... Dingin banget!" ujar salah satu pelanggan perempuan.
"Nggak kesentuh sama sekali. Apa lagi yang mirip Siwon itu!" sahut lainnya.
"Apa mereka nggak doyan cewek ya?" tanya lainnya lagi.
"Yang pasti mah. Mereka nggak suka sama cewek ganjen!" sahut pedagang menyindir.
"Dih yang ganjen siapa!" sahut salah satu perempuan tak terima.
"Neng ... Neng, dari gelagat kalian aja akang tau kok!" sahut sang pedagang sebal.
Para perempuan merengut, mereka memang ingin menggoda dua pria tampan tadi.
"Liat cincin kawin di satu cowok yang kek Siwon. Mau ah jadi yang kedua," ujar yang lain mengkhayal mesum tentang pria yang tak dikenalnya.
Sementara di kediaman Bart. Anggraini juga dibantu oleh Frans dan Leon. Data gadis itu tentu ada di panti milik Khasya.
"Anggraini Putri Astini, lahir dua puluh enam Agustus 1997, sedang Michael Suarez lahir delapan Januari 1999," jelas Khasya.
"Tua umur Anggraini ternyata," lanjutnya tersenyum.
"Jika dilihat data dari panti sebelumnya. Anggraini diambil di pasar yang berjualan kresek seperti Salim," jelas Ratna salah satu pengurus panti.
"Kita sudah menyelidikinya sampai sekarang keberadaan kedua orang tuanya memang tak ada," lanjutnya.
"Semua orang pasar mengatakan Anggraini hidup bersama anak-anak terlantar lainnya di kolong jembatan dan dikoordinir oleh oknum," lanjutnya menjelaskan.
"Apa sudah menebar foto kecil Anggraini?" tanya Khasya.
"Sudah Bu, tapi ibu tau sendiri, selama sebelas tahun tak ada satupun orang tua mengakui keberadaan gadis malang itu," jawab Ratna lagi.
"Sayang, Bravesmart ponsel belum bisa mendeteksi anak-anak yang memang sengaja dibuang ya," keluh Khasya.
Sementara di rumah sakit, Anggraini menangani pasien anak-anak. Ia hanya memakai masker dan sarung tangan karet.
Walau tanda lahir itu kelihatan, tapi banyak anak tak takut karena memang Anggriani yang cantik dan ramah.
"Nggak mau disuntik mama!" teriak salah satu anak yang menolak masuk ruang praktek.
"Nak, nggak disuntik kok. Dokter cuma cabut gigi kamu doang!" bujuk sang ibu.
"Mama boong ... Kata Indra katanya kalo gigi dicabut nanti gusinya ngikut ... Huuuwaaaaa!" teriak bocah itu terus berontak.
Bukannya tenang, anak itu malah memukuli sang ibu. Karena kesal, perempuan itu akhirnya kalap.
"Nyusahin banget sih kamu!" bentaknya lalu mendorong putrinya hingga jatuh.
Anak itu meraung dan menjerit. Akibatnya seluruh anak ikut menangis. Mereka ketakutan.
"Mama nggak mau ngurusin kamu. Sana tinggal di bawah kolong jembatan. Biar jadi pengemis kamu!" bentak ibu pada anaknya.
Sang ibu pergi, anak berteriak-teriak, bocah itu mengejar sang ibu.
Anggraini terdiam melihat kejadian itu. Ia sedikit mengingat bagaimana ia ditinggalkan begitu saja di taman.
"Nak, kamu di sini sebentar ya. Ibu mau beli minuman," ujar ibunya.
Anggraini tak ingat ia umur berapa, tapi ia masih mengempeng. Duduk di sana dari matahari terik hingga matahari mulai surut ke barat. Sang ibu tak pernah muncul.
"Ibu ... Hiks ... Hiks ... Ibu!" panggilnya.
Anggraini kecil lalu mencari ibunya. Semua perempuan ia datangi, banyak yang iba namun banyak juga yang menolak bahkan menghina gadis kecil itu.
"Ih ... Cacat ... Sana kamu!' usir salah satu perempuan.
"Anak pengemis ... Pergi kamu!" usir salah satunya lagi.
"Ih jijik amat liat jarinya cacat! Itu mukanya juga tembong!" tunjuk seorang ibu menghina Anggraini kecil.
Anggraini kecil tidur beralaskan kardus di teras sebuah toko. Hampir setiap hari ia duduk di bangku yang sama, berharap ibunya kembali datang.
"Ibu ...,"
Air mata gadis itu meleleh. Seorang suster melihat punggung dokternya bergetar. Perlahan ia mendekat dan mengusap.
"Dok?"
"Sus, saya tutup praktek dulu ya ... Hiks!"
"Ba-baik dok!" jawab perawat.
Melihat dokternya berderai air mata. Perawat itu memanggil dokter gigi lain. Anggraini mengambil tas dan stetoskop yang ia kantongi di jas snelinya. Dua pengawal wanita langsung menghampiri.
"Nona ... Nona kenapa?" tanya Wiwin.
"Tinti ... Tolong saya mau ke suatu tempat," pinta gadis itu masih berurai air mata.
Wiwin dan Nia mengangguk. Mereka pun membawa nona mereka. Di sana ada Rudi yang menyetir. Bart memang memberikan satu kendaraan untuk mobilitas anak-anaknya yang telah bekerja.
Di sebuah taman kota. Hari sudah beranjak sore. Banyak keluarga mengajak anak-anak mereka bermain. Menghabiskan weekend bersama.
Di sana banyak jajanan yang berjualan di sisi taman dengan tenda-tenda. Anggraini sangat mengingat tempat di mana ia ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi.
Tempat itu masih kosong. Anggraini duduk di sana, ia menatap orang-orang hilir mudik. Wiwin dan Nia hanya berjaga-jaga dari jauh.
"Huuuu ... Uuuu ... Ibu ... Kenapa kau tinggalkan aku di sini ibu ... Huuuu ... Uuu ... Hiks ... Hiks!"
"Apa salahku Bu ... Aku juga tak mau dilahirkan cacat ... Huuuu ... Uuuuu hiks!"
"Bu ... Malam itu dingin banget ... Anginnya menusuk tulang Bu. Huuuu ... Uuuu, Ani sakit dua hari demam. Nggak ada yang meluk huuuu ... uuuu ... Hiks!"
"Ani nungguin ibu datang .... uuuu ... huuuu ... Hiks!"
"Tapi ibu nggak datang-datang ... Huuaaaa!"
"Nak!" Anggraini menoleh.
"Papa ... Huuwaaaa ... Papa!'
Bart duduk dan memeluk putrinya yang malang. Keduanya menangis pilu. Bart terus beristighfar.
"Nak, Papa bukan maksud apa-apa. Tapi papa bersyukur kamu dibuang oleh ibumu. Kalau tidak, Papa nggak akan pernah punya putri secantik dan sehebat kamu nak!"
Setelah tenang, Anggraini dibawa pulang oleh Bart. Di mansion gadis itu disambut oleh semua perusuh.
"Ata' ... atuh mensintaimu!" ujar Arsyad yang membuat Michael merengek pada Gio.
"Ketua ... Putramu itu loh!" ujarnya kesal sendiri.
Arsyad meledek pria tampan itu. Sedang Anggraini tersenyum lebar.
Bersambung.
Ah ... Othor nangis kejer ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kesedihanmu dibayar kebahagiaan seumur hidup Anggraini.
Next?