
Setelah pulang dari mall mereka kini ada di mansion Bart. Salim menganga melihat hunian layaknya istana.
"Ini rumah?" tanyanya dengan mata besar.
"Iya sayang," jawab Kanya.
Salim berperawakan kecil dan kurus. Tapi karena kerasnya hidup yang ia jalanan. Tubuh kecilnya itu sudah berotot dan berbentuk.
"Ayo masuk!" ajak Bart.
"Assalamualaikum!" ujar Kean ketika masuk dalam mansion.
"Wa'alaikumusalam, tuan anda sudah datang!" sambut beberapa maid membungkuk hormat.
Semua tas keresek dibuka. Sania memutar tubuhnya ketika dipakaikan dress warna pink. Ia jadi tampak lucu sekali.
'Uh ... Anak ibu mashaallah cantiknya," puji Sri.
"Matasyih ipu," sahut Sania malu-malu.
"Ata' Ali ... Oya jajalin ate saus ati don!" pinta Zora pada Ari untuk diajari pakai kaus kaki.
"Sini Baby,"
Ari duduk dan mengajari Zora memakai kaus kaki. Bayi cantik itu mengangguk tanda mengerti. Sedang kembarannya memakai kain pembungkus itu di tangan.
"Tuh dah sisa!" pekiknya memperlihatkan usahanya.
Semua menoleh, Andoro tersenyum lebar.
"Itu pakainya di kaki baby," ujar Adiba.
"Amah ... Endal au eda lali ain-ain na!" sahut Vendra yang rupanya ingin beda dari lainnya.
Semua membiarkan bayi sembilan bulan itu berlaku apa saja.
Maria mengambil delapan ekor ayam. Ia sudah berjanji pada Salim untuk membuat ayam goreng tepung yang seperti di makanan cepat saji itu.
'Kakak mau buat apa?" tanya Terra lalu menggelendot manja pada perempuan itu.
"Mau buat ayam goreng tepung. Salim tadi pengen makan itu. Anak kita pasti suka semua sayang," jawab Maria.
"Ada nugget juga sama sosis kak. Te buatin semur sosis campur jamur!" sahut Terra semangat.
Layla, Rahma, Dinar dan Ariya ikut membantu. Para maid hanya membersihkan saja peralatan yang sudah digunakan.
Bau ayam goreng tercium. Ryo merangkak hingga dapur. Bayi itu sudah seperti mandor yang tengah mengawasi pekerjanya.
'Netnet ... Sasat pa'a?" tanyanya, Ryo tiba-tiba sudah di atas meja.
"Masak ayam tepung baby," jawab Maria lalu mencium pipi gembul Ryo.
"Netnet Mayiya ... Yiyo tan dat sisa Atan olenan!' protes bayi itu melipat tangannya di dada.
"Ah ... Iya ya!' sahut Maria.
"Mami yang buatin makanan enak buat kamu baby," ujar Seruni.
Lastri, Najwa, Sriani, Sri dan lainnya tampak bercakap-cakap. Tiana tengah mengawasi semua anak-anak lainnya.
"Tinti Ninana!" Arsh mendatangi Tiana.
"Iya baby," Tiana akan mengangkat tinggi-tinggi bayi itu dan menyembur perutnya.
Gelak tawa terdengar. Sri melihat bagaimana semua anak bisa mengobati luka mereka. Lidya memeluk Arif dan Sania.
Dua bayi yang tak diakui oleh ayahnya sendiri. Sedang Ustman memang belum mengerti apa-apa, jadi ia tak trauma apapun.
"Apah ... Apah!' Ustman mendekati Michael.
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu langsung mengangkat Ustman.
"Ya baby,"
"Apah ... tuh dat nyah Apah ... Apah dhi Apah Uman ya!' pinta bayi itu.
Sri sedih bukan main, Lastri mengelus punggung perempuan itu. Ustman memang merindukan kasih sayang seorang ayah. Bayi dua belas bulan itu memang tak mengenali bahkan merasakan pelukan ayahnya.
"Iya baby, aku papamu ya," ujar Michael mencium Ustman.
Ustman tersenyum lebar. Ia punya banyak papa sekarang. Fio tengah mengamati Salim.
"Nak, kamu mau papa ajarin nggak?"
"Papa?" Salim bingung.
"Iya sayang, papa!' jawab Fio tegas.
"Latihan apa ... pa ...," Salim ragu mengucap kata-kata terakhir.
'Latihan agar jadi laki-laki kuat!" jawab Fio.
Dahlan setuju, begitu juga Gomesh. Salim mengangguk, ia akan menurut.
"Nanti kita sama-sama latihan ya," ujar Sky.
Salim mengangguk, sebentar lagi tahun ajaran baru. Bocah itu tak menyangka jika dirinya akan bersekolah di tempat sama dengan Sky dan yang lainnya. Bahkan tadi Langit membelikan semua keperluan sekolahnya.
Semua anak menatap dengan binaran bahagia. Makanan kesukaan mereka ada semua di atas meja.
"Salim, Arif, Alim, Amran, Ahmad, Ari, Aminah!" teriak Bart.
Semua anak sudah berkumpul. Salim mendapat potongan dada.
"Ayam goreng tepung!' soraknya.
"Baca doa dulu sebelum makan!" suruh Herman.
Setelah membaca doa. Salim menggigit makanan itu. Tampak air matanya mengalir. Dulu, ia tertidur di pangkuan ibunya yang dipasung. Bermimpi memakan ayam yang sering ada di iklan televisi.
"Bu ... Salim makan ayam fried chicken itu Bu ... Kata ibu, Salim suatu hari pasti makan itu dengan puas!" Semua menoleh ketika bocah itu bicara.
"Ata' janan nayis ... Beustina Ata' peulsyutul!' larang Nisa.
"Biya, janan beunayisi matanan!' sahut kembarannya Zaa.
"Iya maaf ya dek," ujar Salim lalu cepat menghapus air matanya.
Lidya mengelus kepala Salim. Perempuan itu tentu tau trauma apa yang dialami bocah itu.
"Jangan sedih lagi sayang. Insyaallah kami akan mencukupi semua kebutuhanmu mulai saat ini!"
Usai makan semua anak diwajibkan untuk tidur siang. Tentu saja Salim tak bisa melakukan itu.
"Salim jam segini biasa ke pasar," ujarnya pada Sky.
Mereka sekarang ada di kamar. Salim berbaring bersama Arfhan. Sky tentu bersama Bomesh.
"Memangnya kamu ngapain di pasar?" tanya Bomesh.
"Jualan plastik sama tawarin jasa angkut belanjaan," jawab Salim.
"Oh jualan kresek itu?" tanya Sky.
"Iya itu," jawab Salim.
"Eh ... gimana kalau kita pergi ke pasar nyoba usaha yang dilakukan Salim?" sebuah ide terlontar dari Sky.
"Jangan, kamu orang kaya!" larang Salim.
"Di sana banyak anak-anak nakal dan preman kek bapak," lanjutnya lirih ketika diujung kalimat.
"Di sana ada kek pemodal awalnya jadi ada target yang mesti disetor sama pemberi modal," jelas Salim.
"Kamu bayar berapa?"
"Aku setor lima puluh ribu," jawab Salim lemah.
"Dapat setoran segitu?"
"Nggak, kadang harus ngangkut barang agak banyak dan pulang sedikit malam," jawab Salim.
"Terus kita suka rebutan pelanggan kalau papasan sama yang lain," lanjutnya.
"Kalau kita modal sendiri, nggak perlu setor kan?" sahut Arfhan.
"Nggak tau sih. Tapi di sana banyak preman dan kita wajib setor kalo nggak mau diapa-apain," jawab Salim lagi.
"Lagian buat apa sih kakak mau kerja kek gitu?" tanya Salim.
"Seru juga kali ya," jawab Sky tampa beban.
"Berat, panas dan capek kak!' sahut Salim lalu ia menguap lebar.
"Udah ah, dulu aku juga kerja kek Salim gitu. Emang benar sih kalau mesti ngasih sama preman yang jaga pasar," sahut Arfhan.
"Emang Kak Arfhan bukan bagian dari keluarga ini?" tanya Salim.
"Kakak sama kek kamu dek, diambil jadi anak sama Daddy Virgou," jawab Arfhan.
"Keluarga kalian baik-baik ya?" ujar Salim.
Sky dan Bomesh sudah tertidur, Salim melirik tiga kakak yang baru ia miliki. Arfhan berbalik dan memeluk Salim.
"Hangat, makasih kak. Kakak mau jadi kakaknya Salim," ujar Salim lalu membalas pelukan Arfhan.
"Sama-sama dek," sahut Arfhan.
"Udah bobo yuk. Nanti dimarahin Daddy kalau kamu masih melek!" ujarnya kemudian.
Salim pun tertidur, tak lama Langit membuka pintu untuk memeriksa semua anak-anak. Ia mendengar percakapan semuanya.
"Tak akan papa biarkan kalian lepas lagi dari pengawalan kami Babies!" tekadnya.
Namun, sejurus kemudian ia berdecak sendiri.
"Tapi kalau kalian diam saja. Nggak seru!" keluhnya.
Bersambung.
Iya kan ... Emang kita menantikan keseruan semau bocil mengerjai orang tua papa.
Next?