
Hari yang telah ditetapkan telah tiba. Semua bersiap dari subuh. Herman memang menyewa EO milik Kean.
Kinerja karyawan EO dan dekorasi yang dimiliki pemuda itu sangat cekatan dan juga berkelas. Karena pesta mendadak. Budget yang dikeluarkan juga sangat mahal.
"Nggak ada diskon buat papa gitu?" keluh Remario ketika melihat total biaya yang dikeluarkan.
"Kamu sudah miskin? Itu cuma seratus juta!" sengit David.
"Ayah ...!' teriaknya kemudian.
"Hais ... kamu ini!" sengit Remario.
Dav meledek pria itu dengan menjulurkan lidahnya. Gabe datang dan menatap datar Remario.
"Ck ... biasa aja keles!" gerutu Remario sebal.
"Kenapa kalian!" seru Bart melotot pada tiga pria yang berdebat.
"Gabe nggak ngapa-ngapain!" ketus Gabe.
"Diam kau nanat sisilan!" sentak Bart pelan bahkan setengah berbisik.
"Nanat sisilan ladhi ... nanat sisilan ladhi!" gerutu Al Bara.
Empat pria menoleh, satu anak kecil lewat dengan menatap malas pada mereka. Bart gemas pada bayi yang baru tiga tahun itu.
"Kau dengar apa nanat sisilan!" ujar Bart gemas lalu mengangkat bayi itu tinggi-tinggi.
"Wuyuy!" El Bara tergelak karena diciumi Bart.
Kini semua orang sudah memakai pakaian terbaiknya. Semua even sudah ada yang menangani dari sesi foto dan juga acara.
Haidar selalu jadi juru bicara keluarga mempelai. Kali ini ia mewakili dari keluarga wanita. Sedang Reno akan berbicara sebagai wakil dari mempelai pria.
Anak-anak duduk rapi, sebagian menggunakan kursi khusus karena masih bayi.
"Baby, kenapa kau buka perutmu?" tanya Layla gemas pada putrinya Hafsah.
"Enyan amih," jawab bayi belum satu tahun itu.
"Umi sayang," ralat Layla.
"Au! Amih!" tolak bayi itu.
"Ssshh!" seru Arsh meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Janan peulisit Mami!" tegurnya.
Layla melipat bibirnya ke dalam. Semua anak nampak tenang menikmati proses demi proses acara pernikahan ini.
Herman didatangi Dahlan, pria itu membisikkan sesuatu pada sosok yang paling ditakuti di sana.
"Apa kau bilang?" desis Herman tak percaya.
"Benar Yah!" jawab Dahlan juga seperti menahan amarah.
Wajah Herman berubah tak bersahabat. Detik-detik menjelang ijab qobul, mendadak ada sebuah peristiwa yang membuat pernikahan ini gagal.
"Yah!" Virgou mulai tersulut.
"Kau ikut!" ajak Herman.
"Bud! Tenangkan Remario dan lainnya!" perintah Herman.
Dahlan mengikuti, Bart sampai mau pingsan melihat Herman jadi sosok menakutkan. Terlebih Virgou juga ikut berubah.
"Baby Lid ... baby ... kejar Ayah dan Daddymu!' perintah Bart lalu terduduk lemas.
Lidya sedikit panik, wanita itu berlari, tetapi tubuhnya langsung disambar Demian.
"Iya ingin ke ayah!" pekik Lidya lalu memberi totokan pada suaminya.
Demian langsung lemas dan terduduk di lantai. Lidya berlari menuju tiga ayahnya. Beberapa pengawal hendak menghalangi.
"Jangan halangi Iya Papa!" desis wanita itu.
Lidya memang paling lembut dari semuanya. Tetapi jika wanita itu marah. Maka tak ada satupun yang berani menatapnya.
"Baby!" Terra mengejar Lidya.
Semua sedikit panik, para bayi perusuh kepo begitu juga semua orang. Kean dan Sean mengikuti tapi para pengawal menghalang bahkan Terra juga dibawa masuk oleh Fio.
"Aku mau anakku!" teriak Terra.
"Sayang!" peringat Haidar.
Terra mau menangis. Khasya juga tak bisa melakukan apa-apa.
Sedang di luar mansion. Doko datang dengan empat pria bertubuh besar. Tentu saja empat pria itu bukan tandingan pengawal SavedLived.
Deni meringkus ke-empatnya hanya delapan kali pukulan. Doko gemetaran.
Herman datang dan langsung menampar pipi pria itu hingga jatuh ke aspal. Virgou ingin menerjang tapi Dahlan menahannya.
"Ketua!"
"Lepaskan aku!" pekiknya tertahan.
Doko hendak bangkit, tapi kembali Herman memukulnya sangat keras hingga muncrat darah dari hidung pria itu.
'Mau apa kau berengsek!" teriak Herman.
"Ayah!" pekik Lidya.
"Nona ... tolong!" pintanya.
Lidya langsung memeluk Virgou. Saf datang bersama Darren dan Rion.
"Ayah ... ayah!" Saf memeluk Herman dan menjauhkan pria tua itu.
Kekuatan Saf memang patut diacungi jempol. Herman terangkat dari tempatnya berdiri. Rion dan Darren mengurus Doko dan beberapa pengawal lain ikut membawanya ke paviliun paling belakang.
Lima belas menit, pernikahan ditunda. Remario dan Rosa gelisah. Penghulu juga mulai resah.
"Bagaimana jika saya pergi dulu," ujar penghulu hendak pergi.
"Tenanglah di sana Pak!" tekan Frans dengan tatapan tajam.
Penghulu pun kembali duduk dengan wajah pucat. Ia telah menerima bayaran banyak dari pernikahan ini. Herman memanggil petugas pernikahan ke huniannya dengan bayaran tinggi.
"Saya juga mau menikahkan orang lain ...."
"Tidak ada yang menikahkan anak-anaknya di hari biasa!" semprot Leon.
Penghulu diam, ia memang harus menunggu lama. Sementara di tempat lain.
"Berengsek kau Doko!" teriak Herman kesal bukan main.
"Saya hanya ingin menikahkan putri saya Tuan ... saya mohon!" pinta Doko bersimpuh.
Wajahnya sedikit bengap akibat dipukuli oleh Herman. Virgou juga kesal dengan pria itu.
"Ayah, walau bagaimanapun. Rosa memiliki wali sah, dan itu adalah ayah kandungnya," ujar Saf memberi pengertian pada Herman.
"Tapi aku sudah membayarnya dua miliar!" teriak Herman..
"Suruh kembalikan saja uangnya Yah!" sahut Rion dengan seringai sadis.
Doko menelan ludah, ia telah membeli rumah kecil setelah diusir oleh dua anak yang ia banggakan dari mereka kecil.
"Boleh juga idemu itu. Mana uangku!" sengit Herman sambil menadahkan tangannya.
Doko menunduk, tentu ia tak bisa mengembalikan uang itu. Dia begitu percaya diri datang membawa empat tukang pukul bayaran.
"Tuan ... hiks ... hiks!"
"Ayah ... kita minta pendapat Momud ya" ujar Lidya.
Rosa bergeming ketika kabar itu diterimanya. Sosok yang dulu sangat memandang rendah dirinya datang tiba-tiba ingin menjadi wali nikahnya.
"Aku tidak mau!" tolaknya.
"Nak ... jangan begitu ... dia ayahmu. Biar bagaimanapun dia lebih berhak menikahkanmu dibanding Ayah," ujar Dinar memberi pengertian pada Rosa.
"Batalkan saja ...."
"Rosa ... jangan keras kepala!" sentak Rahma.
"Umi ...."
"Rosa ... apa kau tak melihat calon suamimu di sana menanti penuh kecemasan. Apa kau mau buat malu ayah?" desis Rahma.
"Umi ...," rupanya Rosa masih keras kepala.
"Sayang dengar!" akhirnya Layla duduk di depan pengantin.
"Pernikahan ini harus terjadi walau tidak kau inginkan. Tuan Remario sudah berkorban banyak untukmu!" lanjutnya memberi pengertian.
Akhirnya pernikahan terjadi, Doko jadi wali dari Rosa. Tangannya gemetar ketika berjabatan dengan Remario yang menatapnya tajam.
"Ananda Remario Matteo Sanz binti Howard Sanz. Aku nikahkan kau dengan putriku satu-satunya Ananda Rosa Delia Lukmanto binti Doko Lukmanto dengan mas kawin penuh keikhlasan berupa uang senilai satu juta euro dan sepuluh gram logam mulia 24 karat dibayar tunai!" ujar Doko.
"Saya terima nikah dan kawin Rosa Delia Lukmanto binti Doko Lukmanto dengan mas kawin satu juta euro dan sepuluh gram logam mulia 24 karat dibayar tunai!" sahut Remario sekali helaan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" teriak para saksi yakni Budiman dan Jac sebagai saksi kedua mempelai.
"Alhamdulillah Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir. Artinya: ”Semoga Allah memberikan berkah untukmu, semoga Allah memberi berkah padamu dan menghimpun kalian berdua (sebagai suami istri) dalam kebaikan)!"
Semua mengucap hamdalah. Tadinya Doko ingin berfoto bersama kedua mempelai. Tapi Rosa menolak, ia menatap marah pada pria itu.
"Sayang," peringat Khasya.
Akhirnya Doko pun berfoto, setelah itu Dahlan sedikit menyeret pria tak tau diri itu yang tiba-tiba ingin duduk dan menjadi pusat sungkem kedua mempelai.
"Tapi itu putriku!" teriaknya tak tau malu.
"Aku bisa merobek jantungmu keluar Doko!" tekan Dahlan.
"Aku tak akan pernah sungkan dan segan untuk melakukan itu!" lanjutnya dengan tatapan membunuh.
Empat pria bayaran tentu sudah pergi dari tadi. Doko harus puas dengan semuanya, ia tak bisa menikmati riuhnya pesta.
"Semoga kau berbahagia nak ... ayah minta maaf," ujarnya lirih di depan pagar yang tertutup rapat.
Bersambung.
Lah ... itu Doko udah minta jantung masih minta ati Ama ampelanya??
Bravo Abi ...
next?