
Darah menetes hingga lantai. Rosa menatap ibunya dengan air mata dan darah.
"Apa kau puas Ma? Jika aku anak dari wanita yang kau benci. Kenapa selama ini kau menerima semua uangku?" tanya gadis itu lirih.
"Itu adalah bayaranmu selama kami mengurusmu!" sinis Rendra.
"Mama ingin aku pergi Ma?" tanya Rosa.
Rosa tak menggubris perkataan kakak tertuanya itu. Kakak laki-laki yang tak pernah melindunginya.
"Ya!" jawab Renata tegas.
"Baik ma," angguk Rosa.
"Belikan uang pada putlaku dan kau boleh pelgi sesukamu. Beli dua miliyal!" sambung wanita itu.
"Cis ... kau bukan ibuku untuk apa memintaku memberi putramu uang?" desis Rosa.
Kepalanya sudah pusing, ia belum makan siang. Darah makin banyak mengucur dari kepalanya.
"Aku pergi sesuai keinginan anda nyonya!"
Rosa berbalik, Rendra tiba-tiba menyerangnya dengan memberinya pukulan.
Rosa adalah pengawal terlatih. Walau tugasnya merangkap pengasuh anak bayi. Tetapi tempaan selama di markas membuatnya menjadi salah satu gadis terkuat.
"Hup!"
Kepalan tinju Rendra ditangkap dengan mudah. Secepat kilat, Rosa memelintir tangan Rendra.
"Aarrggh!" teriak Rendra.
"Bangsat! Kau apakan kakakku!" pekik Denar marah.
Pemuda itu juga menyerang Rosa. Gadis itu melirik dengan mata yang digenangi darah. Ia berputar cepat dan menendang Denar.
Bug! Begitu keras hingga pemuda itu jatuh tersungkur dengan bokong mendarat keras di lantai.
"Anak kurang ajar!" pekik Doko marah.
Pria itu turun, ia mengambil vas bunga yang cukup besar terbuat dari kristal. Doko melempar benda itu ke kepala Rosa.
Lagi-lagi kehebatan Rosa diperlihatkan. Gadis itu kembali berputar dengan tumpuan tubuh kakaknya yang masih ia kunci lengannya di belakang punggung pria itu.
Prak! Vas terlempar dan menghantam meja. Rendra mengerang kesakitan karena lengannya mau patah karena diputar-putar sedemikian rupa.
"Aku lapolkan pada polisih!" teriak Renata marah.
Rosa menarik celana Rendra dan membantingnya keras hingga bunyi gedebum. Kakinya menendang mengarah tenggorokan Doko. Pria itu mendongak.
"Laporlah!" suruh Rosa.
Renata diam, kali ini ia ketakutan setengah mati. Gadis yang ia benci seumur hidupnya ternyata memiliki kekuatan sebesar ini.
"Rosa!"
Gadis itu menoleh, Remario terkejut melihat lelehan darah yang membasahi wajah gadis yang sudah menarik hatinya.
"Bawa pelaculmu itu pelgi!" teriak Renata.
Remario menatap wanita yang ada di atas. Iris hazel Remario menembus pandangan Renata. Wanita itu langsung bungkam.
"Ayo sayang, kau harus obati lukamu!" ajaknya kemudian.
Remario menendang bokong Rendra yang setengah pingsan. Menurunkan kaki Rosa yang terangkat ke dagu Doko.
"Kau harus bayar dua miliar untuk mengambil putriku. Dia masih perawan, jadi pantas ..."
Bug! Satu pukulan keras dilayangkan Remario pada rahang Doko hingga pria itu KO.
"Pa ... papa!" teriak Renata di lantai dua.
Wanita itu bermulut miring, tangannya juga bengkok begitu juga kakinya. Tentu akan kesulitan untuk menuruni tangga.
"Pembunuh!" teriak Renata.
Remario mengambil benda pipih lalu sapu tangan milik mendiang istrinya untuk menutup luka di kening Rosa.
"Datang semua ke sini. Rosa butuh bantuan hukum dan pengobatan secepatnya!" perintahnya.
Hanya dalam jangka waktu sepuluh menit. Rumah besar milik Lukmanto penuh dengan pria-pria tampan berpakaian serba hitam.
Virgou menatap tiga pria yang menunduk. Satu wanita tengah diperiksa oleh Aini. Luka Rosa pun ditangani oleh Lidya.
"Tinti, ke rumah sakit yuk. Tinti sudah banyak kehilangan darah!" pinta Lidya.
"Ini baju tinti juga sudah basah dengan darah!" lanjutnya.
Rosa tak mampu melihat apapun. Gadis itu pun roboh seketika. Rupanya Rosa menggunakan segenap kekuatannya untuk bertahan.
"Astaghfirullah!" teriak Lidya.
"Rosa!" pekik semua pengawal.
Virgou menggeleng, pria itu lagi-lagi menatap Doko. Ayah dari Rosa.
"Kau bilang apa? Rosa bukan putri kandungmu?" tanyanya nyinyir.
"Ada wanita yang ...."
"Diam!" sentak Virgou pelan namun penuh penekanan.
"Rosa adalah putrimu Doko. Kau lupa telah menikah siri dengan wanita bernama Laina Praptono?" Doko diam.
"Jadi ... kau benal-benal selingkuh?" desis Renata menangis.
"Oh ... Nyonya Renata Kusmanto!" panggil Virgou jijik pada wanita itu.
"Kau lebih menjijikkan lagi. Dua putramu itu bukanlah anak dari suamimu ini?!' lanjutnya menyeringai.
"Jangan memfitnah!" bentak Denar.
Plak! Heru menampar pipi pria itu sangat keras hingga sobek dan berdarah.
Gomesh tadinya mau ikut, tapi Maria melarangnya, Virgou juga tak mau raksasa itu ikut.
"Jangan membantah anak muda!" tekan Heru. "Atasanku sedang bicara!"
"Sudah Her ... biar dia mau bicara apa. Mereka pasti kaget jika diperiksa DNA nya," sahut Virgou santai.
"Jaga bicaramu Tuan ... istriku tidak serendah itu!" bela Doko pada istrinya.
"Doko ... Doko!" geleng Virgou.
"Jika kau tak menutupi aib wanita ini. Kau tentu masih jadi tukang patri panci keliling," ujar Virgou merendahkan pria itu.
Doko menelan saliva kasar. Ia sangat terkejut ada yang mengetahui latar belakang masa lalunya.
"Ah ... aku lelah membongkar aib mu Doko!" lanjut Virgou malas.
"Kau dan Renata sama-sama bejatnya!" ujar pria dengan sejuta pesona itu.
"Sama-sama maniak!" lanjutnya lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
"Katakan Renata. Apa benar, Denar bukan putraku?" desis Doko pelan.
"Diam kau laki-laki tak tau malu!" sahut Renata marah.
"Kau hanya numpang hidup di sini. Jadi jangan banyak gaya!" lanjutnya sombong.
"Kau!" Doko berdiri hendak memukul Renata.
Tangannya dikait oleh Denar. Pemuda itu mendorong keras pria yang ia panggil papa.
"Pergi lah jadi tukang patri keliling ... Doko!" seringai Denar.
"Nak!" panggil Doko dengan suara bergetar.
Meninggalkan keluarga Lukmanto. Virgou melarikan motor Saf yang tadi dipakai oleh Rosa. Tadinya berebut dengan Mark salah satu pengawal.
"Ketua ... aku adukan pada Ayah!" teriak Mark.
"Adukan lah ... Ayah lebih sayang aku kok ... weee!" ledeknya dengan menjulurkan lidah.
Virgou pergi ke rumah sakit di mana Rosa dirawat. Ia mendengar pengawalnya itu sudah lebih baik walau harus transfusi darah dengan O rhesus negatif dua kantung. Beruntung Putri dan Jac memiliki darah sama dengan gadis itu.
"Dia tidak apa-apa Dad," ujar Lidya memeluk pria itu.
"Makasih sayang," ujar Virgou membalas pelukan Lidya yang sangat ia sukai itu.
"Anytime Dad," jawab Lidya tersenyum manis.
Sementara itu, Remario duduk di sebuah kursi. Rosa baru saja diberi obat penenang agar ia tertidur karena ketika sadar tadi gadis itu sempat shock hebat.
"Ketika kau bangun nanti ... aku harap kau bersiap sayang," ujar Remario pelan.
Bayangan wajah istri dan putri kecilnya tersenyum. Keduanya melambai, tanda merestui Remario meniti hidup baru.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu Rosa Delia Lukmanto ...," ujarny lalu membelai kening sang gadis yang ditutupi perban.
Perlahan, Remario mengecup buku tangan Rosa. Ia pun merapikan anak rambut gadis itu.
"Besok aku jemput pulang. Anak-anak dan cucu kita menunggu," lanjutnya lalu terkekeh pelan.
Remario pun pergi keluar ruangan membiarkan sang gadis istirahat agar cepat pulih.
Rosa membuka matanya. Tetesan bening jatuh dari sudut matanya.
"Tuan ... apa benar rasamu itu?" tanyanya lirih lalu ia pun kembali menutup mata dan terlelap.
Bersambung.
Peunel Tinti ... talow pidat peulsaya ... panya Tanti lidels!
next?