
Anggraini adalah salah satu anak angkat Bart. Gadis itu telah jadi dokter gigi. Bart memang mendukung penuh semua anak-anak mencapai cita-citanya.
"Papa, Angga minta ijin pergi ke Waigeo ya," pinta gadis itu.
'Nak, kenapa mesti jauh-jauh?" Bart tentu menolak keinginan salah satu putrinya itu.
"Pa, Angga mau berbuat lebih untuk masyarakat," jelas Angga.
"Tapi di sini saja ... Nggak usah jauh-jauh," ujar Bart tetap pada pendiriannya.
"Pa, kasian saudara kita di sana. Mereka juga mau punya mulut sehat dan juga gigi kuat dan bersih!" pinta sang putri lagi.
"Tidak Angga!" Bart bersikeras menolak keinginan Anggraini.
Gadis itu sedih, ia pun mendatangi ayah yang lain, Leon dan Frans. Tapi sayang, jawaban keduanya sama dengan sang ayah.
"Nggak boleh!" jawaban Leon sangat tegas.
"Pa ...."
"Angga, kamu tau kan kami tak pernah melepas anak-anak kami jauh. Kami tidak mau kalian pergi dari kami!" jelas Leon.
"Angga cuma dua tahun aja di sana Boleh ya pa!' pinta Angga.
"Angga ... Papa bilang tidak ya tidak ya!" ujar Frans ketika gadis itu mencoba minta restu.
"Kakak mau pergi ninggalin kita?" tanya Azlan.
Azlan sudah berusia tujuh belas tahun. Ia jadi remaja tampan dan gagah, tingginya 175cm dengan bobot 69kg.
Walau sebagai pewaris tunggal milik Ardi, ayahnya. Remaja itu masih enggan bersama sang ayah. Terlebih ayahnya kini telah menikah lagi.
"Kan hanya dua tahun dek," ujar Angga meminta pengertian.
"Bayarannya lumayan, 45juta setahun," lanjutnya lirih.
"Tapi di sana mahal-mahal kak!" ujar Deta.
"45juta palingan setengah tahun udah habis!" lanjutnya.
"Kan kakak dokter. Penduduk juga pasti kasih kakak hasil panen mereka," ujar Angga lagi.
"Atau kakak bisa bawa bibit dari sini untuk tanam selada, tomat, seledri,"
"Kak cuaca di sana panas!" sahut Lina, salah satu adik mereka.
Angga menghela napas. Ia ingin sekali mengabdikan diri demi kesehatan anak-anak. Jika mulut dan gigi sehat, maka makanan yang masuk akan jadi asupan yang baik untuk tubuh.
Michael menatap gadis cantik yang duduk termenung. Pria itu memang selalu menatap salah satu putri dari Bart itu.
"Menurut kabar, Nona Angga hendak di jodohkan dengan salah satu tuan muda," ujarnya lirih.
Michael menggeleng, Anggraini paling syar'i dalam berhijab. Satu-satunya gadis yang memakai cadar.
Michael tak bisa menatap wajah gadis itu yang selalu menunduk. Anggraini paling jarang menampakkan diri karena memang ia membatasi pergaulan kecuali di tempat praktek.
"Nona Anggraini juga memilih pasien anak-anak di banding orang dewasa," lanjutnya lirih.
Anggraini menoleh karena merasa ada yang memperhatikannya. Michael langsung merona. Mata Angga membesar, ia langsung menunduk.
Deg! Deg! Deg!
"Ya Allah ... Tolong jangan begini," pintanya lirih.
Anggraini sangat takut dengan perasaan yang datang tiba-tiba. Ia juga jarang berbaur dengan keluarga karena banyaknya pengawal berwajah tampan di sana.
"Aku manusia biasa. Disajikan wajah-wajah yang sedap di pandang mata. Siapa yang menolak?" gerutu gadis itu menyalahkan dirinya sendiri.
Angga memilih pergi dari tempat itu. Ia akan mencoba membujuk Virgou, pria yang paling ia takuti.
"Ah ... Papa saja nolak apa lagi Daddy!" keluhnya menyerah duluan.
"Kamu kenapa sayang?" Saf melihat kegelisahan salah satu adiknya itu.
"Uma," rengek Angga.
"Sayang, ada apa?" tanya Saf lembut.
"Angga mau ijin dinas ke Waigeo ...."
"Nggak boleh baby!" sahut Saf langsung.
"Uma ... Angga mau berguna untuk saudara kita di sana!" ujar Angga.
"Angga ... Kami tidak mau kamu jauh-jauh. Cukup di sini saja!" ujar Saf.
"Di sini kan banyak saudara, satu pergi kan nggak masalah," sahut Angga lirih.
Angga menunduk, begitu banyak orang di mansion besar itu. Ia tak menampik jika kasih sayang Bart selalu rata dan tak ada pilih kasih.
"Apa kamu merasa jika kamu tidak kami perhatikan?" tanya Saf tajam.
Angga masih menunduk, ia memang salah mengatakan hal tadi.
"Walau kau jarang menampakkan diri bersama kami karena kau membatasi diri karena pakaianmu. Kami selalu ada untuk kamu!"
"Uma ...," Angga merasa bersalah.
"Sayang, percayalah. Walau saudaramu banyak, kami tidak pernah luput satupun memperhatikan semuanya!" ujar Saf.
Angga sangat tau itu. Bahkan Salim anggota baru di sini mendapat perhatian penuh. Ia juga sangat sayang dengan bocah piatu itu.
"Jadi jangan pergi ya, di sini saja," pinta Saf.
Anggraini mengangguk, ia sudah menyerah. Ia yakin semua orang tua melarangnya untuk pergi jauh-jauh.
Gadis itu ingin sekali mengabdikan ilmunya di pedalaman Papua. Ia ingin semua anak di sana hidup sehat karena mulut dan gigi mereka juga sehat.
"Di sini juga banyak anak-anak yang butuh gigi dan mulut sehat," ujar Saf.
Angga menghela nafas panjang. Ia tau jika keluarga ini sangat menyayangi mereka. Dirinya saja memiliki dua pengawal wanita yang mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Ya udah deh, Angga mau bikin program sehatkan mulut dan gigimu," ujar gadis itu.
"Kakak mau apa?" tiba-tiba Ajiz datang.
"Mau buat program kesehatan gigi dan mulut," jawab Angga.
"Ikut sih kak!" pinta Ajiz.
"Eh ... Kamu mesti sekolah!' tolak Angga langsung.
"Mau buat sesuatu juga. Ajiz Alhamdulillah kemarin dapat hadiah juara tiga hafal hadist," ujar remaja itu.
Ajis berusia enam belas tahun. Remaja itu juga sudah menampakkan ketampanannya. Mata hitamnya, alisnya yang bagaikan kepakan sayap burung elang. Tatapan Ajiz juga sangat tajam dan menusuk.
"Kamu juara tiga? Kok tumben?" tanya Saf.
"Kemarin Ajiz anggap enteng lawan Uma," aku remaja itu malu.
'Pelajaran buatmu sayang," ujar Saf mengelus kepala anak yatim-piatu itu.
Angga batal mendaftarkan diri ke Papua. Kemarin ketika liburan empat hari di sana ia belum puas menyusuri tempat indah itu.
"Papua masih begitu asri, padahal dunia mulai berkembang. Katanya di sana dibangun sebuah studio khusus yang memutar alam Papua dalam layar empat dimensi," lanjutnya melamun.
Anggraini membayangkan bangunan megah yang dibangun oleh pemerintah yang memudahkan para wisatawan untuk menikmati keindahan alam tanpa perlu pergi ke tempatnya.
Anggraini melepas cadarnya ketika di kamar. Ruangan dengan luas 8x6 meter persegi itu didominasi warna soft pink. Wajah cantik berbentuk bulat, terlihat. Mata jernih dan lesung pipit. Sungguh Anggraini sangat sedap dipandang.
Satu kaligrafi karya Azlan terpajang di sana. Gadis itu merebahkan diri setelah melepas hijabnya.
"Papa Michael ganteng juga ya," gumamnya.
"Astaghfirullah!"
Anggraini terkejut sendiri, ia menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Sementara Michael kini berhadapan dengan Haidar. Pria itu baru mengatakan perasaannya pada salah satu atasannya itu.
'Jadi kamu suka sama Angga?' Michael mengangguk.
"Apa kau yakin, Anggi sedikit tertutup. Kamu tidak menyesal jika wajahnya tak sesuai dengan apa yang kamu harapkan?" tanya Haidar tentu waspada.
"Jujur aku akan melarangmu melihat wajah adikku jika hanya untuk kau tolak!" lanjutnya keberatan.
"Tuan, saya tetap menerima apapun yang saya lihat," ujar Michael berjanji.
Haidar menghela nafas panjang. Bart seorang pria yang sedikit susah untuk melepas putrinya menikah cepat.
"Aku coba bicarakan ini semua sama grandpa," lanjutnya.
"Doakan saja dia mau memberikan putri terbaiknya untukmu,"
Bersambung.
Wah ... Apa diterima?
Pulau Waigeo adalah pulau yang berada di Papua Barat Daya di bagian timur Indonesia. Pulau ini dikenal juga dengan nama Amberi atau Waigiu. Pulau Waigeo adalah pulau terbesar dari empat pulau utama dari Kepulauan Raja Ampat.
Next