THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
JABAL UHUD



Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada hari sabtu, tanggal 23 Maret 625 M (7 Syawal 3 H).


Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badar.


Tentara Islam saat itu berjumlah 1000 orang namun dihasut oleh Abdullah pimpinan kaum munafikin dari madinah sehingga kaum munafik saat itu mundur dari medan perang yang berjumlah 300 orang sehingga jumlah tentara kaum muslimin yang mengikuti Perang Uhud Fisabilillah yakni berjumlah 700 orang.


Sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan.


Disebut Pertempuran Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.


Peperangan itu tentu dimenangkan oleh tentara Quraisy dan tentara Islam kalah.


Kekalahan tentara Islam tentu karena kehendak Allah agar selalu ingat jika semua sudah tertulis dan tercatat.


Penjelasan yang lebih lengkap bisa dibaca di Hadis Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 52, Nomor 276.


(Sumber Wikipedia dan berbagai catatan kaki).


Para peziarah di sana dilarang mengabadikan apapun bahkan dilarang berdoa untuk para syuhada yang telah gugur.


Ziarah berlanjut ke rumah Rasulullah. Tempat satu-satunya bangunan bersejarah yang masih dijaga kelestariannya oleh pemerintah Arab Saudi. Karena bangunan lain dihancurkan untuk menghindari penyembahan berlebihan.


Semua keluarga tampak menyimak kisah nabi yang diagungkan oleh seluruh umat muslim.


"Lihat Pa, tempat tidur Rasulullah hanya sebuah dipan tipis dan beralas tikar," ujar Rosa.


Rosa dan Remario adalah pengantin baru satu minggu, keduanya belum menjalankan malam pertama mereka karena perjalanan ibadah haji ini. Remario menatap kamar berukuran kecil itu.


"Beliau adalah manusia pilihan sayang," ujar Remario.


"Tentu tingkat keimanan dan kekhusyukanya pada Allah beda dengan kita," lanjutnya.


"Aku kangen anak dan cucu kita yang ketinggalan di rumah sayang," rengek Rosa tiba-tiba.


"Aku juga kangen," sahut Remario tersenyum.


Pria itu menahan semua keinginannya untuk menjamah sang istri. Rosa bukan melarangnya, tetapi ibadah kali ini memang tak bisa memakai istrinya. Remario juga mau fokus pada ibadahnya.


Setelah mengunjungi rumah Rasulullah. Mereka kembali ke hotel, waktunya makan siang. Para bayi sudah lapar, ibu-ibu yang masih menyusui anak-anaknya tentu sigap mengambil bayi-bayi kelaparan itu.


"Amah ... apan!" Ryo mulai merengek.


Azizah buru-buru masuk kamar setelah Rion membuka pintu. Ryo tentu langsung mencecap kendi yang ada di dada ibunya. Rion mengunci pintu.


"Ma ... papa juga haus," rengek pria itu.


"Mas baby," keluh Azizah ketika Rion ikut berulah.


Sementara di hunian besar Bart. Subuh hari mereka sudah bersiap. Janji Gomesh membawa ke sebuah kota sejuk Bogor akan ditepati saat ini.


"Apa sudah siap semua sayang?" tanyanya pada Maria sang istri.


"Sudah Mas," jawab Maria memasukkan semua bekal makanan ke keranjang piknik.


Reno dan Langit juga telah bersiap. Fael dan Angel sudah terlelap kembali begitu juga Domesh, Bomesh dan Bariana.


Mereka memakai mobil elf untuk berpergian. Tentu Reno menyetir, Langit yang tengah mabuk dan mengalami cauvade sindrom tentu ada di kursi sebelah kemudi.


"Sudah siap dan tak ada yang ketinggalan kan?" tanya Gomesh sekali lagi.


"Tidak papa. Kalau ada kita beli saja di sana!" jawab Nai sedikit sebal pada pria itu.


Gomesh terkekeh, ia memang selalu begitu. Memastikan jika tak ada yang tertinggal.


"Tuan saya nggak diajak?" Marco dan Michael menghiba.


"Astaga!" Gomesh kaget.


"Tidak kalian jaga rumah!" perintahnya yang membuat muka dua pengawal tampan itu cemberut.


"Tuan ... aku mohon!" pinta Michael lagi-lagi menghiba.


"Yang jaga rumah siapa bodoh!" teriak Gomesh lagi.


Akhirnya Marco dan Michael menatap kendaraan besar itu pergi dari halaman. Keduanya menghela napas panjang.


'Kita ditinggal beneran ... hiks!" rengek Michael sedih.


Namun melihat mobil berhenti. Keduanya saling pandang.


"Cepat kalian!" bentak Gomesh mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.


Sukma, Ambar dan Christy hanya menatap lesu mobil yang telah menghilang dari pandangan.


"Masih ada Deon dan lainnya berjaga di mansion. Sudah lah. Mereka kan memang dekat dengan keluarga," ujar Christy menyemangati rekannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan yang masih sepi. Maria, Nai dan Arimbi memilih kembali tidur.


Maria tentu ada di sisi suaminya. Sedangkan dua bayi berada di bangku tengah dengan kursi khusus.


Arimbi duduk bersama Nai di kursi bagian depan dengan kaki selonjor sejajar dengan kursinya.


Perjalanan ditempuh selama dua jam. Mereka sampai pada satu kebun paling terkenal di sana.


"Mataharinya cerah banget!" seru Langit senang.


Pria itu membantu Dua pengawal yang mendadak ikut. Maria membawa dua wanita hamil menuju tengah taman.


"Seger banget udaranya Mom!' ujar Nai merentangkan tangan dan menghirup udara rakus.


Anak-anak dibiarkan bermain di rumput. Beberapa kijang yang ada di sana berlarian karena suara anak-anak yang ingin mengejarnya.


"Babies!" teriak Gomesh menghentikan lari mereka.


"Papa dada jijan papa!" pekik Fael memberitahu.


"Nggak boleh lari-larian!" larang pria raksasa itu.


Reno, Langit, Michael dan Marco menggelar tikar lebar dan meletakan makanan yang telah disiapkan Maria.


Dua wanita hamil sedikit berolahraga bersama. Domesh membawa adik-adiknya ikut serta berolah raga.


Usai olahraga mereka berkumpul. Semua mengaku kelaparan.


"Ommy ... jejel papal!" rengek bayi mau tiga tahun itu.


"Sabar baby!" ujar Maria heboh.


Mereka pun sarapan bersama sambil menikmati alam sekitar. Usai sarapan. Nai membawa suaminya berfoto-foto bersama anak-anak.


Reno dan Arimbi memilih berjalan bermesraan menikmati sejuknya udara.


"Sayang," Gomesh meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.


Jemari lentik Maria mengusap kening lebar suaminya. Sesekali wanita itu mengecup kening itu.


"Papa udah ada uban loh," ujar Maria memberitahu.


"Aku sudah tua sayang, anakku sudah ada yang menikah bukan?' jawab pria itu.


"Iya sayang ... bahkan sekarang akan memberimu cucu yang banyak!" jawab Maria melihat dua wanita yang berpose saling berpelukan.


"Papa yakin, Saf akan repot dengan dua wanita manja itu!' kekeh Gomesh.


"Sayang ... mereka putri-putrimu!' Maria juga ikut tersenyum mendengarnya.


"Sayang," Gomesh mengalihkan pandangan istrinya terfokus hanya padanya.


"Aku sangat mencintaimu!' ungkapnya sangat tulus.


"Terima kasih telah menerimaku, menjadikan aku suamimu ...."


"Sayang ... kau adalah malaikat penolongku. Aku akan sangat bodoh jika menolakmu," ujar Maria.


"Kau tidak menyesal menikah dengan aku?" Maria menggeleng.


"Tidak ada sedikitpun penyesalan. Terlebih kau menghadirkan banyak anak untukku. Kau juga menghadirkan sebuah keluarga besar padaku!" jawab Maria lagi.


"Ba bawu sayang," ujarnya lalu mengecup bibir suaminya.


Semua anak bermain dan bercanda. Mereka membiarkan sepasang manusia yang tengah saling memagut bibir. Hingga ....


"Ommy ... janan matan pipil Papa!" teriak Angel lalu menangis.


Bersambung.


Ah ... dunia ...


othor juga masih jomblo ... hiks ..


next!