THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
BERITA PERUSUH



"Theo!' panggil Bart.


Theo yang baru saja kembali dari mengawal Darren datang mendekat. Sepasang mata bulat jernih tampak penasaran dengan pria kaku mendekati pria paling tua di sana.


'Pa'a yan teulsadhi?' gumamnya dalam hati.


'Seupaitna atuh iputin ... Anti Paypi basti suta talo El delat sepat!' lanjutnya.


Lalu tanpa ada yang mengetahui bayi tampan itu sudah ada di balik sofa ruang tamu di mana Bart dan Ratheo berada.


"Ratheo, aku hendak menjodohkanmu dengan salah satu putriku, Ratini!" papar Bart langsung.


Bart memang tak pernah berbasa-basi untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan. Pria itu juga merasa jika putrinya sudah cukup umur untuk menikah.


"Saya tuan?" tanya Ratheo pura-pura tak tau.


"Ck! Jangan pura-pura Theo! Aku tau kau baru saja menemui putriku bukan!" sengit Bart yang membuat Theo tersipu malu.


"Dasar anak sialan!" umpat Bart kesal.


"Pake selipkan bunga liar lagi!" lanjutnya mengumpat.


"Tuan!" Theo makin malu.


"Sudah, kau siapkan bersama Fio. Kalian berdua akan menikah secara bersama!" ujar Bart memerintah.


"Dari sekian banyak pengawal, kenapa saya Tuan?" tanya Theo berani.


Bart menatap pria yang memang baru ia temui. Hatinya memang tidak pernah salah memilih. Ratini ia asuh selama tujuh tahun.


"Hatiku yang memilih Nak," jawab Bart jujur.


Theo menatap pria itu lama. Setelah Herman yang sampai sekarang ia belum berani menatapnya. Kini sosok Bart membuatnya jadi pria lebih hangat.


"Percaya nak. Jika kau tanamkan cinta. Kau pasti akan merasakan kenyamanan di keluarga ini, belajarlah cepat!" ujar Bart menatap Theo.


Theo membungkuk hormat. Pria itu pun berlalu. Bart menghela nafas. Tiba-tiba perhatiannya teralih dengan sosok bayi yang mengikuti Ratheo.


"Mashaallah ... Cicitku!" sengitnya gemas dalam hati.


Theo mencari keberadaan Ratini. Gadis itu memang jarang berinteraksi dengan keluarga. Ia mengurusi semua adik-adiknya yang diangkat anak oleh Bart.


"Kak, setelah dua kakak menikah. Kakak dan Kak Jelita juga akan menikah sebentar lagi?" tanya Deta menatap gadis bertubuh montok di depannya.


Ratini mengelus pipi Deta. Ia menatap Azlan dan lainnya. Perlahan ia mengangguk.


"Terus kami sama siapa kak?" tanya Adiah, anak perempuan yang lain.


Sisa anak angkat Bart ada empat puluh lima. Azlan jadi anak paling tua jika Ratini pergi karena menikah. Sementara sisanya seusia Samudera, Benua dan Ditya.


"Kalian bisa saling jaga dek. Kakak juga nggak pergi meninggalkan kalian begitu saja. Sama seperti kak Angga dan Kak Raini. Kami masih mengurusi kalian kan?"


"Kak Azlan sebentar lagi pasti ikut papanya," sahut Derry pelan.


"Nggak ... Aku nggak akan pergi dari kalian!" bantah Azlan.


"Kak, ayah kakak sudah sering datang loh! Beliau sering ajak kakak pergi!" sahut Delima.


"Iya, kadang kakak juga suka menginap kan?' sahut Diki.


Azlan diam, ayahnya memang sering mengajaknya. Walau pria itu telah menikah lagi, sang ibu sambungnya juga sangat menyayangi Azlan.


"Pokoknya kakak nggak akan pergi!" janji Azlan.


"Aku nggak yakin!' sahut Deta lemah.


"Hei ... Jangan begini!" lerai Ratini sedih.


"Sudah kakak bilang tadi. Kakak nggak akan pergi dari kalian!"


Ratini mengusap pipi basah para adik perempuan. Theo menatap semua anak yang bertangisan di sana.


"Papa, endon!"


"Astaghfirullah!" pria itu kaget setengah mati.


El Bara ada di sisinya dan minta gendong. Pria itu pun mengambil El Bara dan menggendongnya.


"Pita teusana yut!" ajak El sambil menunjuk sekelompok saudaranya itu.


Theo pun menyambangi semua anak yang berpelukan. Jelita belum pulang dari prakteknya.


"Dek!" Ratini menatap pria yang memanggilnya dengan mata basah.


Theo duduk dengan El Bara dipangkuannya. Bayi itu menyandar di dada bidang Theo.


"Ada apa ini, kenapa kalian menangis?" tanyanya gusar.


Semua menunduk, tentu mereka hanya takut tak disayang lagi oleh kakak mereka yang telah menikah. Walau ketakutan itu tak mendasar sama sekali.


"Papa janjikan jika kalian tak akan pernah berpisah dengan kakak kalian ini!" ujar Theo menjanjikan.


"Papa nggak bawa kak Tini jauh-jauh kan pa?" tanya Deta.


Anak-anak pun pergi. Tapi El Bara tetap berada di pangkuan Theo. Bayi itu menolak ikut Azlan.


"Dek, tadi Tuan Bart sudah menanyakan kesediaan ku dijodohkan denganmu," ujar Theo memberitahu.


Ratini menunduk, gadis itu selalu tersipu. Theo menatap gadis bulatnya. Ia jadi ingin segera menikahi Ratini.


"Teruslah berdoa dek. Tidak lebih dari dua minggu, kita akan bersatu di mahligai pernikahan. Aku akan halal untukmu dan kau juga halal untukku," ujar Theo lembut.


Ratini menunduk, tangannya saling meremas. Theo dengan berani menggenggam tangan itu. Keberadaan bayi dalam pangkuannya tak dirasa sama sekali.


"Wahai gadis bulatku. Sungguh, aku ingin segera mempersuntingmu dan memelukmu erat!' ungkap Theo.


"Bang," Ratini melepas genggaman tangan pria itu.


"Dek, aku mencintaimu!' ujar Theo tulus.


Ratini menatap pria di depannya dengan seksama. Gadis itu menelusuri dan mencari kebohongan di mata Theo.


"Bang?" air matanya pun meleleh.


"Aku mencintaimu Ratini Andoro. Aku benar-benar mencintaimu!" ungkap Theo lirih.


"Aku juga mencintaimu bang," jawab Ratini lalu menundukkan kepalanya.


Ratheo tersenyum lebar. Pria itu merasakan getaran di dadanya yang menggila. Untuk pertama kalinya ia merasakan rasa yang begitu dahsyatnya.


"Kau tau, aku gemetaran sekarang. Seakan jutaan listrik mengalir dan menyetrumku," aku Theo.


"Apa Abang yakin Abang cinta aku? Kita baru bertemu," ujar Ratini menjawab.


"Aku yakin jika aku jatuh cinta padamu gadis bulatku. Bahkan pertama aku melihat fotomu, aku mengikuti kata hatiku!' jawab Theo begitu tegas.


"Lalu bagaimana denganmu Dek?" tanya Theo.


"Aku seorang gadis bang. Aku hanya bersandar pada omongan pria yang telah menggetarkan hatiku," jawab Ratini juga tegas.


"Dan Abang telah menggetarkan seluruhnya," lanjutnya lalu menunduk dengan muka memerah karena malu.


"Bismillah ya dek. Kita guncang arsy-nya Allah. Kita minta agar segera disatukan dengan pernikahan!" ujar Theo penuh pengharapan.


"Iya bang! Semoga Allah meridhoi kita!' ujar Ratini.


Theo tersenyum bahagia. Ia baru merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dirinya diinginkan oleh orang lain. Begitu juga dirinya yang sangat mengharapkan Ratini.


Theo menggendong El Bara dan menciumi bayi itu.


"Baby, papa bahagia baby!" ujarnya.


El Bara pun diturunkan, bayi itu yang meminta. Lalu perusuh paling kepo itu langsung bertemu dengan semua saudaranya.


"Days!"


Semua anak menoleh padanya. Bayi itu berjalan dengan cepat. Ia nyaris terjatuh jika saja Dian tak menahannya.


Semua pengawal tentu mengikuti para bayi super heboh itu.


"Pa'a ... Lada pa'a Aypi?" tanya Zaa langsung.


"Anti teusil ... Lada peulita beuntin!' jawab El Bara penuh semangat.


"Peulita pa'a?" tanya Fael.


"Papa Peo atan beunitah denan Ata' Latini!' jawab El Bara.


"Pita pudah tawu ipu baby!' sengit Zaa, Chira dan Aarav bersamaan.


"Oh pudah ya?" semua mengangguk.


"Tata papa Peo, Ata' Latini pipandhil dadhis pulat!' ujarnya memberitahu.


"Dadhis pulat?" tanya Aaima dengan mata bulatnya.


"Biya!' jawab El Bara.


"Nadhi-nadhi papa! Sejat tapan Ata' Latini sadhi lintalan?" sengit Maryam kesal.


"Lintalan? Talo Ata' Latini ipu lintalan. Padhian lintalan pa'a Ata' Latini?" tanya Aarick Starlight.


"Pintalan seusil ... pintalan seusil ... Pintalan peusal ...!' sahut Horizon bernyanyi.


"Ata' Tatini lintalan peusal bastina!" sahut Aisyah memastikan.


"Teunapa?" tanya Arsh.


"Apan Baji Baby Alsh, talo lintalan teusil Ata' Latini basti pidat muwat!' jawab Aisyah.


Bersambung.


Yah ... Atur ajah deh.


Next?