THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KESERUAN



Waktu memang tidak bisa diberhentikan. Hari pernikahan sebentar lagi dilaksanakan.


Virgou, Budiman dan Dahlan harus berputar keras untuk membuat sebuah pesta yang meriah sesuai keinginan Bart.


"Dad, kasihan mereka!" ujar Frans yang tak tega melihat tiga pria sudah kusut mukanya.


"Aku ingin yang terbaik untuk anak-anakku!" seru Bart tak peduli.


"Pa, yang sederhana saja ya. Lagian Jelita dan Ratini nggak punya banyak teman untuk diundang," ujar Ratini menenangkan ayah angkatnya.


"Iya pa, lagian Kak Fio juga sudah bilang jika ayah dan ibunya tidak bisa datang karena kendala cuaca. Di sana sedang ada badai hingga satu minggu ke depan," ujar Jelita.


"Nak, aku yang punya banyak kenalan dan kolega. Mereka tak percaya jika aku bisa membuat kalian sesukses sekarang!" sahut pria itu tak mau kalah.


"Pokoknya, pernikahan kalian harus yang terbaik. Sama dengan pernikahan Angga dan Raini!" lanjutnya tegas.


"Dad, yang mau menikah adalah anak-anak. Jangan memaksakan kehendakmu!' ujar Frans kesal.


"Kau membantahku. Aku menyuruh Boy, Budiman dan Dahlan yang bekerja, bukan dirimu!" sentak Bart marah.


Frans hampir saja menyenggrang ayahnya. Tetapi Lastri menenangkan suaminya. Ia mengajak pergi pria itu dari sana.


"Sayang, Daddy itu sudah keterlaluan!' sengit Frans.


"Tapi membantahnya bukan solusi terbaik sayang!' seru Lastri mengingatkan.


"Daddy tak melihat jika Boy, Budiman dan Dahlan juga punya keluarga. Semua keinginan Ratheo dan Fio dia tolak! Aku kasihan sama tiga pria itu!" ujar Frans beralasan.


"Ah, andai ada Leon!" pria itu masih mendumal.


Leon ada di Eropa untuk mengurus kerjasama. Pria itu ditemani Calvin yang juga diminta Dominic mengurus beberapa berkas perusahaan. Demian dan Jac memang melepas pemuda itu berkembang karena akan memimpin perusahaan yang dimiliki Dominic sebelum triple Starlight dewasa nanti.


Seruni yang tengah mengandung tampak morning sick berat. Wanita itu baru keluar dari kamar ketika sore tiba.


"Mami keluan mami!" teriak Rinjani kesal.


"Baby biarkan mami istirahat ya!' ujar Azha menenangkan adiknya.


"Ata' ... Mami teunapa?" tanya Rinjani yang berusia empat tahun.


"Mami sedang ada Dede bayi dalam perutnya. Jadi mami harus ngasih makan Dede bayi dulu," jawab Azha asal.


"Oh ... Sadhi mami teuluanin payi talam peyutna ya?" tanya Rinjani yang diangguki Azha.


"Talo pudha teulan pa'a payina bimasutin te peyut mami ladhi?" tanya Rinjani memastikan.


"Iya baby, ade bayinya dimasukin ke perut mami lagi. Jadi nggak boleh ada yang liat!" jawab Azha sekenanya.


Rinjani akhirnya tak rewel lagi. Balita itu berkumpul dengan saudaranya yang lain.


"Days ... Lada yan atuh pupa!' sahut El Bara mengingat sesuatu.


"Pa'a?" koor semua bayi bertanya.


"Tata Papa Peo talo piya pidat atan peuldhi dali mumah imih!" lanjutnya memberitahu.


"Aypi ... Apah Cecel pama Mami Naninini ugha dat euldhi!' sahut Zora.


"Papa Pecel suta pawa mami peuldhi beuninap pimumah nah woh!" Maryam mengingat jika Michael suka membawa istrinya pulang ke rumahnya.


"Pati beumana teunapa talo papa Peo pindhal pisimih baby?" tanya Chira.


"Tan pidat pasalah!" lanjutnya memaklumi.


"Putan ipu basalahna!" sahut El Bara menghela nafas panjang.


"Basalahna peultataan Papa Beo ipu!" lanjutnya kesal.


"Beumana pa'a yan papa pilan?" tanya Sena Starlight.


"Tatana Papa nunpan bidup pisimih!" jawab El Bara.


"Pumpan bidup?" semua mata membelalak ketika bertanya hal itu.


"Pa'a ladhi ipu?" tanya Arsyad tak mengerti.


"Lada ladhi yan baneh!' sahut El Bara yang menguat semua bayi menggaruk kepalanya.


"Tatana pestiyap papa Peo pihat Ata' Latini, papa Peo padanna pilalilin bistlit!" lanjutnya memberitahu.


"Bilalilin pistlit? Batsutna teulseltum?" tanya Aaima dengan mata bulat tak percaya.


"Biya!" jawab El Bara antusias.


"Beumana Papa ipu BLN pa'a!" sengit Aarav.


"Buntin papa bunya daldu bistlit puwat beunsalain sintah talam batina!" sahut Fathiyya sok tau.


"Sintah?" tanya semua bayi memandang Fathiyya.


"Lada ladhuna tuh!" sahut Aaima.


"Janan yan ... Tuh beuyanisss!" sengit Zaa mencibir.


"Butan ... Atuh ipu pudah pisa siptain ladhu woh!' ujar Aaima bangga.


"Beumana piya baby?" tanya Zaa pada Zizam adik dari Aaima.


"Biya!" angguk Zizam.


Tadinya Zaa menutup kupingnya. Ia memang tak suka jika Aaima bernyanyi lagu "ku menangis" itu.


"Ladhuna tayat dhimana?" tanya Aaric penasaran.


"Batituh suni delap dulita ... Atuh putuh bistlit puntut beunalatan sintahmu ...."


Aaima menyanyikan lagu dengan nada sembarangan. Ia bernyanyi dengan sepenuh hati. Dian merekam semua kegiatan bayi-bayi kepo itu. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum.


"Tolon sintaih atuh ... teulani abtihtuh denan sintahmu ... Nyalatan pistlit adal pidat letas padam!" sahut Aaima.


"Atuh pawatan euntau lilin ...," Fael melanjutkan lagu Aaima.


"Janan lilin!' sahut Angel.


"Tot janan. Mommy talo bati pampu pi mumah nyalain lilin!" sahut Fael.


"Janan lilin ... Lada selita hololna!' sahut Angel lagi.


"Holol?" semua bayi teralihkan dari satu kisah ke kisah lain.


Dian sudah kram perutnya. Ia menahan tawa setengah mati. Sementara rekan-rekan lainnya hanya bisa menyembunyikan tawa mereka.


"Biya ... Watu ipu pipi yan suci paju bi mumah netnet Nania peulnah pilan lada bapi nepet!"


"Bapi nepet?!" semua bayi tentu baru tahu cerita klasik tentang hal itu.


"Biya ... Tatana ... Peutanda pi tampunna piyala pabi nepet ...."


"Pabi nepet matanana pa'a?" tanya Fatih.


"Tatana ipu butan wewan pati banusiya!" sahut Aaima tak menjawab pertanyaan Fatih.


"Janan seumpalanan nomon tamuh Paypi!" sergah Zaa tak percaya.


"Beunel ... Tatana ... Wowan ipu pate zatet tusyus yan pisa peulupah sadhi wewan ... Eum ... Bisluman!" lanjut Aaima bercerita.


"Pisulan?" seru semua bayi dengan mata besar.


"Putan pisulan ... Pati bismulan eh ... Bisluman!" ralat Aaima.


"Tot Pisa?" tanya Arsyad penasaran.


"Eundat pahu. Tatana syih lada bantela sihin yan pisa puwat banusiya ipu sadhi bisluman," jawab Aaima lagi.


"Tewus, tewus?" tanya Aarick yang begitu penasaran dengan cerita selanjutnya.


"Tatana bisluman ipu suta sali uan tenah balam puta!' lanjut Aaima dengan suara besar.


"Dan lada wowan yan sadha lilin pi mumah bisluman ipu!" lanjutnya.


"Sadha lilin?"


"Puwat pa'a? Pa'a lada yan lulan pahun?" tanya Xierra penasaran.


"Tatana talo api lilin doyan-doyan ... Wowan yan jadha halus sepet-sepet siup lilina!' jawab Aaima.


"Teunapa?" tanya Zaa yang juga penasaran.


"Tatana lada pahaya!" jawab Aaima.


"Sadhi pisluman pabi nepet puspaya sepet taya laya?' Aaima mengangguk.


"Pa'a pita taya laya?" tanya Chira pada semua saudaranya.


"Beumana taya laya ipu tayat padhaipana?" tanya Sena Starlight.


Semua menoleh pada Dian yang memegangi perutnya. Gadis itu tentu gugup setengah mati.


"Tinti tidak tau baby!" jawab gadis itu.


"Janan bolon Tinti!" ujar Zaa tak percaya.


"Banti Tinti peulbosa!" lanjutnya mengancam.


"Kaya raya itu adalah keadaan ekonomi yang punya banyak uang dan tidak kesusahan baby?" jawab Dian pada akhirnya.


"Pa'a pita taya laya?" tanya Fatih.


"Iya ... kalian kaya raya ... tapi tidak hasil dari jalan haram!" jawab Dian menegaskan.


"Pa'a ladhi salan halam ipu!" decak Aisya kesal.


"Nanti kalian kalau sudah besar pasti tau!" jawab Dian yang membuat semua bayi protes.


"Peslalu beudithu!"


"Babies Nini Najwa buatin kalian puding mangga ... siapa mau?"


"Psaya!" seru bayi dan melupakan semua obrolan mereka.


Bersambung.


Atur babies ... Mau kalian ngobrol apa.


Next?