
Semua anak kembali sekolah. Harun, Salim, Azha, Bariana, Arraya dan Arion sudah sehat seperti sedia kala.
Terra cemas terhadap putrinya yang spesial itu. Ia menatap Herman.
"Bukannya kemarin ayah sudah tutup mata batinnya?"
"Ayah tidak tau sayang. Kadang mata batin yang sudah terasah akan kembali terbuka. Kita sepertinya harus sering membawa anak-anak untuk bermain interaktif, agar perhatiannya teralih," jawab Herman menjelaskan.
"Apa Baby tidak bisa jadi anak normal?" tanya Haidar.
"Baby normal sayang!" peringat Lastri tak suka perkataan pria itu.
"Baby hanya punya kelebihan dari yang lain. Mama yakin kalau baby bisa mengendalikannya suatu saat nanti. Tugas kita sekarang adalah membimbing baby aga tak salah jalan!" lanjutnya menenangkan.
Semua mengangguk setuju. Al Bara menelan mentah-mentah apa yang barusan dibicarakan oleh orang tuanya.
"Days!" panggilnya pada semua. Ia mendekati saudaranya yang banyak itu.
"Pa'a Aypi?" tanya Chira.
"Bini pasalah pesliyus!' ujar Al Bara serius.
"Pasalah pa'a?" tanya Nouval penasaran.
"Basalah Ata' Aya!" jawab Al Bara lagi-lagi serius.
"Teunapa denan aypi?" tanya Zaa.
"Tata netnet, bata patin Ata' Yaya teulputa!" jawab Al Bara.
"Bata patin?' semua bayi membelalak.
"Pa'a ladhi ipu?" dengkus Aaima.
"Bata tan puwat beulihat?" ujar Arsh yang diangguki semua bayi.
Dian merekam percakapan bayi-bayi super kepo itu. Mulutnya tersenyum lebar mendengar gosip para bayi yang memaksa bicara itu.
"Patin pa'a?" lanjutnya bertanya.
Semua bayi menatap Nai yang tengah menjemur bayinya. Arimbi memilih tak ikut mendengarkan percakapan adik dan juga keponakannya itu.
"Ih, kenapa liatin mama?" sengit Nai kesal.
"Janan pilan tundu tamih pudah pedal aypi!" sengit Zaa juga kesal.
"Siapa yang bilang gitu?" sengit Nai lagi.
"Talow bedhitu soba selastan pa'a ipu pata patin?" tanya Nisa sambil melipat tangan di dadanya.
"Mata batin adalah bagian dari batin yang paling dalam atau biasa disebut perasaan dalam hati," jawab Nai yang membuat semua bayi garuk kepala.
Nai terkekeh melihat semua anak yang tampak kebingungan.
"Nah ... Nggak ngerti kan kalian?" ledeknya bertanya.
"Peubentan Pulu!" ujar Arsh mencoba mencerna perkataan kakaknya itu.
"Pa'a batsuna ladalah bata siwa banusiya?" tanyanya pada sang kakak.
Nai berdecak, ia memuji kegeniusan adiknya itu.
"Bisa dibilang begitu baby," jawab Nai.
"Pa'a bata ipu pisa wiwat Allah?" tanya Fael dengan mata besar.
"Tidak sekuat itu baby, Allah itu maha besar. Tak ada satu mata pun yang bisa melihat-Nya!" jawab Nai.
"Balaitat pama psestan pisa?!" sahut Arsyad.
"Maksudnya manusia seperti kita baby. Bahkan para nabi juga tak ada yang bisa!" ujar Nai.
"Nabi Musa Pama Nabi Muhammad Pisa!" sahut Aaima.
"Beliau adalah manusia yang tentu keimanannya sangat berbeda sayang," jawab Nai lagi-lagi memuji.
"Pa'a pita pidat pisa wihat Allah?" tanya Firman lirih.
"Memang baby mau apa kalau lihat Allah?" tanya Nai ingin tau.
"Bawu panya tabal Amak ama apak. Pa'a meuleta lada pi suldha pait-bait laja?" jawab Firman yang membuat Vera dan Dita terisak.
"Babies kenapa sayang?" tanya Arimbi.
Wanita itu meletakkan bayi kembarnya dalam roller. Khadijah dan Umar tampak tenang tak terganggu. Sama seperti Ali dan Hamzah.
"Baby sini sayang," Arimbi merentangkan tangannya.
Verra, Dita, Alia dan Firman masuk dalam pelukan Arimbi. Mereka tiba-tiba bersedih.
"Kangen mama ya?" tanya Arimbi lalu mengusap jejak basah di pipi keempat bocah itu.
Firman dan Alia mengangguk, begitu juga Vera dan Dita.
"Jangan sedih sayang, papa sama mama pasti udah bahagia bertemu di surga-Nya Allah," ujar Arimbi menenangkan.
Nai, Dian, Sukma, Ambar tampak terharu.
"Hei sayang ... Udah ah ... Jangan bicara yang sedih-sedih!" larang Nai ikutan sedih.
Terra dan ibu-ibu lainnya ada di dapur. Mereka tengah memasak makanan jadi tak mendengar percakapan bayi-bayi mereka.
"Wiya ... Beundin pisalain bantu ladhi yut!" ajak Aaima yang mengalihkan pembicaraan.
"Buniya walwah!" lanjutnya.
"Woh wiya. Ata' tan teumalin banyi tuh? Ladhu pa'a bemana?" cecar Maryam.
"Woh ipu!" ujar Aaima.
Bayi cantik itu duduk dengan serius. Semua bayi mengerumuninya. Nai dan Arimbi jadi gemas sendiri.
"Banyian ipu tatana meumandil walwah peuntayanan!" lanjutnya memberitahu.
"Lawah yeumyananan?" tanya Zora dengan mata besar.
"Pa'a ipu wahwah meuyananan?" tanya Ryo dengan kening berkerut.
Aaima mencondongkan tubuhnya ke depan. Ekspresinya begitu serius. Semua bayi mengikuti tingkahnya bahkan Nai dan Arimbi juga mengikuti mereka.
"Tabalna banyian ipu ladalah bantla," jawab Aaima dengan suara sedikit pelan.
"Pa'a?!" seru semua bayi tak mendengar perkataan Aaima.
"Ipu bantla!" jawab Aaima mengulang.
"Bantla ... Bantla pa'a?" tanya Nisa.
"Bantla mandhil mahlut lalus!" jawab Aaima horor.
"Matlut hayus?" tanya Aarav.
"Pa'a yayus weulti bantat pita?"
Michael dan Exel tersedak mendengar pertanyaan Zora. Nai dan Arimbi nyaris terpingkal begitu juga pengawal wanita lainnya.
"Bantat pita hayus?" tanya Xierra bingung.
"Wiya aypi ... Ata Amah bantat ita yayus tayat tayin susta!" jawab Zora sangat yakin.
"Pudah piyam peumuwa!" seru Zaa kesal.
"Lansutan selitamu aypi!" lanjutnya memerintah Aaima melanjutkan ceritanya.
"Sadhi tata pipi yan teulsa pi mumah netnet pama Tate bi pampunna ladha bantla mandhil walwah!" lanjut Aaima.
"Tatana mandhilna halus balam sumat, tewus pate buna temban sepaman pama batal teumeyan," lanjutnya bercerita.
Nai dan Arimbi gemas sekali dengan kisah yang dibawakan Aaima. Putri buah cinta Jac dan ibunya, Putri ini memang sangat pintar.
"Ata'... Izam inat selita ipu!" sahut sang adik.
"Aypi deunel judha?" tanya Aarick.
"Wiya ... Tatana hayus pate bedia patun apaw poneta," jawab Zizam.
"Tayat dhimana ponetana?" tanya Arsh begitu penasaran.
"Atuh pidat pawu!" jawab Aaima.
"Pati bantlana atuh inat!" lanjutnya semangat.
"Azalin don!" pinta Izzat antusias diangguki semua anak-anak.
"Ladhuna tayat dhini ...."
"Babies ... Nenek bawa brownies nih! Siapa mau!" teriak Terra.
"Psaya!" pekik semua bayi teralihkan.
Nai dan Arimbi mengelus dada. Dian dan beberapa rekannya mengurut pipi mereka yang kram akibat terus-terusan tersenyum.
Tak lama semua anak pulang sekolah. Usai makan siang, anak-anak diwajibkan tidur siang.
Khasya menghela nafas panjang melihat semua keturunannya itu. Ia tak tahu bagaimana kisah itu bisa dilontarkan oleh bayi mau lima tahun.
"Bunda," Putri datang bersama Lidya, Demian dan Jac suaminya.
"Sayang, putrimu luar biasa," ujar Khasya tertawa lirih.
Putri hanya bisa tersenyum lemah. Ia juga sudah mulai kesulitan menjelaskan semua pada anaknya.
"Bukan Putri nggak mau jelasin bunda," keluh wanita beranak dua itu.
"Kadang papanya juga bingung jawab apa kalau sudah ditanya macam-macam sama anak-anak," lanjutnya lemas yang diangguki Jac.
Bersambung.
Yah .. Biar aja mereka gitu mama Putri dan papa Jac.
Aaima ba bowu š
Next?