
Hadirnya empat bayi dalam hunian besar Bart, membuat semua anak selalu ingin dekat bayi-bayi itu.
"Baby Mumal," panggil Aaima pada Umar yang bermata hazel seperti ayahnya.
"Aaah!" Umar menggeliat.
"Baby Sahsah papain?" tanya Xierra pada Hamzah.
"Uuuhh!' jawab Hamzah sampai monyong mulutnya.
"Baby coba bilang papa Ion!" suruh Rion pada Ali dan Jamila.
"Baby, anakmu belum bisa bicara," peringat Terra.
"Diajarin mama, biar bisa,'' Rion usil. "Ion nggak keberatan kok."
"Pa'a yan elelatan Apah Ata'?" tanya Zora.
"Berat badan baby,' jawab Rion.
"Apah didut!" tunjuk putranya, Ryo.
"Papa nggak gendut ya!' sengit Rion.
"Papa montok!' lanjutnya sambil terkekeh.
"Apah Ata' lales lolahdada!" geleng Chira sambil menghela nafas panjang.
"Kalian gemesin amet sih!" Hafsah gereget dengan semua bayi.
"Memesin pa'a mumi?" tanya Maryam.
"Gemesin itu kalian!" jawab Hafsah lalu mencium Maryam.
Bayi cantik itu tergelak. Faza juga naik pangkuan guru cantik itu.
"Umi Zaza ... Mamil don!" ujarnya lalu menggembungkan perutnya.
Terra dan Lidya tersedak mendengar perkataan bayi itu. Haidar menatap menantunya, Demian.
"Sumpah pa!" geleng Demian tentu membantah tuduhan mertuanya.
"Baby itu bukan hamil sayang," ujar Hafsah.
'Tapi gembul jadi perutnya buncit," lanjutnya sambil terkekeh.
"Tan Zaza ihat mumi, amah, mumah ... Yeyutna dede muwa-muwa, yayat ninih!" jelasnya sambil menunjukkan perutnya yang buncit.
"Anakmu cerdas sekali baby!" sengit Virgou berbisik pada anak perempuan kesayangannya, Lidya.
Lidya cemberut, ia memang harus extra sabar untuk mengajari tiga anaknya yang super genius itu.
"Amah ... Pedet payi ipu teluanna dali bana?" tanya Al Bara.
"Dari perut sayang, perut mama dibuka ...."
"Peyut Amah dada ntu na?" tanya Vendra dengan mata besar.
"Bukan pintu ...."
"Sasalamutatatitum!" Angel mengetuk Dian yang memangkunya.
"Tinti Dian belum ada baby dalam perut sayang," ujar Maria.
"Woh teunapa? Soba masutin Aypi Lali!" tanya Angel sekaligus menyuruh.
"Bukan gitu baby ...."
"Sadhi batsutna padhaibana?" tanya Fael gusar.
"Biya ... Talo aypi pisa teuluan dayi peyut Amah. Peulati pisa basut judha!' sahut Izzat kekeuh.
Tentu perkataan bayi-bayi super cerdas itu tak bisa dibantah orang tua mereka.
"Amah ... Soba Al masut peyut Amah ladhi!' ujar Al Bara tiba-tiba menyeruduk Lidya, ibunya.
Bayi tampan itu memaksa membuka baju yang dikenakan sang ibu.
"Baby, kamu nggak bisa masuk lagi. Kamu sudah besar," ujar Demian.
"Sadhi yan pisa masut spasa papa?" tanya Aaima.
"Yang bisa masuk cairan papa ...."
"Mas!" peringat Lidya.
"Dem!" peringat Dominic kesal pada putranya itu.
"Sailan?" mata semua bayi membulat sempurna.
Hafsah, Salma dan Rosa tersenyum mendengar hal itu. Teriakan Najwa mengalihkan para bayi.
"Babies ... Ayo makan pasta!"
"Holee pita matan dodol!" seru Firman.
"Dodol?" Rion tersenyum usil.
"Dodol apa baby?" tanyanya.
"Dodol yan puwat sitat didi papa!' jawab Firman tersenyum.
"Ini bukan pasta itu sayang," jawab Najwa.
Semua bayi dapat makanan itu. Bahkan Zora dan bayi seusianya juga dapat, Seruni membuat makanan untuk bayi belum satu tahun.
"Nenat Nini matasyih!" ujar Arsyad memuji masakan.
"Sama-sama baby," ujar Najwa.
"Anak-anak kita cerdas luar biasa ya," ujar Salma bangga.
"Iya tentu saja. Mereka adalah yang terbaik!" jawab Rosa juga bangga.
Usai makan, semua bayi kekenyangan. Mereka duduk dengan perut terbuka. Baju yang baru dibeli kemarin tampak sudah sangat pas di tubuh mereka.
"Kenapa mereka cepat besar?" tanya Lastri gemas. "Itu baju kemarin, kenapa sudah menggantung?"
"Bisa nggak sih mereka bayi terus!" ujar Seruni gemas.
"Nggak bisa!" ujar Khasya.
"Ini harus lahir dan juga bayi-bayi lainnya!" lanjutnya tegas.
"Bunda ... mereka terlalu pintar dibanding kami, orang tuanya!' keluh Layla mulai kerepotan dengan anak kembarnya.
"Rahma malah mau satu lagi. Tapi sepertinya Meghan belum mau punya adik," ujar Rahma sambil mengelus perutnya.
"Baby Meghan!" pekik Exel yang mengangkat tubuh putra dari ketuanya itu.
Meghan hendak memanjat pohon. Exel yang sigap langsung menangkap bayi mau empat tahun itu.
"Papa pepastan atuh!" pekik Meghan kesal.
Tapi kemudian terdengar gelak tawa dari mulut bayi itu karen Exel menciuminya hingga kegelian.
Sepulang makan siang semua anak diminta tidur siang. Elia, salah satu anak angkat Bart mendekati ayahnya.
"Pa," panggilnya.
"Iya sayang, kenapa kamu belum tidur?" sahut Bart disertai pertanyaan.
"Pa, besok Elia diutus pembina untuk ikut jambore nasional ke gunung," ujarnya lalu menyerahkan satu carik kertas.
Bart membacanya, di sana tertera pemanggilan para penggalang wajib untuk mengikuti acara itu.
Bart sedikit keberatan melepas salah satu putrinya itu. Namun, melihat keinginan besar dari Elia. Akhirnya pria itu mengangguk setuju.
"Makasih pa!" ujar Elia dengan senyum indah lalu mencium pipi ayahnya.
Elia pergi untuk tidur siang. Bart tak berhenti mengulas senyum. Ia tak menyangka begitu berbahagia melihat pancaran yang diperlihatkan putrinya barusan.
"Papa kenapa kasih baby pergi?" tanya Frans kesal pada ayahnya.
"Tidak apa-apa, aku mencoba mempercayai putriku. Aku yakin dia bisa jaga diri!' jawaban tegas Bart membungkam Frans.
"Dahlan!" panggil Virgou.
Dahlan yang baru datang bertugas mengawal para perusuh membungkuk hormat. Ia sangat paham apa yang harus ia lakukan.
"Suruh Deni, Dito dan Rexi mengawal!" perintah Virgou.
"Baik ketua!" ujar Dahlan membungkuk hormat.
Sore menjelang, semua anak sudah bersih dan wangi. Kean mengajak saudara besarnya main gobak sodor.
"Ata' ... Janan bedhitu!" pekik Arsh kesal sendiri.
Bayi itu mengomel karena semua kakaknya tak ada yang main serius.
"Baby kamu cerewet!" sengit Sean lalu mencium Arsh.
"Pandhil Apan Baji Baby Alsh!" perintah Arsh bossy.
"Oteh Abang haji Baby Arsh!" ujar Sean meralat panggilannya.
Sean akhirnya mengajak Al, Daud, Kean, Calvin, Dimas, Affhan, Maisya, Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi, Gabriella dan Bastian dan Kaila ikut bersamanya ke kafe. Terra tadinya mau melarang, tapi Bart menyuruh mereka.
"Pergi sana!'
"Nanti Zheinra dan lainnya juga menyusul ke sana!" lanjutnya.
"Thanks GreatGrandpa!" seru Sean.
"Kita ini nih yang susah!" keluh Sky.
Martha, Bomesh, Domesh, Benua, Arfhan, Ditya dan Radit mengangguk setuju.
"Ma, kita bukan bayi ikut kak Sean ya!" pintanya.
"Ikut saja sayang!" ujar Gabe memperolehkan.
"Itut!" pekik Arsh memandang kesal suadara besarnya itu.
"Baby ikut mama Diba yuk!" ajak Adiba.
Arsh digendong Satrio. Akhirnya semua orang tua mengajak bayi-bayi mereka pergi ke kafe yang hanya ada satu di kota itu.
Di kafe, Ella langsung ikut membantu Sean membuat kopi. Gadis itu juga ingin menjadi barista.
Makin larut kafe itu makin ramai. Virgou dan Gomesh mendatangi usaha milik putra Haidar itu.
"Baby," semua orang menoleh padanya.
"Astaga ganteng banget!" celetuk seorang gadis memuji.
"Daddy!" Kaila langsung mendatangi ayahnya dengan posesif.
"Apa liat-liat bapak gue!" sengitnya memelototi semua anak perempuan yang memandangi ayahnya dengan penuh pemujaan.
"Tenang baby, ntar kakak colok matanya!" seru Maisya galak.
Bersambung.
Nah ... Daddy ... Tuh anak gadisnya posesif.
Next?